Senin, 11 Mei 2020 18:03

Berbagi Peran, Mulai Sekarang

Ditulis oleh: Rico Takai Yama

Ketika bicara tentang berbagi peran di keluarga, yang terlintas pertama kali biasanya mengenai siapa yang mencari nafkah dan siapa yang melakukan pekerjaan rumah. Dalam hidup berkeluarga memang keduanya telah menjadi hal utama dan harus berjalan bersama. Namun, masih banyak keluarga yang terlalu kaku dalam memberlakukan peran tersebut.

Studi Kuantitatif Pengalaman Hidup Laki-laki oleh Rifka Annisa dan Partners for Prevention di Jakarta, Purworejo, dan Jayapura memperlihatkan bahwa masih ada banyak keluarga dimana perempuan melakukan lebih banyak pekerjaan rumah tangga. Perempuan yang melakukan lebih banyak pekerjaan rumah tangga di Jakarta sebesar 62,4%; di Purworejo 47,4%, dan di Jayapura 42,7% dari seluruh responden. Kemudian yang melakukan pekerjaan rumah tangga secara berimbang di Jakarta sebesar 36,2, di Purworejo sebesar 49,8, dan di Jayapura 54,3%. Sedangkan laki-laki yang melakukan pekerjaan rumah tangga lebih banyak dibandingkan perempuan di Jakarta sebesar 1,5%; di Purworejo 2,8%; di Jayapura 3%. 

Pembagian peran yang kaku antara laki-laki di ranah publik dan perempuan di ranah domestik banyak dipengaruhi oleh nilai di masyarakat yang telah dipraktikkan cukup lama. Nilai tersebut seolah mengatur dan membedakan peran antara laki-laki dengan perempuan. Karena itu masyarakat mewajarkan ketika laki-laki menjadi kepala keluarga dan pencari nafkah yang utama. Sedangkan perempuan dianggap wajar ketika bisa menyelesaikan semua pekerjaan rumah (domestik) dengan baik.

Pembakuan peran laki-laki dan perempuan ini dapat mempengaruhi pola relasi pasangan maupun keintiman di keluarga. Indiah Wahyu Andari, Konselor Rifka Annisa, menyampaikan bahwa di banyak kasus yang didampingi Rifka Annisa, pembakuan peran ini membuat Istri jadi terbebani terlalu banyak, bahkan menuntut dirinya sendiri dan merasa bersalah ketika tidak bisa memenuhi tugas domestik dengan baik.

Indiah juga mengatakan bahwa ketika ada kasus suami berselingkuh atau melakukan kekerasan, istri merasa dialah yang bersalah, dan wajar suaminya melakukan hal itu.

“Sementara di kasus lain, jika suami tidak bisa memenuhi nafkah, akan dimaklumi, dimaafkan, dan istri dengan sendirinya ikut menanggung beban ekonomi,” tambahnya.

Sebenarnya pembakuan peran ini dapat berdampak buruk bagi laki-laki dan perempuan. Hal itu karena laki-laki maupun perempuan jadi punya tuntutan dari lingkungannya. Seperti ada standar yang harus dipenuhi untuk menjadi laki-laki dan perempuan. Padahal, pembagian peran itu perlu mempertimbangkan kecakapan dan keahlian setiap orang. Misalnya, bisa jadi kemampuan memasak suami melebihi istri sehingga perihal memasak lebih banyak diperankan oleh suami. Atau istri mempunyai pendapatan tetap sebagai karyawan dan suami menekuni usaha dari rumah, sehingga pencari nafkah banyak diperankan oleh istri. Yang terpenting dan perlu disadari bahwa pembagian peran ini tetaplah bersifat cair dan sangat mungkin dilakukan bergantian atau bahkan bersamaan.

Memang untuk membiasakan berbagi peran tidaklah mudah. Namun dengan memulainya, kemungkinan kita menjadi terbiasa akan jauh lebih nyata. Beberapa keluarga yang ikut serial diskusi bersama Rifka Annisa telah memulainya dan membagikan sedikit cerita perubahan mereka. Erwin Cahyono, seorang suami dan ayah dari Gunungkidul mulai belajar bahwa mencari nafkah adalah tanggung jawab bersama, termasuk pengelolaannya.

Pengalaman Erwin menjadikan kesalingan sebagai modal suami-istri untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Dalam mencukupi kebutuhan ekonomi, akan sulit jika hanya dibebankan pada suami. Sebuah keluarga perlu menyiapkan jika ada kejadian tidak diinginkan seperti pencari nafkah utama terkena PHK, penghasilannya menurun atau meninggal dunia.

Contoh yang kedua berasal dari salah satu keluarga di Kulon Progo. Dimas Sigit, seorang suami dan ayah mengatakan bahwa pengasuhan anak merupakan tanggung jawab bersama.

“Ayah itu harus membangun chemistry dengan anak-anaknya supaya bisa dekat, bukan ayah yang bisanya hanya menyuruh anaknya saja,” kata Sigit, yang juga fasilitator Kelas Ayah. 

Dari pengalaman Sigit, kita belajar bahwa pengasuhan bukan hanya peran ibu. Perlu dibutuhkan kerja sama antara suami dan istri untuk mengasuh anak. Banyak penelitian yang bisa kita cari menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan dapat berdampak positif terhadap perkembangan anak.

Nah, contoh yang disebutkan di atas tadi adalah sedikit kisah perubahan yang dialami dua lelaki, ayah sekaligus suami. Mereka membuktikan sebagai suami dan ayah yang bisa berbagi peran dengan pasangan. Meski demikian, pada praktiknya memulai berbagi peran mungkin tidak mudah. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar kita lebih mantap untuk memulai berbagi peran dengan pasangan atau dalam keluarga:

1. Pekerjaan Rumah Nyatanya Tidaklah Mudah

Banyak dari kita yang kurang menghargai pekerjaan rumah. Alasan paling besar karena pekerjaan rumah tidak menghasilkan uang. Memang benar pekerjaan rumah tidak menghasilkan uang, tapi kita bisa menghabiskan uang jika mempekerjakan asisten rumah tangga. Kita perlu membenahi penilaian kita terhadap pekerjaan rumah. Jangan-jangan kita bilang mudah karena kita belum pernah melakukannya. Sekarang coba kita bayangkan, melakukan pekerjaan yang sama, berulang kali, di tempat yang sama, waktu istirahat tidak menentu dan bahkan tidak ada hari libur. Masih menganggapnya mudah?

2. Ibu Memang Menghasilkan ASI, Tetapi Dukungan Ayah Juga Sangat Penting

Kita menyadari bahwa ASI sangat penting untuk diberikan pada anak di masa awal pertumbuhan. Di masa ini, peran ibu sangat dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan anak akan ASI. Akan tetapi, bukan berarti ayah bisa dengan santai menyerahkan peran ini seutuhnya kepada ibu.

Dalam penelitian yang dilakukan Rudzik (2010) menunjukkan bahwa tingkat stres yang dialami ibu bisa berdampak pada menurunnya produksi ASI. Oleh karena itu, di saat ibu melakukan pekerjaan reproduksinya, ayah perlu memberikan dukungan seperti meringankan pekerjaan rumah atau memberikan kesempatan bagi ibu untuk relaksasi. Di kondisi tertentu dengan alasan medis di mana ibu tidak bisa memberikan ASI secara langsung, ayah juga bisa memberikan ASI perah dari Ibu atau sufor. Jadi, apa masih kita membakukan peran di saat anak atau keluarga sedang membutuhkan?

3. Setiap Anggota Keluarga Adalah Bagian Dari Rumah

Kita tinggal di dalam rumah. kita bisa beristirahat di rumah dengan nyaman dan aman. Kita adalah bagian dari rumah. Tapi seringkali kita lupa tanggung jawab kita sebagai bagian dari rumah. Membiarkan rumah dirawat oleh satu orang tidaklah menunjukkan rasa kepedulian. Tidak ada salahnya kita mencuci peralatan makan yang baru saja kita pakai. Bukan sekedar ditumpuk karena merasa itu peran istri/ibu. Atau, bisa saja kita menyapu lantai rumah yang setiap hari kita lewati. Semua kita lakukan untuk tujuan bersama, untuk keluarga dan rumah kita. Lagian, dengan cepat selesainya pekerjaan rumah berarti menambah banyak waktu untuk bisa bersama kan?

Sekali lagi, berbagi peran memang tidaklah mudah. Tapi dengan berbagi peran, setidaknya kita bisa lebih mudah menghadapi berbagai persoalan di kehidupan. Jika laki-laki terlalu dituntut dan menuntut dirinya untuk selalu menjadi pencari nafkah, penentu keputusan, dan banyak berperan di ranah publik, maka bisa berpotensi laki-laki mengalami stres jika ia tidak bisa melakukannya dengan baik. Atau bisa jadi ia akan bersedih ketika tidak pernah bisa merasa dekat dengan anaknya. Jika perempuan terlalu dituntut dan menuntut dirinya mengurusi semua urusan rumah maka bisa berpotensi mengalami stres karena terlalu berat, kurang waktu mengaktualisasi diri dan bisa jadi menyia-nyiakan kemampuan yang ia tekuni selama di sekolah.

“Profil Perempuan Indonesia 2019” yang dipublikasi oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlndungan Anak menunjukkan bahwa angka partisipasi murni perempuan di perguruan tinggi mencapai 19,89%, sedangkan Laki-laki berada di 17,33%. Jangan sampai pembakuan peran yang ada dimasyarakat berdampak pada pembatasan perempuan mengembangkan dirinya.

Jadi, berbagi peran bukan hanya untuk mencukupi kebutuhan bersama, tetapi juga menyentuh kebutuhan diri sendiri. Mulai sekarang, kita berbagi peran. Ciptakan keluarga nyaman dengan kesalingan.

Referensi:

Elli Nur Hayati et al. (2012). Studi Kuantitatif Pengalaman Hidup Laki-laki di Jakarta, Purworejo dan Jayapura. Rifka Annisa, Partners for Prevention.

Hasyim, N. & Wulan, N.A. (2017). Belajar Mencintai dari Rumah. Yogyakarta: Rifka Annisa WCC

Pratama, Aditya. (2018). Banyak Manfaatnya Yuk Mulai Sekarang Kita Berbagi Peran. (Artikel) Diakses melalui: https://lakilakibaru.or.id/banyak-manfaatnya-yuk-mulai-sekarang-kita-berbagi-peran/

Rudzik, Alanna. (2010). Breastfeeding and the Individual: The Impact of Everyday Stressful Experience and Hormonal Change on Breastfeeding Duration Among Women in Sao Paulo, Brazil. (Disertasi). University of Massachusets: Department of Anthropology.

Wahyuningrum, Enjang. (2011). Peran Ayah (Fathering) Pada Pengasuhan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Universitas Kristen Satya Wacana.

Kemenpppa. (2019). “Profil Perempuan Indonesia 2019”. Diterbitkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Pandemi Corona mengharuskan orang menjaga jarak. Banyak perusahaan dan institusi pemerintahan meminta pekerjanya untuk bekerja dari rumah, tak terkecuali institusi pendidikan seperti universitas. Beberapa universitas bahkan memutuskan untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar jarak jauh hingga akhir semester genap.

Kebijakan #dirumahaja membuat sebagian orang telah mengubah rutinitasnya. Sebelum Pandemi corona sampai di Indonesia, pagi hari sebagian orang bersiap untuk berangkat bekerja ataupun bersekolah. Kini, berbaring dikasur sambil membuka laptop dengan koneksi internet cukup menjadi definisi baru dalam bekerja. Orang tak perlu berdesak-desakan naik kendaraan umum, atau berlomba-lomba sampai tempat kerja tepat waktu.

Bagi mahasiswa, pagi yang kadang riuh karena harus bersiap kelas tapi semalam begadang dan akhirnya telat bangun pun kini tak lagi ada. Liburnya kegiatan perkuliahan membuat banyak anak perantauan memilih pulang atas nama keadaan yang lebih aman atau terpaksa berdiam diri di kos dengan koneksi internet yang stabil untuk menunjang kelas online yang saat ini gencar digaungkan. Perubahan situasi yang tidak menentu atas kondisi pandemi ini mau tidak merubah semua rutinitas harian dan menimbulkan berbagai kecemasan.

Banyak warung tutup membuat anak kos kesulitan mencari makan. Tak jarang juga mereka merasa kesepian karena harus tinggal sendiri tanpa ada yang bisa diajak sosialisasi. Bagi anak kos yang tinggal sendiri dan terpaksa harus berdiam diri menghabiskan waktu dalam sepetak kamar kondisi #dirumahaja menjadi semakin sulit. Berbagai aktivitas dilakukan anak kos selama berada di dalam kamar untuk menghabiskan waktunya. Menonton film, main game, memasak pun menjadi pelarian dari rasa bosan yang ada. Namun, makin lama hal ini malah menjadi rutinitas yang tak lagi menyenangkan.

Berbagai perkembangan berita yang bertebaran di sosial media pun membuat rasa cemas semakin meningkat. Semakin dilihat semakin stress rasanya. Menurut Novia Dwi Rahmaningsih, Psi., mantan konselor Divisi Pendampingan Rifka Annisa yang saat ini menjadi psikolog P2TP2A Jakarta, “Cemas itu adalah emosi yang sesaat, karena emosi itu sifatnya bergerak, ia akan bërubah seiring dengan perubahan situasi eksternal. Kecemasan itu artinya emosi cemas yang terus menerus dalam jangka waktu tertentu dan sulit diubah meski situasi eksternalnya mungkin sudah berubah”. Novia juga menambahkan jika tanda kecemasan bisa dicek dari pikiran yang terus menerus berpikir negatif ke objek kecemasan.

Dampak dari kecemasan pada tubuh manusia adalah adanya peningkatan respon fisik. Misalnya, otot terasa tegang, ritme nafas dan detak jantung juga akan terpengaruh. Menurut Novia, kecemasan ini dapat kita kelola, tapi memang sulit. Jika merasa butuh bantuan, bisa meminta teman atau tenaga profesional. Saat ini bahkan tersedia layanan psikologi daring, sehingga membuat lebih nyaman untuk berkonsultasi karena identitasnya bisa disembunyikan.

Kecemasan yang disertai banyaknya informasi tentang Covid-19 ini, bahkan juga bisa memicu reaksi psikosomatis, ujar Novia. Ia pun menjelaskan jika psikosomatis itu merupakan tanda tubuh yang tegang sebagai respon stres. Jadi, gejalanya bisa jadi ada, tapi bukan karena sakit gejala fisik. Kalau sumber stresornya dicabut, gejala fisiknya selesai. Stressor sendiri adalah kombinasi situasi eksternal dan respon internal manusia, sehingga meski Covid-19 masih mewabah sampai sekarang, tapi karena respon internalnya diubah dengan pikiran realistis, maka gejala fisiknya hilang. Jadi jika cemas muncul lagi, meski dengan gejala fisik, cek lagi bukti-buktinya. Misal, apakah ketika sempat keluar memakai masker, menjaga jarak, dan apakah kita telah sering cuci tangan? Lalu juga harus terus diingat Covid-19 bisa dilawan dengan imun yang sehat. Jadi, tetap perhatikan makan dan asupan gizi.

Menurut Novia yang juga menjadi psikolog di kawanbicara.id, kita pun perlu melatih diri berpikir dengan data-data yang realistis ketika menghadapi kecemasan, termasuk membuat pikiran alternatif agar bisa terus berpikir positif, tanpa terjerumus toxic positivity. Pikiran alternatif menjadi bagian penting dari pengelolaan diri. Namun, jika tidak dilakukan dengan benar, sangat mungkin pikiran positif tadi menjelma menjadi toxic positivity. Novia menambahkan, jika perbedaan dari toxic positivity dan pikiran alternatif adalah, toxic positivity ada kecenderungan untuk menangkal perasaan. Sehingga, saat proses modifikasi perilaku, tidak berangkat dari kondisi nyata. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar tidak toxic positivity diantaranya adalah kenali, sadari, akui, modifikasi yang tidak adaptif menjadi lebih adaptif.

Perbedaan toxic positivity dengan pikiran alternatif adalah, jika toxic positivity prosesnya langsung ke modifikasi tanpa melihat realita. Sangat penting untuk melatih diri untuk tidak menyangkal perasaan yang tidak nyaman, tapi menerimanya terlebih dahulu. Di saat seperti ini, penerimaan pada situasi yang berubah sangat perlu, sehingga kita mampu beradaptasi pada rutinitas saat ini yang mulai berubah. Berlatih berpikir jujur, dengan bukti-bukti empiris akan sangat membantu meminimalisir kecemasan.

Penulis: Ardelia Karisa | Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Salam ta’dzim

Semoga Anda selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa, selalu dalam keadaan sehat di tengah krisis penularan virus Corona yang belum diketahui secara pasti kapan akan berakhir. Sebelumnya saya mohon maaf jika pesan terbuka saya ini membuat Anda tidak berkenan karena saya sadar, saya bukan siapa-siapa Anda, saya menulis surat terbuka ini karena semata-mata saya adalah juga seorang suami dan seorang ayah seperti halnya Anda. Jadi pada dasarnya surat ini juga saya tujukan kepada diri saya sendiri.

Sebagai seorang suami dan ayah, saat ini merupakan masa-masa yang berat dan sulit. Pola infeksi Corona yang terjadi melalui penularan dari orang ke orang lain mengharuskan kita untuk menjaga jarak sosial dan fisik. Sebagai konsekuensi dari hal ini, cara kita bekerja berubah, jika semula sebagian dari kita melakukan pekerjaan di luar rumah seperti di kantor dan tempat-tempat lainnya karena alasan menjaga jarak sosial dan fisik, sekarang kita harus melakukan pekerjaan di rumah, meskipun saya tahu bahwa banyak dari Anda memiliki jenis pekerjaan yang tidak dapat dilakukan di rumah. Konsekuensi lain dari berubahnya pola kerja ini adalah sebagian kita juga mengalami perubahan penghasilan (income).

Perubahan-perubahan mendadak ini tidaklah mudah bagi banyak suami dan ayah, entah sebagai pekerja harian, buruh pabrik, pegawai kontrak, bahkan aparatur sipil negara. Saat ini mungkin Anda cemas, merasa tak berdaya karena tidak memiliki kendali atas keadaan, atau Anda khawatir karena meskipun Anda memiliki tabungan namun idak dapat memastikan berapa lama Anda dan keluarga Anda dapat bertahan dengan tabungan yang Anda miliki saat ini jika pandemi ini terus berlanjut.

Para Suami dan Para Ayah yang baik, situasi di atas memang berat dan tidak mudah yang sedikit banyak akan mempengaruhi emosi, sikap dan perilaku Anda dalam berelasi dengan orang lain, tak terkecuali dalam relasi Anda dengan isteri dan anak-anak Anda di rumah. Dalam situasi seperti ini, mungkin Anda merasa seorang diri yang harus memikul beban berat ini, lalu memiliki pikiran bahwa isteri dan Anak-anak Anda tidak mengerti bahkan tidak peduli dengan situasi Anda. Pikiran-pikiran seperti ini yang kadang memunculkan rasa marah, sikap dan perilaku negatif bahkan kekerasan terhadap mereka yang Anda dicintai di rumah. Yakinlah bahwa isteri dan anak-anak Anda memahami situasi ini meskipun seringkali tidak diucapkan dengan kata-kata. Jika selama ini Isteri dan anak Anda nampak diam dan seakan tidak peduli, semata-mata karena isteri Anda mungkin tidak tahu apa yang harus dilakukan atau mungkin tidak ingin menambah beban Anda. Lebih-lebih dalam budaya masyarakat kita yang mamandang tanggungjawab para isteri adalah mengurus rumah dan anak-anak. Coba kalau kita memiliki nilai sosial dan budaya yang meletakkan tanggungjawab yang sama suami dan isteri dalam memikul beban keluarga baik nafkah maupun urusan rumah tangga dan anak. Mungkin situasinya akan berbeda.

Atas semua hal ini, para suami dan para ayah yang baik, menjadi penting untuk mengenali beratnya tekanan yang Anda pikul, mengenali cemas, khawatir dan takut yang Anda rasakan dan menerimanya sebagai hal yang manusiawi. Perlu kiranya Anda ungkapkan seluruh perasaan Anda ini kepada isteri dan anak-anak Anda tanpa khawatir terlihat lemah. Jika muncul kemarahan tak tertahankan atas situasi pandemi yang berat ini ambillah waktu (jeda) untuk menenangkan diri, hindari mengekspresikan kemarahan itu secara negatif apa lagi menggunakan kekerasan kepada isteri dan anak Anda karena hal ini tidak akan membuat beban Anda berkurang namun akan membuat masalah baru yang semakin mempersulit keadaan dalam situasi yang sudah sulit ini.

Sepertinya hanya ini yang ingin saya sampaikan dalam surat terbuka ini seraya berdoa semoga wabah ini segera berakhir dan kehidupan kita kembali seperti semula, sekali lagi mohon maaf jika surat ini membuat Anda kurang berkenan. Mari kita jaga diri kita dan keluarga agar tetap sehat fisik dan mental pada masa pandemi ini.

Salam Ta’dzim
Wedomartani, 29 Maret 2020

Nur Hasyim
Seorang Suami dan Ayah.

Senin, 30 Maret 2020 12:54

Hindarkan Stres Selama di Rumah Saja

Sejak ditetapkannya physical distancing atau jaga jarak aman untuk pencegahan COVID-19, aktivitas Nia dan Adi (bukan nama sebenarnya) berubah. Sehari-hari perempuan usia 30-an itu bekerja sebagai pegawai swasta, sedangkan suaminya, Adi, berprofesi driver ojek online dan berjualan paruh waktu. Ketika rasa was-was akibat penyebaran corona bertambah, mereka bersepakat untuk sementara tidak bekerja.

Tak hanya penghasilan yang berubah, tetapi rutinitas sehari-hari juga berganti. Kantor Nia memutuskan untuk melakukan kebijakan bekerja di rumah. Demikian juga sekolah Tia, anak mereka yang tengah bersekolah di Kelas 4 SD, menerapkan belajar di rumah.

“Sekilas tampak menyenangkan semua berada di rumah. Namun, itu bukanlah hal yang mudah karena saya harus bekerja, sementara anak juga terus meminta ditemani, apakah itu ketika belajar ataupun ketika bermain.” jelas Nia. 

Menurutnya, tetap menjalani kerja, sekaligus melakukan pekerjaan di rumah dan menemani anak adalah sesuatu yang berat. Suami pun merasa jenuh karena tidak bisa bekerja mencari uang, anak merasa bosan hanya beraktivitas di rumah.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Nia dan suaminya berkomunikasi lebih intens untuk menghadapi berbagai persoalan yang mereka hadapi. Misalnya, membicarakan cara untuk melindungi kesehatan mereka di rumah ataupun saat keluar, membicarakan masalah ekonomi, bagaimana mengatasi kecemasan, mengatasi kejenuhan anak, bagaimana pembagian peran di rumah dan apa yang bisa dilakukan bersama agar situasi di rumah tenang, nyaman dan menyenangkan.

“Secara ekonomi berat. Karena bulan ini juga kami harus menyicil KPR untuk pertama kali, dan juga cicilan lainnya” jelas Nia.  Otomatis, satu-satunya penghasilan berasal dari Nia. Keadaan ekonomi yang berubah, membuat Nia dan suami harus memberi pengertian kepada anaknya, untuk berhemat.

“Saya memberi tahu anak saya, Tia, untuk tidak lagi jajan. Selain itu juga harus makan apapun yang ada di rumah,” tutur Nia. 

Semenjak pandemi COVID, Nia hanya belanja bahan masakan seminggu sekali, agar lebih menghemat, itupun hanya dipilih bahan-bahan yang sederhana namun tetap bergizi seimbang. 

Selain berhemat, juga mencari alternatif-alternatif solusi untuk mengatasi kebutuhan ekomoni lainnya, “Meski merasa buntu, tapi kami yakin pasti ada jalan, dan kami tidak sendiri. Banyak keluarga lain juga mengalaminya”.    

Lalu perempuan berlesung pipit ini bercerita ke suami terkait apa yang ia rasakan, sering merasa was-was atau cemas dengan paparan berita di TV atau medsos. “Emosi yang beragam ini membuat saya gampang “ngegas” alias nada suara mudah naik, dan kurang fokus menyelesaikan pekerjaan kantor, sehingga suasana rumah tidak menyenangkan”.

Nia juga bercerita bahwa dia dan suaminya membicarkaan bagaimana cara agar rasa cemas bisa berkurang, misal meminta suami untuk tidak terus menerus bercerita tentang update corona atau meminta mengurangi menonton berita di TV tentang darurat corona. Selain ia dan suami juga menyepakati untuk lebih sering ngobrol isu yang lain, mencari berita yang positif, berolahraga di halaman sembari berjemur matahari, bermain dengan anak. 

“Setelah itu berjalan saya merasa lebih tenang, kebosanan anak dan suami pun teratasi,” katanya. 

Hal lain yang dilakukan perempuan yang hobi masak ini adalah mengkomunikasikan tentang pembagian peran di dalam rumah. Di awal-awal bekerja dari rumah, suaminya masih bekerja, sehingga porsi pekerjaan rumah tangga lebih banyak dikerjakan Nia, akibatnya, ia tidak bisa bekerja menyelesaikan pekerjaan kantornya. Kemudian Nia menyampaikan kepada suami apa-apa saja yang sebaiknya dikerjakan juga oleh suami agar semua bisa berjalan secara optimal sebelum berangkat kerja.

Setelah suami tidak bekerja, maka pekerjaan rumah tangga sepenuhnya dilakukan suami, kecuali memasak. Sedangkan bermain dan mendampingi anak belajar dilakukan bersama-sama atau bergantian.

“Soal memasak, masih sering saya yang mengerjakan, karena suami kurang cekatan memasak,” jelas Nia.

Imbas pada Kaum Perempuan

Adanya himbauan physical distancing atau jaga jarak dari orang lain dalam rangka pencegahan penyebaran COVID-19 membuat rutinitas berubah. Setelah ada himbauan tersebut, muncul kebijakan baik dari instansi atau perusahaan untuk bekerja di rumah, belajar di rumah, serta beribadah di rumah. Otomatis banyak rumah tangga yang mempunyai perubahan rutinitas.  

“Pada umumnya kemudian kaum ibu yang dibebani tugas untuk mengasuh, menemani belajar. Sementara, beban kerja domestik sehari-hari seringkali tetap dibebankan kepadanya. Dampaknya, waktu yang tersedia untuk dirinya sendiri semakin sedikit,” jelas Indiah Wahyu Andari, Manajer Divisi Pendampingan Rifka Annisa, ketika ditanya terkait apa dampak yang rentan menimpa perempuan dalam kondisi pandemi COVID-19.

Menurut perempuan asal Yogyakarta ini, ada berbagai imbas yang menimpa kaum perempuan dengan berbagai macam kondisi. Pertama, apabila kaum ibu tersebut adalah perempuan yang bekerja, dengan segudang aktivitas tersebut akan sulit untuk mengatur waktu menyelesaikan pekerjaan, yang dapat berimbas pada performa kerja yang buruk. Kedua, untuk perempuan yang harus bekerja untuk mendapatkan pendapatan harian seperti pedagang, pekerja lapangan, ia berisiko tidak punya waktu lagi mengerjakan pekerjaan tersebut, sehingga penghasilan pun menurun atau bahkan tak ada sama sekali pemasukan. 

Ketiga, jika perempuan tersebut adalah ibu rumah tangga, maka ia akan mendapatkan tambahan pekerjaan merawat semua orang di rumah selama masa pandemi. Selain itu, ia tetap harus keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan logistik, menempatkan dia pada risiko terpapar lebih besar. Ditambah lagi, jika ada anggota keluarga yang sakit, juga umumnya perempuan yang dibebani kewajiban untuk merawat.

Beban-beban tersebut sangat berpotensi menimbulkan stres pada perempuan, disamping kecemasan terkait wabah itu sendiri. Beban tambahan yang muncul sebagai dampak wabah itu perlu disadari bersama antar pasangan, dan dapat dikerjakan secara merata dengan pasangan, atau anggota keluarga usia produktif yang lain.

Ketika ditanyai tentang tips agar terhindar dari stres akibat pandemi serta tambahan beban yang terjadi di masa pandemi, Indiah menerangkan beberapa tips untuk menangkalnya:

  1. Mengumpulkan informasi yang benar terkait virus COVID-19 dan upaya antisipasinya. Pasangan suami istri perlu memiliki pemahaman bersama, dan menciptakan protokol kesehatan yang disepakati di rumah.
  2. Komunikasi asertif, terbuka dengan kebutuhan dan beban masing-masing. Perlu ada kesadaran bersama bahwa kondisi ini menimbulkan beban baru dalam rumah tangga, dan beban tersebut perlu dihadapi bersama. Pasangan juga perlu menentukan prioritas bersama yang harus dikerjakan dalam masa pandemi, serta saling mendukung.
  3. Bekerjasama berbagai beban pekerjaan, misal pekerjaan perawatan, pengasuhan, atau pekerjaan rumah tangga bersama pasangan. Diskusikan pekerjaan mana yang perlu dibagi. Apabila ada pekerjaan yang sebelumnya tidak biasa dikerjakan pasangan, tetap hargai prosesnya dan keinginannya untuk membantu.
  4. Lakukan aktivitas yang menggembirakan bersama. Misal berkebun di pekarangan, membuat permainan bersama anak, menonton film bersama, atau hal yang menyenangkan lainnya.  
  5. Tetap terhubung dengan lingkungan sosial untuk mendapatkan dukungan secara psikologis. Saat ini banyak kelas daring terkait mengurangi kecemasan, atau cara mengisi waktu luang bersama anak. Tetap sediakan waktu semacam itu agar kondisi psikis tetap terjaga.

Penulis: Niken Anggrek Wulan | Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Kamis, 03 Oktober 2019 16:21

OPEN RECRUITMENT

OPEN RECRUITMENT OKTOBER 2019

DIVISI INTERNAL

DIVISI PENDAMPINGAN

 

POSISI YANG DIBUTUHKAN:

Relawan Konselor Psikologi  : 3 (tiga) orang

Relawan Konselor Hukum : 2 (dua) orang

Relawan Konselor Laki-laki : 2 (dua) orang

Relawan Desain Grafis: 1 (satu) orang

Staf Project: Pengembangan Sistem Database: 1 (satu) orang

Staf Project: Pengarsipan dan Input Data : 1 (satu) orang

 

A. Relawan Konselor Psikologi:

Persyaratan

  1. Mahasiswi (perempuan) minimal semester 5 Fakultas Psikologi
  2. Memiliki ketertarikan terhadap konseling dan pendampingan psikologi
  3. Memiliki jiwa kerelawanan dan mau belajar
  4. Memiliki ketertarikan terhadap isu gender dan maskulinitas
  5. Memiliki ketertarikan untuk beraktivitas di organisasi nirlaba
  6. Memiliki kemampuan komunikasi dan inisiatif yang baik
  7. Bersedia bekerja di dalam lingkungan yang unik dan beragam
  8. Bersedia meluangkan waktu 3 hari dalam satu minggu; dan di hari Sabtu atau Minggu jika dibutuhkan, selama 12 bulan
  9. Memiliki pengalaman berorganisasi dan bekerjasama dalam tim
  10. Bersedia bekerja dengan mobilitas yang tinggi dan mampu mengendarai motor
  11. Berdomisili di Yogyakarta

Tugas

Relawan akan terlibat menjadi asisten konselor dalam melakukan kerja-kerja pendampingan perempuan dan anak korban kekerasan, membantu konselor dalam mengelola administrasi pendampingan, belajar melakukan administrasi tes psikologi, belajar menjadi narasumber/fasilitator, serta terlibat dalam kegiatan lembaga.

 

B. Relawan Konselor Hukum:

 Syarat:

  1. Mahasiswi (perempuan) minimal semester 5 Fakultas Hukum
  2. Memiliki ketertarikan terhadap pendampingan hukum
  3. Memiliki jiwa kerelawanan dan mau belajar
  4. Memiliki ketertarikan terhadap isu gender dan maskulinitas
  5. Memiliki ketertarikan untuk beraktivitas di organisasi nirlaba
  6. Memiliki kemampuan komunikasi dan inisiatif yang baik
  7. Bersedia bekerja di dalam lingkungan yang unik dan beragam
  8. Bersedia meluangkan waktu 3 hari dalam satu minggu; dan di hari Sabtu atau Minggu jika dibutuhkan, selama 12 bulan
  9. Memiliki pengalaman berorganisasi dan bekerjasama dalam tim
  10. Bersedia bekerja dengan mobilitas yang tinggi dan mampu mengendarai motor
  11. Berdomisili di Yogyakarta

Tugas

Relawan akan terlibat menjadi asisten konselor dalam melakukan kerja-kerja pendampingan pada perempuan dan anak korban kekerasan, membantu konselor dalam mengelola administrasi pendampingan hukum, belajar membuat rekes-rekes, belajar menjadi narasumber/fasilitator, serta terlibat dalam kegiatan lembaga.

 

C. Relawan Konselor Laki-laki:

 Syarat

  1. Mahasiswa (laki-laki) minimal semester 5 Fakultas Psikologi
  2. Memiliki ketertarikan terhadap konseling dan pendampingan psikologi
  3. Memiliki jiwa kerelawanan dan mau belajar
  4. Memiliki ketertarikan terhadap isu gender dan maskulinitas
  5. Memiliki ketertarikan untuk beraktivitas di organisasi nirlaba
  6. Memiliki kemampuan komunikasi dan inisiatif yang baik
  7. Bersedia bekerja di dalam lingkungan yang unik dan beragam
  8. Bersedia meluangkan waktu 3 hari dalam satu minggu; dan di hari Sabtu atau Minggu jika dibutuhkan, selama 12 bulan
  9. Memiliki pengalaman berorganisasi dan bekerjasama dalam tim
  10. Bersedia bekerja dengan mobilitas yang tinggi dan mampu mengendarai motor
  11. Berdomisili di Yogyakarta

Tugas

Relawan akan menjadi asisten konselor laki-laki dalam kerja-kerja: konseling pada laki-laki baik pelaku kekerasan maupun bukan pelaku kekerasan untuk tujuan pencegahan di lokasi layanan yang diselenggarakan oleh Rifka Annisa, membantu melakukan konseling pasangan, terlibat dalam proses mediasi, membantu piket hotline konseling laki-laki, membantu menerima konseling telepon dan email, membantu melakukan pencatatan dan pekerjaan administratif data kasus, menjadi nara sumber/fasilitator, serta terlibat dalam kegiatan lembaga.

 

D. Relawan Desain Grafis

Syarat

  1. Mahasiswa/ mahasiswi semua jurusan
  2. Terampil menggunakan aplikasi desain (adobe, corel, dll) dan kreatif dalam mendesain
  3. Memiliki jiwa kerelawanan dan bersedia bekerja di dalam tim
  4. Memiliki ketertarikan terhadap isu gender dan maskulinitas
  5. Memiliki ketertarikan untuk beraktivitas di organisasi nirlaba
  6. Memiliki kemampuan komunikasi dan inisiatif yang baik
  7. Bersedia bekerja di dalam lingkungan yang unik dan beragam
  8. Memiliki komitmen tinggi dan  bersedia mengaplikasikan keahlian yang dimiliki.
  9. Bersedia meluangkan waktu 2 - 3 hari dalam satu minggu selama 6 bulan untuk datang ke Rifka Annisa
  10. Berdomisili di Yogyakarta

Tugas

Relawan desain grafis akan membantu Media Officer dalam membuat dokumentasi di lapangan, membantu membuat konten untuk media sosial Rifka Annisa, serta membantu membuat publikasi tentang kerja-kerja Rifka Annisa

 

E. Staf Project: Pengembangan Sistem Database

 Syarat

  1. Mahasiswa/mahasiswi semester akhir atau fresh graduate, semua jurusan atau jurusan Sistem Informasi
  2. Memiliki kemampuan dalam mengembangkan sistem database berbasis Microsoft Access
  3. Memiliki jiwa kerelawanan dan mau belajar
  4. Memiliki ketertarikan terhadap isu gender dan maskulinitas
  5. Memiliki ketertarikan untuk beraktivitas di organisasi nirlaba
  6. Memiliki kemampuan komunikasi dan inisiatif yang baik
  7. Bersedia bekerja di dalam lingkungan yang unik dan beragam
  8. Memiliki pengalaman berorganisasi dan bekerjasama dalam tim
  9. Bersedia dikontrak selama 3 bulan (by project)
  10. Berdomisili di Yogyakarta

Tugas

Melakukan pembenahan dan pengembangan terhadap sistem database kasus Divisi Pendampingan Rifka Annisa berbasis Microsoft Access, sesuai dengan kebutuhan lembaga

 

F. Staf Project: Pengarsipan dan Input Data

Syarat

  1. Mahasiswa/mahasiswi semester akhir atau fresh graduate, semua jurusan, diutamakan jurusan arsip/ilmu perpustakaan.
  2. Memiliki jiwa kerelawanan dan mau belajar
  3. Memiliki ketertarikan terhadap pengelolaan arsip dan input data
  4. Memiliki ketertarikan terhadap isu gender dan maskulinitas
  5. Memiliki ketertarikan untuk beraktivitas di organisasi nirlaba
  6. Memiliki kemampuan komunikasi dan inisiatif yang baik
  7. Bersedia bekerja di dalam lingkungan yang unik dan beragam
  8. Memiliki pengalaman berorganisasi dan bekerjasama dalam tim
  9. Bersedia untuk dikontrak selama 3 bulan (by project)
  10. Berdomisili di Yogyakarta

Tugas

Menjadi asisten konselor dalam melakukan pengarsipan file data kasus, melakukan pemeriksaan kelengkapan berkas, melakukan supervisi konten data, melakukan penginputan data ke dalam sistem.

 

CARA MENDAFTAR:

 

BACA pengumuman lengkapnya di website Rifka Annisa.

Ingat, baca dulu sampai habis yaa, alu klink link ini: http://bit.ly/relawanrifkaannisa untuk mendaftar

Rekrutmen dibuka mulai tanggal 3 Oktober – 17 Oktober 2019, atau akan ditutup jika kuota telah terpenuhi.

Informasi lebih lanjut sila hubungi Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

35144052
Today
This Week
This Month
Last Month
All
19
14777
11972
177904
35144052