Salam ta’dzim

Semoga Anda selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa, selalu dalam keadaan sehat di tengah krisis penularan virus Corona yang belum diketahui secara pasti kapan akan berakhir. Sebelumnya saya mohon maaf jika pesan terbuka saya ini membuat Anda tidak berkenan karena saya sadar, saya bukan siapa-siapa Anda, saya menulis surat terbuka ini karena semata-mata saya adalah juga seorang suami dan seorang ayah seperti halnya Anda. Jadi pada dasarnya surat ini juga saya tujukan kepada diri saya sendiri.

Sebagai seorang suami dan ayah, saat ini merupakan masa-masa yang berat dan sulit. Pola infeksi Corona yang terjadi melalui penularan dari orang ke orang lain mengharuskan kita untuk menjaga jarak sosial dan fisik. Sebagai konsekuensi dari hal ini, cara kita bekerja berubah, jika semula sebagian dari kita melakukan pekerjaan di luar rumah seperti di kantor dan tempat-tempat lainnya karena alasan menjaga jarak sosial dan fisik, sekarang kita harus melakukan pekerjaan di rumah, meskipun saya tahu bahwa banyak dari Anda memiliki jenis pekerjaan yang tidak dapat dilakukan di rumah. Konsekuensi lain dari berubahnya pola kerja ini adalah sebagian kita juga mengalami perubahan penghasilan (income).

Perubahan-perubahan mendadak ini tidaklah mudah bagi banyak suami dan ayah, entah sebagai pekerja harian, buruh pabrik, pegawai kontrak, bahkan aparatur sipil negara. Saat ini mungkin Anda cemas, merasa tak berdaya karena tidak memiliki kendali atas keadaan, atau Anda khawatir karena meskipun Anda memiliki tabungan namun idak dapat memastikan berapa lama Anda dan keluarga Anda dapat bertahan dengan tabungan yang Anda miliki saat ini jika pandemi ini terus berlanjut.

Para Suami dan Para Ayah yang baik, situasi di atas memang berat dan tidak mudah yang sedikit banyak akan mempengaruhi emosi, sikap dan perilaku Anda dalam berelasi dengan orang lain, tak terkecuali dalam relasi Anda dengan isteri dan anak-anak Anda di rumah. Dalam situasi seperti ini, mungkin Anda merasa seorang diri yang harus memikul beban berat ini, lalu memiliki pikiran bahwa isteri dan Anak-anak Anda tidak mengerti bahkan tidak peduli dengan situasi Anda. Pikiran-pikiran seperti ini yang kadang memunculkan rasa marah, sikap dan perilaku negatif bahkan kekerasan terhadap mereka yang Anda dicintai di rumah. Yakinlah bahwa isteri dan anak-anak Anda memahami situasi ini meskipun seringkali tidak diucapkan dengan kata-kata. Jika selama ini Isteri dan anak Anda nampak diam dan seakan tidak peduli, semata-mata karena isteri Anda mungkin tidak tahu apa yang harus dilakukan atau mungkin tidak ingin menambah beban Anda. Lebih-lebih dalam budaya masyarakat kita yang mamandang tanggungjawab para isteri adalah mengurus rumah dan anak-anak. Coba kalau kita memiliki nilai sosial dan budaya yang meletakkan tanggungjawab yang sama suami dan isteri dalam memikul beban keluarga baik nafkah maupun urusan rumah tangga dan anak. Mungkin situasinya akan berbeda.

Atas semua hal ini, para suami dan para ayah yang baik, menjadi penting untuk mengenali beratnya tekanan yang Anda pikul, mengenali cemas, khawatir dan takut yang Anda rasakan dan menerimanya sebagai hal yang manusiawi. Perlu kiranya Anda ungkapkan seluruh perasaan Anda ini kepada isteri dan anak-anak Anda tanpa khawatir terlihat lemah. Jika muncul kemarahan tak tertahankan atas situasi pandemi yang berat ini ambillah waktu (jeda) untuk menenangkan diri, hindari mengekspresikan kemarahan itu secara negatif apa lagi menggunakan kekerasan kepada isteri dan anak Anda karena hal ini tidak akan membuat beban Anda berkurang namun akan membuat masalah baru yang semakin mempersulit keadaan dalam situasi yang sudah sulit ini.

Sepertinya hanya ini yang ingin saya sampaikan dalam surat terbuka ini seraya berdoa semoga wabah ini segera berakhir dan kehidupan kita kembali seperti semula, sekali lagi mohon maaf jika surat ini membuat Anda kurang berkenan. Mari kita jaga diri kita dan keluarga agar tetap sehat fisik dan mental pada masa pandemi ini.

Salam Ta’dzim
Wedomartani, 29 Maret 2020

Nur Hasyim
Seorang Suami dan Ayah.

Senin, 30 Maret 2020 12:54

Hindarkan Stres Selama di Rumah Saja

Sejak ditetapkannya physical distancing atau jaga jarak aman untuk pencegahan COVID-19, aktivitas Nia dan Adi (bukan nama sebenarnya) berubah. Sehari-hari perempuan usia 30-an itu bekerja sebagai pegawai swasta, sedangkan suaminya, Adi, berprofesi driver ojek online dan berjualan paruh waktu. Ketika rasa was-was akibat penyebaran corona bertambah, mereka bersepakat untuk sementara tidak bekerja.

Tak hanya penghasilan yang berubah, tetapi rutinitas sehari-hari juga berganti. Kantor Nia memutuskan untuk melakukan kebijakan bekerja di rumah. Demikian juga sekolah Tia, anak mereka yang tengah bersekolah di Kelas 4 SD, menerapkan belajar di rumah.

“Sekilas tampak menyenangkan semua berada di rumah. Namun, itu bukanlah hal yang mudah karena saya harus bekerja, sementara anak juga terus meminta ditemani, apakah itu ketika belajar ataupun ketika bermain.” jelas Nia. 

Menurutnya, tetap menjalani kerja, sekaligus melakukan pekerjaan di rumah dan menemani anak adalah sesuatu yang berat. Suami pun merasa jenuh karena tidak bisa bekerja mencari uang, anak merasa bosan hanya beraktivitas di rumah.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Nia dan suaminya berkomunikasi lebih intens untuk menghadapi berbagai persoalan yang mereka hadapi. Misalnya, membicarakan cara untuk melindungi kesehatan mereka di rumah ataupun saat keluar, membicarakan masalah ekonomi, bagaimana mengatasi kecemasan, mengatasi kejenuhan anak, bagaimana pembagian peran di rumah dan apa yang bisa dilakukan bersama agar situasi di rumah tenang, nyaman dan menyenangkan.

“Secara ekonomi berat. Karena bulan ini juga kami harus menyicil KPR untuk pertama kali, dan juga cicilan lainnya” jelas Nia.  Otomatis, satu-satunya penghasilan berasal dari Nia. Keadaan ekonomi yang berubah, membuat Nia dan suami harus memberi pengertian kepada anaknya, untuk berhemat.

“Saya memberi tahu anak saya, Tia, untuk tidak lagi jajan. Selain itu juga harus makan apapun yang ada di rumah,” tutur Nia. 

Semenjak pandemi COVID, Nia hanya belanja bahan masakan seminggu sekali, agar lebih menghemat, itupun hanya dipilih bahan-bahan yang sederhana namun tetap bergizi seimbang. 

Selain berhemat, juga mencari alternatif-alternatif solusi untuk mengatasi kebutuhan ekomoni lainnya, “Meski merasa buntu, tapi kami yakin pasti ada jalan, dan kami tidak sendiri. Banyak keluarga lain juga mengalaminya”.    

Lalu perempuan berlesung pipit ini bercerita ke suami terkait apa yang ia rasakan, sering merasa was-was atau cemas dengan paparan berita di TV atau medsos. “Emosi yang beragam ini membuat saya gampang “ngegas” alias nada suara mudah naik, dan kurang fokus menyelesaikan pekerjaan kantor, sehingga suasana rumah tidak menyenangkan”.

Nia juga bercerita bahwa dia dan suaminya membicarkaan bagaimana cara agar rasa cemas bisa berkurang, misal meminta suami untuk tidak terus menerus bercerita tentang update corona atau meminta mengurangi menonton berita di TV tentang darurat corona. Selain ia dan suami juga menyepakati untuk lebih sering ngobrol isu yang lain, mencari berita yang positif, berolahraga di halaman sembari berjemur matahari, bermain dengan anak. 

“Setelah itu berjalan saya merasa lebih tenang, kebosanan anak dan suami pun teratasi,” katanya. 

Hal lain yang dilakukan perempuan yang hobi masak ini adalah mengkomunikasikan tentang pembagian peran di dalam rumah. Di awal-awal bekerja dari rumah, suaminya masih bekerja, sehingga porsi pekerjaan rumah tangga lebih banyak dikerjakan Nia, akibatnya, ia tidak bisa bekerja menyelesaikan pekerjaan kantornya. Kemudian Nia menyampaikan kepada suami apa-apa saja yang sebaiknya dikerjakan juga oleh suami agar semua bisa berjalan secara optimal sebelum berangkat kerja.

Setelah suami tidak bekerja, maka pekerjaan rumah tangga sepenuhnya dilakukan suami, kecuali memasak. Sedangkan bermain dan mendampingi anak belajar dilakukan bersama-sama atau bergantian.

“Soal memasak, masih sering saya yang mengerjakan, karena suami kurang cekatan memasak,” jelas Nia.

Imbas pada Kaum Perempuan

Adanya himbauan physical distancing atau jaga jarak dari orang lain dalam rangka pencegahan penyebaran COVID-19 membuat rutinitas berubah. Setelah ada himbauan tersebut, muncul kebijakan baik dari instansi atau perusahaan untuk bekerja di rumah, belajar di rumah, serta beribadah di rumah. Otomatis banyak rumah tangga yang mempunyai perubahan rutinitas.  

“Pada umumnya kemudian kaum ibu yang dibebani tugas untuk mengasuh, menemani belajar. Sementara, beban kerja domestik sehari-hari seringkali tetap dibebankan kepadanya. Dampaknya, waktu yang tersedia untuk dirinya sendiri semakin sedikit,” jelas Indiah Wahyu Andari, Manajer Divisi Pendampingan Rifka Annisa, ketika ditanya terkait apa dampak yang rentan menimpa perempuan dalam kondisi pandemi COVID-19.

Menurut perempuan asal Yogyakarta ini, ada berbagai imbas yang menimpa kaum perempuan dengan berbagai macam kondisi. Pertama, apabila kaum ibu tersebut adalah perempuan yang bekerja, dengan segudang aktivitas tersebut akan sulit untuk mengatur waktu menyelesaikan pekerjaan, yang dapat berimbas pada performa kerja yang buruk. Kedua, untuk perempuan yang harus bekerja untuk mendapatkan pendapatan harian seperti pedagang, pekerja lapangan, ia berisiko tidak punya waktu lagi mengerjakan pekerjaan tersebut, sehingga penghasilan pun menurun atau bahkan tak ada sama sekali pemasukan. 

Ketiga, jika perempuan tersebut adalah ibu rumah tangga, maka ia akan mendapatkan tambahan pekerjaan merawat semua orang di rumah selama masa pandemi. Selain itu, ia tetap harus keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan logistik, menempatkan dia pada risiko terpapar lebih besar. Ditambah lagi, jika ada anggota keluarga yang sakit, juga umumnya perempuan yang dibebani kewajiban untuk merawat.

Beban-beban tersebut sangat berpotensi menimbulkan stres pada perempuan, disamping kecemasan terkait wabah itu sendiri. Beban tambahan yang muncul sebagai dampak wabah itu perlu disadari bersama antar pasangan, dan dapat dikerjakan secara merata dengan pasangan, atau anggota keluarga usia produktif yang lain.

Ketika ditanyai tentang tips agar terhindar dari stres akibat pandemi serta tambahan beban yang terjadi di masa pandemi, Indiah menerangkan beberapa tips untuk menangkalnya:

  1. Mengumpulkan informasi yang benar terkait virus COVID-19 dan upaya antisipasinya. Pasangan suami istri perlu memiliki pemahaman bersama, dan menciptakan protokol kesehatan yang disepakati di rumah.
  2. Komunikasi asertif, terbuka dengan kebutuhan dan beban masing-masing. Perlu ada kesadaran bersama bahwa kondisi ini menimbulkan beban baru dalam rumah tangga, dan beban tersebut perlu dihadapi bersama. Pasangan juga perlu menentukan prioritas bersama yang harus dikerjakan dalam masa pandemi, serta saling mendukung.
  3. Bekerjasama berbagai beban pekerjaan, misal pekerjaan perawatan, pengasuhan, atau pekerjaan rumah tangga bersama pasangan. Diskusikan pekerjaan mana yang perlu dibagi. Apabila ada pekerjaan yang sebelumnya tidak biasa dikerjakan pasangan, tetap hargai prosesnya dan keinginannya untuk membantu.
  4. Lakukan aktivitas yang menggembirakan bersama. Misal berkebun di pekarangan, membuat permainan bersama anak, menonton film bersama, atau hal yang menyenangkan lainnya.  
  5. Tetap terhubung dengan lingkungan sosial untuk mendapatkan dukungan secara psikologis. Saat ini banyak kelas daring terkait mengurangi kecemasan, atau cara mengisi waktu luang bersama anak. Tetap sediakan waktu semacam itu agar kondisi psikis tetap terjaga.

Penulis: Niken Anggrek Wulan | Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Kamis, 03 Oktober 2019 16:21

OPEN RECRUITMENT

OPEN RECRUITMENT OKTOBER 2019

DIVISI INTERNAL

DIVISI PENDAMPINGAN

 

POSISI YANG DIBUTUHKAN:

Relawan Konselor Psikologi  : 3 (tiga) orang

Relawan Konselor Hukum : 2 (dua) orang

Relawan Konselor Laki-laki : 2 (dua) orang

Relawan Desain Grafis: 1 (satu) orang

Staf Project: Pengembangan Sistem Database: 1 (satu) orang

Staf Project: Pengarsipan dan Input Data : 1 (satu) orang

 

A. Relawan Konselor Psikologi:

Persyaratan

  1. Mahasiswi (perempuan) minimal semester 5 Fakultas Psikologi
  2. Memiliki ketertarikan terhadap konseling dan pendampingan psikologi
  3. Memiliki jiwa kerelawanan dan mau belajar
  4. Memiliki ketertarikan terhadap isu gender dan maskulinitas
  5. Memiliki ketertarikan untuk beraktivitas di organisasi nirlaba
  6. Memiliki kemampuan komunikasi dan inisiatif yang baik
  7. Bersedia bekerja di dalam lingkungan yang unik dan beragam
  8. Bersedia meluangkan waktu 3 hari dalam satu minggu; dan di hari Sabtu atau Minggu jika dibutuhkan, selama 12 bulan
  9. Memiliki pengalaman berorganisasi dan bekerjasama dalam tim
  10. Bersedia bekerja dengan mobilitas yang tinggi dan mampu mengendarai motor
  11. Berdomisili di Yogyakarta

Tugas

Relawan akan terlibat menjadi asisten konselor dalam melakukan kerja-kerja pendampingan perempuan dan anak korban kekerasan, membantu konselor dalam mengelola administrasi pendampingan, belajar melakukan administrasi tes psikologi, belajar menjadi narasumber/fasilitator, serta terlibat dalam kegiatan lembaga.

 

B. Relawan Konselor Hukum:

 Syarat:

  1. Mahasiswi (perempuan) minimal semester 5 Fakultas Hukum
  2. Memiliki ketertarikan terhadap pendampingan hukum
  3. Memiliki jiwa kerelawanan dan mau belajar
  4. Memiliki ketertarikan terhadap isu gender dan maskulinitas
  5. Memiliki ketertarikan untuk beraktivitas di organisasi nirlaba
  6. Memiliki kemampuan komunikasi dan inisiatif yang baik
  7. Bersedia bekerja di dalam lingkungan yang unik dan beragam
  8. Bersedia meluangkan waktu 3 hari dalam satu minggu; dan di hari Sabtu atau Minggu jika dibutuhkan, selama 12 bulan
  9. Memiliki pengalaman berorganisasi dan bekerjasama dalam tim
  10. Bersedia bekerja dengan mobilitas yang tinggi dan mampu mengendarai motor
  11. Berdomisili di Yogyakarta

Tugas

Relawan akan terlibat menjadi asisten konselor dalam melakukan kerja-kerja pendampingan pada perempuan dan anak korban kekerasan, membantu konselor dalam mengelola administrasi pendampingan hukum, belajar membuat rekes-rekes, belajar menjadi narasumber/fasilitator, serta terlibat dalam kegiatan lembaga.

 

C. Relawan Konselor Laki-laki:

 Syarat

  1. Mahasiswa (laki-laki) minimal semester 5 Fakultas Psikologi
  2. Memiliki ketertarikan terhadap konseling dan pendampingan psikologi
  3. Memiliki jiwa kerelawanan dan mau belajar
  4. Memiliki ketertarikan terhadap isu gender dan maskulinitas
  5. Memiliki ketertarikan untuk beraktivitas di organisasi nirlaba
  6. Memiliki kemampuan komunikasi dan inisiatif yang baik
  7. Bersedia bekerja di dalam lingkungan yang unik dan beragam
  8. Bersedia meluangkan waktu 3 hari dalam satu minggu; dan di hari Sabtu atau Minggu jika dibutuhkan, selama 12 bulan
  9. Memiliki pengalaman berorganisasi dan bekerjasama dalam tim
  10. Bersedia bekerja dengan mobilitas yang tinggi dan mampu mengendarai motor
  11. Berdomisili di Yogyakarta

Tugas

Relawan akan menjadi asisten konselor laki-laki dalam kerja-kerja: konseling pada laki-laki baik pelaku kekerasan maupun bukan pelaku kekerasan untuk tujuan pencegahan di lokasi layanan yang diselenggarakan oleh Rifka Annisa, membantu melakukan konseling pasangan, terlibat dalam proses mediasi, membantu piket hotline konseling laki-laki, membantu menerima konseling telepon dan email, membantu melakukan pencatatan dan pekerjaan administratif data kasus, menjadi nara sumber/fasilitator, serta terlibat dalam kegiatan lembaga.

 

D. Relawan Desain Grafis

Syarat

  1. Mahasiswa/ mahasiswi semua jurusan
  2. Terampil menggunakan aplikasi desain (adobe, corel, dll) dan kreatif dalam mendesain
  3. Memiliki jiwa kerelawanan dan bersedia bekerja di dalam tim
  4. Memiliki ketertarikan terhadap isu gender dan maskulinitas
  5. Memiliki ketertarikan untuk beraktivitas di organisasi nirlaba
  6. Memiliki kemampuan komunikasi dan inisiatif yang baik
  7. Bersedia bekerja di dalam lingkungan yang unik dan beragam
  8. Memiliki komitmen tinggi dan  bersedia mengaplikasikan keahlian yang dimiliki.
  9. Bersedia meluangkan waktu 2 - 3 hari dalam satu minggu selama 6 bulan untuk datang ke Rifka Annisa
  10. Berdomisili di Yogyakarta

Tugas

Relawan desain grafis akan membantu Media Officer dalam membuat dokumentasi di lapangan, membantu membuat konten untuk media sosial Rifka Annisa, serta membantu membuat publikasi tentang kerja-kerja Rifka Annisa

 

E. Staf Project: Pengembangan Sistem Database

 Syarat

  1. Mahasiswa/mahasiswi semester akhir atau fresh graduate, semua jurusan atau jurusan Sistem Informasi
  2. Memiliki kemampuan dalam mengembangkan sistem database berbasis Microsoft Access
  3. Memiliki jiwa kerelawanan dan mau belajar
  4. Memiliki ketertarikan terhadap isu gender dan maskulinitas
  5. Memiliki ketertarikan untuk beraktivitas di organisasi nirlaba
  6. Memiliki kemampuan komunikasi dan inisiatif yang baik
  7. Bersedia bekerja di dalam lingkungan yang unik dan beragam
  8. Memiliki pengalaman berorganisasi dan bekerjasama dalam tim
  9. Bersedia dikontrak selama 3 bulan (by project)
  10. Berdomisili di Yogyakarta

Tugas

Melakukan pembenahan dan pengembangan terhadap sistem database kasus Divisi Pendampingan Rifka Annisa berbasis Microsoft Access, sesuai dengan kebutuhan lembaga

 

F. Staf Project: Pengarsipan dan Input Data

Syarat

  1. Mahasiswa/mahasiswi semester akhir atau fresh graduate, semua jurusan, diutamakan jurusan arsip/ilmu perpustakaan.
  2. Memiliki jiwa kerelawanan dan mau belajar
  3. Memiliki ketertarikan terhadap pengelolaan arsip dan input data
  4. Memiliki ketertarikan terhadap isu gender dan maskulinitas
  5. Memiliki ketertarikan untuk beraktivitas di organisasi nirlaba
  6. Memiliki kemampuan komunikasi dan inisiatif yang baik
  7. Bersedia bekerja di dalam lingkungan yang unik dan beragam
  8. Memiliki pengalaman berorganisasi dan bekerjasama dalam tim
  9. Bersedia untuk dikontrak selama 3 bulan (by project)
  10. Berdomisili di Yogyakarta

Tugas

Menjadi asisten konselor dalam melakukan pengarsipan file data kasus, melakukan pemeriksaan kelengkapan berkas, melakukan supervisi konten data, melakukan penginputan data ke dalam sistem.

 

CARA MENDAFTAR:

 

BACA pengumuman lengkapnya di website Rifka Annisa.

Ingat, baca dulu sampai habis yaa, alu klink link ini: http://bit.ly/relawanrifkaannisa untuk mendaftar

Rekrutmen dibuka mulai tanggal 3 Oktober – 17 Oktober 2019, atau akan ditutup jika kuota telah terpenuhi.

Informasi lebih lanjut sila hubungi Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Yogyakarta-Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) menyelenggarakan Workshop Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) di 14 Kecamatan yang ada di Kota Yogyakarta. Termasuk di dalamnya Kecamatan Kraton dan Kecamatan Gondokusuman, yang dilaksanakan pada hari Selasa (25/6) di Pendapa Kecamatan Kraton dan Gondokusuman. Pembicara atau narasumber dalam workshop PTPPO ini yakni, Tiwuk Lejar Sayekti sebagai Manajer Internal Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Rifka Annisa.

Workshop ini merupakan salah satu rangkaian roadshow yang dilakukan oleh DPMPPA, didalamnya terdapat kampanye Three Ends (3 akhiri) yakni, akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, akhiri perdagangan manusia, dan akhir kesenjangan ekonomi”, ungkap Indra staf DPMPPA.

Tujuan dilaksanakannya workshop PTPPO ini untuk melaksanakan perlindungan (pencegahan, penanganan, dan pemberdayaan) bagi korban tindak pidana perdagangan orang berdasarkan pengalaman baik (good practices) yang telah dilakukan selama ini dan penguatan komitmen untuk pemberantasan TPPO.

Dalam rencana strategis Pemerintah Kota Yogyakarta mengakui dan menetapkan isu gender sebagai bagian dari pembangunan. Oleh karena itu Pemerintah Kota Yogyakarta menetapkan sasaran pembangunan melalui program affirmasi kepada lima kelompok rentan yaitu, perempuan, anak, lansia, difabel, dan orang miskin. Workshop ini menjadi pelaksanaan kegiatan perlindungan kepada lima kelompok rentan tersebut terutama perempuan dan anak.

Merujuk pada UU 21 Tahun 2007, “Perdagangan orang adalah tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan atau posisi rentan, penculikan, penyekapan, pemalsuan atau penipuan, penyalahguanaan kekuasaan, penjeratan utang, atau memberi bayaran atau manfaat memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain untuk tujuan mengeksplotasi orang tersebut.”

“Selama ini bahwa kasus perdagangan manusia itu tidak terlepas dari adanya kasus perdagangan secara seksual juga. Apabila kita bicara angka paling besar terdapat di India, mayoritas terjadi pada perempuan, dan tidak hanyak orang dewasa saja namun juga melibatkan anak-anak. Sekitar 80 ribu anak di Indonesia dalam pertahunnya, dijual untuk tujuan seks komersial,” jelas Tiwuk.

Workshop ini menyasar sekitar 60 orang yang terdiri beberapa perwakilan dari PKK, LPMK, Babinkamtibmas, Babinsa, Fasilitator PKH, PSM, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, KUA, Lurah, dan Kecamatan.

(Ayu Aprilia Sari)

Kamis, 11 Juli 2019 13:05

Kelas Ibu: Bangga Menjadi Perempuan

Yogyakarta-Rabu (27/6), Rifka Annisa mengadakan Diskusi Kelas Ibu yang diselenggarakan di Dusun Cekel, Desa Jetis, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunung Kidul. Diskusi ini menggandeng Ibu-ibu pasangan muda Dusun Cekel dan Fasilitator Komunitas Desa Jetis yang beberapa diantaranya merupakan anggota Forum Perlindungan Korban Kekerasan Perempuan dan Anak (FPK2PA) Desa Jetis. Tema “Menjadi Perempuan” diambil dalam diskusi ini untuk meningkatkan ibu-ibu agar bangga terhadap dirinya sebagai perempuan, sehingga ibu-ibu dapat lebih percaya diri.

“Apa yang diharapkan di diskusi menjadi perempuan ini adalah dia (red-ibu-ibu) bangga terhadap dirinya, sebenernya kalau perempuan kan awalnya dianggap sebagai istilahnya  kanca wingking atau menjadi teman belakang, dia berada di domestik seperti itu”, ungkap Irmaningsih Pudyastuti yang merupakan organisator komunitas Desa Jetis dari Rifka Annisa

Lebih lanjut irma mengatakan, “Salah satu Ibu-ibu mengatakan bahwa sebenarnya bekerja di rumah sama seperti kita bekerja di luar rumah. Sama-sama melakukan aktivitas. Jadi, yang perlu ditumbuhkan adalah memunculkan rasa percaya diri pada ibu-ibu.”

Agenda diskusi diawali dengan mengulas diskusi sebelumnya yang ditujukan untuk mengidentifikasi tema-tema diskusi yang akan datang, dan diakhiri syawalan beserta makan bersama dengan peserta diskusi. Dalam diskusi kali ini ibu-ibu pasangan muda Dusun Cekel dibagi menjadi 3 kelompok yang nantinya menjawab pertanyaan berbeda-beda dengan didampingi fasilitator komunitas. Pertanyaan tersebut yakni, apa yang membuatmu bangga sebagai perempuan, kapan anda menyadari sebagai perempuan, dan apa perbedaan laki-laki dan perempuan.

Terkait perbedaan pekerjaan Fitri Indra Harjanti yang merupakan perwakilan dari Rugers WPF menanggapi, “Sebenarnya masalahnya itu kurang menghargai, bahkan oleh kita sendiri yang melakukannya. Kita sendiri masih belum menghargai apa yang kita lakukan. Sebenarnya semua pekerjaan itu sama, baik di luar maupun di rumah”, ujar Fitri

Fitri berharap dalam rumah tangga apapun pekerjaannya harus saling menghargai satu sama lain, baik pekerjaan diluar rumah maupun pekerjaan rumah tangga. “Sehingga apabila ada bapak-bapak yang juga bekerja di rumah pun harus dihargai. Tujuannya  mecari nafkah dan mengurus rumah tangga itu sama pentingnya. Yang melakukan juga siapa aja, bisa laki-laki dan bisa perempuan tergantung pembagian dalam rumah tangga”, imbuhnya.

(Ayu Aprilia Sari)

34731610
Today
This Week
This Month
Last Month
All
1388
1388
36949
153216
34731610