Belajar, Mendengar, dan Bertumbuh Selama Tiga Bulan di Rifka Annisa
Tiga bulan ini rasanya seperti perjalanan kecil yang padat cerita. Aku Keyla, mahasiswa Psikologi semester 6 Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.
Siapa sangka, tiga bulan magang di Rifka Annisa Women’s Crisis Center ternyata memberikan begitu banyak cerita, pengalaman, dan pelajaran baru bagiku. Awalnya aku datang dengan sedikit rasa gugup dan banyak tanda tanya tentang bagaimana dunia kerja di lembaga pendampingan korban kekerasan. Namun, perlahan rasa gugup itu berubah menjadi rasa nyaman dan antusias setiap kali datang ke kantor.
Hari-hari pertama magang diisi dengan pembekalan dan pengenalan mengenai Rifka Annisa WCC. Aku diajak mengenal lebih dekat sejarah dan profil lembaga, berbagai layanan yang diberikan, serta nilai-nilai yang selalu dipegang dalam mendampingi korban. Tidak hanya itu, aku juga mendapatkan kesempatan belajar mengenai hukum perdata dan hukum pidana yang berkaitan dengan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Pembelajaran ini menjadi pengalaman baru karena aku menyadari bahwa penanganan kasus tidak hanya berbicara tentang aspek psikologis, tetapi juga berkaitan dengan perlindungan hukum bagi korban.
Setelah mendapatkan pembekalan, aku mulai mengikuti berbagai kegiatan di lembaga. Aku belajar banyak melalui observasi asesmen dan konseling, mengikuti diskusi kasus, membantu kegiatan administrasi, hingga mendengarkan berbagai pengalaman dari para pendamping. Setiap kegiatan selalu memberikan perspektif baru dan membuatku semakin memahami pentingnya empati, sikap tidak menghakimi, dan kemampuan mendengarkan orang lain.
Salah satu kegiatan yang paling berkesan selama magang adalah saat aku ikut kegiatan konseling home visit ke rumah klien. Aku berkesempatan untuk melihat langsung bagaimana proses pendampingan dilakukan di lingkungan klien sendiri, yang membuatku semakin memahami bahwa setiap proses konseling sangat bergantung pada rasa aman dan kenyamanan klien. Dari pengalaman ini, aku belajar bahwa pendekatan kepada klien tidak hanya terjadi di ruang konseling formal, tetapi juga bisa dilakukan dengan menyesuaikan situasi dan kebutuhan klien di kehidupannya sehari-hari.
Setelah kegiatan konseling tersebut selesai, aku dan konselor sempat makan bersama di sekitar Kotagede, tidak jauh dari kediaman klien, sambil menikmati gulai sapi. Momen sederhana ini terasa hangat dan menyenangkan, karena di sela-sela kegiatan yang cukup emosional, ada ruang untuk berbagi cerita ringan dan refleksi ringan tentang proses pendampingan yang baru saja dilakukan.
Selama tiga bulan ini, aku juga belajar bahwa menjadi calon psikolog bukan hanya tentang memahami teori yang ada di buku. Aku belajar untuk melatih empati agar lebih peka terhadap kondisi orang lain, menghargai setiap cerita yang dibagikan, dan memahami bahwa setiap individu memiliki perjuangannya masing-masing. Tidak terasa, waktu tiga bulan berlalu begitu cepat. Dari yang awalnya datang sebagai mahasiswa magang yang masih canggung, aku pulang dengan membawa banyak ilmu, pengalaman, dan kenangan yang akan selalu kuingat. Terima kasih kepada seluruh keluarga besar Rifka Annisa Women’s Crisis Center yang telah menerima, membimbing, dan menjadi bagian dari perjalanan belajarku.
Sampai jumpa di kesempatan lain, dan terima kasih untuk tiga bulan yang penuh cerita, pembelajaran, dan pengalaman yang tidak akan aku lupakan!
Penulis : Keyla (Mahasiswa Psikologi, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta)
Editor : Firda Ainun Ula



