Cerita Perubahan

Written by Rabu, 08 April 2015 Published in Cerita Perubahan
Sepanjang tahun 2014, Rifka Annisa Women Crisis Center telah mendampingi lima anak yang mengalami kekerasan seksual dengan pelaku anak di Daerah Istimewa Yogyakarta. Semua kasus kekerasan seksual tersebut diselesaikan secara diversi.  Diversi merupakan pengalihan peyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana. Ketentuan diversi diatur dalam Undang-undang Sistem Peradilan Pidana Anak Nomor 11 Tahun 2012. Undang-undang tersebut adalah upaya Indonesia sebagai negara pihak dalam Konvensi Hak-Hak Anak (Convention on the Rights of the Child) untuk mengatur prinsip perlindungan hukum terhadap anak. Konsekuensinya, Indonesia mempunyai kewajiban untuk memberikan perlindungan khusus terhadap anak yang berhadapan dengan hukum. Berdasarkan UU tersebut, diversi wajib diupayakan pada tingkat penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan perkara anak di pengadilan negeri.  Selain itu, diversi hanya dapat dilaksanakan ketika ancaman pidananya di bawah 7 (tujuh) tahun dan bukan merupakan perbuatan pengulangan. Diversi dalam Realitas Sosial…
Written by Minggu, 18 Januari 2015 Published in Cerita Perubahan
Hingga 22 Desember 2014 ini, Rifka Annisa Women Crisis Center telah menerima kasus kekerasan terhadap istri baik melalui tatap muka, kunjungan langsung, surat elektronik, maupun telepon sebanyak 175 kasus kekerasan. Kasus kekerasan terhadap istri atau yang sering disebut sebagai KTI tidak hanya sebatas pada kekerasan fisik yang kasat mata, tetapi juga kekerasan psikis, seksual, dan penelantaran. Meskipun selama ini kekerasan fisik lebih menjadi sorotan karena kasat mata, namun ternyata luka fisik tidak dapat berdiri sediri karena erat kaitannya dengan dampak psikologis. Kekerasan fisik yang terus-menerus dialami oleh seseorang bisa mengakibatkan gangguan-gangguan bukan hanya pada organ fisik, tetapi juga pada kesehatan psikis, seperti perasaan ketakutan yang berlebihan, kehilangan kepercayaan diri, gangguan emosi, sehingga mudah sedih, menangis, marah, dan mengamuk. Selain itu ada juga dampak pada perilaku tidak sehat, misalnya merokok, berselingkuh dan lain sebagainya. Lazimnya, ketika seorang ibu berperilaku tidak sehat…
Written by Sabtu, 17 Januari 2015 Published in Cerita Perubahan
Hingga tepat pada hari Ibu 22 Desember 2014 lalu, Rifka Annisa Women Crisis Center telah menerima kasus kekerasan terhadap istri baik melalui tatap muka, kunjungan langsung, surat elektronik, maupun telepon sebanyak 175 kasus kekerasan. Dibalik ucapan-ucapan selamat terhadap para Ibu, ironisnya masih banyak para Ibu yang mengalami kekerasan. Kasus kekerasan terhadap istri atau yang sering disebut sebagai KTI tidak hanya sebatas pada kekerasan fisik yang kasat mata, tetapi juga kekerasan psikis, seksual, dan penelantaran. Meskipun selama ini kekerasan fisik lebih menjadi sorotan karena kasat mata, namun ternyata luka fisik tidak dapat berdiri sediri karena erat kaitannya dengan dampak psikologis. Kekerasan fisik yang terus-menerus dialami oleh seseorang bisa mengakibatkan gangguan-gangguan bukan hanya pada organ fisik, tetapi juga pada kesehatan psikis, seperti perasaan ketakutan yang berlebihan, kehilangan kepercayaan diri, gangguan emosi, sehingga mudah sedih, menangis, marah, dan mengamuk. Selain itu ada juga…
Written by Selasa, 19 Agustus 2014 Published in Cerita Perubahan
Fenomena berebut pacar kemudian berlomba mendapatkan pacar keren seringkali ditampilkan dalam adegan-adegan sinteron yang ditayangkan di sejumlah stasiun televisi yang bergenre remaja. Cerita yang sama pun seringkali ditemukan dalam kehidupan konkret remaja masa kini. Akan tetapi, cerita-cerita romantisme cinta remaja dalam kehidupan nyata seringkali tak berakhir indah layaknya adegan sinteron. Tak sedikit cerita-cerita tersebut berubah menjadi cerita kasus kekerasan dalam pacaran (KDP). Kian meningkatnya kasus KDP yang terjadi dikalangan remaja tentu sangat memprihatinkan. Kurangnya kontrol diri dan konsep diri yang baik dan kuat pada remaja menjadi faktor pemicunya. Perburuan mencari pacar keren misalnya, seringkali remaja terjebak dalam konsep sempit memaknai hubungan pacaran dan pacar keren itu sendiri. Pacaran dikalangan remaja seringkali dianggap sebagai suatu hal yang wajib dan jika belum pernah pacaran dianggap tidak gaul atau tidak laku. Wulandari, konselor psikologi Rifka Annisa, memaparkan bahwa dikalangan remaja, mendapatkan pacar keren…
Written by Selasa, 19 Agustus 2014 Published in Cerita Perubahan
 Usia remaja merupakan masa transisi dan peralihan dari anak-anak menjadi dewasa, yang sering dikaitkan dengan pencarian jati diri. Dalam masa ini, seorang remaja akan mencari role model yang ideal sebagai figur panutan. Sosok panutan ini yang akan mempengaruhi nilai-nilai dan pandangan seorang remaja dalam membina kehidupan sosial. Keluarga menjadi unit dasar dalam kehidupan bersosial. Melalui keluarga, nilai-nilai dalam diri seseorang akan terbentuk. Sehingga, orang tua menjadi sosok panutan terdekat seorang remaja. Akan tetapi, bagaimana jika sosok panutannya ini sedang berseteru? Ada banyak hal yang dapat menjadi faktor penyebab orang tua berseteru. Beberapa di antaranya yakni, adanya ketimpangan penghasilan antara orang tua, perselingkuhan, permasalahan dalam pekerjaan, atau bahkan permasalahan si anak yang kemudian menimbulkan perdebatan diantara orang tua. Remaja, dalam hal ini seorang anak, adalah mesin fotokopi terbaik dari orang tua. Sebuah peribahasa mengumpamakan, “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Hal…
41095552
Today
This Week
This Month
Last Month
All
2493
26448
13538
172901
41095552