Keluarga Beradaptasi ditengah Krisis

Written by  Selasa, 30 Jun 2020 23:39

Oleh Ani Rufaida Tidak ada yang benar-benar siap menghadapi adanya virus covid-19. Kita semua sama-sama tidak tahu kapan pandemi ini berakhir. Upaya pencegahan dengan penerapan physical distancing digemakan di seluruh dunia. Situasi ini membuat hampir semua orang lebih banyak berada di rumah. Hal ini sesuai anjuran pemerintah untuk melakukan physical distancing (menjaga jarak) dengan #dirumahaja. Work From Home (WFH) dan School From Home (SFH) menjadi aktivitas baru bagi sebagian besar orang. Sekarang kita amati bersama pada konteks keluarga, institusi terkecil dari masyarakat. April lalu, Rifka Annisa mendiskusikan hal ini bersama para fasilitator kelas ayah. Kelas ayah merupakan salah satu kegiatan dalam program Prevention+ yang dilaksanakan oleh Rifka Annisa. Mereka berbagi cerita tentang ketidaksiapan keluarga menghadapi perubahan tatanan hidup yang berubah sangat cepat. Anak yang bertanya “Kok bapak dirumah aja, kok bapak tidak bekerja?” menjadi pertanyaan yang sulit untuk dijawab dengan santai. Memang tidak sedikit orang yang kehilangan mata pencahariannya. Peliknya upaya pemenuhan kebutuhan sehari-hari, cicilan, dan kebutuhan belanja rumah tangga tentu potensial memicu konflik apabila dikomunikasikan dengan baik. Sementara itu, beberapa ayah mengaku memetik hikmah di masa pandemi terutama pada proses mendampingi anak belajar di rumah. Hal yang mungkin jarang dilakukan sebelum adanya pandemi. “Sekarang lebih jadi sering dekat sama anak saya, ngajarin belajar bareng, sholat bareng, ngaji bareng dan jadi tambah banyak ngumpul-ngumpul bareng sama keluarga. Selama tidak ada kesibukan seperti sebelumnya yang gak pernah bisa bercengkerama atau bersenda gurau bersama keluarga seperti saat ini,” kata Ngajiyo, salah satu fasilitator kelas ayah. Disisi lain, beberapa ayah juga menyadari pentingnya berbagi peran. Mereka ikut merasakan beratnya pekerjaan ibu rumah tangga selama dirumah. Beberapa hari di rumah saja mungkin menyenangkan, tetapi belum tentu untuk waktu yang lama. Kejenuhan, kecemasan, ketakutan dan berbagai rasa tentu melintas di pikiran. Beberapa ayah memberikan tips-nya untuk beradaptasi di situasi krisis dalam lingkup keluarga. Pertama, membangun komunikasi dalam keluarga. Ayah, ibu, anak, dan anggota keluarga lain harus satu persepsi. Samakan pemahaman tentang virus ini, apa bahayanya, dan seperti apa upaya pencegahannya. Setelah pemahamannya sama, membuat kesepakatan di dalam keluarga misalnya untuk tidak bepergian apabila tidak penting, menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak aman dengan orang lain. Perlu juga saling menanyakan perasaan antar anggota keluarga. Situasi pandemi yang rumit tentu rentan menimbulkan tekanan psikis. Komunikasi itu gampang tapi rumit. Terkadang, komunikasi memang harus diciptakan dan dibangun momennya. Kedua, dalam menghadapi tantangan ekonomi. Menurunkan ego dan gengsi menjadi kunci. Mengutip dari Nur Hasyim dalam webinar yang bertajuk beradaptasi dengan krisis,“Ada persoalan laki-laki ketika melakukan kebijakan isolasi sosial. Normalnya mereka bekerja keluar rumah lalu dia harus di dalam rumah, itu tekanan sendiri bagi laki-laki.” Menurunkan ego dan gengsi bukanlah hal yang mudah bagi laki-laki, tetapi bukanlah hal yang mustahil. Saat berdiskusi dengan para fasilitator komunitas, para ayah saling menguatkan di tengah ekonomi yang sulit. Kehilangan pekerjaan tidak masalah, banyak temannya. “Ya pelan-pelan, nyatanya kalau kayak saya serabutan gitu, kalau nggak entuk seka kene (dapat dari sini), yo entuk seko kono(ya dapat dari sana). Semoga teman-teman juga begitu,” kata Pak Jatmiko. Mencari alternatif solusi untuk menyelesaikan berbagai tantangan dilakukan bersama dengan pasangan. Ketiga, membangun kerjasama. Selama di rumah, bukan berarti pasrah menjadi kaum rebahan. Banyak pekerjaan rumah yang bisa dikerjakan. Memasak, mencuci, bersih-bersih rumah, mengasuh anak, menemani anak belajar. Kesalingan menjadi tantangan. Bisa dibayangkan apabila tidak ada saling peduli dan kerjasama? Berat tentu. Memicu emosi marah, kecewa, hingga berburuk sangka. Hal ini tentu memicu konflik-konflik kecil yang apabila tidak diselesaikan menjadi boomerang suatu hari. Pada akhirnya, kita juga melihat bahwa tantangan di masing-masing keluarga tidaklah sama. Beda persoalan bukan berarti tidak ada penyelesaian. Kita semua tidak ada yang mengetahui kapan pandemi ini berakhir. Mau tidak mau kita yang harus beradaptasi. Beradaptasi di situasi krisis itu pilihan. Larut dalam situasi kesedihan atau bangkit untuk bertahan.

Read 132 times
35479141
Today
This Week
This Month
Last Month
All
4156
11653
98619
248442
35479141