Setiap rumah tangga pasti mendambakan kehidupan yang harmonis dan penuh kesalingan. Namun beberapa waktu lalu media sosial ramai pemberitaan terkait Kekerasan Dalam Rumah Tangga  atau domestic violence.  Rumah, dipercaya oleh masyarakat sebagai tempat yang paling aman dan nyaman untuk ditempati. Rumah adalah tempat bermuaranya seluruh petualangan, kebahagian dan kelelahan. Di rumahlah orang bersikap paling natural, tidak dibuat-buat, tidak harus jaga image, dan sebagainya. Secara umum berarti masyarakat menganggap situasi diluar rumahlah yang membahayakan. Namun terjadinya kekerasan diruang privat menjadi patahan tersendiri bagaimana Rumah yang dianggap ruang paling nyaman dan aman menjadi sebaliknya.

KDRT atau domestic violence merupakan kekerasan berbasis gender yang terjadi di ranah personal. Kekerasan ini banyak terjadi dalam hubungan relasi personal, dimana pelaku adalah orang yang dikenal baik dan dekat oleh korban, misalnya tindak kekerasan yang dilakukan suami terhadap istri, ayah terhadap anak, paman terhadap keponakan, kakek terhadap cucu. Kekerasan ini dapat juga muncul dalam hubungan pacaran, atau dialami oleh orang yang bekerja membantu kerja-kerja rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut. Selain itu, KDRT juga dimaknai sebagai kekerasan terhadap perempuan oleh anggota keluarga yang memiliki hubungan darah. Pasal 1 UU PKDRT mendefinisikan KDRT sebagai,

... perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Sebetulnya payung hukum untuk kasus KDRT sudah tersedia sejak tahun 2004, dan sekarang sudah hampir mencapai 19 tahun pasca disahkannya UU PKDRT. Ini jadi refleksi bersama bahwa selama hampir 19 tahun berlangsung angka KDRT selalu menduduki urutan pertama dalam kasus kekerasan berbasis gender.Menurut catatan tahunan komnas perempuan tahun 2022 angka Kekerasan terhadap istri mencapai 771 kasus dengan korban paling banyak pada usia 25-35, hal ini menujukan bahwa korban mayoritas adalah pasangan muda.

Mayoritas dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga yang menjadi korban adalah perempuan. Perempuan hampir selalu menjadi korban kekerasan karena budaya dan nilai-nilai masyarakat, kita dibentuk oleh kekuatan patriarkal , yang dengan hal itu laki-laki secara kultural telah dipersilakan menjadi penentu kehidupan. Menurut Foucault, laki-laki telah terbentuk menjadi pemilik ‘kuasa’ yang menentukan arah ‘wacana pengetahuan’ masyarakat. Selain itu laki-laki dan perempuan memiliki peran biologi.

Menurut teori nurture melihat perbedaan biologis sebagai hasil konstruksi budaya dan masyarakat yang menempatkan laki-laki lebih unggul dari perempuan. Kekhasan struktur biologis perempuan menempatkannya pada posisi yang marginal dalam masyarakat. Perempuan dianggap tidak memiliki kekuatan fisik, lemah, emosional, sehingga hanya berhak mengerjakan pekerjaan yang halus, seperti pekerjaan rumah, mengasuh anak, dan lain-lain. Relasi sosial dilakukan atas dasar ukuran laki-laki. Perempuan tidak berhak melakukan hubungan tersebut. Dengan perbedaan semacam ini, perempuan selalu tertinggal dalam peran dan kontribusinya dalam hidup berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Konstruksi sosial menempatkan perempuan dan laki-laki dalam nilai sosial yang berbeda. Konstruksi gender dalam masyarakat itu telah terbangun selama berabad-abad membentuk sebuah budaya yang diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Faktor pemicu terjadinya kekerasan diruang privat sangatlah kompleks mulai dari budaya patriarki, ekonomi, kecemburuan adanya relasi yang timpang, adanya pihak ketiga dalam rumah tangga, beberapa aktivitas yang dapat merugikan pasangan (Mabuk-mabukan, bermain judi, dll). Berbagai faktor pemicu menjadi beragamnya bentuk kekerasan dalam ruang privat mulai dari kekerasan fisik (ditampar, dijambak, ditempeleng, diinjak-injak), kekerasan psikis (caci maki, ancaman), kekerasan seksual (pemaksaan hubungan seksual, dll) dan penelantaran rumah tangga. Beberapa korban memilih untuk diam atas kekerasan yang dialaminya. Hal ini dikarenakan mereka tidak mau terjadi peristiwa yang lebih parah lagi, ini adalah aib yang harus ditutup rapat dan tidak menghendaki permasalahan semakin berlarut-larut. Selain bersikap diam, beberapa korban memilih melawan terhadap suami atas kekerasan yang menimpanya. Perlawanan tersebut sebagai upaya perlindungan atas serangan suami yang mengakibatkan luka fisik maupun nonfisik. 

 Dampak terjadinya kekerasan di ruang privat sangat beragam mulai dari mengalami sakit fisik, tekanan mental, menurunnya rasa percaya diri dan harga diri, mengalami rasa tidak berdaya, mengalami ketergantungan pada suami yang sudah menyiksa dirinya, mengalami stress pasca trauma, mengalami depresi, dan keinginan untuk bunuh diri. Kondisi demikian tidak hanya dirasakan oleh korban namun juga orang disekitar korban mulai dari anak, rekan kerja sampai dengan orang tua.

Beberapa bulan lalu sempat ramai pemberitaan salah satu Artis yang mencabut laporan KDRT yang dilakukan oleh suaminya, dan netizen merasa diprank, merasa marah, turut merasa kecewa bahkan merendahkan korban. Padahal jika ditinjau dari hal ini korban sangat mungkin untuk mengalami dinamika psikologis, karena dalam kasus kekerasan dalam ruang privat mengalami situasi khusus yang kadang sulit untuk memutuskan apakah harus melanjutkan hubungan atau menyudahinya. Dalam kekerasan privat memiliki kecenderungan terjadi siklus kekerasan oleh karena itu kekerasan diruang privat dapat terjadi secara berulang.

 

Gambar Siklus Kekerasan

Bulan_Madu_1.png

Gambar diatas menujukan gambaran siklus kekerasan yang terjadi di ruang privat berawal dari konflik kemudian menimbulkan kekerasan baik kekerasan fisik, psikis, maupun seksual, kemudian masuk pada fase meminta maaf, pada fase ini pasangan akan melakukan apapun untuk meminta maaf dan merasa bersalah atas apa yang sudah dilakukan, kemudian masuk pada pengejaran Kembali, fase ini adalah masa dimana biasanya pasangan sudah mulai memaafkan dan mencoba melupakan apa yang sudah terjadi, pada fase ini biasanya banyak sikap manis yang ditujukan oleh pasangan, dan masuk pada fase bulan madu, fase ini biasanya Kembali pada fase seperti saat fase awal-awal menikah, penuh bujuk rayu, melakukan apapun demi pasangan dll. Jika terjadi konflik lagi dalam rumah tangga tersebut akan mengalami siklus yang diawal dimulai dengan konflik dan berakhir dengan fase bulan madu.

Siklus kekerasan ini kiranya cukup untuk menjelaskan bagaimana kekerasan di ruang privat terus terjadi secara berulang, dan bagaimana proses dinamika korban berlangsung. Oleh karena itu sebagai masyarakat lebih bijak lagi dalam melihat situasi korban yang terjebak dalam siklus kekerasan ini.

Mari bersama ciptakan ruang aman! Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Nomor 23 Tahun 2004, telah menggeser wilayah persoalan privat menjadi persoalan publik. Perlu untuk bersama-sama mengawal implementasi UU PKDRT No.23 tahun 2004 karena sudah hampir 19 tahun implementasi UU PKDRT namun angka terjadinya KDRT terus meningkat. Sudah waktunya pemerintah bersama-sama masyarakat mencanangkan Zero tolerance terhadap kekerasan. Artinya tidak ada toleransi sekecil apapun terhadap tindakan kekerasan terhadap perempuan, baik dalam keluarga, masyarakat, dan negara.

Sumber :

Catatan Tahunan Komnas Perempuan tahun 2022

Hardani, Sofia dkk. 2010. Perempuan Dalam Lingkaran KDRT.Riau : Program Kajian Wanita – UNRI.

Poerwandari, Kristi. 2006. Penguatan Psikologis untuk Menanggulangi Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Kekerasan Seksual. Jakarta: Program Kajian Wanita – PPs-UI.

Rochmat Wahab. 2010, Jurnal Kekerasan Dalam Rumah Tangga: Perspektif Psikologis dan Edukatif.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT).

 

Rabu, 04 Januari 2023 11:02

Stop Seksualisasi K-Pop Idol

 

Hallyu atau Korean Wave yang jika diartikan secara harfiah berarti Gelombang Korea merupakan istilah yang mengacu pada popularitas budaya Korea yang tersebar secara global di seluruh dunia. Hallyu mencakup berbagai aspek diantaranya musik, drama televisi, film, makanan, literatur, kosmetik, dan bahasa.

Pandemi Covid-19 pun berpengaruh terhadap penyebaran hallyu di dunia. Wabah ini membatasi masyarakat untuk melakukan kegiatan di luar rumah. Aktivitas yang terlalu monoton membuat masyarakat memilih menghibur diri dengan menonton konten asal Korea selatan seperti K-Drama (Korean Drama), K-Movie (Korean Movie), K-Pop (Korean Pop), variety show dan reality show sebagai alternatif untuk menghilangkan kejenuhan tersebut. Akhir tahun 2022 menjadi balas dendam bagi banyak musisi setelah pandemi menghambat mereka untuk melaksanakan konser. Banyak musisi internasional yang akhirnya datang ke Indonesia untuk melaksanakan konser dan berjumpa dengan penggemar, termasuk grup boy dan girl band asal Korea Selatan. 

Tapi fakta dilapangan idol korea juga rentan menjadi korban pelecehan seksual yang berupa seksualisasi, bahkan oleh penggemarnya. Apakah kamu termasuk penggemar yang cerdas, atau justru melakukan pelecehan kepada idolamu? Yuk, disimak. 

1.Apa itu seksualisasi? 

Bragg, Buckingham, Russell dan Willett (2011) untuk mendeskripsikan makna istilah seksualisasi dalam bentuk barang sebagai berikut: 

(1) Barang/produk yang mempunyai rujukan pada praktik-praktik seksual melalui gambar, kata-kata, or humor. 

(2) Barang/benda yang nampaknya merujuk pada konteks seksual melalui gambar, kata-kata, warna,dan corak; di mana familiaritas dengan suatu benda bertolak dari konteks yang terseksualisasi. 

(3) Barang-produk yang menekankan bagian-bagian tubuh dan bentuk-bentuk tubuh yang secara kultural diasosiasikan dengan seksualitas dewasa. 

(4) Barang/benda yang menjiplak mode atau style yang pada masanya dipandang high fashion untuk orang dewasa. Produk ini mencakup barang barang yang dipasarkan sedemikian rupa yang mengkombinasikan item-item dari seksualitas dewasa yang diasosiasikan dengan masa anak-anak, sedemikian rupa sehingga menormalkan mereka sebagai barang untuk anak. 

(5) Barang/produk yang merujuk pada stereotip gender; misalnya dengan berlebihan menekankan daya tarik fisik, mengasosiasikan perempuan dengan cinta dan intimitas, atau mengasosiasikan pria dengan agresivitas dan dominasi, lewat kata-kata, gambar, symbol atau aktivitas.

Seksualisasi adalah bentuk objektifikasi yang dilakukan oleh seseorang yang merujuk pada praktik-praktik seksual melalui gambar, kata kata, humor. 

Seksualisasi berkaitan erat dengan objektifikasi. Seseorang yang melakukan seksualisasi terhadap seseorang berawal dari adanya asumsi bahwa seseorang tersebut objek yang dapat seksualisasi. 

2. Seberapa rentan idol korea mendapatkan seksualisasi? 

Idol korea, public figure dengan popularitas transnasional sangat rentan menjadi korban seksualisasi dan objektifikasi. 

Pergeseran paradigma yang menggambarkan idol korea sebagai seorang publik figur menjadi salah satu komoditas industri menjadikan idol korea sering terjebak dalam bentuk objektifikasi hingga seksualisasi yang dilakukan oleh industri hiburan, maupun fans (penggemar) mereka sendiri. 

Seksualisasi tidak hanya dialami oleh idol perempuan, tetapi juga pada idol laki-laki. 

3. Apa saja bentuk-bentuk seksualisasi idol?

  1. Pemaksaan penggunaan pakaian yang tidak nyaman.

Pada konferensi pers tahun 2016, Seolhyun AOA tampil cantik menggunakan dress ketat, namun sayangnya hal tersebut tidak membuat Seolhyun percaya diri karena terlalu terbuka dan ketat, sehingga ia terlihat selalu menutupi bagian depan tubuhnya menggunakan tangannya. 

  1. Penyorotan bagian tubuh tertentu dengan tujuan seksual 

Girl group "FANATICS" pada saat melakukan siaran VLive. Siaran tersebut menjadi ricuh saat kamera yang digunakan untuk merekam live mereka tiba-tiba berubah angle menunjukkan tubuh bagian bawah member FANATICS yang pada saat itu sedang menggunakan dress dan rok pendek.

Terdapat seseorang yang memberikan jaket kepada member, lalu terdengar suara dari belakang kamera yang tidak terima jika member FANATICS ditutupi dengan jaket. Suara tidak terima tersebut berasal dari CEO agensi yang sengaja mengarahkan kamera kepada bagian bawah member untuk dipertontonkan selama siaran.  

  1. Menjadikan idol sebagai tokoh fan fiction dengan cerita sensual

Kreativitas penggemar idol korea memang tanpa batas. Sering kita jumpai banyak penggemar yang menjadikan idolanya sebagai tokoh dalam cerita alternate universe (AU) atau fan fiction yang mereka tulis di media sosial. Tak jarang fanfiction atau AUyang ditulis mengandung konten pornografi yang melibatkan idol mereka. Pada 11 Januari 2021 lalu, muncul sebuah petisi di website petisi Blue House yang isinya menuntut hukuman bagi mereka yang membuat dan mendistribusikan fanfic dengan konten seksualisasi terhadap idol. 

 

  1. Debut idol di bawah usia legal

Pada awal kemunculan K-Wave, masyarakat korea masih memperdebatkan beberapa idol yang debut pada usia belia. Namun, kini banyak idol yang debut sebelum genap berusia 15 tahun. 

Salah satu grup idol yang baru debut pada tahun 2022, New Jeans, beranggotakan anak-anak perempuan dengan usia tertua 18 tahun & termuda 14 tahun. Mereka juga menggunakan pakaian yang cukup terbuka dan menonjolkan bagian tubuh tertentu, serta membawakan lagu yang tidak sesuai usianya  

Idol yang debut di usia anak berisiko terjerat kasus eksploitasi tenaga kerja dan menjadi objek seksualisasi oleh kaum pedofilia karena usia anak belum dapat memutuskan pilihan dengan informasi yang utuh dan matang.

 

  1.  Percakapan mengomentari bagian tubuh idol dengan nada seksual. 

Ketika sedang menyelami konten idol korea, kita sering jumpai banyak komentar mengenai tubuh idol yang bernada sensual. Hal ini merupakan salah satu bentuk pelecahan seksual dengan bentuk seksualisasi terhadap idol. 

  1. Sentuhan yang tidak dikehendaki. 

Pada saat berada di ruang publik, idol korea sering dikerubungi oleh penggemarnya. Jika pengamanan yang disediakan tidak cukup ketat, maka penggemar akan dengan mudah menyentuh idol mereka. Beberapa kali tertangkap kamera beberapa penggemar yang menyentuh bagian tubuh idol. TIndakan ini termasuk pelecehan seksual karena menyentuh tubuh seseorang tanpa consent dari pemilik tubuh.

4. What should we do? 

a.Fans

Stop sexualizing your idol!

Banyak cara suportif yang dapat penggemar lakukan untuk mendukung setiap karya idol korea. Melakukan pelecehan seksual dalam bentuk seksualisasi terhadap idol merupakan tindakan yang salah, dan sudah sepantasnya penggemar berhenti melakukan hal tersebut. 

b.Agensi Idol

Membuat kampanye anti kekerasan 

Salah satu jalan yang dapat ditempuh untuk mencegah terjadi pelecehan seksual dapat dengan mengkampanyekan isu #nonviolence kepada seluruh fans idol. Akan sangat baik jika konser berlangsung dengan damai dan nyaman, kampanye dilakukan untuk membangun kesadaran bahwa tindakan pelecehan seksual tidak dapat dinormalisasi. 

Indonesia memiliki letak geografi Indonesia diantara dua benua dan dua samudera, serta berada di titik pertemuan dua lempengan bumi Pasifik dan Hindia, membuat Indonesia rentan mengalami bencana alam. Bencana Menurut UU NO. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, pemerintah mengartikan bencana sebagai “Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.”

 Menurut data yang diperoleh dari website resmi BNPB di tahun 2018 Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat telah terjadi 513 bencana di Indonesia. Dan yang terbesar yang terjadi di Lombok pada Agustus 2018 memakan korban jiwa sebanyak 259 jiwa dan ribuan korban luka berat dan ringan. Tentu saja dalam bencana kelompok perempuan, anak, disabilitas dan kelompok rentan lainnya menjadi korban yang paling tinggi. Dikarenakan aktivitas sehari-hari mereka yang lebih banyak berada di dalam rumah, saat bencana terjadi sehingga mereka lebih sulit menyelamatkan diri.  Di tambah dengan kerentanan menghadapi kasus Kekerasan Berbasis Gender dalam bencana dan pasca bencana.

Kekerasan tersebut terjadi dipicu karena terpisahnya mereka dengan komunitas keluarga, tinggal pada tenda-tenda padat pengungsi, bercampur antara perempuan, laki-laki, dan anak tanpa adanya ruang privasi serta tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan akses terhadap berbagai fasilitas termasuk hilangnya mata pencaharian menjadi kerentanan ekonomi menjadi pemicu tindakan kekerasan oleh banyak pihak. Kondisi diatas mempertebal kemungkinan terjadinya kekerasan kekerasan berbasis gender, walaupun bukan menjadi faktor utama penyebab kekerasan tersebut. Fakta nyata satu bulan setelah terjadinya bencana gempa di Lombok, dalam fase pemulihan, sudah muncul lima kasus pelecehan dan pencabulan terhadap perempuan dan anak mulai terungkap di tenda-tenda pengungsian.

Fenomena ini dikhawatirkan merupakan fenomena gunung es yang harus diselesaikan segera mungkin

Hal penting yang perlu diperhatikan dalam situasi krisis adalah kerentanan anak terhadap KBG (kekerasan berbasis gender). Situasi krisis ini dapat  mencakup situasi bencana maupun konflik. Selama situasi krisis, anak dihadapkan pada masalah seperti terpisah dari keluarga atau masyarakat yang menjadi pelindungnya, sehingga mereka akan beresiko mengalami kekerasan seksual, terlebih anak remaja perempuan. Anak-anak akan menjadi sasaran grooming dalam situasi darurat terlebih dapat menjadi korban kekerasan, eksploitasi dan pemaksaan terhadap pernikahan anak. (UNFPA,2018)

Secara umum, Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2021 mencatat sebanyak 34% atau 3 dari 10 anak laki-laki & 41,05% atau 4 dari 10 anak perempuan usia 13-17 tahun pernah mengalami kekerasan dalam bentuk apapun sepanjang hidupnya.  Adapun dalam kondisi krisis, yakni kondisi bencana wabah pandemi Covid-19, SNPHAR 2021 juga mencatat bahwa 2 dari 10 anak laki-laki & 3 dari 10 anak perempuan usia 13-17 tahun pernah mengalami satu bentuk kekerasan atau lebih, di mana kekerasan emosional menjadi bentuk kekerasan tertinggi dibandingkan dengan bentuk kekerasan lainnya.Selain itu, dalam situasi krisis lain, yakni kondisi konflik tahun 1965-2009 di Indonesia, Komnas Perempuan mencatat bahwa telah terjadi kekerasan terhadap perempuan, meliputi kekerasan seksual sebanyak 1511 kasus dan kekerasan nonseksual sebanyak 302.642 kasus. Data kasus pada anak remaja, secara spesifik pada situasi bencana saat ini masih belum banyak terlaporkan.  Seringkali penyintas anak yang mengalami tindak kekerasan seksual berisiko mengalami cidera fisik, IMS termasuk HIV, termasuk mengalami masalah psikologis yang berat, antara lain karena stigma masyarakat atas apa yang telah dialami korban.

 

Untuk  mencegah terjadinya kekerasan berbasis gender di situasi krisis bencana maupun konflik, perlu dilakukan koordinasi dengan BNPB/BPBD dan Dinas Sosial untuk menempatkan kelompok rentan di pengungsian dan memastikan satu keluarga berada dalam tenda yang sama. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mewujudkan ruang aman bagi anak pada situasi krisis, diantaranya :

 

  1. Memberikan fasilitas dan mensosialisasikan pelayanan kesehatan reproduksi, layanan konseling, ruang aman bagi perempuan yang ramah remaja untuk penyintas kekerasan seksual pada tenda pengungsian. 
  2. Melibatkan lembaga-lembaga/organisasi yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di pengungsian dalam pencegahan dan penanganan kekerasan seksual pada anak.
  3. Memberikan informasi adanya pelayanan bagi penyintas dengan nomor telepon yang dapat dihubungi selama 24 jam. Informasi dapat disebar melalui leaflet, selebaran, radio dll. 
  4. Memastikan adanya petugas, baik penjaga shelter maupun petugas lainnya yang berkompeten dan memiliki perspektif korban dan responsif gender, khususnya dalam merespons kekerasan yang dialami oleh anak. 
  5. Memastikan tersedianya pelayanan medis penanganan kesehatan jiwa dan dukungan psikososial di organisasi/lembaga yang terlibat dalam respons bencana bagi penyintas kekerasan, serta memastikan adanya mekanisme rujukan, perlindungan sosial, dan hukum yang terkoordinasi dengan baik. 

 

Perlindungan hak anak dari KBG pada situasi bencana merupakan upaya berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat yang harus dilakukan secara integratif dan komprehensif. Pelaksanaannya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak baik nasional, provinsi maupun kabupaten/kota secara lintas sektoral serta masyarakat sesuai dengan tugas, fungsi dan kewenangan masing masing. Untuk itu perlu adanya persamaan persepsi/ pemahaman tentang partisipasi anak bagi semua jajaran pelaksana program/kegiatan baik nasional, provinsi maupun kabupaten/kota, serta masyarakat. Dengan adanya kesamaan pemahaman tersebut diharapkan lebih mempermudah dalam melakukan koordinasi dan kerjasama lintas sektoral dalam rangka mengefektifkan pelaksanaan penanganan KBG pada situasi bencana. Penyusunan buku ini diharapakan dapat membantu mewujudkan kesamaan pemahaman dan memberikan panduan bagi pihak-pihak yang sedang dan akan bekerja dalam rangka penanganan KBG pada situasi bencana.

 


Sumber : Artikel Kemenppa “Angka kekerasan terhadap anak sepanjang 2021 menurun” (2021)

Publikasi UNFPA dan Kementrian Kesehatan RI “ Pedoman Pelaksanaan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) Kesehatan Reproduksi Remaja Pada Krisis Kesehatan” (2017)

Buku Pedoman UNFPA “Perlindungan Hak Perempuan dan Anak dari Kekerasan Berbasis Gender dalam   Bencana” (2018)

Perencanaan keluarga merupakan poin penting yang harus dipersiapkan setelah menikah. Dengan perencanaan keluarga yang matang, pasangan dapat mengembangkan diri dan karier. Kemampuan untuk merencanakan kehamilan termasuk memilih kontrasepsi juga dipercaya dapat meningkatkan kesehatan mental, menjaga kesehatan reproduksi dan kebahagiaan bagi pasangan.

 

Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti “mencegah” atau “melawan”  dan konsepsi yang berarti pertemuan antara sel telur yang matang dan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut. Kontrasepsi merupakan komponen penting dalam pelayanan Kesehatan reproduksi sehingga dapat mengurangi risiko kematian dan kesakitan dalam kehamilan. 

 

Penggunaan kontrasepsi bertujuan untuk memenuhi hak reproduksi setiap orang, membantu merencanakan kapan dan berapa jumlah anak yang diinginkan, dan mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Penggunaan alat kontrasepsi secara tepat juga dapat mengurangi risiko kematian ibu dan bayi. Oleh karena itu, pemenuhan akan akses dan kualitas program Keluarga Berencana (KB) sudah seharusnya menjadi prioritas dalam pelayanan kesehatan. 

Dalam mempersiapkan kehamilan harus mempertimbangkan risiko dan manfaat kesehatan bersama dengan keadaan lain seperti usia, kesuburan, akses ke layanan kesehatan, dukungan pengasuhan anak, keadaan sosial dan ekonomi, dan preferensi pribadi dalam membuat pilihan untuk waktu kehamilan berikutnya. Hal ini penting agar terhindar dari komplikasi yang mungkin terjadi selama kehamilan. Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) berhubungan dengan kasus kegawatdaruratan kehamilan, persalinan, dan nifas yang terjadi pada perempuan berisiko. Faktor-faktor yang menyebabkan risiko tersebut antara lain kehamilan “4 Terlalu”, yaitu terlalu tua (usia hamil lebih dari 35 tahun), terlalu muda (usia hamil kurang dari 20 tahun), terlalu banyak (jumlah anak 3 orang atau lebih) dan terlalu dekat (jarak antar kelahiran kurang dari 2 tahun). 

Pengambilan keputusan dalam pemakaian kontrasepsi dinyatakan oleh Surbakti masih didominasi oleh perempuan (70%) yang menyatakan bahwa keputusan berada di pihak mereka sendiri (WHO 2003). Proses pengambilan keputusan pemakaian kontrasepsi pada ibu salah satunya disebabkan oleh bias gender, kurangnya partisipasi suami dalam mencegah kehamilan. Penting untuk membangun komunikasi dalam proses pengambilan keputusan dalam memilih alat kontrasepsi, pastikan semua keputusan berangkat dari kesadaran dan kesepakatan antar pasangan. Oleh karena itu, untuk menentukan pilihan kontrasepsi maka penting untuk membangun komunikasi yang demokratis dan setara dengan pasangan. Tips and Trick untuk membangun konsensus Kontrasepsi dalam sebuah relasi : 

  1. Pelajari apa itu Kontrasepsi dan jenisnya
  2. Konseling bersama pasangan untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih kontrasepsi
  3. Baik istri maupun suami yang akhirnya diputuskan bersama untuk menggunakan kontrasepsi perlu didukung secara penuh.
  4. Pastikan mengetahui kondisi kesehatan saat ini dan dampak yang akan ditimbulkan dari penggunaan alat kontrasepsi.
  5. Perlu ditekankan bahwa suami juga punya peran penting dalam pengontrolan reproduksi istri.

 

Selain membangun konsen dengan pasangan, tenaga medis juga harus lebih dulu membangun konsen dengan calon klien dengan menjelaskan secara detail informasi yang berkaitan dengan kontrasepsi. Persetujuan tindakan tenaga kesehatan merupakan persetujuan tindakan yang menyatakan kesediaan dan kesiapan klien untuk menggunakan alat kontrasepsi. Persetujuan tindakan medis secara tertulis diberikan untuk pelayanan kontrasepsi seperti suntik KB, AKDR, implan, tubektomi dan vasektomi. Sedangkan untuk metode kontrasepsi pil dan kondom dapat diberikan persetujuan tindakan medis secara lisan. Setiap pelayanan kontrasepsi harus memperhatikan hak-hak reproduksi individu dan pasangan sehingga harus diawali dengan pemberian informasi yang lengkap, jujur, dan benar tentang metode kontrasepsi yang akan digunakan oleh klien tersebut. Penjelasan persetujuan tindakan tenaga kesehatan sekurang-kurangnya mencakup beberapa hal berikut: a. Prosedur pelayanan; b. Tujuan tindakan pelayanan yang dilakukan; c. Alternatif tindakan lain; d. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan e. Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan

 

Oleh karena itu mari bangun konsen dalam proses pengambilan keputusan untuk menggunakan alat kontrasepsi, karena alat kontrasepsi adalah salah satu pemenuhan hak atas kesehatan reproduksi dan kesehatan ibu. 

 

Sumber : 

Buku Ajar Keluarga Berencana dan Kontrasepsi, Penerbit Pustaka Ilmu, 2018 

Modul Pelatihan Dasar, “Konsep Pelayanan Kontrasepsi”, 2019.



//

Selamat Hari Guru 2022: Pahlawan Karakter Bangsa 

Hari Guru nasional diperingati setiap tanggal 25 November. Guru merupakan sosok yang  digugu dan ditiru. Guru mengemban tugas menjadi role model dan teladan yang bagi para muridnya. 

Guru merupakan fasilitator dalam pendidikan memiliki peran penting dalam menanamkan nilai nilai kesetaraan gender kepada siswanya, melalui pendidikan karakter. 

//

Yuk, Pahami Pendidikan Karakter dan Upaya Internalisasi Gender di Dalamnya! 

Pendidikan karakter adalah suatu sistem pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai positif kepada peserta didik yang di dalamnya terdapat komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk melakukan nilai-nilai tersebut.

Pendidikan karakter erat hubungannya dengan pendidikan moral yang bertujuan membentuk karakter individu dengan semangat toleransi, kesetaraan, dan anti kekerasan. 

Pendidikan karakter berjalan selaras dengan upaya internalisasi nilai kesetaraan gender dan anti kekerasan seksual yang harus ditanamkan kepada anak semenjak dini. Guru adalah aktor yang memegang peran penting dalam upaya ini. 

// 

Peran Guru dalam Internalisasi Nilai Kesetaraan Gender.

  1. Garda terdepan sosialisasi kesetaraan gender 

Guru dapat menjadi garda terdepan dalam memberikan paham kesetaraan gender pada siswanya melalui praktik pembelajaran. 

Nilai kesetaraan gender dapat disampaikan melalui cara yang menarik, seperti menjelaskan dengan cara yang interaktif bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan yang setara di lingkungan sosial. Dapat juga disampaikan melalui pekerjaan rumah yang bukan hanya tugas dari anak perempuan. Melainkan, anak laki-laki juga dapat melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci piring, menyiram tanaman, dan lainnya untuk membantu orang tua. 

  1. Implementasi nilai kesetaraan gender dalam proses belajar mengajar 

Internalisasi nilai gender juga dapat dilakukan oleh guru pada saat proses belajar mengajar dengan cara memberikan kedudukan yang sama bagi siswa laki-laki dan perempuan untuk menjawab pertanyaan guru, menjadi ketua kelas, dan lainnya. Hal-hal sederhana ini dapat diterima oleh siswa bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan dan kesempatan yang sama untuk belajar banyak hal seru lainnya. 

// 

Peran guru dalam Pencegahan Kekerasan Seksual 

  1. Tingginya kasus kekerasan di lingkungan sekolah formal

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2021 terdapat 207 anak, yang terdiri dari 126 anak perempuan dan 71 anak laki laki  yang menjadi korban kekerasan seksual di lingkungan pendidikan formal. Kasus kekerasan seksual terhadap siswa paling tinggi terjadi di lingkungan SMP sederajat dengan persentase 36% (Kompas.com, 2022). 

Tingginya kasus kekerasan seksual yang dialami oleh anak usia sekolah menunjukkan bahwa stakeholder di sekolah, termasuk guru berperan penting untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual di lingkungan pendidikan. 

  1. Sosialisasi tentang kekerasan seksual 

Guru sebagai sosok yang memiliki wewenang dalam mendidik siswa di lingkungan sekolah berperan untuk memberikan pendidikan yang mencegah kekerasan seksual. Hal ini dapat dimulai dengan edukasi mengenai kesehatan reproduksi. Lalu menjelaskan apa yang dimaksud dengan kekerasan seksual, dampak, dan jika menjadi korban apa yang harus dilakukan oleh siswa. Pendidikan mengenai larangan melakukan kekerasan seksual harus dibarengi sehingga siswa memahami kekerasan seksual merupakan kejahatan yang dapat menghancurkan hidup korbannya.  

  1. Implementasi perilaku yang nir-kekerasan 

Selain memberikan sosialisasi berupa materi yang mencegah kekerasan seksual, guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru juga mendapatkan tugas untuk mempraktikkan perilaku anti kekerasan, termasuk kekerasan seksual sehingga siswa mengikuti apa yang dilakukan gurunya. 

//

Refleksi Peran Guru dalam Internalisasi Nilai Gender dan Anti Kekerasan Seksual 

  1. Guru Banyak yang Menjadi Pelaku Kekerasan Seksual. 

Berdasarkan data KPAI tahun 2021, sebagian besar pelaku kekerasan seksual di lingkungan pendidikan formal adalah tenaga pendidik, salah satunya adalah guru (kompas.com,2022). . 

Banyak hal yang menjadi penyebab mengapa guru tega menjadi pelaku kekerasan seksual kepada siswanya, salah satunya disebabkan oleh adanya relasi kuasa yang timpang. Perspektif pelaku yang masih memandang anak anak sebagai pihak yang lemah dan tidak memahami kekerasan seksual yang membuatnya merasa berkuasa atas tubuh siswanya. 

Ketimpangan relasi kuasa juga menjadikan guru dapat memperdaya siswa hingga menjadikan siswa sebagai korban kekerasan seksual. 

Hal lainnya juga bisa disebabkan adanya kelainan pedophilia dan objektivikasi yang dilakukan oleh guru bejat tersebut sehingga tega melakukan kekerasan seksual kepada siswa sendiri. 

 

  1. Guru yang antipati dengan kesetaraan gender 

Meski guru memiliki peran sentral dalam internalisasi nilai kesetaraan gender di lingkungan pendidikan, masih banyak ditemui guru yang antipati dengan nilai kesetaraan gender. 

Meski tidak ditemukan data pasti mengenai berapa banyak guru yang antipati dengan nilai kesetaraan gender, namun banyak ditemui di berbagai sekolah banyak guru yang acuh dengan kesetaraan gender dan melanggengkan budaya patriarki melalui materi pelajaran yang diajarkan, seperti membagi perempuan mengerjakan pekerjaan domestik, dan laki laki mencari nafkah atau menekankan perempuan lebih rendah daripada laki laki. 

 

  1. SDM Guru

Guru memiliki tugas yang berat untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa yang memiliki karakter anti kekerasan dan menjunjung tinggi nilai kesetaraan. Meskipun guru sebagai salah satu pilar pendidikan kesetaraan dan anti kekerasan seksual, masih banyak kita temui guru yang belum paham dan menerapkan nilai nilai kesetaraan dan anti kekerasan dalam kesehariannya. 

Menjadi perhatian penting bagi stakeholder terkait untuk mengupdate kurikulum dan SDM Guru agar dapat lebih update dengan isu ini. 



//

Referensi

https://nasional.kompas.com/read/2022/01/05/08133181/kpai-207-anak-jadi-korban-kekerasan-seksual-mayoritas-di-sekolah-berasrama 

Artikel website, "KPAI: 207 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Mayoritas di Sekolah Berasrama" oleh kompas.com. 2022. 






41124917
Today
This Week
This Month
Last Month
All
7302
26898
42903
172901
41124917