Pentingnya Membangun Konsensus dalam Pemilihan Kontrasepsi  Featured

Written by  Selasa, 29 November 2022 20:00

Perencanaan keluarga merupakan poin penting yang harus dipersiapkan setelah menikah. Dengan perencanaan keluarga yang matang, pasangan dapat mengembangkan diri dan karier. Kemampuan untuk merencanakan kehamilan termasuk memilih kontrasepsi juga dipercaya dapat meningkatkan kesehatan mental, menjaga kesehatan reproduksi dan kebahagiaan bagi pasangan.

 

Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti “mencegah” atau “melawan”  dan konsepsi yang berarti pertemuan antara sel telur yang matang dan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut. Kontrasepsi merupakan komponen penting dalam pelayanan Kesehatan reproduksi sehingga dapat mengurangi risiko kematian dan kesakitan dalam kehamilan. 

 

Penggunaan kontrasepsi bertujuan untuk memenuhi hak reproduksi setiap orang, membantu merencanakan kapan dan berapa jumlah anak yang diinginkan, dan mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Penggunaan alat kontrasepsi secara tepat juga dapat mengurangi risiko kematian ibu dan bayi. Oleh karena itu, pemenuhan akan akses dan kualitas program Keluarga Berencana (KB) sudah seharusnya menjadi prioritas dalam pelayanan kesehatan. 

Dalam mempersiapkan kehamilan harus mempertimbangkan risiko dan manfaat kesehatan bersama dengan keadaan lain seperti usia, kesuburan, akses ke layanan kesehatan, dukungan pengasuhan anak, keadaan sosial dan ekonomi, dan preferensi pribadi dalam membuat pilihan untuk waktu kehamilan berikutnya. Hal ini penting agar terhindar dari komplikasi yang mungkin terjadi selama kehamilan. Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) berhubungan dengan kasus kegawatdaruratan kehamilan, persalinan, dan nifas yang terjadi pada perempuan berisiko. Faktor-faktor yang menyebabkan risiko tersebut antara lain kehamilan “4 Terlalu”, yaitu terlalu tua (usia hamil lebih dari 35 tahun), terlalu muda (usia hamil kurang dari 20 tahun), terlalu banyak (jumlah anak 3 orang atau lebih) dan terlalu dekat (jarak antar kelahiran kurang dari 2 tahun). 

Pengambilan keputusan dalam pemakaian kontrasepsi dinyatakan oleh Surbakti masih didominasi oleh perempuan (70%) yang menyatakan bahwa keputusan berada di pihak mereka sendiri (WHO 2003). Proses pengambilan keputusan pemakaian kontrasepsi pada ibu salah satunya disebabkan oleh bias gender, kurangnya partisipasi suami dalam mencegah kehamilan. Penting untuk membangun komunikasi dalam proses pengambilan keputusan dalam memilih alat kontrasepsi, pastikan semua keputusan berangkat dari kesadaran dan kesepakatan antar pasangan. Oleh karena itu, untuk menentukan pilihan kontrasepsi maka penting untuk membangun komunikasi yang demokratis dan setara dengan pasangan. Tips and Trick untuk membangun konsensus Kontrasepsi dalam sebuah relasi : 

  1. Pelajari apa itu Kontrasepsi dan jenisnya
  2. Konseling bersama pasangan untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih kontrasepsi
  3. Baik istri maupun suami yang akhirnya diputuskan bersama untuk menggunakan kontrasepsi perlu didukung secara penuh.
  4. Pastikan mengetahui kondisi kesehatan saat ini dan dampak yang akan ditimbulkan dari penggunaan alat kontrasepsi.
  5. Perlu ditekankan bahwa suami juga punya peran penting dalam pengontrolan reproduksi istri.

 

Selain membangun konsen dengan pasangan, tenaga medis juga harus lebih dulu membangun konsen dengan calon klien dengan menjelaskan secara detail informasi yang berkaitan dengan kontrasepsi. Persetujuan tindakan tenaga kesehatan merupakan persetujuan tindakan yang menyatakan kesediaan dan kesiapan klien untuk menggunakan alat kontrasepsi. Persetujuan tindakan medis secara tertulis diberikan untuk pelayanan kontrasepsi seperti suntik KB, AKDR, implan, tubektomi dan vasektomi. Sedangkan untuk metode kontrasepsi pil dan kondom dapat diberikan persetujuan tindakan medis secara lisan. Setiap pelayanan kontrasepsi harus memperhatikan hak-hak reproduksi individu dan pasangan sehingga harus diawali dengan pemberian informasi yang lengkap, jujur, dan benar tentang metode kontrasepsi yang akan digunakan oleh klien tersebut. Penjelasan persetujuan tindakan tenaga kesehatan sekurang-kurangnya mencakup beberapa hal berikut: a. Prosedur pelayanan; b. Tujuan tindakan pelayanan yang dilakukan; c. Alternatif tindakan lain; d. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan e. Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan

 

Oleh karena itu mari bangun konsen dalam proses pengambilan keputusan untuk menggunakan alat kontrasepsi, karena alat kontrasepsi adalah salah satu pemenuhan hak atas kesehatan reproduksi dan kesehatan ibu. 

 

Sumber : 

Buku Ajar Keluarga Berencana dan Kontrasepsi, Penerbit Pustaka Ilmu, 2018 

Modul Pelatihan Dasar, “Konsep Pelayanan Kontrasepsi”, 2019.



Read 878 times Last modified on Selasa, 29 November 2022 20:10
41124917
Today
This Week
This Month
Last Month
All
7302
26898
42903
172901
41124917