Project by: USAID - Rifka Annisa - BPS - UNDP (Agustus, 2016)

Download laporan penelitian disini

 

Seorang penyintas korban KDRT menceritakan alasannya untuk tetap bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan.

"Saya dipukuli, kepala dibenturkan ke kusen jendela depan rumah sampai babak belur, lalu dijongkrokin ke taman sampai jempol kiri patah," kata Ninin Damayanti, penyintas (survivor) kekerasan dalam rumah tangga, menceritakan kejadian saat suaminya melakukan kekerasan padanya beberapa tahun lampau.

Sebelum kejadian itu, Ninin juga pernah mengalami kekerasan yang cukup fatal sampai dia masuk rumah sakit. "Tapi ada pemaafan, saya berpikir dia bisa berubah kok, dia akan menjadi orang baru," kata Ninin kepada BBC News Indonesia.

Namun selama empat tahun Ninin hidup dengan perasaan was-was, "karena saya tahu KDRT itu siklus, saya khawatir itu akan terulang lagi tapi (saya berpikir) jalani saja, jalani saja karena faktor keluarga, anak," kata dia.

Ternyata kekhawatirannya beralasan: kekerasan itu terjadi lagi.

"Badan dilempar-lempar tidak karuan, ditarik, dijambak, dijedotin lagi sampai kena pot. Kira-kira itu yang saya ingat, sampai di rumah adik, baru saya melihat kok badan lebam-lebam biru, kepala berdarah, kaki benjut nggak bisa jalan," ungkapnya.

Saat kejadian, Ninin bisa berlari dan mengunci diri di kamar sambil menelepon adiknya untuk datang menjemputnya, sementara tetangga memanggil satpam untuk menghentikan suaminya (waktu itu) yang berusaha mendobrak pintu.

Kondisi itu yang akhirnya membuatnya memutuskan untuk keluar dari hubungan dengan kekerasan tersebut .

"Saya memutuskan kalau dulu sudah pernah kejadian, dan ini kejadian lagi maka besok akan terulang lagi karena orang nggak akan berubah. Akhirnya aku memutuskan, cukup ya, tidak mau lagi," kata dia.

Direktur Rifka Annisa Women's Crisis Center, Suharti, menjelaskan bahwa ada banyak perempuan tetap bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan, dengan berbagai alasan.

"Korban kekerasan mengalami dinamika psikologis yang luar biasa sehingga orang kadang heran, kenapa sih dia bisa berulang kali mengalami kekerasan tapi tetap memilih untuk berada dalam hubungan itu?" kata Suharti saat dihubungi oleh BBC News Indonesia.

Rifka Annisa menerima rata-rata 350 laporan kekerasan per tahun. Tapi jumlah ini bukan gambaran kasus kekerasan oleh pasangan yang terjadi di Indonesia.

Hanya sedikit sekali perempuan yang mau melaporkan kekerasan yang dialaminya ke lembaga layanan seperti polisi, pemuka agama, maupun lembaga bantuan hukum dan psikologis.

Menurut penelitian Rifka Annisa, di Papua, misalnya, hanya 7% perempuan korban KDRT yang mau melaporkan pasangannya ke polisi. Di Sleman, Yogyakarta, hanya 2% perempuan yang mencari pertolongan.

"Sisanya diam," kata Suharti.

Ninin misalnya, memilih untuk tidak melaporkan suaminya (kini sudah mantan) ke polisi meskipun sudah mengantongi bukti berupa visum dari dokter.

"Akhirnya tidak ke polisi karena masih kasihan, keluarganya gimana ya, kedua, saya tahu kondisi polisi Indonesia seperti apa. Yang ada saya malah jadi korban kedua kalinya karena akan dihakimi," kata Ninin.

Lapor polisi dan mengikuti seluruh proses hukum bisa menyita banyak waktu dan tenaga. "Siapa yang bisa bantuin saya?" Akhirnya, Ninin memilih perceraian sebagai jalan keluarnya, dengan perwalian anak di tangannya.

Menurut Suharti, berbagai riset menemukan bahwa lembaga layanan seperti polisi dan pemuka agama justru mendorong perempuan untuk kembali dengan pasangannya, masuk kembali dalam lingkaran kekerasan.

Pertimbangan para perempuan untuk tidak melaporkan sangat beragam. "Pertama, ketergantungan ekonomi pada pasangan. Kedua, takut dapat stigma dari masyarakat kalau keluarganya bukan keluarga baik, kalau dia tidak mampu menjadi istri yang baik, bahwa dia tidak mampu menjaga keluarganya," kata Suharti.

Kultur masyarakat yang sangat patriarkis dan menempatkan perempuan pada kelas kedua membuat perempuan korban KDRT juga kerap kali dihakimi oleh masyarakat sebagai penyebab terjadinya kekerasan.

"Misalnya, salahnya sendiri kamu nggak bisa melayani suami dengan baik, kenapa nggak nurut sama suami, dan lain-lain," kata Suharti.

Alasan lain yang membuat para perempuan tetap bertahan -kata Suharti- adalah ketakutan ditinggal suami dan menjadi janda. "Status janda di budaya kita punya label negatif dan mereka tidak siap menerimanya."

Tapi alasan yang paling sering dijumpai oleh Suharti adalah tetap bertahan demi anak, "Ada yang takut anaknya tidak memiliki sosok ayah lagi, takut melukai hati anaknya, dan segala pertimbangan tentang anak."

Ninin adalah salah satu yang mencoba bertahan karena anak.

"Dari pengalaman aku kenapa mau bertahan, pertama faktornya kalau sudah berkeluarga itu anak. Jalani saja karena anak. Ada pemaafan, ada excuse, dia bisa berubah kok," kata Ninin.

Kekerasan tak hanya terjadi dalam rumah tangga tapi juga bisa terjadi dalam hubungan pacaran.

"Saat pacaran konteksnya berbeda. Kebanyakan diam karena mereka mendapatkan ancaman," kata Suharti, yang pernah melakukan dua riset mengenai kenapa remaja tidak mau meninggalkan pacarnya yang suka melakukan kekerasan.

"Misalnya mereka pernah berhubungan seks, pacarnya mengancam kalau tidak menurut, itu akan dibocorkan. Bisa dibayangkan di dalam kultur budaya kita yang masih berharap perempuan suci, harus menjaga moralnya, sehingga dia memilih diam," kata Suharti.

Dalam banyak kasus, perempuan baru bicara ketika sudah ada dalam "situasi ambang batas".

"Situasi ambang batas ini yang membuat perempuan berani meninggalkan hubungannya yang penuh kekerasan, misalnya lukanya serius karena kekerasan pasangannya," kata dia.

Dukungan dari teman dan keluarga

Belajar dari pengalamannya, Ninin menjelaskan bahwa hal yang paling dia butuhkan saat menjadi korban KDRT adalah dukungan dari orang-orang di sekitarnya.

"Ketika itu adik mendukung, ibu mendukung saya dan tidak menyalahkan. Kan tidak semua keluarga bisa menerima itu ya, bisa saja memberi nasihat, 'sudah nikah, jalani saja," kenang Ninin.

Untuk membantu perempuan korban KDRT, lingkungan keluarga, masyarakat, dan teman-teman harus mampu memberikan support positif.

"Memang tidak mudah, tapi kalau dia punya orang yang mendukung dan memahami kejadian yang diterimanya, akan lebih mudah keluar dari situasi itu," jelas Suharti.

Sebagai korban, Ninin merasakan sekali pentingnya dukungan orang-orang di sekitarnya, "Saat dalam fase pemulihan, saya trauma sekitar 6 bulan. Namun saat itu ada teman yg benar-benar mendukung sehingga saya merasa ada dalam lingkungan yang membuat nyaman, sehingga saya yakin bisa melalui ini."

Selain dukungan moral, perempuan juga perlu dukungan ekonomi.

"Dulu saya cukup berdaya karena saya bekerja, tidak terlalu susah mengambil keputusan karena merasa mampu menghidupi anak sendirian. Tapi ketika korban tidak punya penghasilan apapun, akan sulit bagi mereka untuk keluar," jelas Ninin.

Pada akhirnya, Ninin tidak menyalahkan mereka yang memilih untuk bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan. Dia yakin, mereka yang bertahan punya alasan kuat untuk melakukannya.

"Pilihan mereka harus dihargai. Memangnya kamu mau menanggung hidup dia? Kan nggak bisa, setiap orang punya pertimbangannya," kata Ninin.

Namun jika korban memutuskan bertahan, Ninin menyarankan mereka untuk melakukan persiapan dan tetap berani mengambil keputusan, "Dia harus siap jika suatu hari dia harus mengalami kejadian seperti saya, harus pergi dari rumah dengan keadaan terpaksa."

Persiapan itu termasuk punya tabungan rahasia, punya tempat evakuasi, menyimpan surat-surat penting seperti surat nikah, akta lahir anak sampai sertifikat rumah.

Anda tidak sendiri

Ninin Damayanti membentuk Break the Silence Indonesia, komunitas yang membantu korban KDRT. "Sekarang target saya adalah pemberdayaan. Kalau ada korban yang ingin bertanya soal KDRT, silakan, saya terbuka," kata dia.

Ninin dapat dihubungi melalui WhatsApp di 0813 8102 9206

Sedangkan Rifka Annisa punya nomor yang dapat dihubungi 24 jam: 085799057765 dan 085100431298.

 

Sumber artikel: BBC Indonesia

Senin, 23 Juli 2018 16:15

Terpapar HIV Dari Suami

Salam Rifka Annisa

Saya Ibu Aminah, pekerjaan saya pegawai negeri dan menikah sudah 18 tahun. Orang tua saya dulu pendatang, sedangkan keluarga suami adalah penduduk setempat. Sehingga bisa dikatakan bahwa saya tinggal di wilayah keluarga suami. Suami saya sendiri cukup ditakuti di sini, karena pembawaannya yang agak preman. Dia tidak memiliki pekerjaan tetap, tetapi mendapatkan warisan tanah yang cukup luas dari orang tuanya, apalagi dia anak tunggal.

Permasalahan rumah tangga sebenarnya sudah saya alami sejak awal menikah. Suami saya awalnya baik, namun lambat laun temperamennya kasar. Saya sering dipukul, dihajar, dicaci maki, itu sudah menjadi santapan sehari-hari saya. Terlebih suami sering judi, pergi lama dengan teman-temannya, dengan alasan mancing, ada proyek, dan lain sebagainya, ataupun sesekali pulang dalam keadaan mabuk.

Untungnya saya bekerja dan memiliki gaji. Kebutuhan sehari-hari, saya mengandalkan dari gaji. Satu lagi yang membuat saya sakit hati. Suami saya sering berselingkuh. Suatu saat, ada seorang Ibu yang memiliki anak, mengontrak salah satu rumah mertua yang bersebelahan dengan rumah saya. Suami saya sering ke rumah tersebut, bahkan pernah bermalam di sana. Lokasi rumah kami agak tersembunyi sehingga tidak begitu mencolok dilihat warga.

Saya malu kalau sampai hal itu diketahui orang. Diam-diam saya melaporkan pada mertua, yang akhirnya mereka menegur suami dan minta supaya Ibu yang mengontrak rumah itu pindah. Tapi akibatnya saya dibentak dan dipukuli suami. Anak saya 3 orang dan sudah lumayan besar. Yang paling kecil sekarang kelas 2 SMP, yang tengah kelas 1 SMA, dan yang paling besar kemarin sudah lulus SMK langsung kerja. Mereka tahu masalah tersebut tapi tidak mau ikut campur.

Semua kejadian demi kejadian saya terima dengan ikhlas, saya tutup-tutupi demi menjaga nama baik keluarga. Hingga kemarin suami saya sakit, dan kondisi kesehatannya terus menurun. Akhirnya dia mengaku pada saya bahwa dia sebenarnya sudah lama terinfeksi HIV. Mendengar itu saya sangat kecewa dan sedih. Saya lalu memberanikan diri untuk tes, dan ternyata saya juga positif HIV.

Sekarang saya merasa sudah tidak ada gunanya lagi. Semua sudah saya korbankan untuk keluarga ini, kenapa saya juga harus kena penyakit ini? Mohon sarannya saya harus bagaimana?

JAWABAN

Salam Ibu Aminah,

Kami ikut sedih membaca cerita yang Ibu sampaikan, dan terimakasih telah berbagi pengalaman hidup dengan kami. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah sebuah virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Sebagian besar ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) tidak tahu bahwa ada virus di dalam tubuhnya pada masa awal, karena tidak ada gejala khusus. Masa ini disebut masa tanpa gejala, dan ini bisa terjadi bertahun-tahun lamanya.

HIV membunuh satu jenis sel darah putih yang disebut CD4, yang berfungsi melawan infeksi. Jumlah CD4 pada orang normal sehat berkisar antara 500 sampai 1.500. Saat terinfeksi HIV jumlah ini biasanya turun terus. Jika jumlah CD4 turun di bawah 200, ini menunjukkan bahwa sistem kekebalan tubuh kita cukup rusak sehingga infeksi oportunistik dapat menyerang tubuh. Infeksi oportunistik adalah infeksi yang disebabkan karena tubuh kita tidak mampu melawan kuman penyakit yang masuk ke tubuh. Itu berarti sudah sampai masa AIDS. Tes penunjang yang lain adalah TLC (Total Lymphocyte Count), tes ini murah dan dapat dilaksanakan di hampir semua laboratorium. Pada orang sehat, TLC normal kurang lebih 2.000, sedangkan jika kadarnya 1.000-1.250 biasanya serupa dengan jumlah CD4 kurang lebih 200.

Namun, kabar baiknya adalah Ibu mendeteksi adanya virus tersebut sejak dini. Karena, ada banyak upaya dapat dilakukan untuk memperpanjang masa tanpa gejala, bahkan tidak perlu mengalami fase AIDS. Salah satunya adalah menahan sistem kekebalan tubuh agar tetap sehat dengan memakai obat antiretroviral (ARV). Menjalani cara hidup yang baik dan seimbang sangat bermanfaat bagi kesehatan dan memperpanjang masa tanpa gejala, termasuk makan makanan bergizi, kerja dan istirahat seimbang, olahraga teratur, serta tidur yang cukup. Sebaiknya juga hindari perilaku yang beresiko bagi kesehatan seperti merokok, mengkonsumsi narkoba maupun alkohol.

Untuk layanan perawatan HIV lebih lengkap, Ibu bisa ke Rumah Sakit tempat Ibu melakukan tes, ataupun Puskesmas. Umumnya jika menyediakan layanan tes HIV yang disebut VCT (Voluntary Counseling Testing), juga dilengkapi dengan layanan CST (Care Support Treatment), yang di dalamnya akan ada pendamping yang memberi keterangan lebih lengkap tentang terapi dan perawatan HIV serta memberi dukungan agar Ibu dapat hidup bersama dengan virus HIV.

Ibu tetap bisa hidup normal dan beraktifitas seperti biasa, karena virus ini tidak mudah menular. Dia hanya menular melaui pertukaran cairan tubuh seperti darah, air mani, vagina, maupun ASI. Sedangkan aktifitas hidup yang lain seperti bersalaman, berpelukan, batuk, bersin, memakai peralatan rumah tangga bersama, gigitan nyamuk memakai fasilitas umum bersama, tetap aman untuk dilakukan. Jadi tetaplah berpikir positif dan tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Memang pada umumnya masyarakat masih memandang negatif dan memberi stigma pada Odha, namun jika Ibu menemukan orang yang dapat dipercaya, ada baiknya berbagi cerita tentang situasi tersebut agar memperoleh reaksi positif dan dukungan yang bermanfaat bagi pemulihan kondisi psikologis Ibu.

Ini juga merupakan momentum yang tepat untuk mendiskusikan tentang kondisi rumah tangga Ibu dengan suami. Ibu memiliki hak untuk membuat keputusan juga dalam rumah tangga. Apalagi dalam situasi ini, Ibu dan suami perlu bekerja sama dan saling mendukung untuk dapat hidup bersama dengan virus ini. Termasuk, merencanakan masa depan anak-anak. Suami perlu mengambil bagian untuk bertanggung jawab pada keluarga. Jika pembicaraan tersebut tidak dapat mencapai kesepakatan, Ibu dapat meminta bantuan dimediasi oleh pihak ke tiga. Misalnya, keluarga besar, teman, ataupun konselor keluarga. Kami di Rifka Annisa memiliki layanan untuk konseling laki-laki dan konseling pasangan.

Demikian jawaban dari kami, semoga dapat membantu dan semoga Ibu tetap sehat dan menjalani kehidupan dengan bahagia.

 

Sumber: Harian Jogja, 21 Juli 2018

36461043
Today
This Week
This Month
Last Month
All
730
730
33502
191643
36461043