Rubrik Tanya Jawab

Rubrik Tanya Jawab (21)

Written by Administrator Minggu, 24 Jun 2018 Published in Rubrik Tanya Jawab

Biasanya kita membayangkan kekerasan adalah sebentuk pemukulan atau penganiayaan. Bagaimana dengan umpatan, hinaan, ataupun sikap merendahkan? Apalagi jika itu dilakukan seorang yang kita cintai, kekasih atau pacar kita. Pacar yang hanya ingin kita menjadi boneka-nya?

Kasus:

"Saya Uli, mahasiswa semester IV sebuah PTN di Jawa Barat. Saya ingin menyampaikan persoalan kakak saya, mahasiswa di kampus yang sama dengan saya.

Kakak saya berpacaran dengan dosen muda. Rasa tertarik itu karena dosen tersebut cerdas, akrab dengan mahasiswa, dan terkenal sebagai aktivis demokrasi. Ternyata dalam proses pacaran, kakak saya diperlakukan tak lebih sebagai budak, pemanis. Maaf kalau kata-kata saya kasar. Kakak saya dipaksa berdandan mencolok dan berpakaian sangat seksi dengan alasan biar orang tahu pacar dosen tersebut cantik dan seksi. Saat sedang berkumpul dengan teman-temannya, kakak saya disuruh menunggui, tetapi tidak boleh ikut dalam diskusi dan mesti duduk manis. Persis seperti Barbie.

Pernah suatu ketika kakak saya protes dan nekat ikut dalam obrolan itu. Pak dosen mukanya ditekuk sepanjang acara dan saat pulang, kakak saya dicaci. Sering kakak direndahkan sebagai cewek enggak bermutu, cuma modal cantik tetapi otak bego, seperti tong kosong, dan sebagainya. Yang keterlaluan adalah pernyataannya bahwa kakak saya mendapat nilai bagus karena berpacaran dengan dosen itu. Padahal, saya tahu pasti sejak SD hingga SMA nilai kakak saya selalu bagus.

Saya makin kesal saat melihat kakak saya hanya diam. Ketika saya minta melawan, malah dia menangis. Kakak jadi seperti orang lain, berubah pendiam, sensitif, dan gampang menangis. Hari-hari hanya diisi kuliah dan pergi bersama dosen itu. Dia seperti kehilangan kepercayaan diri. Apa yang harus saya lakukan? Terima kasih."

(Uli,Bandung)

Jawaban:

  • Dear Uli, dari ceritamu kami menyimpulkan, kakakmu terjebak dalam hubungan cinta (pacaran) yang diwarnai kekerasan psikologis.

Kami yakin kakakmu merasakan ketidaknyamanan, tetapi karena sifat kekerasan psikologis laten atau tidak tampak, maka terasa relatif sulit mengidentifikasi secara gamblang hubungan itu tidak sehat. Hal itu membuat kekerasan psikologis berbahaya karena perlahan tetapi pasti merusak kondisi psikologis sasarannya, seperti yang kamu lihat pada kakakmu.

Bahwa kejadian itu berlangsung terus, memang demikian dinamikanya, yaitu kekerasan dalam hubungan cinta bersiklus. Jadi, apabila siklus kekerasan tidak diputuskan, bukan tidak mungkin akibatnya semakin parah. Kami tidak bermaksud menakutimu, tetapi fakta menunjukkan banyak korban kekerasan psikologis berakhir penderitaannya di rumah sakit jiwa atau meninggal dunia.

Hubungan kakakmu dengan sang dosen adalah salah satu bentuk relasi tidak sehat. Tandanya, tidak ada penghargaan, ketakutan, kecemburuan, dan sifat posesif (mengekang). Pelaku menggunakan hal-hal itu untuk menciptakan ketidakseimbangan kekuasaan. Pada titik inilah terjadi kekerasan emosional yang menurut Pamela Brewer, MSW, PhD adalah keadaan emosi yang sengaja dibuat untuk mengendalikan pasangan. Paling tidak, ada tiga elemen yang biasanya terjadi. Pertama, tekanan yang bentuknya mulai dari banyak mengkritik, berkata kasar, teriak-teriak, intimidasi, hingga cemoohan. Kedua, kekerasan berupa penyerangan baik secara fisik dan seksual. Ketiga, rayuan berupa permintaan maaf berulang serta janji tak mengulangi.

Pelaku biasanya menyalahkan korban sebagai pihak yang harus bertanggung jawab atas banyak hal dalam hubungan itu. Jika terjadi pertengkaran dan kemudian pelaku menghina serta merendahkan korban, biasanya pelaku akan menyalahkan korban atas pertengkaran itu dan kemudian mengatakan korbanlah yang menstimulasi pelaku melakukan (penghinaan) itu. Akibatnya, korban melihat dirinya sebagai orang pertama yang mesti bertanggung jawab atas pertengkaran dan penghinaan pacarnya, walaupun jelas bukan korban penyebabnya.

Dengan demikian, mereka akan terus menyalahkan dirinya dan semakin tergantung secara psikologis kepada pasangannya. Situasi ini membuat seseorang merasa tidak berdaya jika tidak bersama pasangannya. Maka, seperti kakak Uli, meski dia merasa sakit dihina terus dan menyadari lambat laun kehilangan dirinya, tetapi sulit putus dari pacarnya karena dikondisikan pelaku untuk tergantung secara psikologis.

Tentang pelaku, tidak jarang mereka memang berpenampilan charming, punya kedudukan, dan dihormati di komunitasnya. Dengan demikian, memutus lingkar kekerasan adalah jalan satu-satunya. Pertama, menyadarkan kakak Uli atas situasi ini. Jika dibutuhkan, minta bantuan psikolog untuk bersama-sama mengajak kakak melihat dirinya secara gamblang. Atau minta bantuan women’s crisis center di tempat Uli tinggal. Uli juga perlu minta bantuan anggota keluarga lain untuk mendukung langkah terbaik bagi kakak karena akan sangat membantu proses ini. Intinya, bantu kakak Uli dengan membangun sistem yang memberi dukungan bagi upaya memutus lingkaran kekerasan ini.

Yang mesti dihindari, jangan menyalahkan dan memaksa korban membuat keputusan yang bukan dari kesadaran dirinya karena hanya akan membuat korban semakin terpuruk.

Kompas, 27 Agustus 2005

Written by Administrator Jumat, 22 Jun 2018 Published in Rubrik Tanya Jawab

Suami mendapat promosi jabatan tak selalu membawa perubahan ke arah yang lebih baik, seperti kasus Ny Tini, promosi jabatan suami justru menjadi awal persoalan.

Kasus:

"Dear pengasuh rubrik konsultasi Rifka Annisa,

Saya perempuan sudah tidak muda lagi, umur 40 tahun. Ketika menikah usia saya 22 tahun dan saat ini dikaruniai dua gadis, keduanya sekarang sekolah di SLTA.

Keluarga saya tidak kaya sehingga setelah lulus SMA saya kursus untuk menjadi baby sitter, dan pekerjaan itu pula yang saya lakukan sampai saat ini. Sedangkan suami saya bekerja sebagai tenaga pemasaran barang kebutuhan rumah tangga dan telah berganti pekerjaan tiga kali sebelum menekuni pekerjaannya yang sekarang sebagai manajer pemasaran produk makanan.

Kami menumpang hidup di rumah mertua yang kondisi ekonominya juga pas-pasan. Sedikit demi sedikit kami mengumpulkan uang dan dapat membangun rumah mungil di halaman rumah mertua. Keadaan ini saya syukuri meskipun tetap harus hidup berhemat. Suami saya seorang pekerja keras dan jujur sehingga sejak dua tahun lalu pimpinan di kantornya mempromosikannya untuk menduduki jabatan lebih penting.

Awalnya saya dan anak-anak menyambut lega, tetapi akhirnya kami sangat kecewa karena enam bulan setelah dia naik pangkat dia sering sekali pulang terlambat karena, katanya, harus lembur, melakukan perjalanan ke luar kota, dan sebagainya.

Saya menyadari ini semua sebagai risiko dari pekerjaannya, namun yang saya tidak bisa mengerti, mengapa nafkah lahir yang diberikannya justru makin lama makin tidak tentu sampai akhirnya berhenti sama sekali. Saya berusaha mencari tahu sebabnya, rupanya dia telah berselingkuh dengan perempuan lain.

Saya mengajaknya bicara, kemudian dia menjadi sedikit membaik, meskipun hanya selama tiga bulan. Hingga saat ini keadaan terus memburuk. Semua upaya yang saya mampu sudah saya lakukan: bicara dengannya, minta tolong mertua untuk berbicara dengannya, dan mengadu ke tempat kerjanya. Hasilnya adalah saya ditampar dan dicaci maki oleh suami, dipersalahkan mertua, dan pimpinan suami saya mengatakan, semua perbuatan suami adalah masalah pribadi, tidak ada hubungan dengan pekerjaan.

Sekarang saya bekerja sendirian dari pagi sampai malam supaya dapat memberi makan anak-anak. Setiap saat dibayangi rasa cemas kalau mereka sampai tidak dapat menamatkan pendidikan SLTA-nya, sementara saya dengar suami malahan telah menikah lagi dan hanya sesekali menengok orangtuanya lalu pergi lagi. Anak-anak sampai harus bertengkar dengannya untuk memperoleh uang sekolah.

Apa yang dapat saya perbuat? Saya berharap pimpinan suami saya dapat menolong agar suami lebih bertanggung jawab terhadap anak-anak. Masih dapatkah saya menuntut hak saya dan anak-anak? Apakah benar tidak ada aturan yang dapat menekan suami atau kantornya untuk memenuhi kewajibannya?"

Jawaban:

Hormat, Ny Tini

Ibu Tini, beberapa tahun lalu kami pernah mendengarkan seorang kepala bagian personalia dari sebuah perusahaan yang cukup terkenal di Indonesia yang mengatakan ada kesepakatan kerja bersama antara pihak perusahaan tersebut dan calon karyawannya. Salah satu pasalnya menyebutkan larangan untuk berpoligami.

Pasal ini tentu saja menimbulkan banyak pertanyaan bagi kami yang mendengarnya, namun penjelasan perusahaan tersebut membuat kami manggut-manggut: Perusahaan merasa perlu membuat rambu tentang hidup berumah tangga karyawannya karena seorang karyawan tidak mungkin memisahkan diri sepenuhnya antara identitas dirinya ketika berperan sebagai pekerja dan sebagai pribadi yang hidup di masyarakat dan keluarga. Ketika ada masalah dalam keluarga sedikit banyak tentunya akan berimbas pada kinerjanya. Sedangkan masalah poligami dianggap sangat potensial untuk menimbulkan berbagai masalah yang akan berimbas pada kinerja karyawan tersebut.

Terlepas dari masalah larangan poligami tersebut, sikap perusahaan yang sepintas lalu tampak terlalu membatasi hak karyawannya, kalau dicermati akan terlihat bahwa aturan perusahaan tersebut mencerminkan karyawan bukan hanya dianggap sebagai mesin pencetak uang atau keuntungan bagi perusahaan. Keberadaan mereka diakui sebagai manusia yang memiliki dimensi kehidupan yang lebih luas: sebagai karyawan, pekerja, pribadi, anggota masyarakat, dan anggota keluarga. Semua peran dalam kehidupan tersebut dapat dimainkan semua manusia, tanpa pembedaan yang tegas kapan masing-masing peran harus dimainkan.

Sikap pimpinan suami Ibu memang sulit diperkarakan karena di Indonesia memang tidak ada keharusan bagi perusahaan swasta untuk bersikap seperti perusahaan yang kami contohkan di depan. Sementara untuk pegawai negeri ada aturan lebih tegas tentang hal ini. Kepedulian pihak manajemen di sebuah perusahaan memainkan peran sangat menentukan apakah masalah kekerasan seperti yang ibu alami akan dipandang sebagai masalah bersama atau masih tetap dianggap sebagai masalah pribadi.

Dalam KUHP Pasal 304 diatur tentang larangan meninggalkan orang yang seharusnya mendapat penghidupan, perawatan, dan pemeliharaan. Namun, pada kenyataannya pasal ini sangat jarang digunakan dalam konteks hubungan dalam keluarga.

Dengan disahkannya Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) melalui lembaran negara Nomor 23 Tahun 2004, sebenarnya peluang Ibu untuk menyelesaikan masalah ini lebih terbuka. Pada UU PKDRT Bab III Pasal 9 telah diatur tentang larangan untuk menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangga. Oleh karena itu, perbuatan seperti yang suami Ibu lakukan tersebut dapat dikatakan melanggar undang-undang dan tentunya pelanggaran tersebut ada sanksi hukum yang dapat dikenakan kepadanya sebagaimana yang tertulis pada Pasal 49 Ayat (a) dan (b) UU PKDRT.

Dengan dasar dan alasan ini pula, seharusnya pihak perusahaan di mana suami bekerja akan lebih menaruh perhatian pada masalah yang Ibu Tini alami. Dengan disahkannya UU PKDRT tersebut, masalah kekerasan dalam rumah tangga bukan lagi dianggap sebagai masalah privat. Karena itu, kalau Ibu ingin menyelesaikan masalah ini melalui kantor suami, maka Ibu dapat mencoba kembali menghubungi pihak perusahaan, baik langsung atau menulis surat yang ditujukan kepada pimpinan dan dapat disertai tembusan untuk kantor pusat di mana perusahaan berada, dilengkapi dengan informasi tentang UU PKDRT.

Ibu juga dapat menyelesaikan masalah ini secara hukum. Namun, apa pun langkah yang Ibu ambil ada risiko yang mungkin akan dihadapi suami Ibu. Misalnya, perusahaan akan memberi sanksi kepada suami ibu dari yang ringan sampai yang terberat, seperti pemecatan apabila memang suami dinyatakan bersalah secara hukum.

Sebelum Ibu membuka kembali kasus ini, alangkah baiknya bila Ibu melengkapi dengan bukti-bukti yang dapat ditunjukkan kepada pimpinan suami ataupun kepada pihak yang berwenang memproses laporan Ibu. Termasuk di antaranya bukti tentang adanya pernikahan yang dilakukan diam-diam sehingga melanggar ketentuan yang telah diatur dalam UU No 1/1974 tentang Perkawinan Pasal: 3, 4, 5 yang mengatur tentang pernikahan poligami yang antara lain mensyaratkan izin dari istri sah.

Anda sudah menunjukkan kekuatan luar biasa dalam menghadapi masalah ini seorang diri, mengambil tanggung jawab atas kedua putri ibu tanpa dukungan keluarga. Semoga kekuatan ini akan membawa Ibu keluar dari masalah ini. Kutipan lengkap pasal-pasal yang kami sebutkan di atas akan kami kirimkan ke alamat Ibu, namun apabila Ibu memerlukan informasi atau pendampingan lebih lanjut Ibu dapat menghubungi kami kembali atau lembaga yang melakukan pendampingan bagi perempuan di kota di mana Ibu tinggal.

 

Kompas, 7 Februari 2005

Written by Administrator Jumat, 22 Jun 2018 Published in Rubrik Tanya Jawab

Ada kelompok masyarakat yang sangat rentan dilanggar haknya dalam masyarakat kita, yakni perempuan dan difabel (pengganti istilah penyandang cacat). Maka lengkaplah kerentanan itu bagi seseorang yang menyandang dua hal tersebut, perempuan sekaligus difabel. Seperti dituturkan seorang ibu di bawah ini tentang penderitaan anak perempuannya yang difabel karena kekerasan seksual.

Kasus:

"SAYA bernama Darmi. Saya janda dan memiliki satu anak perempuan. Saat ini anak saya telah berusia 19 tahun. Anak perempuan saya namanya Nana. Sejak lahir ia tidak seperti anak lainnya. Tetangga saya mengatakan bahwa anak saya terbelakang. Meski telah berusia 19 tahun, Nana masih seperti anak yang duduk di kelas tiga sekolah dasar. Nana pernah sekolah tetapi tidak sampai tamat. Nana sekolah karena saya paksa meski selalu tinggal kelas. Nana juga tidak lancar dalam berkomunikasi. Tidak bisu, tetapi bicaranya sulit ditangkap. Sebetulnya saya ingin menyekolahkan dia di sekolah luar biasa, tetapi karena biayanya tidak terjangkau, akhirnya Nana menjadi tidak sekolah. Saya perempuan buruh miskin yang tinggal menumpang di tempat seorang yang mempunyai kepedulian pada nasib kami.

Ibu pengasuh yang baik, tampaknya cobaan belum berhenti. Nana yang lugu tiba-tiba bercerita kepada saya bahwa dia baru saja main "manten-mantenan" (pengantin). Sebetulnya sudah beberapa kali dia bercerita, tetapi saya tidak pernah menanggapinya. Saya tidak menduga yang macam-macam dan karena saya sudah lelah bekerja. Namun, ketika badannya panas dan mengeluh bagian kemaluannya sakit, baru saya tanyakan. Pada saat itu saya bingung dan akhirnya Nana saya periksakan ke puskesmas. Puskesmas merujuk saya untuk periksa di rumah sakit umum. Ternyata anak saya infeksi pada bagian kemaluannya dan menurut dokter ada luka karena benda tumpul.

Saya ceritakan semua kejadian kepada famili saya. Mulailah kasus terungkap dan masyarakat melaporkan kejadian itu kepada pihak berwajib. Saya dipanggil pihak polisi agar menceritakan kejadian tersebut. Saya marah, dendam, benci karena orang yang telah "menjahati" anak saya ternyata tetangga dekat kami yang sudah berkeluarga dan memiliki anak. Saya menginginkan kasus ini dapat dituntaskan dan pelakunya diberi hukuman setimpal. Namun, kasus saya tidak pernah selesai karena keterangan anak saya dinyatakan tidak jelas dan meragukan.

Ibu, bagaimana bisa begini? Pelaku pemerkosaan pada anak saya sudah datang di kantor kepolisian dan mengakui perbuatannya. Kasus saya sudah bolak-balik antara kepolisian dan kantor kejaksaan. Ibu, apa yang seharusnya saya lakukan untuk masa depan anak saya. Apakah saya tidak berhak mendapatkan keadilan."

(Darmi di Yogyakarta)

Jawab

Ibu Darmi yang sedang bingung, kami sangat memahami penderitaan Ibu. Berdasarkan penuturan Ibu, tampaknya putri Anda telah mengalami kekerasan seksual atau pemerkosaan. Kami mengategorikan tindakan tersebut sebagai pemerkosaan karena meskipun tampaknya tidak ada tanda-tanda pemaksaan, si pelaku telah berbuat sesuatu berdasarkan "persetujuan semu" dari putri Ibu. Maksudnya, persetujuan melakukan sesuatu hal yang tidak didasari atas kepahaman sepenuhnya atas apa sesungguhnya perbuatan tersebut.

Kasus yang sama biasanya terjadi pada anak-anak, yang secara "sukarela" bersedia diajak bermain "manten-mantenan", "kuda-kudaan", atau berbagai sebutan lainnya yang berkonotasi seksual, oleh orang dewasa yang menyalahgunakan kepercayaan si anak. Si anak "bersedia" karena mereka tidak memahami perbuatan apa sesungguhnya yang dilakukan orang dewasa yang mereka kenal itu.

Karena putri Ibu mengalami keterbelakangan mental, maka meskipun mungkin secara fisik ia tumbuh normal, kemampuan mental intelektualnya tidak berkembang sewajarnya sehingga ia masih berpikir seperti anak-anak.

Sangat disesalkan bahwa kasus putri Ibu akhirnya mandek dan pelakunya lepas dari jerat hukum karena anggapan kurang dipercayainya keterangan putri Ibu. Sesungguhnya bukan hanya Ibu yang mengalami kekecewaan apabila melihat sistem hukum kita yang demikian itu. Banyak kasus tidak dapat diselesaikan melalui keputusan pengadilan, dengan alasan kurangnya alat bukti atau karena peraturannya belum cukup mengatur hal itu.

Sebenarnya putri Ibu telah mengalami "kekerasan ganda" karena, pertama, sebagai manusia yang berjenis kelamin perempuan, dan kedua sebagai difabel atau manusia dengan kemampuan yang berbeda (different abilities).

Istilah ini sekarang banyak dipergunakan untuk mengganti sebutan penyandang cacat yang berkonotasi kurang menguntungkan untuk kelompok masyarakat ini. Dikatakan bahwa Nana telah mengalami kekerasan ganda karena sebagai perempuan ia rentan menjadi sasaran tindak kekerasan berbasis jender (pemerkosaan, pelecehan, dan sebagainya). Sebagai sosok difabel, ia juga rentan mengalami perlakuan tidak adil.

Secara logika, seharusnya kelompok difabel ini mendapat perlindungan setara dengan mereka yang nondifabel, tetapi kenyataannya tidak begitu. Seperti yang dialami Nana, keterangannya menjadi diragukan karena dianggap sebagai keterangan "kanak-kanak" yang belum tentu dijamin kebenarannya. Pandangan inilah yang tampaknya kemudian diadopsi para penegak hukum kita sehingga mengaburkan persoalan Nana yang sesungguhnya, yaitu soal bahwa ia telah diperkosa.

Bu Darmi, sebenarnya masih banyak Nana-Nana yang lain, yang tidak paham bahwa dirinya telah mendapat kekerasan, karena boleh jadi informasi mengenai kekerasan berbasis jender, informasi soal bagaimana memahami dan melindungi tubuhnya sendiri, tidak pernah sampai kepada kaum difabel ini. Memang untuk menyampaikan hal ini kepada mereka diperlukan metode dan sarana berbeda dengan metode dan sarana yang dipakai untuk kelompok masyarakat nondifabel.

Untuk itu, menyampaikan informasi mengenai masalah ini kepada para pendamping, pengampu, pengasuh, dan guru dari kelompok difabel ini mungkin menjadi alternatif yang paling cepat dapat kita lakukan sebagai upaya pencegahan. Selain itu, sudah saatnya kita semua mulai menghargai sesama, tanpa kecuali kelompok masyarakat difabel ini.

Sebenarnya pemerintah kita telah dengan jelas mengatur tentang penyandang cacat (difabel) ini dalam UU Nomor 4 Tahun 1997. Namun, UU ini pun masih perlu disosialisasikan, demikian juga tentang peraturan pelengkap yang lain.

Nah Bu Darmi, apabila Anda masih ingin mengupayakan tindakan hukum guna menyeret si pelaku ke meja hijau, mungkin ada baiknya Ibu melakukan upaya itu bersama dengan kelompok atau organisasi pembela hak kaum difabel. Selain itu, Nana tentu memerlukan pola pengasuhan yang khusus, mengingat keadaannya yang demikian. Mendidik Nana agar ia mampu menolong dirinya sendiri, baik dalam mengatasi masalah praktis sehari-hari maupun dalam membawa dirinya melangkah ke masa depan, tampaknya merupakan prioritas utama yang perlu menjadi perhatian Anda dan seluruh keluarga.

Apabila Ibu masih memerlukan informasi dan pendampingan lebih lanjut, Ibu dapat menghubungi lembaga pendampingan kaum difabel yang terdekat dari tempat tinggal Ibu. Atau, Ibu dapat menghubungi kami untuk memperoleh keterangan lebih lanjut mengenai organisasi yang berkaitan dengan hal itu.

Salam, Rifka Annisa.

 

Kompas, 29 Maret 2004

Written by Administrator Jumat, 22 Jun 2018 Published in Rubrik Tanya Jawab

Setiap perempuan yang menjadi korban kekerasan tidak selalu sama dalam merespons kekerasan yang dialami.

Adakalanya kekerasan menjadikan perempuan terpuruk dan menderita, namun adakalanya menjadikan perempuan memilih cara lain, seperti melampiaskan dendam kepada laki-laki dengan cara menggauli setiap laki-laki yang dia sukai untuk kemudian meninggalkannya. Namun, semuanya tetap menjadikan perempuan menderita, seperti penuturan De di bawah ini.

"SAYA seorang perempuan dengan usia seperempat abad lebih, bekerja sebagai karyawan swasta dan berstatus lajang. Saya sadar saya termasuk perempuan dengan penampilan menarik, supel, dalam pekerjaan pun karier saya mantap. Oleh karena itu, teman saya banyak, terutama laki-laki. Bahkan, saya berpacaran dengan mereka. Rifka, saya juga seorang "pelacur". Setidaknya begitulah yang pernah dikatakan seorang perempuan yang suaminya berselingkuh dengan saya. Kalau dipikir-pikir, mungkin benar juga, mengingat entah sudah berapa laki-laki yang pernah tidur dengan saya. Hanya bedanya, saya tidak minta dibayar, tetapi karena dilakukan suka sama suka. Dulu, sama sekali saya tidak punya pikiran akan menjadi seperti ini. Awalnya, beberapa tahun lalu saya berpacaran dengan seorang laki-laki yang begitu saya cintai sehingga saya rela menyerahkan segalanya. Ternyata laki-laki itu mengkhianati saya. Dia meninggalkan saya dan berpacaran dengan perempuan lain. Rasanya begitu menyakitkan sehingga membuat saya ingin sekali membalas apa yang telah dia lakukan terhadap saya. Sejak itu saya mudah berhubungan dengan laki-laki mana pun yang saya sukai dan sebentar kemudian saya tinggalkan untuk beralih pada yang lain. Saya tidak peduli apakah mereka akan patah hati atau sakit hati. Salah satu di antara laki-laki itu ternyata benar-benar mencintai saya, bahkan ingin menikah. Ketika saya ceritakan siapa saya sebenarnya dan bagaimana kelakuan saya, dia mau menerima asal saya mau berubah. Bahkan, saat ini kami sedang merencanakan pernikahan. Masalahnya, saat ini saya juga berhubungan dengan seorang laki-laki yang sudah beristri. Dengan dia (sebut saja X), saya memiliki pengalaman yang betul-betul berbeda. Hanya dengan dia saya benar-benar mendapatkan kepuasan saat berhubungan badan. Entah, mungkin karena dia sudah lama berumah tangga sehingga lebih berpengalaman. Saya merasa jatuh cinta kepadanya. Sehari saja tidak bertemu, rasanya saya gelisah terus. Tetapi, sejak istrinya mengetahui hubungan kami, X mulai menghindar sehingga membuat saya sering uring-uringan. Dia bahkan menginginkan untuk putus hubungan, padahal dulu dia mengatakan akan bercerai dari istrinya karena perkawinannya bermasalah. Terus terang saya marah melihat sikapnya yang begitu pengecut. Pada awalnya saya hanya ingin berhubungan tanpa komitmen dengan X. Tetapi, karena saya akhirnya benar-benar jatuh cinta, terus terang saya menjadi punya harapan untuk dapat hidup bersama X. Rifka, saya betul-betul bingung, marah, tidak tahu mesti bagaimana. Tolong kasih saya masukan. Perlu Rifka ketahui, saya menyadari apa yang saya lakukan selama ini adalah salah. Dalam hati kecil saya sebenarnya ingin berubah, tetapi saya bingung dan tidak yakin dengan diri sendiri. Terima kasih sebelumnya." (De di Kota J)

Jawab:

Ketika kami menulis di rubrik ini pada edisi Agustus 2003, ada salah satu tanggapan melalui surat elektronik dari seorang pembaca laki-laki yang secara terus terang membeberkan pengalamannya berhubungan bebas dengan beberapa perempuan dalam kurun waktu tertentu di luar perkawinannya. Tetapi, pada akhirnya dia memutuskan untuk menghentikan "petualangannya" karena tersentuh oleh kebaikan sang istri yang mau memaafkan dan menerimanya kembali. Selanjutnya, laki-laki itu justru menjadi "konselor" bagi rekan-rekannya yang masih terjebak pada masalah serupa untuk dapat keluar dari masalah tersebut.

Kasus Anda dapat dikatakan serupa, tetapi tidak sama dengan apa yang dialami laki-laki tersebut. Dia mengawalinya untuk mendapat kesenangan, tetapi Anda mengawali karena semangat balas dendam (yang mungkin tidak Anda sadari). Meskipun begitu, hati kita akan bertanya, sesungguhnya apakah mantan pacar yang telah membuat Anda sakit itu merasakan pembalasan Anda? Atau, adakah hubungan antara mantan pacar yang berkhianat itu dan para laki-laki yang berhubungan dengan Anda selama ini? Tentu Anda tahu jawabannya bukan?

Saudari De, apa yang terjadi pada Anda merupakan salah satu contoh dinamika psikologis dari perempuan korban kekerasan, mengingat Anda menyadari perubahan perilaku Anda terjadi setelah pacar Anda mengkhianati Anda. Dalam kasus Anda, kami menggolongkan sebagai kekerasan dalam pacaran.

Sekilas banyak orang sulit menerima apa yang dilakukan pacar Anda sebagai bentuk kekerasan, tetapi bila melihat pola hubungan pacaran yang menempatkan laki-laki sebagai subyek dan pasangan perempuan sebagai obyek, maka akan tampak bahwa sering kali pasangan perempuan tidak memiliki pilihan, kecuali menuruti keinginan pasangan laki-laki, entah karena bujuk rayu atau janji menikahi. Bujuk rayu dan janji-janji adalah manifestasi dari pemaksaan (psikis) dan pemaksaan adalah salah satu bentuk kekerasan.

Kasus Anda dapat dijadikan cermin bagi Anda sendiri maupun perempuan lain yang memiliki kasus serupa, juga pembaca pada umumnya. Bahwa kekerasan terhadap perempuan selain menimbulkan dampak bagi perempuan itu sendiri juga sangat mungkin berimbas kepada orang lain.

Saudari De, bila kita tengok ke belakang, cara Anda beradaptasi dengan kekecewaan yang mendalam itu adalah dengan menggeneralisasi subyek penyebab masalah. Maksudnya, Anda telah dikhianati laki-laki, maka kemudian Anda memperlakukan semua laki-laki secara tidak baik.

Anda, sebagai perempuan, mengambil peran bahwa Anda juga dapat berlaku sebagaimana seorang laki-laki yang dapat dengan mudah mencampakkan perempuan. Situasi ini kemudian Anda sadari belakangan bahwa ternyata semua itu tiada berujung pada penyelesaian persoalan yang membuat "hati Anda tenteram", melainkan justru semakin memperburuk hidup Anda.

Kalaupun saat ini Anda mulai menyadari dan diikuti penyesalan, itu indikasi yang bagus karena berarti Anda sudah memiliki modal untuk berubah. Nah, bagaimana mewujudkan perubahan itu, barangkali pertimbangan berikut ini dapat Anda pikirkan:

Pertama, cobalah kenali lagi diri dengan menggali kapasitas positif dan negatif Anda. Jika perlu, mintalah bantuan orang lain atau profesional untuk mendorong dan memberi pertimbangan. Dengan mengetahui potensi diri, kita akan memiliki rasa percaya diri dan berani menghadapi masa depan.

Kedua, jangan takut untuk "membongkar" kebiasaan Anda selama ini. Kemungkinan Anda akan mengalami gejolak emosi seperti ragu dan takut karena keluar dari kebiasaan membuat seseorang tidak nyaman. Tetapi, yakinilah bahwa situasi ini akan membawa Anda pada situasi baru yang lebih baik.

Coba Anda pertimbangkan seperti apa dampak psikologis, sosial, hukum, juga kesehatan (reproduksi) bagi diri Anda sendiri jika kebiasaan tersebut tetap dipertahankan. Anda juga dapat mengkajinya secara spiritual, apa sesungguhnya yang Anda cari dalam hidup ini.

Ketiga, coba gunakan kontak sosial Anda untuk membangun komunikasi baru yang dapat mendukung perubahan Anda. Putuskan hubungan dengan komunitas atau pribadi-pribadi yang memungkinkan Anda tetap berada dalam gaya hidup seperti yang sekarang ini. Fokuskanlah saat ini guna menerapi diri sendiri untuk menjadi sosok yang baru, yang konstruktif dan produktif.

Keempat, ketika Anda sudah mulai menjadi "orang baru", Anda dapat mengenali berbagai peran dan tingkah laku yang baru serta menghayatinya. Pada tahap ini, Anda akan merasakan sensasi baru tentang bagaimana menjadi pribadi yang lebih konstruktif dan produktif dari sebelumnya, sebagaimana yang Anda inginkan. Tidak ada lagi kecemasan serta kemarahan yang membelenggu seperti yang sudah-sudah sehingga Anda dapat menikmati hidup dengan lebih nyaman dan tenteram.

Nah, Mbak De, ingatlah bahwa yang Anda butuhkan adalah semangat dan keberanian untuk berubah. Kami yakin Anda mampu! Selamat menjalani proses untuk menjadi sosok baru.

 

Kompas, 16 Februari 2004

Written by Administrator Jumat, 22 Jun 2018 Published in Rubrik Tanya Jawab

Salam Ibu Pengurus Rifka Annisa, saya ingin membagi kesedihan yang saat ini saya alami karena tidak tahu lagi harus bicara dengan siapa. Mengadukan hal ini kepada keluarga besar saya adalah hal yang mustahil. Bukannya dukungan yang saya dapatkan, paling banter hanya omelan dan cemoohan karena saya dianggap tidak mampu mendidik anak dan suami.

Ibu yang baik, saya adalah ibu dari tiga anak yang sedang menginjak remaja. Saat ini saya menikah untuk kedua kalinya dengan seorang duda tanpa anak. Pernikahan kedua saya ini telah berlangsung tiga tahun. Pada awalnya saya merasakan kebahagiaan tiada tara karena melihat suami dan anak saya hidup rukun dan bahkan sangat akrab. Dari ketiga anak saya, yang nomor dua, M, adalah yang paling dekat dengan bapak tirinya. Mereka sering berangkat bareng. Tak jarang suami saya menjemput M di sekolahnya. Bagi saya, suami saya adalah bapak tiri yang sangat sempurna untuk anak-anak saya.

Namun, saya bagai disambar geledek di siang bolong saat bulan lalu anak saya menghilang. Beberapa hari sebelum hilangnya M, kebetulan saya bertengkar hebat dengan M. Saya mencurigai dia tengah hamil. Dia mengelak tuduhan saya dan malah menuduh saya tidak lagi sayang kepada dia. Menghilangnya dia menguatkan dugaan saya. Sungguh Bu, saya kira semula yang melakukannya adalah teman sekolahnya. Ternyata yang melakukan perbuatan bejat itu tak lain adalah suami saya. Saya langsung lemas dan rasanya seperti gila. Saya mengetahuinya dari M sendiri yang beberapa hari lalu memutuskan kembali ke rumah. Suami saya sendiri saat ini menghilang.

Bu, saya bingung apa yang mesti saya lakukan saat suami saya kembali nanti. Saya tidak ingin menerima kembali lagi dia di dalam rumah kami. Tetapi, kalau dia menggugat haknya sebagai suami dan ayah bagaimana? Tambah pusing lagi karena M bersikap sebaliknya. Dia berharap ayah tirinya bisa kembali ke rumah dan apa yang dilakukan ayah tirinya sama sekali tidak menyakitinya. Mohon bantuan betul Bu karena saya rasanya stres dengan masalah ini. Terima kasih.

(Ibu R)

Jawaban:

Ibu R, kami turut prihatin dengan masalah yang sedang Ibu hadapi. Terima kasih atas kepercayaan Ibu dan semoga kami bisa menjadi kawan dalam memecahkan masalah ini.

Kami tahu bagaimana perasaan Ibu saat ini, namun kami harap Ibu tetap tabah dan dapat berpikir jernih di dalam memecahkan masalah ini.

Masalah yang Ibu hadapi adalah masalah kekerasan dalam rumah tangga di mana korbannya biasanya tidak selalu tunggal. Dalam kasus ini tidak hanya M yang menjadi korban, namun Ibu juga adalah salah satu korbannya. Tetapi, barangkali masalah M saat ini menjadi prioritas mengingat M telah mengalami apa yang disebut dengan inses.

Ibu R, inses adalah hubungan seksual yang dilakukan ayah kandung, ayah tiri, kakek, paman, saudara laki-laki, atau laki-laki lain di dalam keluarga yang tidak memiliki hubungan darah, namun telah diterima dan dipercaya sepenuhnya oleh keluarga.

Pelaku biasanya mempunyai posisi lebih tinggi dan dominan dari korban, namun dipercaya korban. Tak jarang pelaku adalah orang yang disayangi dan dijadikan panutan korban sehingga dalam beberapa kasus, korban cenderung menyerah terhadap inisiatif seksual mereka tanpa melawan.

Dalam kasus lainnya, korban inses merasa takut kepada pelaku karena ia adalah orang yang punya pengaruh penting dalam keluarga, misalnya, sebagai tulang punggung keluarga atau figur yang menjamin keamanan keluarga. Kadang inses juga terjadi dengan menggunakan cara-cara pemaksaan atau ancaman dan tekanan seperti menakut-nakuti, namun bisa juga menggunakan bujukan dengan imbalan tertentu.

Dalam rentang kasus kekerasan seksual, inses ini menempati urutan tertinggi dalam hal dampak yang ditimbulkan pada korban karena biasanya terjadi tindakan seksual yang dilakukan terjadi secara berulang dan dapat berlangsung dalam waktu lama (bertahun-tahun).

Ibu mungkin bingung menghadapi sikap anak Ibu. M terkesan "baik- baik" saja, bahkan mengharap ayahnya pulang dan tidak ada keberatan atas apa yang dialaminya. Berdasarkan pengalaman kami di Rifka Annisa dalam mendampingi korban kasus-kasus inses, ini menunjukkan beberapa hal penting.

Pertama, sikap yang ditunjukkan M adalah salah satu efek dari inses yang dialaminya. Apabila anak merasa terlalu sakit atau tekanan emosinya sangat kuat, anak-anak berusaha mengingkari perasaan sakit tersebut (denial). M melakukan hal tersebut sebagai suatu bentuk mekanisme pertahanan dirinya setelah peristiwa yang menyakitinya.

Kedua, kasus inses terjadi karena pelaku (ayah tiri M) lihai memanipulasi M melalui paksaan, ancaman, bujukan, atau penyuapan. Kondisi M yang belum matang secara kognisi, emosi, maupun seksual dimanfaatkan untuk melaksanakan niatnya. Orang dewasa tidak seharusnya melakukan hubungan seksual dengan anak meskipun anak itu sendiri yang menghendakinya. Dalam hal ini, persetujuan anak tidak berlaku.

Inilah yang disebut sebagai statutory rape. Karena bagaimanapun anak belum cukup matang dalam mengambil keputusan semacam ini, maka tanggung jawab untuk mengendalikan agar anak terhindar dari perbuatan tersebut ada pada orang dewasa dan bukannya justru memanfaatkan keluguan anak dalam hal seksualitas itu. Dengan demikian, dalam kasus ini sesungguhnya M tidak bersalah dan ayah tiri M-lah yang bertanggung jawab sepenuhnya atas peristiwa ini.

Ketiga, beberapa  korban inses tidak menunjukkan adanya gangguan kejiwaan serius setelah sekian lama mengalami peristiwa itu, namun sangat mungkin mereka mengalami penundaan atas kemunculan gejala itu. Artinya, gejala kejiwaan serius baru muncul setelah mereka dewasa.

Sayangnya Ibu tidak memberitahukan berapa usia M. Tetapi, merujuk pada banyak studi tentang inses dan pengalaman kami sendiri, bisa jadi M belum merasakan dampaknya saat ini karena belum cukup sadar dan tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Meski demikian, Ibu harus mendukung M untuk mempersiapkan diri apabila hal itu terjadi.

Berkaitan dengan suami Ibu, apa yang dilakukannya telah melanggar Pasal 81 Undang-Undang Perlindungan Anak tentang tindakan pemaksaan melakukan persetubuhan dengan anak. Suami Ibu diancam dengan pidana maksimal 15 tahun penjara. Perbuatan suami Ibu juga melanggar Pasal 294 KUHP tentang Pencabulan serta Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Pasal 46,47, dan 48. Ibu dapat melaporkan kepada polisi untuk kemudian memprosesnya.

Ibu R, yang dibutuhkan M saat ini adalah dukungan dan perhatian Ibu. Coba Ibu fokuskan diri pada kebutuhan-kebutuhan M, agar stres yang Ibu alami berkurang. Karena anak tidak bisa memutuskan sendiri atas kekerasan yang dialaminya, maka tidak cukup bagi kita dengan hanya mendengarkan cerita mereka. Kewajiban kita untuk belajar, memberi perhatian, dan mengatakan sesuatu untuk memberi dukungan kepada anak kita. Jika Ibu merasa kesulitan, banyak layanan dari beberapa lembaga yang menyediakan bantuan konseling bagi anak korban kekerasan seksual. Jika domisili Ibu adalah di Jogja, Ibu dapat menghubungi Rifka Annisa.

Demikian jawaban kami, jika ingin berkonsultasi lebih lanjut, dapat datang langsung ke kantor kami di Jln. Jambon IV Kompleks Jatimulyo Indah Yogyakarta, atau via telepon di (0274) 553333 dan hotline 085100431298 / 085799057765, serta email Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya..

 

Harian Jogja, 9 Juni 2018

Written by Administrator Rabu, 23 Mei 2018 Published in Rubrik Tanya Jawab

Sudah jatuh tertimpa tangga, ungkapan ini sering kali sangat tepat menggambarkan situasi perempuan korban kekerasan. Mereka adalah korban, tetapi mereka justru dipersalahkan. Apa yang dituturkan K adalah gambaran situasi itu.

Kasus:

"Rifka Annisa yang terhormat,

Saya, K, seorang mahasiswi di sebuah PTS di Kota B. Saya juga aktif di kegiatan kemahasiswaan di kampus, namun sejak setahun terakhir saya menjadi enggan terlibat di dalamnya. Saya mengalami rentetan kejadian tidak menyenangkan dengan salah satu fungsionaris organisasi tersebut.

Salah satu fungsionaris, yang juga dulu saya anggap sebagai sahabat, ternyata tidak lebih dari seorang manusia yang tidak menghargai temannya, dia melecehkan saya. Pertama kali dia lakukan di kantor organisasi kami. Jangankan lapor ke polisi, untuk bercerita dengan teman saja saya tidak berani, saya sangat malu dan terhina. Namun, lebih dari itu, saya tidak ingin mempermalukan nama organisasi kami (terlebih lagi kami dari organisasi keagamaan). Saya hanya mampu menangis, menasihati dia untuk tidak mengulanginya dan berdoa kepada Tuhan untuk menyadarkannya.

Ternyata doa saya tidak terkabul, dia kembali mengulangi perbuatannya selama satu tahun. Selama satu tahun itu pula saya hanya dapat menahan tangis dan marah saya. Saya juga takut dengan ancamannya yang akan mengatakan kepada semua teman bahwa kami telah melakukan hubungan seksual, yang sebenarnya fitnah belaka. Saya merasa sangat kotor karena telah membiarkan orang menyentuh saya. Namun, kemarahan saya kalah dengan ketakutan dan dorongan untuk menjaga nama organisasi. Ini yang membuat saya terus diam. Saya tidak ingin mempermalukan organisasi agama saya. Selain itu, saya takut tidak dipercaya oleh orang lain karena dia dikenal alim dan dianggap panutan di kampus dan di organisasi, sedangkan saya hanya mahasiswi biasa.

Hingga akhirnya saya tidak tahan lagi, dia melakukan pelecehan hingga saya mengalami kejang perut. Saya tidak mampu menahan marah lagi dan saya putuskan untuk melapor kepada polisi. Saya memang tidak mengalami banyak kesulitan di kepolisian dan kejaksaan. Namun, yang lebih menyakitkan hati adalah teman-teman memaksa saya untuk berdamai. Mereka memusuhi saya dan menganggap saya sok suci, termasuk teman yang dulu dekat dengan saya. Mereka berkata bahwa bila dia dipenjara, maka saya juga harus dipenjara. Bahkan, untuk meminta teman menjadi saksi saja, saya seolah harus bersujud dan memohon mereka. Itu pun tidak semua kebenaran dikatakan dan masih harus ditambah dengan cacian dari mereka dan keluarga mereka.

Penderitaan saya disempurnakan dengan diusirnya saya oleh ibu kos. Ibu kos berkata bahwa ia mendapat keluhan dari beberapa teman kos saya. Beliau juga menyatakan bahwa saya jahat telah menyusahkan seorang laki-laki muda sehingga hancur masa depannya.

Pengasuh Rifka Annisa, saya tidak bermaksud menyakiti siapa pun atau membalas perlakuan buruknya kepada saya. Saya hanya ingin agar tidak ada seorang pun menyakiti saya, tidak juga dia. Apakah memang apa yang saya lakukan ini salah dan merugikan orang lain? Kalau dia yang salah, kenapa saya yang harus dimusuhi teman dan diusir dari tempat kos? Kenapa teman tidak mau mengerti perasaan saya? Saya tunggu balasan dari Rifka Annisa. Salam"

(K di B)

Jawaban :

SAUDARI K di Kota B yang baik,

Kami dapat merasakan kesedihan dan kemarahanmu. Setelah sekian lama menahan sakit seorang diri, kini justru semakin disingkirkan saat berjuang untuk mempertahankan hakmu. Apa yang K lakukan merupakan perjuangan luar biasa hebat, K berani menantang dunia dan terlebih lagi melawan ketakutan K sendiri untuk kemudian melapor kepada polisi. Memang kalau kita lihat dari kacamata hukum, apa yang K alami termasuk tindak pidana, pelakunya dapat diancam hukuman penjara dan K memang berhak melaporkannya.

Hanya saja, tampaknya apa yang K alami memang rumit. Kita tidak hanya dapat melihatnya dari kacamata hukum dan psikologis, tetapi juga bagaimana lingkungan sosial memandang masalah kekerasan terhadap perempuan pada umumnya. Masyarakat kita yang patriarkis cenderung memberi label negatif kepada perempuan. Dalam konteks kasus K dan banyak kasus lain yang serupa, perempuan sering kali diletakkan sebagai pihak yang patut dipersalahkan dengan asumsi perempuan adalah pencetus terjadinya kasus kekerasan seksual itu. Dengan demikian, K mengalami dua kekerasan: kekerasan pertama dilakukan pelaku dan kekerasan kedua dilakukan masyarakat.

Kekerasan yang dilakukan masyarakat ini sering kali memperparah kondisi korban karena berimplikasi pada sikap korban yang menyalahkan dan menganggap kotor dirinya sendiri sehingga menyumbang pada tingkat trauma yang diderita korban.

Akibat lain dari kecenderungan masyarakat menyalahkan perempuan atas apa yang dialami adalah membuat banyak perempuan takut menyuarakan kekerasan yang ia alami. Tekanan kuat dari masyarakat inilah yang acap membuat perempuan mundur dan memilih diam, menelan sendiri kemarahan dan sakit yang ia rasakan. Inilah yang dapat disebut sebagai secondary traumatized.

Kami paham benar apa yang K alami, tapi jangan pernah putus asa. K berhak memperjuangkan hak K untuk hidup tenang tanpa dibayangi ketakutan terhadap orang yang melecehkanmu. Bahkan mungkin K kini dapat lebih memahami pergulatan yang dialami oleh perempuan lain yang mengalami kekerasan seperti K. Di sini kita membutuhkan banyak dukungan untuk perempuan seperti K, dan K dapat memulainya di lingkungan K. Yakini apa yang kau lakukan benar dan lakukanlah.

Apabila K masih merasa butuh bercerita lebih lanjut, silakan menghubungi kami di Rifka Annisa WCC. Terima kasih.

 

Kompas, Senin 10 Mei 2004

Written by Administrator Selasa, 22 Mei 2018 Published in Rubrik Tanya Jawab

Mohon bantuan ibu Pengasuh Rifka Annisa, saya mempunyai masalah, yang menurut saya sangat rumit karena telah terjadi sepanjang usia perkawinan saya. Saya berusia 40 tahun. Perkawinan saya sebetulnya perkawinan kedua. Sebelumnya saya janda beranak dua yang disebabkan perbedaan pandangan dengan suami sehingga kami memutuskan bercerai.

Perkawinan kedua ini berjalan selama sembilan tahun dan kami memiliki satu anak sehingga saya memiliki tiga anak dari suami berbeda. Prinsip saya semula tidak pernah akan menikah lagi karena saya yakin dapat menjalankan kehidupan dengan anak-anak saya. Saya seorang wanita mandiri yang pada saat itu mempunyai penghasilan dan masa depan baik. Sampai kemudian saya bertemu dengan seorang laki-laki bujangan yang sebelumnya sangat memperhatikan anak-anak saya. Laki-laki itu sebelumnya sudah menjadi teman saya.

Dia tampak baik dan penyayang meski tidak mempunyai pekerjaan tetap. Kedekatannya dengan anak-anaklah yang menjadikan pertimbangan saya untuk menerima dan akhirnya menikah dengan dia. Perlu ibu pengasuh ketahui, setelah berpisah dengan suami yang pertama, praktis anak-anak juga sudah tidak mempunyai hubungan dengan ayahnya dan semua tanggung jawab terhadap anak-anak sepenuhnya saya yang menanggung.

Menurut pendapat saya, anak-anak pada saat itu sangat membutuhkan "figur ayah". Dengan pertimbangan untuk memenuhi kebutuhan anak-anak itu, saya memutuskan menikah dengannya, meskipun pada saat menikah, suami belum mempunyai pekerjaan dan pendapatan tetap.

Dengan berjalannya waktu, suami saya mendapat pekerjaan layak dengan penghasilan cukup. Namun, karena sudah ada kebiasaan sebelumnya kebutuhan rumah tangga adalah saya sepenuhnya yang menanggung, maka penghasilan suami dalam bekerja tidak pernah diberikan kepada saya atau dibelanjakan untuk kebutuhan keluarga. Suami bilang uangnya untuk tabungan masa depan. Sejalan dengan waktu juga penghasilan saya dalam bekerja sudah tidak seperti dulu lagi. Saya memang menjadi tidak berdaya menghadapi suami, takut kalau suami meninggalkan saya dan anak-anak. Saya wanita bodoh ya, Bu.

…saya merasa keputusan menikah lagi adalah salah. Keadaan ini menjadi rumit karena saya mempunyai beban rasa malu bila harus bercerai lagi karena pasti orang akan menertawakan dan menyalahkan saya. Barang-barang berharga milik saya sudah habis terjual, anak-anak menjadi telantar dan lebih parah lagi tidak dapat melanjutkan kuliah.

Sebetulnya beberapa upaya telah saya lakukan, antara lain meminta gaji suami dengan baik-baik atau meminta bantuannya untuk membeli kebutuhan rumah tangga. Namun, dia hanya membantu sebagian kecil saja dari penghasilannya, dan yang menyakitkan, dia hanya mau memberi sedikit untuk anaknya (anak kami dari hasil perkawinan dengan dia). Saya pernah berusaha mencoba menyelesaikannya melalui instansi tempat suami bekerja, namun manajer kantor bilang gaji adalah hak suami karena yang bekerja adalah suami. Mereka bilang saya dapat menuntut gaji kalau status saya adalah bercerai dari dia.

Adakah jalan keluar yang dapat saya tempuh untuk menuntut nafkah tanpa harus melakukan perceraian. Apakah anak tiri berhak menuntut nafkah kepada ayah tirinya?

(Ny Sisi di Kota S)

Jawaban:

  • Ny Sisi yang sedang gundah, tampaknya memang cukup rumit permasalahan Anda. Meski demikian, mari kita coba cari jalan keluar bersama-sama.

Pertama, mari kita renungkan kembali apakah sebenarnya tujuan perkawinan itu, apakah perkawinan dilakukan hanya sekadar untuk mencari status sosial tanpa mengindahkan kebutuhan batin Ibu? Ataukah demi rasa aman anak-anak semata?

Tujuan perkawinan adalah untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin bagi kedua belah pihak, dan untuk mencapai kebahagiaan tersebut, suami-istri harus saling menghargai, menghormati, memberi kasih sayang, dan tidak saling menguasai.

Ibu, berusaha mempertahankan perkawinan adalah baik, tetapi kalau hanya untuk alasan agar tidak menjadi janda kedua kalinya, rasanya alasan tersebut patut dipertimbangkan ulang. Janganlah perkawinan yang kedua ini menjadikan ibu kehilangan daya nalar sehingga harus mempertahankan, meskipun ibu memikul beban batin amat berat.

Kenyataan seperti itu juga sangat tidak baik untuk perkembangan jiwa anak-anak karena dalam situasi Ibu yang tertekan sangat mungkin endapan rasa jengkel dan amarah Anda terhadap suami terlampiaskan kepada anak-anak. Yang jelas, tanpa disadari sebetulnya sudah ada tanda-tanda terjadinya diskriminasi perlakuan suami kedua Anda terhadap anak kandung dan anak tirinya.

Memang tidak ada kewajiban hukum seorang ayah tiri mencukupi nafkah pada anak tirinya, hal ini hanya mengikat secara moral saja. Melihat usaha yang telah ibu lakukan, tampaknya tidak ada iktikad baik dari suami membina rumah tangga. Coba Ibu bicarakan kembali kepada suami sebetulnya apa keinginan suami terhadap rumah tangganya, jangan hanya keinginan sepihak dari Ibu untuk membina rumah tangga. Tanyakan dan tegaskan kepada suami Anda, apa alasannya sehingga ia tidak bersedia memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan rumah tangga, serta pendidikan anak-anak, sementara ia memiliki penghasilan cukup?

Alasan suami ia harus menabung untuk masa depan anak-anak rasanya menjadi tidak relevan lagi mengingat ada kebutuhan lain yang lebih mendesak sifatnya yang diperlukan bagi kelangsungan hidup anggota keluarga.

Mengenai keinginan ibu menuntut nafkah tanpa melakukan perceraian pada dasarnya secara hukum dapat dilakukan. Apakah alternatif ini merupakan jalan keluar paling tepat? Tentu Ibu dapat mempertimbangkan segala kekurangan dan kekuatan dari setiap pilihan jalan keluar yang akan Anda ambil.

Menuntut nafkah suami melalui pengadilan sangat mungkin akan menimbulkan sakit hati suami atau mungkin kemarahan, namun pengadilan menjadi unsur penekan bagi suami agar bersedia menafkahi keluarganya. Artinya, semua keputusan itu memiliki risiko, namun yang terpenting adalah Anda siap dengan segala risiko yang akan Anda hadapi.

Sebagaimana ketentuan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), Ibu dan anak-anak telah mengalami kekerasan ekonomi atau penelantaran dalam rumah tangga. Berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2004 itu, pihak suami dapat dikenai sanksi hukum.

Yang dimaksud penelantaran dalam lingkup rumah tangga, sebagaimana Pasal 9 UU PKDRT, adalah "melakukan penelantaran kepada orang yang menurut hukum yang berlaku baginya atau karena perjanjian dia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut". Kepadanya akan dikenakan sanksi sebagaimana ketentuan dalam Pasal 49 UU PKDRT, dipidana dengan pidana penjara paling lama tiga tahun atau denda paling banyak Rp 15.000.000 (lima belas juta rupiah). Berdasarkan ketentuan ini menjadi jelas sebetulnya suami mempunyai tanggung jawab terhadap anak-anak, bahkan terhadap anak tirinya karena terjadi dalam lingkup rumah tangga yang karena perkawinannya dengan ibu menjadikan anak tirinya itu tanggung jawabnya pula.

Suami juga sudah melakukan perbuatan hukum sebagaimana yang diatur dalam UU Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002. Prinsip Umum Hak Asasi Anak telah dilanggar, antara lain hak untuk mendapatkan yang terbaik, hak untuk kelangsungan hidup dan berkembang, serta hak untuk tidak mendapat perlakuan yang diskriminasi terhadap anak.

Apabila Ibu ingin mengajukan gugatan nafkah melalui pengadilan agama juga dapat dilakukan. Ibu dapat menuntut nafkah untuk Ibu sendiri dan anak kandung dari suami Ibu yang merupakan kewajiban suami. Nah, demikian beberapa tawaran alternatif yang dapat Ibu tempuh. Semoga Ibu dapat segera menemukan titik terang atas persoalan ini.

 

Kompas, 22 November 2004

Written by Administrator Senin, 21 Mei 2018 Published in Rubrik Tanya Jawab

Relasi suami-istri selalu dibayangkan sebagai relasi yang didasari perasaan cinta kasih. Demikian pula dalam relasi seksual. Tetapi, penuturan Ny Ana di bawah ini adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa tidak semua relasi seksual di dalam rumah itu selalu dikehendaki masing-masing pasangan.

Kasus:

"Pengasuh Rifka Anissa yang baik. Saya ibu rumah tangga berusia 33 tahun, memiliki tiga orang anak. Saya telah menikah selama sembilan tahun dengan laki-laki pilihan saya sendiri.

Sebelum menikah kami berdua sudah bekerja di kantor swasta. Setelah menikah kami tinggal di rumah mertua saya. Karena ingin "mandiri" kami memutuskan kontrak rumah dan jadilah kami sebagai "kontraktor", berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain.

Awal perkawinan sampai menginjak tahun kedua perkawinan sikap suami masih terlihat baik dan belum kelihatan sebagai pemarah. Namun, sejak kelahiran putri kami yang pertama suami mulai menunjukkan kebiasaan buruknya: pemarah, pemukul, dan merusak barang-barang rumah tangga bila sedang marah. Saat kejadian pertama saya memang terkejut karena ternyata suami saya menyimpan kebiasaan buruk. Namun, saya bersabar dengan pikiran mungkin suami kelelahan dan pekerjaannya menuntut konsentrasi penuh. Karena saya juga punya pekerjaan maka kejadian itu segera terlupakan.

Dalam kenyataan kejadian tersebut berulang dan karena tidak tahan dengan situasi seperti itu, saya pernah menyampaikan kepada suami untuk mengakhiri perkawinan. Selalu suami minta waktu sampai betul-betul siap untuk berpisah, karena setiap saya membulatkan keinginan untuk berpisah setiap waktu itu juga suami memaksa saya untuk "berhubungan badan". Pernah saya loncat dari jendela karena suami memaksa melakukan hubungan seksual. Terakhir saya sadar itu cara suami agar saya hamil lagi.

Gugatan cerai saya tidak dapat berlanjut karena dalam perjalanan sidang perceraian ternyata saya hamil. Hakim meminta saya menunda sidang perkara sampai anak kami lahir. Suami juga tidak segan-segan memukul anak-anak dan menyekap mereka bila menurutnya bersalah. Ibu pengasuh yang baik, apakah saya dapat berpisah dengan suami karena dia selalu mengatakan ’hanya kematian yang dapat memisahkan kita’..."

(Ny Ana di Kota J)

Jawaban:

Kalau Ny Ana sempat membaca pemberitaan di beberapa surat kabar terakhir ini akan Anda temukan banyak berita tentang masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), Mengapa? Karena pada saat yang sama sedang dilakukan pembahasan RUU Penghapusan KDRT di Dewan Perwakilan Rakyat (Undang-undang Penghapusan KDRT telah disahkan pada hari Selasa (14/9) pekan lalu).

Salah satu aspek penting yang diperdebatkan adalah kekerasan seksual dalam rumah tangga. Ada sekelompok orang yang menolak ada kekerasan seksual dalam rumah tangga, tetapi apa yang Ny Ana tuturkan adalah fakta yang tak terbantah tentang bentuk kekerasan itu.

Fakta lain pun banyak kami temukan seperti dalam kesempatan sebelumnya rubrik konsultasi ini pernah membahas masalah yang sama. Dalam surat konsultasi yang lain juga ada pertanyaan dari ibu rumah tangga yang pada saat melakukan hubungan seksual alat kelaminnya dimasuki jagung oleh suaminya. Beberapa kasus lain yang kami terima juga menunjukkan ada istri yang menuturkan mengalami pemaksaan hubungan seksual dari suaminya pada saat "menstruasi".

Kekerasan seksual terhadap istri merupakan fenomena yang sering kali muncul, namun hal ini tidak mudah bagi perempuan atau istri untuk mengungkapkannya. Karenanya adalah hal yang patut dihargai ketika Ny Ana memiliki keberanian untuk mengungkap persoalan ini.

Pengalaman kami menunjukkan kekerasan seksual yang dialami istri akan terungkap setelah beberapa kali dilakukan konseling. Selain itu, kekerasan seksual juga tidak pernah dijadikan sebagai suatu alasan oleh para istri dalam melakukan perceraian. Biasanya yang terungkap pada saat sidang di pengadilan perceraian terjadi cukup dengan satu alasan "tidak adanya kecocokan". Padahal terjadinya kekerasan seksual dalam rumah tangga dapat dijadikan alasan untuk perceraian.

Ny Ana, apa yang Anda tuturkan secara gamblang menunjukkan Anda telah menjadi korban kekerasan seksual dari suami, yaitu suatu bentuk kekerasan yang berupa pemaksaan hubungan seksual atau perkosaan; karena pada saat itu Anda tidak menghendakinya.

Kekerasan seksual yang dilakukan suami memang sulit dibuktikan selama ketentuan hukum acara di negara kita masih menganggap saksi korban bukan "saksi penting". Mencari saksi-saksi dari orang lain yang berada di luar lingkup keluarga juga sangat sulit karena masyarakat kita cenderung memprivatkan persoalan KDRT sehingga tidak mudah bagi orang lain untuk bersaksi terhadap kasus kekerasan dalam rumah tangga. Hal inilah yang sebenarnya dicari jalan keluarnya melalui UU Penghapusan KDRT.

Ny Ana yang baik, berkaitan dengan proses perceraian Anda, saran pengadilan atau hakim untuk menunda persidangan sangatlah merugikan karena tidak ada dasar hukum yang jelas untuk menghentikan jalannya persidangan dikarenakan kehamilan. Menurut Kompilasi Hukum Islam yang diatur adalah berkaitan dengan masa tunggu (iddah) ketika pihak mantan istri nantinya ingin menikah lagi yakni setelah anak dilahirkan.

Dengan demikian menunggu kelahiran anak tidak berkaitan dengan proses perceraian. Untuk itu ada baiknya Anda didampingi penasihat hukum yang mengerti atau setidaknya mempunyai perspektif perempuan untuk memberikan pengertian kepada hakim bahwa perkawinan tidak ada manfaatnya dilanjutkan.

Lalu apa yang dapat Ny Ana lakukan selagi proses hukum berjalan?

Untuk sementara barangkali Anda perlu mencari "tempat aman" untuk diri Anda dan anak-anak sehubungan dengan ancaman suami. Hal yang dapat dilakukan adalah Anda dapat melibatkan keluarga dekat yang menurut Anda dapat membantu Anda atau cobalah menghubungi lembaga layanan pendampingan perempuan korban kekerasan yang ada di kota Anda. Bila Anda belum menemukan jalan keluar selama menunggu proses hukum, Anda dapat menghubungi kami. Salam.*
 

 

Kompas, Selasa 21 September 2004

Written by Administrator Jumat, 18 Mei 2018 Published in Rubrik Tanya Jawab

Dianggap bersalah, ditolak oleh lingkungan, merasa tidak berhak menikmati hidup yang lebih baik, dan seterusnya. Siapa yang salah bila perempuan korban pemerkosaan memutuskan terjun ke dunia prostitusi?

Kasus:

Rifka Annisa, lama sekali aku merenung sebelum akhirnya memutuskan untuk menulis surat ini. Peristiwa ini kualami tiga tahun lalu saat aku berusia 15 tahun, saat itu aku duduk di kelas satu SMA. Kata teman-teman aku anak yang cerdas, aku juga senang bergaul dan termasuk supel. Makanya aku punya banyak teman termasuk teman-teman yang suka nge-drug, tapi bukan berarti aku pengguna. Suatu saat aku mengantar sahabatku A menemui Dio, teman laki-lakiku, karena A sedang butuh ganja dan Dio memang dikenal punya stok untuk dijual. Dio mengajakku dan A ke tempat kosnya karena barang itu ada di sana. Setelah dapat barang yang dibutuhkan, A segera pulang, tapi Dio menahanku untuk mengobrol dulu sambil minum-minum. Dio memberiku pil dan memaksaku meminumnya, aku pun menelannya tanpa curiga. Setelah itu aku berada dalam kondisi bingung, meskipun agak samar. Aku tahu apa yang terjadi padaku, tetapi aku tak kuasa mengatasi. Selama dua hari kondisi tersebut kualami, aku dibawa pergi ke beberapa tempat oleh Dio dan kedua teman kosnya dan selama itu pula aku dipaksa untuk minum pil itu lagi. Yang lebih menyakitkan aku dipaksa melakukan hubungan seks. Aku dilepas di suatu tempat setelah hari ketiga, dan disuruh pulang sendiri. Sampai di rumah aku dimarahi Bapak, lalu aku cerita apa adanya. Bapak marah besar dan memutuskan untuk lapor ke polisi. Memang Dio dan teman-temannya sempat ditangkap polisi, tapi kasusku tidak dapat dibawa ke pengadilan karena katanya tidak cukup bukti. Rifka Annisa, aku tidak bisa cerita lengkap bagaimana penderitaan yang kualami. Pokoknya aku kehilangan segalanya, keluarga dan lingkunganku menyalahkanku, aku merasa ditolak di mana-mana. Pendek kata, orangtuaku tak lagi percaya kepadaku makanya aku dipindahkan ke sekolah berasrama di kota lain setelah peristiwa itu. Namun, di sana aku cuma bertahan tiga bulan. Aku memutuskan untuk tinggal bersama teman-teman lain yang mungkin sama keadaannya denganku, aku tinggal di rumah seorang ibu yang oleh orang-orang sering disebut sebagai germo. Jadi, Rifka Annisa dapat menyimpulkan sendiri apa pekerjaanku saat ini. Karena aku sudah rusak, jadi sekalian saja kan? Aku masih muda dan cukup cantik karenanya aku cukup mudah untuk mendapatkan uang dan bersenang-senang. Terus terang setelah membaca rubrik ini aku jadi sering merenungi hidupku, apakah masih ada masa depan untuk orang-orang sepertiku ini? Banyak sekali teman kerjaku yang memiliki pengalaman menyakitkan seperti aku. Menurut pengalaman Rifka Annisa apakah korban pemerkosaan selalu menjadi seperti aku? Atau aku yang tidak normal? Kalau kasusku tidak layak untuk dimuat, ya, anggap saja ini sebuah curhat dan lupakan saja, aku tidak sakit hati. Terima kasih atas perhatiannya.

(Nona di B)

Jawaban:

Terima kasih atas kepercayaanmu kepada kami sehingga kamu berani mengungkapkan pengalaman pahitmu.

Perlakuan kawanmu, Dio, tanggapan orangtua yang kurang simpatik atas penderitaanmu, lalu tanggapan aparat atas pelaporan kasusmu, semua itu merupakan cerminan dari masyarakat yang kurang berpihak pada nasib perempuan. Dengan caranya masing-masing, orang-orang di sekitarmu yang sesungguhnya kamu harapkan bisa menjadi pelindung ternyata justru gagal memberimu rasa aman.

Keputusanmu menjalani hidup sebagaimana sekarang ini memang bukan sebuah pilihan yang tanpa alasan. Dalam wacana perempuan dikenal secara luas tentang berbagai bentuk akibat pemerkosaan.

Salah satu akibat jangka panjang pemerkosaan adalah negative health behavior atau gaya hidup tidak sehat seperti misalnya merokok, alkoholik, perilaku seks yang tidak aman (misalnya prostitusi dan berganti-ganti pasangan intim), dan makan secara berlebihan.

Gaya hidup yang tidak sehat itu merupakan perwujudan dari pengatasan masalah seseorang atas persoalan yang menimpanya. Malu, terhina, merasa kotor, dan sebagainya, merupakan indikasi akan penurunan harga diri. Dengan keadaan emosi yang seperti itu, seharusnya ada tindakan tertentu yang menopang, mengangkat kembali, dan mengawal untuk sementara waktu, agar harga diri terbangun kembali.

Apabila tindakan konstruktif itu tidak muncul, atau setidaknya kurang memadai, perasaan tersebut lambat laun akan mempengaruhi pola pikir korban pemerkosaan dan merusak, yaitu mengantarkan perempuan pada keadaan apatis. Artinya, tidak ada lagi masa depan, tidak ada harapan lagi untuk sebuah keceriaan, kegemilangan.

Nona, barangkali uraian di atas merupakan jawaban atas kecamuk yang ada dalam dirimu selama ini. Anda sama sekali tidak sendirian karena banyak perempuan lain yang mengalami situasi semacam itu, yaitu menjerumuskan diri dalam gaya hidup yang tidak sehat karena mengalami kekerasan seksual pada masa lalu.

Mengenai masa depan, masa depan adalah masa yang yang belum datang kepada kita karena kita hidup pada masa sekarang. Tiap orang tentu memiliki masa depan dan itu terkemas dalam apa yang kita sebut sebagai "harapan". Masa depan bukan ditentukan masa lalu kita, tetapi oleh bagaimana kita sekarang.

Masa lalu merupakan wahana belajar kita pada masa sekarang untuk menuju ke masa depan. Jadi, intinya adalah bagaimana kita sekarang ini hidup dan mengolah masa lalu menjadi pedoman, panduan, rambu-rambu dan sekaligus semangat meraih hidup yang cerah ke depan.

Nona, tentu kami bisa memahami penderitaanmu pada masa lalu itu, tetapi percayalah sesungguhnya keadaanmu saat ini merupakan kumpulan dari perasaan dan pikiran "tidak berdaya" yang terus-menerus terpupuk dalam dirimu karena memang orang-orang di sekitarmu setelah kejadian itu tidak memberimu kesempatan membangun kembali harga dirimu yang dirusak kawan laki-lakimu itu.

Kalau kamu tanyakan apakah masih ada masa depan untukmu, maka rajutlah masa depanmu mulai dari sekarang dengan menetapkan pilihan sekali lagi jalan mana yang akan kamu ambil. Tetap di jalan yang sekarang ini dengan segala yang kamu sebut sebagai "kesenangan"-tetapi jangan lupa, pertimbangkan risiko yang kamu hadapi dengan menjalani gaya hidup ini-atau memutuskan mengambil jalan kehidupan yang lain, gaya hidup yang lain, yang merupakan hasil belajarmu sebagai orang yang berdaya merajut masa depan gemilang. Kami percaya kepadamu, pada kekuatanmu meraih masa depan yang gemilang! *

 

Kompas, Rabu 24 September 2003

 

Written by Administrator Rabu, 02 Mei 2018 Published in Rubrik Tanya Jawab

Yth. Rifka Annisa,

Perkenalkan saya Ibu M dari kota J. Saya sudah menikah selama 5 tahun. Pernikahan ini masih belum dicatatkan, karena suami masih terikat pernikahan dengan istri pertama. Kondisi rumah tangga suami dan istrinya memang sudah tidak harmonis. Istrinya sering membantah, sering tidak di rumah untuk bekerja, dan tidak bisa mengurus rumah dengan baik, meskipun mereka sudah memiliki satu anak. Mereka sering bertengkar karena situasi-situasi tersebut. Saat itu suami sudah mau menceraikan, tapi kondisi belum memungkinkan. Oleh karena itu saya bersedia ketika diajak menikah secara siri terlebih dahulu pada seorang kyai di sebuah pondok pesantren. Dari pondok tersebut, kami mendapatkan sertifikat pernikahan. Suami berjanji akan segera mengurus perceraian dengan istrinya dan mendaftarkan pernikahan kami ke KUA.

Hari demi hari berlalu, hal itu tak kunjung dia wujudkan. Saya sudah berusaha melayaninya sebaik mungkin, namun jika saya menanyakan, dia akan marah, membentak-bentak, dan pernah sampai memukul. Saya menahan diri, mungkin karena dia belum mendapatkan jalan untuk bercerai dari istrinya. Saya berusaha bersabar, tetapi kemudian dia mengabarkan bahwa istrinya sudah hamil lagi, dan tidak mungkin diceraikan sekarang. Saya merasa hancur. Selama ini saya sudah bersabar, rela tidak diberi nafkah karena saya memiliki penghasilan sendiri meskipun tidak besar, bahkan kadang uang saya diminta untuk kebutuhan anaknya. Apa yang sebaiknya saya lakukan? Saya ingin semuanya segera selesai agar bisa hidup tentram dan damai.

JAWABAN

Salam Ibu M, kami ikut sedih membaca situasi Ibu saat ini. Jika kita runut ke belakang, berdasarkan cerita Ibu, Ibu banyak mendapatkan informasi tentang situasi dan kondisi suami bersumber dari suami sendiri. Hal ini sangat rentan membuat Ibu mendapatkan bias informasi. Artinya, kondisi yang sebenarnya belum tentu seperti yang digambarkan oleh suami. Ada baiknya Ibu mencari sumber informasi lain, atau langsung menanyakan kepada keluarga suami untuk mendapatkan gambaran situasi yang sebenarnya.

Jika kondisi rumah tangganya sedang ada masalah pun, bukan berarti dia memiliki hak untuk melaksanakan pernikahan di luar pengetahuan istrinya. Selain hal ini akan menyakiti hati istri dan anaknya, pernikahan tersebut menempatkan Ibu M dalam posisi beresiko, karena tidak ada perlindungan hukum yang menyertai.

Negara kita hanya mengakui pernikahan yang tercatat resmi di KUA maupun kantor catatan sipil. Pernikahan seperti yang Ibu ceritakan tidak mendapatkan pengakuan secara hukum dari negara. Konsekuensinya adalah, Ibu dan suami tidak memiliki ikatan hukum, sehingga ketika terjadi Kekerasan Dalam Rumah Tangga misalnya, sulit untuk diproses hukum secara khusus yang diatur dalam Undang-undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UUPKDRT). Seandainya terjadi kekerasan fisik hanya dapat dilaporkan dengan KUHP Pasal 351-355 mengenai penganiayaan, yang mana sangat terbatas untuk pembuktian, misalnya saksi minimal 2 beserta alat bukti rekam medis (visum et repertum) setelah ada laporan ke kepolisian. Termasuk ketika terjadi perceraian atau jika lahir anak dalam pernikahan ini, maka Ibu akan mengalami kesulitan untuk memperjuangkan hak - hak ibu sebagai seorang istri maupun anak yang dilahirkan dalam pernikahan siri secara hukum, misalnya, nafkah anak, nafkah idah, mut’ah, dan sebagainya.

Selain konsekuensi secara hukum, ada konsekuensi sosial yang Ibu hadapi. Misalnya secara psikologis, yang Ibu alami adalah tekanan karena menyembunyikan situasi. Saat ada masalah, tidak leluasa mencari bantuan. Lingkungan yang bisa diajak berbagi cerita semakin terbatas. Secara sosial, Ibu rentan mendapat stigma negatif dari masyarakat. Apalagi dalam kasus Ibu, secara ekonomi juga menjadi tulang punggung utama dalam rumah tangga.

Sebagai perempuan, kita bersahabat dengan perempuan yang lain. Sikap Ibu M, bukan hanya berpengaruh pada kehidupan Ibu M sendiri, namun juga berpengaruh pada kehidupan perempuan yang lain. Ibu bisa mencoba melihat situasi dari sudut pandang istri suami. Ketika dia ikut mencari nafkah, dia disalahkan atas pekerjaan rumah tangga yang belum tuntas. Apakah pekerjaan rumah tangga hanya tanggung jawab istri saja, ataukah suami sebenarnya bisa mengambil bagian dalam tanggung jawab tersebut? Sama halnya dengan mencari nafkah, sebenarnya itu tanggung jawab suami saja, sehingga ketika istri ikut menanggung hanya dikatakan membantu? Atau sebenarnya itu tanggung jawab bersama? Tanggung jawab-tanggung jawab ini merupakan ketentuan yang tidak bisa diubah, ataukah sesuatu yang bisa disepakati?

Pertanyaan-pertanyaan ini membantu kita merumuskan pendapat, agar tidak mudah saling menyalahkan. Selain itu, dengan sikap suami saat ini, apakah ada jaminan jika Ibu menikah secara sah dengan suami, tidak akan mengalami seperti yang dialami istrinya?

Karena tujuan pernikahan menurut Pasal 1 UU Perkawinan Tahun 1974  adalah untuk membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa, maka ada baiknya hubungan ini dipertimbangkan kembali. Mengingat banyaknya resiko dan konsekuensi yang Ibu M hadapi. Semakin Ibu kuat dan tegas mengambil keputusan, tidak tergantung pada orang lain, semakin mudah bagi Ibu untuk menyelesaikan permasalhan dan merencanakan kehidupan ke depan.

Jika ingin berkonsultasi lebih lanjut, dapat datang langsung ke kantor kami di Jln. Jambon IV Kompleks Jatimulyo Indah Yogyakarta, atau via telepon di (0274) 553333 dan hotline 085100431298 / 085799057765, serta email di Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya..

 

Harian Jogja, 8 Maret 2018

Halaman 1 dari 2
5390206
Today
All days
150867
5390206