Kamis, 11 Juli 2019 12:02

Open Recruitment Rifka Annisa

Open Recruitment Rifka Annisa

1 (satu) orang staf Community Organizer

Sebelum mendaftar, ingatlah bahwa pendaftar bersedia untuk:

  • Mengikuti rangkaian proses seleksi
  • Meluangkan waktu untuk mengikuti orientasi dan pembekalan
  • Mengikuti sesi-sesi peningkatan kapasitas di Rifka Annisa

PERSYARATAN STAF COMMUNITY ORGANIZER

  1. Perempuan atau laki-laki, menikah atau tidak menikah
  2. Fresh graduate atau sudah lulus dari jurusan ilmu-ilmu sosial-humaniora
  3. Tertarik dengan isu gender dan maskulinitas
  4. Tertarik untuk berkegiatan dengan masyarakat dan pemerintah
  5. Tertarik dengan analisis sosial dan praktek pengembangan masyarakat.
  6. Komunikatif dan memiliki inisiatif tinggi
  7. Memiliki pengalaman berorganisasi dan terbiasa bekerja dalam tim
  8. Bersedia bekerja dengan mobilitas yang tinggi
  9. Mampu berbahasa Inggris aktif maupun pasif
  10. Mampu mengendarai sepeda motor dan memiliki SIM C
  11. Berdomisili di Yogyakarta, diutamakan seputar Kulon Progo atau Bantul dekat Kulon Progo, dan bersedia untuk bekerja di Kecamatan Pengasih, Kulon Progo
  12. Bersedia bekerja dalam lingkungan dengan latar budaya yang beragam

Gambaran Tugas:

Melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat, kelompok perempuan, dan remaja melalui penyelenggaraan kelas-kelas diskusi, serta melakukan kerjasama dan koordinasi dengan pemerintah setempat serta KUA.

Persyaratan :

  1. Mengisi formulir yang ada di google form melalui link: http://bit.ly/oprecrifkaannisa
  2. Wajib mengirimkan tulisan mengenai topik Pengorganisasian Masyarakat, minimal 600 kata, spasi 1,5, dikirimkan melalui email ke Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. dengan subject email: (NAMA PENDAFTAR)_CO. Dikirimkan sebelum/setelah mengisi formulir dan tidak melewati batas tanggal.

Informasi lebih lanjut bisa ditanyakan melalui email ke Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. atau datang langsung ke Rifka Annisa, Jln. Jambon IV Kompleks Jatimulyo Indah Yogyakarta.

Open Recruitment ini dibuka mulai tanggal 8 Juli - 18 Juli 2019, atau jika kami sudah mendapatkan kandidat yang memenuhi kriteria kami.

Selamat mendaftar!

JOB DICK CALON CO HINGGA DESEMBER 2019

  1. Mengorganisir Desa Tawangsari dengan beberapa kegiatan:
  • Penguatan PIK R dengan melakukan koordinasi kurang lebih 4x
  • Penguatan FPKK dengan koordinasi kurang lebih 4x
  • Sosialisasi di kelompok dewasa dan remaja bekerjasama dengan FPKK, PIKR dan Fasilitator komunitas kurang lebih 6x
  • Koordinasi rutin dengan stakehoder (Pemerintah desa, tokoh agama/tomas, muspika kecamatan).
  • Pertemuan rutin dan Penguatan Kapasitas Fasilitator (Dibantu oleh PO).
  1. Implementasi Program Premarital Course dan Pusaka (Pusat Layanan Keluarga) Sakinah:
  • Kegiatan Pusaka Sakinah dalam bentuk diskusi kelas Pasangan (Ayah + Ibu) sebanyak 11 sesi pertemuan (2 jam). Namun pertemuan ini bisa digabungkan dalam 5 hari pertemuan, dengan asusmsi 2 sesi di gabungkan dalam 1 hari. Kegiatan ini dilakukan di KUA
  • Kegiatan Premarital dalam bentuk diskusi kelas Remaja laki-laki sebanyak 20 sesi (10 sesi kelas remaja laki-laki, 10 sesi kelas remaja perempuan). Kegiaan dilakukan di Desa Sidomulyo bekerjasama dengan Pemerintah Desa Sidomulyo. Fasilitator kegiatan adalah Rifka, KUA dan fasilitator komunitas.
  • Koordinasi rutin dengan KUA dan pemerintah Desa Sidomulyo.
  • Pertemuan rutin dan Penguatan Kapasitas Fasilitatorkomunitas (Dibantu oleh PO).
Senin, 29 April 2019 13:57

Pelecehan Seksual di Tempak Kerja

Salam Rifka Annisa, kakak saya memiliki masalah di tempat kerja, yaitu mengalami perlakuan tidak pantas yang dilakukan oleh bosnya. Jadi kakak saya bekerja di sebuah rumah makan selama kurang lebih tiga bulan ini. Sejak awal bekerja, dia kurang nyaman dengan perlakuan yang diberikan oleh bos pemilik rumah makan. Bosnya memanggil dengan sapaan “say atau sayang”, kemudian sering bicara sambil sesekali merangkul. Tapi ketika kakak saya mengutarakan keberatan tersebut ke temannya, mereka bilang memang orangnya begitu, tidak perlu diambil hati. Jadi kakak saya akhirnya membiarkan perlakuan tersebut karena menurutnya pasti juga dilakukan ke karyawan-karyawan yang lain.

Sampai suatu hari ketika kakak saya hanya berdua dengan bos di ruang kantor pengola rumah makan, bos tersebut memeluk dari belakang, meremas payudara, dan berusaha mencium. Dan pada saat itu kebetulan istri bos tersebut masuk. Kakak saya berontak dan langsung lari dari sana. Saat dia lari karyawan yang lain melihat dan sempat memanggil-manggil. Sejak saat itu kakak saya tampak shock dan tidak berani kembali lagi ke rumah makan tersebut. Cerita dari peristiwa ini sudah beredar di rumah makan, tapi dengan versi bahwa kakak saya menggoda bos laki-lakinya.

Rasanya tidak adil kakak saya diperlakukan seperti itu. Apakah peristiwa ini bisa dilaporkan hukum? Mohon penjelasannya, terima kasih.

 

JAWAB

Salam Ibu, kami ikut bersedih dengan peristiwa yang menimpa kakak Ibu. Apa yang dialaminya adalah peristiwa pelecehan seksual. Hal ini telah terjadi sejak awal masuk, yaitu mendapat perlakuan berkonotasi seksual, berupa panggilan dan rangkulan, yang membuat kakak merasa tidak nyaman. Sayangnya, kakak tidak menyadari bahwa perlakuan tersebut adalah bentuk pelecehan ketika lingkungan di sekitar mengamini hal tersebut sebagai bentuk perilaku yang wajar. Padahal, ukuran pelecehan adalah pada diri kita sendiri. Ketika kita merasa tidak nyaman, maka perbuatan tersebut adalah bentuk pelecehan.

Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tidak dikenal istilah pelecehan seksual. KUHP hanya mengenal istilah perbuatan cabul, yaitu merupakan perbuatan yang melanggar rasa kesusilaan, atau perbuatan lain yang sifatnya keji, dan semuanya dalam lingkungan nafsu birahi kelamin, seperti ciuman, meraba kemaluan, meraba payudara, dan sebagainya, dengan landasan tindakan tersebut tidak diinginkan oleh korban. Dengan demikian, unsur penting dari pelecehan seksual adalah adanya ketidakinginan atau penolakan pada apapun bentuk-bentuk perhatian yang sifatnya seksual. Sehingga perbuatan seperti siulan, ungkapan verbal (kata-kata), sentuhan, atau apapun yang menurut umum dianggap wajar namun tidak dikendaki korban masuk dalam kategori pelecehan seksual. Pelaku pelecehan seksual dapat dijerat pasal 289 - 296 KUHP setelah bukti-bukti dirasa cukup oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang akan melakukan dakwaan pada pelaku pelecehan seksual.

Pembuktian dalam hukum pidana termuat dalam pasal 184 UU No. 8 Tahun 1981 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) meliputi : keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa. Dalam kasus pelecehan seksual, harus dilengkapi minimal 2 (dua) alat bukti. Berdasarkan kronologi kasus yang Ibu ceritakan di atas, ada beberapa saksi terkait peristiwa pelecehan seksual tersebut, yaitu kakak sendiri sebagai saksi korban, bos sebagai pelaku pelecehan seksual, dan istri bos yang menyaksikan peristiwa tersebut, serta saksi petunjuk yaitu 

karyawan-karyawan yang melihat kakak atau bos masuk ke dalam ruangan, serta yang melihat kakak lari keluar. Selain bukti di atas, pada kakak juga dapat dilakukan pemeriksaan kejiwaan, visum et psikiatrikum, untuk melihat dampak peristiwa pelecehan seksual.

Pada dasarnya, kasus ini dapat dilaporkan secara hukum ke kantor Polsek atau Polres terdekat. Yang penting perlu dipersiapkan adalah kesiapan mental dari kakak untuk menghadapi proses hukum tersebut dengan berbagai konsekuensinya. Misalnya, bahwa dia harus menceritakan dengan detil peristiwanya di hadapan penyidik kepolisian, serta apabila dianggap memenuhi unsur dan cukup alat bukti proses hukum dan proses hukum berlanjut, maka harus siap juga menceritakan di depan majelis hakim. Termasuk konsekuensi jika keluarga mendapatkan ancaman maupun teror dari pihak-pihak yang tidak senang dengan adanya proses hukum tersebut. Namun, bagaimanapun kakak memiliki hak untuk mendapat keadilan atas peristiwa ini.

Sebaiknya keluarga mengakses lembaga layanan, agar kakak juga mendapatkan layanan pemulihan dan penguatan secara psikologis. Di setiap kabupaten/kota/propinsi ada lembaga layanan Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) milik pemerintah, yang memiliki layanan pendampingan hukum dan psikologi untuk perempuan dan anak korban tindak kekerasan, serta tidak berbayar. Demikian jawaban kami, semoga dapat membantu.

Jumat, 26 April 2019 11:19

Pelecehan di Kereta

Halo, Rifka Annisa! 

Perkenalkan, nama saya Ibu W. Saya ingin minta saran terkait kasus yang saya alami. Sebulan yang lalu, saya berperjalanan dari Jogja menuju Jakarta menggunakan sebuah kereta api kelas eksekutif. Dalam perjalanan tersebut saya duduk bersebelahan dengan seorang bapak-bapak. Pada malam hari ketika semua penumpang tertidur, bapak tersebut memasukkan tangannya kedalam selimut saya dan meraba-raba daerah paha dan kemaluan saya. 

Pada awalnya saya takut dan diam saja. Lalu dia malah semakin memasukkan tangannya ke celana saya hingga menyentuh kemaluan saya. Saya pun menjerit hingga semua penumpang terbangun. Tapi bapak di sebelah saya itu lantas pura-pura tertidur dan mendengkur. Saya lapor pada petugas kereta, dia menanyakan apakah ada yang menyaksikan. Penumpang kereta yang lain tidak ada yang menyaksikan. Mereka bilang tidak mungkin si bapak melakukan itu karena sedang tertidur. Atas dasar itu, petugas mengatakan tidak mungkin menindak si bapak, apalagi menurunkannya. 

Saya sangat geram dan marah. Apakah memang kasus seperti yang saya alami ini tidak bisa ditindak? Padahal dia benar-benar telah melecehkan saya. Mohon saran dan petunjuk dari Rifka Annisa. Terimakasih.

 

JAWAB

Salam Ibu W, kami ikut sedih dengan peristiwa yang menimpa Ibu. Tindakan Ibu dengan berteriak memang sangat tepat. Karena dengan begitu orang-orang di sekitar Ibu akan lebih siaga dan Ibu terhindar dari tindakan pelecehan yang lebih jauh. 

Mengenai keinginan Ibu untuk membawa kasus ini ke ranah hukum, memang agak sulit. Ibu membutuhkan saksi atas peristiwa tersebut, minimal saksi yang menguatkan keterangan Ibu. Sayangnya dalam peristiwa yang Ibu alami, pelaku pintar menyamarkan perbuatannya sehingga penumpang lain tidak ada yang bisa memberikan kesaksian yang menguatkan keterangan Ibu. Alat bukti lain seperti visum juga sulit untuk dibuat, mengingat dalam peristiwa ini Ibu sebatas dipegang, dan terutama kasus ini sudah lama terjadi. 

Beberapa kasus kekerasan seksual terkendala secara hukum karena keterbatasan instrumen hukum saat ini. Keberanian Ibu untuk menceritakan pengalaman ini sangat kami apresiasi. Jika Ibu berkenan, kasus ini dapat dibawa ke perusahaan transportasi yang Ibu gunakan, untuk mendorong adanya mekanisme pencegahan dan penanganan tindakan kekerasan seksual di transportasi umum, termasuk pelecehan seperti yang Ibu alami. Harapannya adalah agar di masa yang akan datang, ketika ada kasus serupa dan terkendala secara hukum, ada mekanisme yang sudah ada untuk diikuti. 

Demikian jawaban kami, semoga bermanfaat. Terimakasih.

Rabu, 24 April 2019 12:49

Suami Tinggal Bersama Selingkuhan

Perkenalkan, saya Ibu Fatma dari kota S. Saya memiliki masalah rumah tangga yang ingin saya ceritakan, mudah-mudahan Rifka Annisa bisa memberikan saran untuk mengatasi persolan ini. Saya sudah 10 tahun berumah tangga dan memiliki 3 anak. 

Suami dulu pernah bekerja. Untuk membantu ekonomi keluarga, saya membuat suvenir dan dititipkan ke swalayan-swalayan, sehingga lama-lama pendapatan saya menjadi jauh lebih besar dari suami. Dengan kondisi itu suami malah marah-marah, merasa direndahkan dan merasa tidak punya harga diri karenanya. Masalahnya dia memiliki kebiasaan judi main kartu dan minum-minum, sehingga kalau saya tidak memiliki pegangan sendiri, saya khawatir tidak bisa mencukupi kebutuhan anak-anak. Apalagi kemudian dia kehilangan pekerjaan, sehingga tidak punya pemasukan dan sering minta uang pada saya. 

Lima bulan terakhir, saya mengetahui suami berselingkuh dengan seorang perempuan yang berstatus janda dan memiliki dua anak. Dua bulan yang lalu kami bertengkar hebat karena saya meminta penjelasan atas perselingkuhan tersebut. Dalam pertengkaran itu saya dipukul dan diinjak-injak di depan anak-anak. Sejak itu suami saya pergi meninggalkan rumah, mengontrak rumah di tempat lain. Menurut informasi yang saya terima dari saudara saya, WIL-nya sering terlihat keluar masuk rumah kontrakan tersebut. 

Keluarga suami akhirnya mengetahui permasalahan ini dan pernah menasehatinya secara baik-baik. Namun suami tetap bersama selingkuhannya. Kadang-kadang pulang sebentar menjenguk anak-anak, namun segera bertengkar dan pergi lagi. Saya juga meminta ketegasan untuk memilih antara saya dan anak-anak atau selingkuhannya. Suami tidak mau memilih salah satu, maunya memilih keduanya. 

Saya bingung mengatasi permasalahan ini. Harapan saya sebenarnya agar kami bisa rukun kembali, mengingat ada anak-anak. Tetapi kalau begini terus-menerus saya juga tidak sanggup. Kalau memang harus berpisah saya juga sudah siap. Mohon sarannya. Terimakasih. 

JAWAB

Salam Ibu Fatma, terimakasih sudah berbagi cerita dengan kami. Kami ikut bersedih atas permasalahan rumah tangga yang Ibu hadapi, dan salut dengan ketegaran yang Ibu tunjukkan. 

Memiliki penghasilan lebih besar dari suami bukanlah suatu kesalahan ataupun bentuk merendahkan suami. Itu adalah sebuah sikap yang realistis atas keadaaan yang sedang dihadapi. Dengan masing-masing pasangan memiliki penghasilan sendiri, maka dapat saling menopang dan saling membantu satu sama lain. 

Kebiasaan suami berjudi dan mabuk seperti yang Ibu ceritakan, apalagi dengan perselingkuhan, tidak hanya menimbulkan sakit hati bagi Ibu, namun juga resiko bagi keluarga Ibu secara umum dan dirinya sendiri secara khusus. Bagi anak, beresiko meniru perilaku negatif, kehilangan bahkan membenci figur ayah, serta tumbuh dengan perilaku bermasalah karena kurang kasih sayang di lingkungan keluarga. Bagi suami Ibu, resiko 

dijauhi lingkungan sosial, terlibat kriminalitas, hingga penyakit menular seksual, yang mana resiko ini juga berkaitan dengan situasi Ibu sebagai istri. 

Dalam menyelesaikan masalah ini, dapat dilakukan beberapa upaya. Yang pertama adalah dengan cara kekeluargaan. Apabila pihak keluarga tidak sanggup, Ibu bisa juga meminta bantuan dari aparat setempat seperti RT, RW, Dukuh, Lurah, atau tokoh masyarakat setempat yang disegani suami, untuk melakukan mediasi. Dalam mediasi, Ibu dapat menyampaikan semua keinginan dan harapan Ibu, serta mencari jalan tengah penyelesaian masalah. Jika terjadi kesepakatan, maka sebaiknya dituangkan secara tertulis, menggunakan materai, ditanda tangani para pihak dan saksi-saksi. Fungsinya untuk mengikat dan apabila di kemudian hari kesepakatan tersebut dilanggar, ada sanksi yang juga disepakati. 

Pilihan yang lain adalah dilaporkan ke kepolisian. Apabila terjadi perzinahan, Ibu sebagai pasangan sah dapat mengadu ke kepolisian terdekat. Dalam hal ini, suami dapat dipidanakan dengan pasal 284 KUHP yang merupakan delik aduan. Konsekuensinya tentu saja Ibu harus siap menjalani proses hukum sebagai saksi pelapor, memberikan keterangan di kepolisian maupun persidangan. Apabila terbukti, maka suami dan pasangan zina-nya dapat diancam dengan hukuman maksimal 9 (sembilan) bulan penjara. 

Jika akhirnya Ibu memilih untuk bercerai, yang paling utama adalah persiapkan anak-anak untuk menghadapi situasi tersebut, dan memberi penjelasan. Dampak itu pasti ada, yang bisa diupayakan adalah meminimalisir dampak negatifnya. Jika pilihan itu yang ditempuh, sebaiknya disepakati berdua. Sehingga hal-hal yang menjadik konsekuensi juga dibicarakan. Misalnya terkait pembagian harta gono-gini, yaitu harta yang diperoleh selama masa pernikahan dibagi dua, nafkah anak ke depan, bagaimana berbagi pengasuhan, serta membahas hal teknis seperti siapa yang akan mengajukan ke pengadilan. Apakah pihak istri atau suami, karena konsekuensinya berbeda. 

Jika Ibu hendak menempuh proses hukum, sebaiknya didampingi oleh lembaga yang memiliki layanan pendampingan hukum. Agar memperoleh informasi hukum lebih lengkap dan bisa membuat pilihan dengan lebih jelas. Dalam hal ini, dukungan keluarga sangat dibutuhkan. Sehingga ada baiknya Ibu terbuka dengan situasi dan kondisi rumah tangga yang sedang Ibu hadapi. 

Demikian jawaban kami, jika Ibu ingin berdiskusi lebih lanjut silahkan datang ke kantor kami. Karena pada dasarnya semua keputusan ada di tangan Ibu, yang penting Ibu siap dengan segala konsekuensi yang dihadapi dari keputusan tersebut.

Selasa, 23 April 2019 14:26

Akta Anak Luar Kawin

Saya seorang Ibu yang memiliki anak perempuan berusia 22 tahun. Sudah dua tahun terakhir menjalin hubungan dengan seorang laki-laki dewasa berusia 36 tahun. Sejak awal laki-laki mengaku sudah bercerai dan memiliki anak. Saya mengijinkan hubungan mereka, karena saya melihat laki-laki tersebut sepertinya berniat baik. 

Masalahnya, sejak awal menjalin hubungan, saya sudah minta agar keluarganya datang baik-baik ke rumah untuk menjalin silaturahmi. Apalagi kalau dulu riwayatnya pernah menikah, kami hanya menjaga agar anak kami tidak terjebak permasalahan di kemudian hari. Namun dia selalu menunda-nunda dengan berbagai alasan. 

Pernah suatu ketika dia minta ijin untuk menikahi putri saya secara siri. Saya melarang, karena menurut saya kalau menikah harus sah secara agama dan negara. Saya sebenarnya sudah agak curiga dengan perilaku dia, karena pernah mendapati sms di HP anak perempuan saya, dia marah-marah, mencaci maki, dan mengancam putri saya yang dianggapnya tidak perhatian karena tidak membalas pesan pada jam kerja. Menurut saya hal itu tidak masuk akal karena di tempat kerjanya memang putri saya tidak diperkenankan memegang HP. Selain itu, saya juga curiga karena putri saya mengaku sering tidak punya uang, padahal dia bekerja dengan bayaran cukup baik. Ternyata memang pacarnya tersebut sering minta ditransfer. Saya sudah tidak sreg sebenarnya, dan putri saya juga sudah mengatakan bahwa tidak tahan menjalin hubungan dengannya, dan ingin mengakhiri saja. 

Beberapa waktu lalu putri saya jatuh sakit. Dan ketika kami bawa ke dokter, rupanya dia sedang hamil tiga bulan. Betapa hancurnya hati saya sebagai seorang Ibu. Setelah berbicara panjang lebar dengan putri saya, bagaimanapun dia harus kami rangkul. 

Kami sudah berusaha meminta pertanggungjawaban pacarnya, hingga mendatangi keluarga. Namun ternyata selama ini dia belum bercerai dan masih tinggal serumah dengan istri dan anaknya. Bahkan keluarganya angkat tangan, tidak mau ikut campur, karena selama ini sudah banyak masalah yang ditimbulkan. Kami juga mendapat informasi dari tetangga bahwa dia sering melakukan kekerasan pada istrinya. 

Setelah itu, dia tidak ada gelagat untuk menyelesaikan masalah. Bahkan mengelak bahwa anak yang dikandung putri saya adalah anaknya dan minta tes DNA. Kami khawatir jika putri saya tidak dinikahi, nanti anak yang dikandung ini tidak bisa punya akte. Mohon solusinya, apa yang sebaiknya kami lakukan? 

JAWAB 

Salam Ibu, kami ikut sedih dengan situasi yang menimpa putri Ibu dan keluarga. Kami juga salut dengan ketegaran Ibu untuk tetap memberikan dukungan dan merangkul putri Ibu yang sedang ditimpa masalah. Apa yang dialami putri Ibu adalah bentuk kekerasan dalam pacaran. Putri Ibu mengalami kekerasan psikis, dikekang, dikendalikan aktifitasnya, dicaci-maki, diancam, dan ditipu terkait status pernikahan. Kemudian juga kekerasan ekonomi, dengan dimintai sejumlah uang untuk membiayai hidup pacarnya, dan berbagai situasi tersebut membuat dia terjebak dan akhirnya mengalami kekerasan seksual sehingga menimbulkan kehamilan yang tidak dikehendaki. Pada dasarnya, putri Ibu sudah memiliki keinginan untuk melawan situasi tersebut dengan menyampaikan keinginannya untuk putus, namun terlanjur terjadi kehamilan. 

Keputusan keluarga untuk menolak pernikahan siri sudah tepat. Karena pernikahan siri tidak tercatat oleh negara, sehingga statusnya di mata hukum terhitung luar kawin. Hubungan di luar kawin tidak ada perlindungan hukum di Indonesia, sehingga menempatkan perempuan dan anak menjadi semakin rentan. 

Dalam situasi yang dihadapi putri Ibu, ada dua cara untuk melakukan pernikahan resmi. Yang pertama, pihak laki-laki bercerai secara resmi terlebih dahulu dengan istri pertamanya, baru kemudian melangsungkan pernikahan dengan putri Ibu dengan status sebagai duda. Atau yang kedua, melakukan pernikahan poligami, dengan berbagai persyaratan yang telah diatur dalan UU Perkawinan No.1/Th. 1974 Pasal 55-59. Salah satu persyaratan yang diatur adalah adanya ijin dari istri pertama. 

Terkait dengan akte anak apabila tidak terjadi pernikahan, maka ada status anak luar kawin. Anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya, serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya. 

Tata cara memperoleh (kutipan) akta kelahiran untuk anak luar kawin pada dasarnya sama saja dengan tata cara memperoleh akta kelahiran pada umumnya, hanya tidak disertai kutipan akta nikah orang tua. Beberapa persyaratan yang diperlukan untuk mengurus akta kelahiran anak luar kawin antara lain : a) Surat kelahiran dari dokter/bidan/penolong kelahiran; b) Nama dan Identitas saksi kelahiran; c) KTP Ibu; d) Kartu Keluarga Ibu. Setelah dilengkapi persyaratan administrasinya maka pencatatan kelahiran tetap dilaksanakan. 

Apabila pencatatan hendak dilakukan di tempat domisili ibu si anak, pemohon mengisi Formulir Surat Keterangan Kelahiran dengan menunjukkan persyaratan-persyaratan di atas kepada Petugas Registrasi di kantor Desa atau Kelurahan. Formulir tersebut ditandatangani oleh pemohon dan diketahui oleh Kepala Desa atau Lurah. Kepala Desa atau Lurah yang akan melanjutkan formulir tersebut ke Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD), yang pada umumnya bernama Dinas Pendudukan dan Pencatatan Sipil, untuk diterbitkan Kutipan Akta Kelahiran, atau ke kecamatan untuk meneruskan Formulir Surat Keterangan Kelahiran kepada Instansi Pelaksana. Jika UPTD Instansi Pelaksana tidak ada, Pejabat Pencatatan Sipil pada Instansi Pelaksana/UPTD Instansi Pelaksana akan mencatat dalam Register Akta Kelahiran dan menerbitkan Kutipan Akta Kelahiran dan menyampaikan kepada Kepala Desa/Lurah atau kepada pemohon. Akta kelahiran anak luar kawin kedudukan hukumnya sama atau setara dengan akta pada umumnya. 

Keputusan untuk menikah atau tidak menikah, kembali pada putri Ibu dan keluarga. Namun berbagai pengalaman berinteraksi dengan pihak laki-laki, dan berbagai informasi yang diketahui kemudian dapat dijadikan pertimbangan. Apakah hal itu menunjukkan iktikad baik atau tidak. Sehingga, jika hubungan ini dilanjutkan ke jenjang pernikahan kira-kira akan menyelesaikan masalah atau menimbulkan masalah baru, dan apakah kekerasan yang sudah dilakukan akan berhenti di masa yang akan datang. Tidak kalah penting adalah menjaga kondisi kesehatan putri Ibu dan bayi yang dikandungnya, serta membekalinya dengan informasi yang benar seputar kehamilan dan kesehatan reproduksi, karena dari cerita Ibu tampaknya dia tidak menyadari kehamilan di awal dan kemungkinan masih awam terkait kondisi ini. 

Demikian jawaban kami, semoga dapat membantu sebagai bahan pertimbangan. Salam.

41124730
Today
This Week
This Month
Last Month
All
7115
26711
42716
172901
41124730