Rubrik Tanya Jawab

Rubrik Tanya Jawab (10)

Written by Administrator Kamis, 19 April 2018 Published in Rubrik Tanya Jawab

Yth. Rifka Annisa, saya Ibu Emi dari Jogja Utara. Saya ingin mengkonsutasikan masalah rumah tangga saya. Kami punya 2 anak, yang besar sudah kuliah, yang kecil masih SMA. Suami dan saya sama-sama bekerja, dan ekonomi kami cukup baik, bahkan lebih dari cukup. Hanya memang pernah sekali suami saya memperkenalkan saya pada seorang perempuan, dan mereka minta ijin agar suami boleh berpoligami. Hancur hati saya saat itu. Saya tidak sanggup memberi ijin. Saya sempat shock, dan sejak itu hal tersebut tidak pernah dibahas lagi oleh suami. Saya juga tidak berani menanyakan, karena takut mengganggu suasana rumah kami. Tapi hubungan saya dengan suami jadi lebih dingin. Saya diam saja, berusaha menampakkan bahwa tidak terjadi apa-apa, terutama di depan anak-anak. Sampai tiba-tiba saya mendapat surat panggilan dari pengadilan agama, ternyata suami saya menggugat cerai. Jelas saya kaget. Waktu saya tanyakan, dia tidak mau diajak bicara. Katanya, urusannya di pengadilan saja. Apakah ini karena saya tidak memberi ijin poligami pada suami? Saya tidak ingin bercerai karena khawatir psikis anak-anak nanti terganggu. Apakah kalau saya tidak datang ke persidangan bisa menggagalkan upaya suami saya? Apa yang harus saya lakukan?

JAWAB

Salam Ibu Emi,

Kami ikut sedih membaca surat Ibu, namun juga salut dengan ketegaran Ibu menghadapi permasalahan. Dalam hal suami ingin berpoligami, perlu ada penetapan izin poligami dari pengadilan agama. Ada berbagai persyaratan yang begitu ketat, sehingga tidak memungkinkan bagi para pelaku poligami untuk menerapkannya secara sewenang-wenang. Dalam ketentuan Undang-undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 Pasal 3 ayat (2), disebutkan bahwa pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Dalam hal ini, keputusan memang ada di tangan Ibu, apakah mau memberi ijin pada suami atau tidak. Ibu menyetujui atau tidak menyetujui permintaan suami adalah hak Ibu, sehingga tidak perlu merasa bersalah dalam hal ini.

Dalam hal suai mengajukan gugatan perceraian, jka ingin memperjuangkan secara hukum, Ibu harus tetap mendatangi persidangan. Sebelum persidangan dimulai, akan dilaksanakan mediasi yang dilakukan oleh mediator yang ditunjuk pengadilan. Jika tetap dilanjutkan ke proses persidangan, Ibu dapat memperjuangkan keinginan Ibu melalui proses jawab-jinawab serta pembuktian dan saksi. Selain itu, Ibu dapat memperjuangkan hak Ibu dan anak-anak. Apabila Ibu tidak hadir, suami tetap dapat melanjutkan persidangan, dan hakim dapat menjatuhkan putusan verstek, yaitu putusan tanpa kehadiran pihak tergugat. Kemungkinan putusan hakim ada dua, yaitu menerima gugatan suami, yang berarti mengabulkan untuk bercerai, atau menolak gugatan suami, yang berarti tetap terikat pernikahan.

Saat ini, ketika suami mengajukan gugatan cerai, adalah momentum untuk merenungkan kembali, apakah suami masih memiliki keinginan memegang komitmen bersama Ibu dalam pernikahan ini. Dalam hal ini, komunikasi memang sangat dibutuhkan. Seandainya komunikasi berdua mengalami kebuntuan, ada baiknya Ibu mulai meminta bantuan pada keluarga, terutapa jika ada figur yang disegani suami, untuk menjembatani komunikasi atupun memediasi. Keterbukaan dalam keluarga ini juga Ibu butuhkan untuk mengantisipasi perubahan yang mungkin terjadi, terutama membangun sistem dukungan baik bagi Ibu maupun anak-anak.

Mengenai proses hukum lebih lanjut, Ibu dapat berkonsultasi ke kantor kami di Jln. Jambon IV Kompleks Jatimulyo Indah Yogyakarta, atau via telepon di (0274) 553333 dan hotline 085100431298 / 085799057765, serta email di Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya..

Harian Jogja, 22 Maret 2018

Written by Administrator Selasa, 17 April 2018 Published in Rubrik Tanya Jawab

 Yth Rifka Annisa, saya Ninda dari Jogja. Saya masih kuliah semester 3. Mau menanyakan tentang masalah dengan pacar saya. Sejak jadian sampai sekarang, dia sangat sering mengatur saya, terutama kegiatan yang saya ikuti. Saya baru bisa mengikuti suatu acara atau kegiatan di kampus kalau dia setuju. Kebetulan kami satu fakultas sehingga sangat mudah bagi dia mengetahui kegiatan saya. Selain itu, dia sering stalking sosmed yang saya punya dan suka komen macam-macam sama orang yang komen di status saya, terutama kalau itu teman laki-laki. Kadang tiba-tiba saya diblock sama teman saya tanpa saya tahu mengapa. Dia juga sering ngecek HP saya.

Awalnya saya nggak masalah dengan semua itu. Saya anggap itu adalah cara dia menunjukkan perasaannya pada saya. Lama-lama saya merasa tidak bebas pergi main atau melakukan apapun. Semua adalah dengan pengawasan dia. Jujur saja, saya tidak nyaman diperlakukan seperti ini. Teman-teman juga mulai jarang mengajak saya keluar lagi, karena tahu kalau pacar saya suka marah sama saya. Kalau marah dia suka membentak. Tapi saya tidak berani memutuskan hubungan karena takut terjadi apa-apa sama dia, karena dia suka mengancam mau bunuh diri kalau saya macam-macam. Apa yang harus saya lakukan?

Jawaban:

Salam Mbak Ninda. Suatu hubungan dapat dikatakan sehat ketika dia membuat orang yang berada di dalam hubungan tersebut merasa nyaman, dapat berkembang, dan mengaktualisasikan diri dengan lebih baik. Mbak Ninda dapat merefleksikan perjalanan hubungan yang sudah berlangsung selama satu tahun. Apakah memang mencerminkan ciri hubungan sehat tersebut? Misalnya, selama hubungan berlangsung, apakah Mba Ninda mengalami perkembangan, secara pengetahuan misalnya saling bertukar informasi, memberikan akses ke kegiatan pengembangan diri, dan sebegainya. Kemudian secara sosial, apakah selama hubungan berlangsung lingkungan pertemanannya semakin berkembang atau menyempit?

Dari yang diceritakan, ada beberapa perilaku yang mencerminkan tindakan kekerasan. Misalnya mengekang gerak dan pergaulan, mengatur dan menyeleksi siapa saya yang boleh dijadikan teman dan mana yang tidak. Tindakan ini merupakan kekerasan karena ada kontrol yang dilakukan oleh pelaku kekerasan, untuk meneguhkan kuasa yang dimiliki. Perilaku kontrol ini juga ditunjukkan dengan ancaman menyakiti dirinya sendiri. Apapun bentuknya, tujuannya sama, yaitu membuat Mbak Ninda mengikuti keinginannya.

Salah satu yang dapat dilakukan untuk memperbaiki situasi tersebut adalah mengkomunikasikan ketidaknyamanan yang dirasakan dengan cara asertif. Asertif yaitu jujur dengan apa yang dipikirkan dan dirasakan, dengan tetap menghormati dia. Jika mengkomunikasikan secara langsung ternyata tidak berhasil, coba berstrategi menggunakan perantara sebagai mediator. Bisa sahabatnya, keluarganya, atau orang-orang yang disegani, misalnya orang tuanya. Mbak Ninda sampaikan situasi seperti apa yang diharapkan, sehingga kalian memiliki harapan yang sama. Jika harapan tersebut sudah sama, maka lebih mudah merumuskan cara yang dapat dilakukan berdua untuk membuat hubungan menjadi lebih baik dan memberikan manfaat bagi masing-masing pihak. Strategi yang lain juga dapat diterapkan sesuai situasi dan kondisi yang memungkinkan.

Pada dasarnya, hubungan sebelum pernikahan adalah masa penjajakan, untuk mengenali karakter calon pasangan kita. Dalam fase ini, belum ada ikatan hukum maupun sosial yang menaungi sehingga kelemahannya adalah, tidak ada perlindungan di dalamnya. Namun di sisi lain, semua keputusan kita yang menentukan sendiri. Dalam hal ini, Mbak Ninda perlu mempertimbangkan dengan lebih matang yang terbaik bagi masa depan Mbak Ninda. Seandainya berbagai upaya dan strategi telah dilakukan namun tidak ada perubahan, saatnya mempertimbangkan dan memutuskan apakah hubungan tersebut layak untuk dilanjutkan atau tidak. Karena masa depan adalah Mbak Ninda sendiri yang memutuskan.

Demikian jawaban kami, semoga dapat menjadi bahan pemikiran dan perenungan. Jika ingin konseling lebih lanjut dapat ke kantor kami di Jln. Jambon IV Kompleks Jatimulyo Indah Yogyakarta, atau via telepon di (0274) 553333 dan hotline 085100431298 / 085799057765, serta email di Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.. Kami juga memiliki layanan konseling untuk laki-laki dan pasangan jika dibutuhkan.

 

Harian Jogja, 5 April 2018

Written by Administrator Rabu, 11 April 2018 Published in Rubrik Tanya Jawab

Aib menjadi kata yang begitu menakutkan banyak perempuan. Untuk menutupinya, banyak perempuan harus rela bertahan dalam kehidupan yang serba menyesakkan.

Kasus:

Dear Rifka Annisa, nama saya N (21). Saya saat ini sedang bingung dan butuh masukan dari Rifka Annisa. Saat saya kelas satu SMP usia saya waktu itu 12 tahun, saya dipaksa berhubungan seksual oleh kakak kandung saya sendiri. Saya sangat ketakutan dan tidak berani mengutarakannya kepada orangtua saya. Saya pikir pasti mereka tidak akan percaya dengan kejadian itu. Kejadian tersebut terus berulang selama satu tahun, dan kemudian berhenti karena kakak saya memiliki pacar. Selama sembilan tahun rahasia tersebut saya tutup rapat. Saya benci kakak saya yang membuat saya seperti ini. Saya juga menjadi takut bergaul dengan laki-laki, saya berkembang menjadi penyendiri dan tomboi. Masalahnya, saat ini saya memiliki pacar dan berniat untuk melangsungkan pernikahan. Pacar saya adalah teman kakak saya juga. Ini yang membuat saya sangat bingung. Saya takut karena saya sudah tidak perawan lagi, dan penyebabnya adalah kakak saya sendiri yang tidak lain teman pacar saya itu. Apakah dia bersedia menerima saya seperti adanya? Kebingungan ini membuat saya akhirnya berterus terang kepada orangtua tentang keadaan diri saya. Mereka sangat terkejut. Ibu sempat syok karena tidak menyangka kalau anak lelaki kebanggaan mereka ternyata tega melakukan hal terkutuk kepada adiknya sendiri. Mereka hanya dapat menangis, namun tidak mampu melakukan apa pun. Sebetulnya, saya ingin kakak mendapat hukuman setimpal, namun hal tersebut akan mencoreng nama keluarga kami. Akhirnya, orangtua saya menyarankan untuk menutup lembaran masa lalu, dan mengusulkan untuk melakukan operasi selaput dara. Hal ini, menurut orang tua, adalah untuk menghindarkan pertanyaan suami saya kelak dan untuk menjaga nama baik keluarga. Sebetulnya, saya tidak menginginkan hal ini, saya merasa ini sama dengan membohongi calon suami. Saya sangat mencintainya sehingga saya ingin berlaku jujur kepadanya. Saya tidak sanggup kalau masih harus menanggung kebohongan lagi seumur hidup. Saya hanya ingin hidup yang tenang tanpa menutupi apa pun kepada pasangan saya. Rasanya tidak adil sekali, saya sudah menutupi kebejatan kakak selama ini, menjaganya agar tidak terjrnat hukuman apa pun, dan berbuat seolah tidak pernah terjadi apa pun di antara kami, lalu membohongi calon suami tentang masa kecil saya yang pahit.... Apakah menurut Rifka Annisa memang sebaiknya saya menuruti keinginan orangtua saya dan menutupi semuanya untuk menghindari masalah? Terima kasih atas masukan dan perhatiannya.

Jawaban:

Dear Dik N,

     Pemerkosaan faktanya justru banyak dilakukan oleh orang yang dikenal dan tidak terjadi spontan, tetapi terencana.

Apa yang terjadi pada dirimu biasa disebut incest, yaitu pemerkosaan yang dilakukan oleh orang yang masih memiliki pertalian darah dengan korban.

Banyak kasus incest terjadi secara berulang dan dalam jangka waktu yang relatif lama. Hal ini, disebabkan karena korban biasanya takut untuk mengutarakan kejadian yang dialaminya, dan di sisi lain pelaku biasanya juga mengancam korban. Selain itu, apabila korban menceritakan pengalamannya, seringkali orangtua atau pengasuh tidak mempercayai karena pelaku adalah orang yang demikian dipercaya atau setidaknya dipandang tidak mungkin melakukan perbuatan yang hina itu. Akibatnya, dampak psikologis bagi korban incest lebih kronis daripada bentuk pemerkosaan lainnya karena korban tidak hanya memendam kemarahan kepada pelaku, tapi juga kepada orangtua dan lingkungan.

Frekuensi pertemuan yang tinggi dengan pelaku karena sesama anggota keluarga, menjadi teror yang tak berkesudahan. Pertemuan dengan pelaku juga memaksa korban untuk selalu mengingat peristiwa yang sebenarnya ingin dia lupakan.

Dik N, incest sesungguhnya dapat dilaporkan sebagai tindak pidana sehingga kakakmu dimungkinkan untuk mendapat sanksi pidana. Namun, persoalannya apa yang kamu alami telah berlalu sembilan tahun sehingga dengan sistem hukum yang berlaku di negara kita saat ini, proses hukumnya akan menemukan banyak kendala, khususnya berkaitan dengan pemenuhan minimum alat bukti.

Sebaiknya memang pelaporan kepada aparat hukum dilakukan sesegera mungkin sehingga aspek pembuktian mudah dipenuhi, di antaranya bukti visum et repertum yang biasanya menjadi andalan pembuktian kasus kekerasan seksual di samping keterangan saksi korban. Namun, menempuh jalur hukum biasanya tidak mudah bagi perempuan, lebih-lebih untuk korban yang masih berusia di bawah umur seperti saat kamu mengalami peristiwa ini. Di sinilah sebetulnya diperlukan kesadaran dan kepekaan dari orangtua, pengasuh, atau orang dewasa lainnya yang melihat adanya perubahan perilaku dan emosi anak-anak perempuan, atau mendengar laporan, atau keluhan mereka tentang tindakan tak senonoh yang dilakukan anggota keluarga atau orang-orang dekat mereka.

Nah Dik N, apa yang sembilan tahun lalu kamu alami memang bukan hal yang dapat dengan mudah segera dilupakan. Untuk itu, ada baiknya kamu mencoba mengunjungi psikolog atau lembaga yang mendampingi perempuan korban kekerasan seksual yang ada di kotamu. Mereka akan membantumu untuk mengatasi tumpukan kemarahan, tekanan, dan kekecewaan yang kamu pendam selama ini.

Soal keputusan akan menjalani operasi selaput dara, itu semua kembali kepada dirimu sendiri. Masing-masing pilihan mengandung risiko, tinggal dirimu yang mempertimbangkan saja. Kira-kira pilihan mana yang kamu rasakan paling mungkin untuk dijalani dengan kekuatan yang kamu miliki. Jika selama ini dirimu sudah tertekan dan menderita karena menutupi perbuatan kakak dan mengabaikan kemarahanmu, mungkin kini saatnya untuk berpikin tentang apa yang membuatmu merasa paling nyaman dan tepat untuk kamu lakukan bagi dirimu sendiri.

Dik N, "harga" seorang perempuan sesungguhnya tidak terletak pada selaput daranya, melainkan integritas kepribadian, potensi, dan jati dirinya. Keluarga memang segala-galanya, hormat kepada orangtua memang sudah seharusnya dilakukan oleh anak. Namun, hati nurani adalah landasan berpijak kita. Jadi, peganglah kata-kata dalam hati nuranimu.

Nah Dik N, segeralah mencari dukungan psikologis dan setelah situasi emosimu stabil, cobalah renungkan masa depanmu dengan sungguh-sungguh serta ambillah keputusan yang terbaik untuk menjalani masa depanmu itu. Bukankah dirimu ingin merajut hidup ke depan dengan tenang dan damai? Kami percaya, dirimu mampu mengambil keputusan yang terbaik! Salam.

Kompas, Senin 28 Juli 2003

Written by Administrator Rabu, 11 April 2018 Published in Rubrik Tanya Jawab

 

NEGARA akan baik bila perempuannya baik. Begitu kira-kira ungkapan yang kerap kita dengar.

Sebuah ungkapan yang meletakkan perempuan sebagai penjaga moral bangsa. Atas dasar ungkapan itu, masyarakat sering kali meletakkan kesalahan kepada perempuan atas kemerosotan moral bangsa. Atas dasar ungkapan itu pula, perempuan akan mendapatkan sanksi lebih berat dari laki-laki atas perbuatan yang dinilai merusak moral bangsa, seperti pengalaman berikut ini.

Kasus:

"Halo Rifka Annisa, sebut saja nama saya Umi (30), pendidikan SMA, dan sekarang hidup saya menderita lahir dan batin. Namun, saya coba bertahan meskipun rasa malu menyelimuti kehidupan saya. Kalau saja bunuh diri tidak berdosa, saya ingin melakukannya lagi. Saya memang pernah mencoba bunuh diri, tetapi Tuhan masih mengizinkan saya terus hidup meski penuh penderitaan. Saya memang bersalah telah berpacaran dan melakukan hubungan yang tidak boleh dilakukan oleh orang yang belum terikat hubungan suami-istri; tetapi apakah hanya saya yang disalahkan? Masyarakat tempat di mana saya tinggal mengusir saya, saya dianggap memalukan desa dan warga di sana. Masyarakat yang diwakili aparat setempat sudah menghukum saya dengan mengarak saya dalam keadaan tanpa busana sepotong pun, dengan alasan, itu merupakan bentuk hukuman dari desa untuk orang yang telah melakukan hubungan suami-istri tanpa ikatan sah. Dengan paksa pakaian saya dilepas secara bersama-sama dan menyuruh saya berjalan sampai beberapa meter dengan ditonton warga setempat. Hukuman yang saya terima sangat kejam dan sangat menyakitkan, itu dilakukan di hadapan orangtua dan saudara saya. Orangtua saya tidak dapat berbuat apa-apa, hanya menundukkan kepala. Ibu yang baik, serasa gelap dunia ini dan semua menyalahkan dan tidak ada yang berpihak kepada saya. Sebetulnya saya sudah menolak laki-laki itu, sebut saja Yono. "Hubungan" itu memang sudah beberapa kali saya lakukan, namun pada setiap saat melakukan itu saya menolak dan ingin berteriak. Tetapi, Yono mengancam dan mengatakan, kalau berteriak warga akan mendengar dan kami dihukum. Saya bingung, ketakutan, dan tidak dapat berbuat apa-apa. Hubungan terjadi beberapa kali. Bila saya tolak, dia mengancam akan melapor kepada kepala desa. Yono adalah laki-laki yang sudah beristri. Sebelumnya warga memang sudah mengetahui dan memperingatkan saya, tetapi saya tidak dapat menolak bila Yono datang. Apakah Ibu juga akan menyalahkan saya seperti yang lain? Apa yang harus saya lakukan dengan masa depan yang sudah hancur? Ada beberapa warga yang tidak setuju dengan hukuman yang diberikan kepada saya dan dia juga yang melaporkan kepada pihak berwajib. Sidang sudah berjalan dan tujuh orang yang menjadi "dalang" yang kebetulan semua adalah pengurus dan aparat dusun sudah diberi hukuman. Namun, untuk ketenteraman saya lebih baik meninggalkan dusun. Orangtua saya juga masih sering diteror dan tidak tenteram. Apakah adil hukuman yang telah saya terima dengan mengarak dan melepas semua pakaian saya. Mengapa hanya saya yang disalahkan?"

(Umi di Kota W)

Jawaban:

  • Umi, apa yang kamu alami dan yang telah dilakukan masyarakat tempat kamu tinggal sungguh di luar batas perikemanusiaan.

Apa pun alasannya, aparat setempat tidak seharusnya memberi hukuman seperti itu. Kebijakan lokal yang sering mengatasnamakan hukum adat memang dikenal di masyarakat adat, namun harus memenuhi ketentuan-ketentuan tentang berlakunya hukum adat. Pertama, hukum adat harus benar-benar merupakan cerminan dari kesepakatan bersama dari warga masyarakat adat. Kedua, berlaku secara terus-menerus. Ketiga, diputuskan kepala adat dan tidak bertentangan dengan asas keadilan dan kemanusiaan. Selain itu, di Indonesia ada aturan hukum yang disepakati, yaitu Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), sehingga aturan hukum adat atau kebijakan lokal tidak berlaku bila bertentangan dengan Kitab Undang-undang tersebut.

Umi yang baik, terlihat jelas cara penyelesaian kasus Umi oleh masyarakat desa bersifat diskriminatif terhadap perempuan karena meletakkan Umi sebagai pihak yang bersalah dan perlu mendapat sanksi, sementara Yono terbebas dari segala tuntutan dan sanksi.

Perasaan diperlakukan tidak adil adalah perasaan yang tidak salah karena memang senyatanya Umi diperlakukan tidak adil oleh masyarakat. Dengan demikian, ditilik dari prasyarat berlakunya hukum adat, maka klaim masyarakat desa menjatuhkan sanksi kepada Umi sebagai wujud pelaksanaan hukum adat tidak dapat diterima karena jelas-jelas bertentangan dengan asas keadilan dan kemanusiaan.

Selain tidak terpenuhinya syarat keadilan dan kemanusiaan, apa yang dilakukan aparat desa terhadap Umi bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia karena menurut KUHP (Pasal 281), tindakan masyarakat yang telah menelanjangi dan mengarak bugil tersebut termasuk sebagai perbuatan pelanggaran kesusilaan (yang biasanya kita kenal dengan pelecehan seksual). Maka, dalam konteks penegakan hukum, keberanian dan inisiatif beberapa warga desa yang melaporkan peristiwa tersebut kepada pihak yang berwajib patut dihargai.

Peristiwa yang kamu alami sudah beberapa kali kami temui, korban tidak dapat berbuat apa-apa karena ancaman pelaku yang akan melaporkan kepada warga setempat. Lebih-lebih sanksi sosial yang berlaku sering kali meletakkan perempuan sebagai pihak yang bersalah karena dianggap sebagai pencetus pelanggaran atas norma masyarakat tersebut.

Pandangan ini tidak dapat dilepaskan dari stereotip atau cap negatif masyarakat bahwa perempuan itu penggoda atau perayu sehingga bila terjadi pelanggaran kesusilaan dengan serta-merta perempuan dituduh sebagai biang keladinya.

Sebenarnya kami sangat menghargai dijunjungnya kebijakan lokal dalam masyarakat karena hal tersebut mencerminkan adanya kepedulian warga masyarakat terhadap lingkungannya. Namun, selama tidak ada pemahaman tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan, maka dikhawatirkan kejadian seperti yang kamu alami akan terus terjadi.

Umi, tindakanmu untuk pergi dari dusunmu sementara waktu demi keselamatan dan "pemulihan trauma" memang sudah tepat. Adakalanya memang seseorang yang menghadapi masalah berat terpaksa harus mundur sejenak untuk menyiapkan langkah berikutnya. Oleh karena itu, cobalah untuk tidak menyalahkan diri sendiri. Jadikanlah simpati dari sebagian masyarakat yang telah membelamu sebagai pendorong semangat untuk memulihkan rasa percaya dirimu. Percobaan bunuh diri yang kamu lakukan bukanlah jalan keluar, masa depanmu masih panjang.

Berkenaan dengan hubunganmu dengan Yono, dilihat dari sudut apa pun tidak menguntungkan. Toh, seperti yang kamu tuturkan, seluruh peristiwa yang terjadi tidak atas kerelaanmu. Artinya, Yono selalu memaksakan kehendaknya atas kamu, maka menjadikannya sebagai pengalaman dan pelajaran hidup adalah keputusan yang patut kamu pertimbangkan. Bila di kemudian hari Yono tetap memaksamu, saatnya kamu bersikap tegas untuk menolak. Bila Yono mengancam, jangan segan-segan melaporkan kepada aparat hukum. Selamat menyambut masa depan yang gemilang.

Salam dari Rifka Annisa. 

Kompas, Senin 01 Desember 2003

Written by Administrator Rabu, 14 Maret 2018 Published in Rubrik Tanya Jawab

 

 Saya W (49 tahun) memiliki 3 anak perempuan. Istri seorang ibu rumah tangga. Secara umum kehidupan rumah tangga kami dapat dikatakan harmonis. Namun beberapa bulan lalu rumah tangga kami mendapatkan masalah yaitu perselingkuhan saya dengan teman sejawat diketahui istri. Dia marah besar. Ketika dia meminta kejujuran dari saya, awalnya saya tidak mau bercerita karena pasti akan membuat dia lebih terluka. Tetapi, karena dia selalu mendesak, bahkan terkadang hingga menangis histeris dan emosi tidak terkendali, akhirnya saya cerita apa adanya. Setiap kami membicarakan tentang perselingkuhan itu dia akan menangis dan menjerit histeris, bahkan hingga melontarkan kata-kata kasar dan sesekali pernah mencakari tubuh saya. Saya akui saya salah, saya pun diam saja. Entah sudah berapa kali saya meminta maaf, sambil menangis, bahwa saya benar-benar menyesal. Saya sudah memutuskan hubungan dengan perempuan itu. Sebagai laki-laki, harga diri saya hancur karena harus mengiba pada istri, tapi saya lakukan karena saya mengaku salah. Saya juga tidak membela diri ketika keluarga besar kami memojokkan saya. Tapi, penebusan dosa ini seperti tidak berdampak apa pun bagi istri. Terus terang saya bingung, tidak tahu harus berbuat apa lagi. Istri saya benar-benar berubah, pemarah, pencuriga, padahal biasanya dia tergolong sabar dan tidak macam-macam. Saya khawatir masalah ini akan berdampak pada anak-anak. Saya masih berkeinginan mereka menghargai ayahnya. Apa yang sebaiknya saya lakukan? Terima kasih untuk tanggapannya. 

Jawaban:

Perselingkuhan dengan rekan sejawat Anda adalah pilihan yang Anda jalani. Perselingkuhan tidak terjadi begitu saja dan bukan tanpa disengaja. Anda harus berani mengakui semua itu. Anda pasti telah memikirkan konsekuensi yang akan terjadi karena perselingkuhan itu. Meskipun Anda tahu akibat pilihan itu dapat melukai hati istri, keluarga besar, dan juga anak-anak, Anda memutuskan tetap memilih melanjutkan hubungan dengan rekan sejawat itu.

Pengalaman pendampingan yang kami lakukan pada perempuan menunjukkan betapa dalamnya luka hati seorang istri yang telah dituntut selalu setia, namun ternyata komitmen kesetiaannya diingkari pasangannya. Pengingkaran itu juga menghapus kepercayaan yang terbangun kepada pasangan kita. Tampaknya hal itulah yang terjadi pada istri Anda.

Kecurigaan dan pertanyaan yang diajukan terus-menerus seputar perselingkuhan Anda adalah kesiagaan istri dalam mencari tanda-tanda apakah Anda masih menyeleweng sehingga dia menjadi cemas dan gelisah terus-menerus. Coba perhatikan, apakah istri Anda dapat tidur nyenyak, sering terbangun tengah malam dan terlalu sensitif terhadap suara berisik sehingga penampilannya kusut, lelah karena kurang tidur, dan terlalu banyak pikiran? Apakah dia juga mulai menarik diri dari lingkungan dan kehilangan minat dalam banyak hal yang selama ini mungkin berarti baginya?

Reaksi semacam ini adalah tanda-tanda dari individu yang mengalami luka dalam jiwanya. Perasaan ternyata dia "dapat digantikan" dan "dapat dibuang begitu saja" merupakan bentuk kehilangan yang jauh lebih mendasar, melebihi perasaan kehilangannya terhadap Anda. Rasa kehilangan itu dia ekspresikan dengan kemarahan, baik marah kepada Anda maupun kepada diri sendiri karena ia merasa gagal. Jadi, ini semua merupakan dinamika psikologis yang kompleks, lebih dari sekadar rasa kecewa karena dikhianati.

Kami menghargai usaha Anda memperbaiki keadaan sebagai bentuk tanggung jawab. Ada baiknya Anda meminta bantuan ahli (psikolog atau psikiater) dalam usaha mengatasi guncangan dalam perkawinan Anda. Tentunya, dengan persetujuan istri. Menumbuhkan kembali kepercayaan butuh proses panjang dan tidak mudah. Tapi, sejauh Anda dapat memberikan jaminan kepada istri bahwa Anda pantas dicintai dan dia percaya kembali, maka kemungkinan perpecahan perkawinan dapat dihindarkan. Akan tetapi, bila istri tetap bersikeras berpisah karena ia gagal membangun kepercayaannya kembali kepada Anda, maka sebaiknya Anda memahami hal ini sebagai pilihan hidup istri, sebagaimana dulu Anda membuat keputusan memilih untuk tidak setia terhadap istri.

Mengenai kemungkinan anak-anak mengetahui apa yang terjadi pada orangtua mereka, akan lebih baik apabila anak-anak tahu persoalan orangtuanya dari Anda sendiri daripada mendengar dari orang lain. Ajaklah mereka bicara dengan mempertimbangkan saat yang tepat untuk itu. Kejujuran dan komitmen adalah modal yang dapat dijadikan jaminan bahwa Anda masih pantas dicintai istri dan anak-anak. Semoga jawaban ini dapat membantu Anda mengatasi persoalan ini. 

 

Harian Jogja, 22 Februari 2018

Written by Administrator Rabu, 14 Maret 2018 Published in Rubrik Tanya Jawab

Istri bekerja sudah tidak asing lagi, bahkan istri yang memiliki karier lebih baik juga banyak dijumpai. Namun, tidak sedikit orang yang melihatnya sebagai bukan kelaziman atau bahkan ancaman bagi para suami atau laki-laki, salah satunya suami ibu NN berikut ini.

Kasus :

"Saya seorang perempuan (29) dan bekerja di sebuah perusahaan kosmetik. Saya sudah menikah lebih dari empat tahun dan dikaruniai seorang anak. Suami saya belum punya pekerjaan tetap sampai sekarang sehingga secara ekonomi setiap bulannya sayalah yang lebih sering mencukupi.

Masalahnya, sepertinya suami saya tidak suka saya berpenghasilan lebih dari dia. Maunya marah-marah terus. Dia juga sangat cemburuan, apalagi kalau melihat saya diantar pulang dengan mobil kantor atau teman kerja laki-laki yang kebetulan satu jalan dengan saya.

Sudah bukan hal yang aneh lagi kalau saya ke kantor dengan muka lebam karena dipukul suami. Yang lebih membuat saya malu, beberapa kali suami mendatangi saya di kantor dan marah-marah untuk masalah yang mestinya bisa dibicarakan di rumah sehingga membuat teman-teman dan pelanggan tidak nyaman.

Untungnya bos dan teman-teman kerja saya yang sebagian besar perempuan dapat memahami keadaan saya, bahkan boslah yang menyarankan saya untuk konsultasi ke sini. Bahkan sebenarnya tidak hanya saya yang memiliki masalah seperti ini di kantor, tetapi tetap saja saya galau.

Saya hanya tidak habis pikir kenapa suami menjadi seperti ini. Dulu kami teman kuliah dan waktu kami pacaran dia baik-baik saja. Dia seorang sarjana dari fakultas yang tergolong sulit dan termasuk mahasiswa pintar karena nilai kelulusannya bagus. Karena pintarnya itulah saya jatuh cinta kepadanya.

Saya bisa memahami mungkin dia frustrasi karena masih kesulitan mendapat pekerjaan, tetapi saya tetap saja sulit menerima kalau saya yang selalu menjadi sasaran. Bahkan kalau sedang marah, dia seperti (maaf) orang tidak waras, meledak- ledak. Sebagian besar pakaian kerja saya yang di rumah sudah habis dia bakar. Karena itu, kalau saya membeli pakaian baru untuk bekerja, saya terpaksa menitipkannya di rumah salah satu teman kantor.

Rasanya sudah lelah untuk selalu berhati-hati supaya tidak membuat dia marah. Saya juga mengkhawatirkan perkembangan anak saya yang ketakutan melihat papanya marah.

Saya kasihan dengan suami, tetapi tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya tunggu saran-saran Ibu..."

Ny NN di kota J

Jawaban :

Ny NN di Kota J, yang baik,

Tidak mudah menghadapi situasi seperti yang Ibu tuturkan. Namun, dengan terus berupaya mencari penyelesaian akan membuat Ibu lebih sehat secara psikologis karena tumpukan beban terus dapat dikurangi. Salah satunya dengan berkonsultasi.

Meskipun sepertinya tak ada jalan untuk mengubah suami Ibu, tetapi sebenarnya jalan itu tetap masih ada. Situasi Ibu menjadikan jalan itu terlihat samar dan bahkan tidak kelihatan sama sekali sehingga membuat Ibu tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti ini.

Ibu NN, wajah lebam, baju- baju dibakar, dimarah-marahi di kantor adalah fakta kekerasan oleh suami. Pada dasarnya kekerasan ini tidak dapat ditolerir, bahkan kalau melihat bukti fisik akibat kekerasan yang dilakukan suami, Ibu dapat memperkarakan secara hukum karena apa yang dilakukan suami masuk dalam kategori kriminal dalam hukum pidana negara kita. Demikian halnya membakar baju-baju dan marah-marah di kantor adalah bentuk kekerasan lain, yakni kekerasan psikologis atau emosional. Sama seperti kekerasan fisik, kekerasan psikologis tidak dapat dibenarkan.

Bila Ibu menanyakan apa yang dapat dilakukan terhadap suami, pertama yang harus dilakukan adalah mengetahui karakteristik suami yang kerap menggunakan kekerasan sebagai cara berkomunikasi. Maksudnya, memahami karakteristik suami untuk dapat mengetahui apa yang seharusnya dilakukan.

Situasi masyarakat yang meletakkan laki-laki pada puncak kekuasaan, mengakibatkan respons berbeda kepada laki-laki dan perempuan. Laki-laki akan melakukan internalisasi pada dirinya bahwa dia adalah pemimpin di rumah dan masyarakat. Sementara perempuan adalah sebagai pengikut. Sebagai pemimpin, seorang laki-laki merasa harus bisa mengatasi banyak hal, lebih-lebih persoalan rumah tangga sebagai wilayah paling kecil dari kekuasaannya. Sementara perempuan tidak demikian. Hal yang dapat dianggap merendahkan martabat laki-laki adalah ketika laki-laki tidak dapat mengatasi persoalan yang seharusnya dapat mereka atasi.

Dalam kasus Ny NN, suami mengalami situasi antara memenuhi harapan masyarakat sebagai seorang suami yang mengatasi segalanya dan kenyataan yang harus dia terima bahwa harapan itu tidak dapat dia penuhi mengingat prasyaratnya tidak ada, yakni pekerjaan tetap atau penghasilan. Lebih-lebih justru Ny NN sebagai perempuan yang mampu menjadi tulang punggung keluarga. Ny NN punya pekerjaan dan penghasilan tetap, walhasil memiliki karier lebih baik dari suami.

Dalam situasi ini biasanya laki-laki atau suami menggunakan kekerasan sebagai satu-satunya hal yang dapat dilakukan untuk menunjukkan dirinya masih berkuasa. Kekerasan juga menjadi semacam alat tes bahwa istrinya masih tunduk dan patuh pada kekuasaan yang ia miliki.

Situasi suami Ny NN menjadi lebih parah karena sejarah hidupnya menunjukkan dia pernah mengalami situasi di mana harapan masyarakat tentang laki-laki dapat ia tunaikan dengan baik, yakni menjadi mahasiswa sebuah fakultas yang tidak banyak orang dapat menembus serta tingkat kepintaran di atas rata-rata. Apalagi ia tahu Ny NN dulu tertarik kepada suami karena kualifikasi yang ia miliki.

Lalu apa yang dapat dilakukan terhadap situasi suami Ibu? Membicarakan secara terbuka mungkin dapat dilakukan sebagai salah satu pilihan penyelesaian masalah, termasuk mengutarakan secara tegas bahwa perlakuan suami terhadap Ibu tidak dapat diterima. Sikap tegas dan terbuka penting untuk dilakukan. Sering kali perempuan tidak dapat melakukannya sebab ada pemahaman bahwa memang sudah sepantasnya suami begitu dan sudah pada tempatnya perempuan diam dan terus memahami keadaan suami. Padahal sikap ini tidak menyelesaikan masalah, bahkan membuat keadaan lebih buruk.

Hal penting lain untuk diutarakan kepada suami adalah konflik dan kekerasan berdampak buruk pada perkembangan anak dengan menunjukkan bukti anak sering ketakutan saat melihat ayahnya marah.

Konseling keluarga atau konseling yang melibatkan seluruh anggota keluarga termasuk anak-anak mungkin juga hal lain yang dapat dilakukan. Sebaiknya bila hendak menggunakan tenaga profesional, pilihlah profesional yang memiliki perspektif jender, mengingat persoalan suami dan ibu terkait dengan pandangan peran jender. Bila Ibu tidak menemukannya di kota tempat Ibu tinggal, Ibu dapat menghubungi Rifka Annisa di Yogyakarta. Selamat mencoba.

Salam dari Rifka Annisa

Kompas, Kamis 24 Juni 2004

Written by Administrator Kamis, 08 Februari 2018 Published in Rubrik Tanya Jawab

 

Halo Rifka Annisa,
Saya KK, sudah menikah dan memiliki dua anak. Akhir-akhir ini saya dan istri seringkali cekcok. Saya heran dengan istri yang selalu saja mengeluhkan bahwa nafkah yang saya berikan tak pernah cukup. Menurut saya, yang bermasalah adalah istri saya kurang mampu mengatur keuangan dengan baik. Terkadang dia masih membeli barang yang menurut saya tidak penting, misal seperti toples-toples plastik, baju-baju, dan alat make up. Seandainya dia mau mengurangi berbelanja hal-hal tidak penting tersebut, pasti uang yang saya berikan cukup untuk kebutuhan keluarga kami. Akibat permasalahan ini, kadang-kadang istri mendiamkan saya dan bersikap dingin. Saya sudah mencoba mengajak diskusi istri tapi masih kembali cekcok. Bagaimana sebaiknya agar konflik tersebut tidak berulang-ulang dan berlarut?
Salam, KK

Jawab :

Kami seringkali menemui permasalahan ini dalam konseling di Rifka Annisa. Masalah manajemen keuangan adalah masalah yang gampang-gampang susah. Disebut gampang karena manajemen keuangan adalah soal transparansi pemasukan dan pengeluaran, serta menyepakati mana yang penting dan tidak penting untuk dibelanjakan. Tiadanya pencatatan keuangan seringkali membuat suami dan istri saling curiga. Oleh sebab itu, sebaiknya kesepakatan soal pencatatan keuangan dan mendiskusikan prioritas kebutuhan sudah dilakukan sejak awal berumah tangga. Hal itu tentu membutuhkan konsistensi dan terkadang tidak mudah. Oleh sebab itu, coba kembali bicarakan dengan istri, di waktu yang cukup luang dan suasana yang menyenangkan. Misal, ajak istri keluar makan bersama, kemudian bicarakan hal tersebut dengan istri Anda. Jangan lupa, untuk mendengarkan terlebih dahulu secara tuntas keluhan istri Anda. Di sini, mendengar merupakan hal yang penting. Selanjutnya, bicarakan solusinya bersama-sama. Dengan melakukan pencatatan secara rutin, Anda dan istri mulai akan terbiasa membicarakan pengeluaran mana yang sebenarnya prioritas dan mana yang bukan. Demikian Pak KK, semoga membantu. Apabila Anda ingin lebih lanjut berkonsultasi, Bapak dan Istri dapat menghubungi kantor kami untuk couple counseling atau konseling berpasangan.

 

Harian Jogja, 28 Desember 2017


Niken Anggrek Wulan
Staf Humas dan Media di Rifka Annisa

Written by Administrator Kamis, 08 Februari 2018 Published in Rubrik Tanya Jawab

 

Halo Rifka Annisa, Saya sudah tidak tahu harus cerita dan minta tolong pada siapa. Usia pernikahan saya belum genap satu tahun, tapi saya sudah tidak tahan dengan sikap suami saya. Setiap hari dia cuek seolah saya tak kasat mata. Mertua dan saudara iparnya selalu mengolok saya. Saya ingin bercerai tapi saya dalam kondisi hamil 6 bulan. Saya juga tidak diberi uang untuk check-up rutin. Saya takut tidak bisa merawat bayi ini dan terpikir ingin aborsi. Pada awal kehamilan, keluarga suami sempat menyuruh saya makan buah nanas dan minum soda. Dulu saya pernah keguguran dan komplikasi saat melahirkan anak pertama saya. Jujur saya takut kalau terjadi apa-apa pada saya. Anak saya yang pertama baru berusia 8 tahun. Mungkin dulu keputusan kami menikah memang terlalu cepat. Kami hanya saling mengenal dalam kurun 1 bulan. Kami sama-sama ada anak dari pernikahan sebelumnya. Suami lebih memilih untuk mengirimkan gajinya pada mantan istri dan anak-anak dari pernikahan yang pertama. Dia bilang dia sudah berkomitmen. Saya di sini tidak punya siapa-siapa. Saya merasa tersiksa dan tertekan sekali. Setiap malam saya hanya bisa menangis dalam doa. Saya terpikir untuk menitipkan bayi ini pada orang yang mau mengasuhnya daripada dia hidup di tengah keluarga yang carut marut. Dulu saya juga pernah dipukuli suami pada pernikahan pertama. Jujur saya sudah sangat lelah kalau harus mengalami hal serupa sekali lagi. (M di Jogja)

Jawab :

Terima kasih Ibu M sudah berbagi cerita dengan kami. Kami bisa paham perasaan Ibu yang tertekan sekaligus gelisah dengan kondisi kehamilan, apalagi dengan riwayat medis dan komplikasi yang pernah Ibu alami. Apakah Ibu ada saudara atau teman dekat yang bisa diajak berdiskusi? Kalau boleh kami sarankan, sebaiknya Ibu fokus pada kehamilan dulu, dan alangkah lebih baiknya jika ada orang yang bisa menemani Ibu. Jika Ibu belum pernah memeriksakan kehamilan, Ibu bisa datang ke Puskesmas. Kami bisa mengerti persoalan yang Ibu alami dengan suami. Setiap pernikahan pasti memerlukan proses adaptasi karena pernikahan menyatukan dua individu dan keluarga yang berbeda. Terlebih lagi Ibu dan suami sama-sama sudah pernah menikah sebelumnya. Dalam proses berkenalan yang singkat, mungkin Ibu dan suami belum sempat membicarakan tentang pengaturan keuangan dan rencana kehamilan. Makanya saat mengetahui bahwa Ibu hamil, baik Ibu maupun suami kelabakan karena belum dipersiapkan.
Keinginan suami untuk menafkahi mantan istri dan anak-anaknya tentu bukan hal yang buruk. Namun sebagai orang yang memutuskan untuk menikah, ia tetap punya tanggung jawab terhadap Ibu sebagai istri resmi sekaligus terhadap anak dalam kandungan. Suami juga perlu mempertimbangkan prioritas kebutuhan saat istrinya sedang hamil. Oleh karena itu, hal ini perlu didiskusikan terlebih dahulu dengan suami dan keluarga besar dari masing-masing pihak. Hal yang terpenting sekarang adalah Ibu periksakan kehamilan untuk memastikan bahwa Ibu dan janin dalam kondisi sehat supaya proses persalinan nanti lancar. Jika Ibu tinggal bersama mertua dan kondisinya kurang nyaman bagi Ibu, Ibu bisa coba bicarakan opsi lain dengan suami, misalnya tinggal bersama keluarga Ibu terlebih dahulu sampai anak lahir. Ibu tidak perlu terburu-buru membuat keputusan besar dalam kondisi bingung dan tertekan. Nanti jika kondisi Ibu sudah lebih tenang pasca melahirkan, Ibu bisa membicarakan lagi kondisi rumah tangga dengan suami. Jika Ibu merasa ada kesulitan beradaptasi dalam tahun-tahun awal pernikahan, Ibu dan suami bisa mengakses layanan konseling pasangan di Rifka Annisa. Jika Ibu berminat untuk konsultasi lebih lanjut, Ibu bisa datang langsung ke kantor kami atau menghubungi kami lewat nomor hotline. Semoga informasi ini bisa membantu Ibu.


Annisa Nuriowandari
Konselor Psikologi di Rifka Annisa

Harian Jogja, 30 November 2017

Written by Administrator Kamis, 08 Februari 2018 Published in Rubrik Tanya Jawab

 

Halo Rifka Annisa, saya B dari Yogyakarta. Saya sudah menikah dengan istri saya kurang lebih lima tahun. Dari awal menikah, saya tidak menyangka akan menghadapi masalah rumah tangga. Masalah bermula ketika istri memutuskan bekerja kembali, karena untuk menambah kebutuhan rumah tangga kami dan dua anak kami. Awalnya saya tidak masalah dan mengijinkan ia bekerja. Saya sendiri bekerja sebagai buruh bangunan, sedangkan istri saya menjadi karyawati bagian keuangan di sebuah kantor di Yogyakarta. Memang, pekerjaan saya sebagai buruh kadang cukup, kadang juga tidak. Tapi saya pikir lumayan bisa menutupi kebutuhan ketika kami hidup sederhana saja. Akhir-akhir ini saya rasa dia kesulitan untuk membagi waktu antara bekerja dan mengasuh anak. Seringkali pulang mepet maghrib, dan kadang-kadang lembur, dan kurang waktu untuk mengasuh anak. Sebagai suami, saya kadang mengecek HP-nya supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Saya juga sering cek, dengan cara menelepon dan menanyakan via WA/SMS. Tapi menurutnya saya terlalu sering mengganggunya. Bagaimana menurut Rifka Annisa? Saya hanya ingin keluarga kami tetap menjadi keluarga yang baik-baik. Terimakasih. (B dari Jogja)

Jawab :

Terimakasih Bapak B di Yogyakarta. Seiring jaman, tuntutan terhadap keluarga makin banyak. Mulai dari kebutuhan sekolah, rumah, sampai dengan rekreasi. Keluarga dituntut kreatif untuk menyiasati berbagai kebutuhan tersebut. Setiap keluarga berusaha bertahan dengan menentukan prioritas kebutuhan dan mencari tambahan pendapatan agar tidak besar pasak daripada tiang. Karena itu, kemudian terjadi perubahan sosial dimana tidak hanya ayah yang bekerja mencari nafkah, tetapi juga ibu. Tetapi di sisi lain, pola pikir masyarakat kadang-kadang tidak beranjak dari pola pikir tradisional, dimana ada pembagian peran yang saklek atau baku dalam rumah tangga yakni ayah bekerja di luar, ibu bekerja di rumah mengasuh anak. Sebenarnya, pola tersebut tidak bermasalah apabila tidak dibakukan. Tetapi ketika , hal itu menjadi bermasalah. Di satu sisi, laki-laki menjadi rendah diri ketika pendapatannya kurang banyak atau lebih rendah dari si perempuan. Di sisi lain, perempuan mengalami beban ganda, yakni bekerja di luar rumah, tetapi tetap dibebani semua pekerjaan rumah tangga, termasuk mengasuh anak, sehingga rentan mengalami kelelahan. Kewajiban menyeimbangkan karir dan pekerjaan rumah tangga hanya dibebankan pada perempuan. Dari cerita Bapak, sebaiknya perlu digali kembali dan berdiskusi dengan istri di saat waktu santai, tentang bagaimana sebenarnya pekerjaan istri, dan bagaimana perasaannya terhadap pekerjaan dan mengerjakan pekerjaan rumah. Kemudian soal mengecek HP karena curiga, rentan memicu pertengkaran karena istri merasa tidak dipercaya dan menunjukkan sikap resisten. Cobalah berbicara dengan istri dari hati ke hati mengenai kekhawatiran Anda dan mencari solusi bersama. Demikian Bapak B, apabila Bapak ingin berkonsultasi lebih lanjut, Bapak B dapat berkonsultasi dengan konselor laki-laki kami. Atau apabila Bapak berminta untuk konseling berpasangan dengan istri, Bapak dapat menghubungi kami.

 

Harian Jogja, 2 November 2017

Written by Administrator Rabu, 07 Februari 2018 Published in Rubrik Tanya Jawab

 

Halo Rifka Annisa, di daerah saya sedang ada kasus ‘dukun cabul’. Ada ibu-ibu di lingkungan saya yang sakit keras. Karena takut untuk periksa di rumah sakit, kemudian ia memutuskan untuk periksa di orang pintar. Di pertemuan pertama, kedua dan ketiga, ia datang bersama suami ke dukun tersebut. Awalnya diminta memenuhi syarat, seperti memberi uang, ayam, dll. Kemudian setelah itu, ia datang sendiri ke rumah dukun tersebut, namun justru terjadi perkosaan. Si Ibu diancam akan dibuat jadi gila ketika tidak menuruti permintaan dukun tersebut. Saat ini pelaku sudah dilaporkan ke polisi. Pertanyaan saya, bagaimana cara agar masyarakat teredukasi agar waspada terhadap modus seperti itu? Terimakasih. (Y di Jogja)

Jawab :

Halo Y di Jogja. Rifka Annisa juga pernah menangani kasus-kasus semacam itu. Karena korban sudah percaya sepenuhnya bahwa dukun dapat menyembuhkan, korban kemudian tak sadar mau melakukan apa saja yang diminta dukun. Atau dalam kasus yang Anda sebutkan, korban diancam  oleh dukun, dan kemudian sangat ketakutan. Untuk itulah, masyarakat perlu sangat waspada dengan modus semacam itu. Apabila terjadi seperti kasus di atas, jangan mandi dulu, simpan semua baju dan barang yang dikenakan saat peristiwa, kemudian melapor ke kepolisian. Polisi akan meminta keterangan dan mengarahkan ke rumah sakit untuk visum. Yang lebih penting lagi, agar tidak lagi terjadi peristiwa kekerasan seksual, sebaiknya di lingkungan dapat dilakukan sosialisasi tentang pencegahan dan penanganan kekerasan seksual. Apabila membutuhkan narasumber, Y dapat mengundang narasumber dari Forum Penanganan Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak (FPK2PA) di tingkat Desa, Kelurahan atau Kecamatan, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) tingkat Kabupaten/Provinsi, Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) di Polres atau Polda, Rifka Annisa, atau lembaga terkait lainnya.

 

Harian Jogja, 5 Oktober 2017

2742271
Today
All days
2974
2742271