Blog

Written by Rabu, 23 Mei 2018 Published in Blog
Kekerasan seksual bukan hanya masalah perempuan, melainkan juga masalah laki-laki. Kekerasan seksual terjadi dalam sebuah budaya yang masih melanggengkan toxic masculinity atau karakteristik maskulinitas yang bermasalah. Meskipun tidak semua laki-laki berpotensi menjadi pelaku kekerasan seksual, namun praktik-praktik maskulinitas yang berlebihan membuat laki-laki lebih beresiko terlibat dalam budaya yang melanggengkan kekerasan seksual. Dalam buku Sexual Assault in Context: Teaching College Men about Gender, Christopher Kilmartin (2001) menjelaskan karakteristik yang cenderung dimiliki oleh pelaku kekerasan seksual, sebagai berikut: Pertama, penerimaan dan internalisasi ideologi maskulinitas secara berlebihan dan melihat perempuan sebagai pihak yang dimusuhi atau dikuasai. Namun bukan berarti semua laki-laki yang bersikap seperti itu adalah pelaku, namun kebanyakan pelaku kekerasan seksual cenderung seperti itu. Kedua, meskipun tidak selalu, beberapa kasus kekerasan seksual memiliki motif untuk balas dendam dan pembuktian bahwa posisi pelaku tidak terkalahkan. Dalam pengalaman Rifka Annisa menangani kasus-kasus kekerasan seksual,…
Written by Selasa, 22 Mei 2018 Published in Blog
Kekerasan seksual masih menjadi masalah yang serius di lingkungan kampus maupun di institusi pendidikan lainnya. Laporan Divisi Pendampingan Rifka Annisa Women's Crisis Center menunjukkan bahwa selama kurun waktu 2000-2016, terdapat 51 aduan perempuan mengalami kekerasan seksual (pelecehan seksual dan perkosaan) di institusi pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagian besar pelaku dari kekerasan seksual tersebut adalah para pengajar atau orang yang memiliki posisi strategis maupun pengaruh misalnya dosen, guru atau staf akademik. Kekerasan seksual selalu mengarah pada penyalahgunaan kuasa dimana seseorang yang memiliki posisi/kuasa yang lebih tinggi memaksakan kehendaknya pada orang lain yang posisi/kuasanya lebih rendah. Faktor relasi kuasa ini sangat jelas berkontribusi dalam terjadinya kekerasan seksual, namun tidak banyak orang menyadari tentang hal ini. Adanya relasi kuasa yang timpang sangat rentan menjadi peluang terjadinya kekerasan seksual dimana setelah kejadian penyintas cenderung tidak melaporkan atau memproses lebih lanjut kejadian yang dialaminya.…
Written by Rabu, 02 Mei 2018 Published in Blog
Di ruangan itu berjajar dua buah meja dan beberapa kursi di sekelilingnya. Sejumlah orang duduk mengelilingi meja sambil sesekali menikmati camilan. Mereka para karyawan di lembaga Rifka Annisa Women’s Crisis Center Yogyakarta. Mereka berbincang tentang apa yang pertama kali dilakukan ketika membuka mata di pagi hari. Sebuah pertanyaan pemantik untuk mengawali diskusi mengenali dampak-dampak media sosial bagi kehidupan kita sehari-hari. “Dulu ngecek jam, sekarang juga ngecek notifikasi whatsapp,” kata Dewi, salah satu karyawan kantor tersebut. Ia menambahkan, saat ini ada kebiasaan baru di kehidupan sehari-hari akibat penggunaan media sosial. Media sosial memudahkannya dalam menelusuri teman-teman yang lama tidak bertemu. Sementara menurut Ninna, koordinator human resource di kantor tersebut, media sosial mengakomodasikan naturnya manusia yang ingin selalu berhubungan. Itu yang membuat orang kecanduan karena media sosial memfasilitasi kita untuk mengetahui kabar orang lain dan apa yang sedang mereka kerjakan. Media sosial…
Written by Jumat, 20 Oktober 2017 Published in Blog
Film Spotlight bukan lagi sebuah cerita yang baru didengarkan. Film Spotlight yang merupakan karya Tom Mc Carthy berdasarkan skenario yang juga ditulisnya bersama Josh Singer, menjadi sebuah film yang begitu populer dan menarik hati banyak penonton. Karya Tom Mc Carty dan Josh Singner ini memang benar-benar mengguncang dunia dan membuat orang bertanya-tanya apakah kejadian demikian memang benar-benar ada di kalangan rohaniawan. Namun cerita Spotlight ini menjawab semua pertanyaan penonton dan membuka segala bentuk kejahatan tersebut secara terpampang. Film ini menceritakan kejahatan yang dilakukan oleh para pastur yang berada dalam sebuah institusi keagamaan. Dalam film ini juga sangat terlihat jelas begitu banyaknya orang yang ingin selalu melindungi pihak agamawan walaupun diketahui kesalahan yang dilakukan begitu jahat bahkan sampai media ternama saja tetap melindungi pelaku kejahatan pelaku. Pada dasarnya kejahatan yang dilakukan sang pastur tersebut telah diketahui banyak orang tetapi sikap yang ditujukan…
Written by Kamis, 27 Juli 2017 Published in Blog
Tulisan ini terinspirasi dari sebuah kasus di sekolah saya. Begini ceritanya. Ini bukan masalah sepele tapi masalah yang sangat dipastikan dapat merugikan berbagai pihak. Anak muda jaman sekarang beda sekali dengan anak muda jaman dulu. Kata orangtua, anak jaman dulu selalu mempertimbangan resiko yang akan diterima ketika melakukan berbagai tindakan, sedangkan anak jaman sekarang sifatnya maunya muluk-muluk tanpa berikir panjang dan hanya mementingkan kenikmatan sesaat. Itu menurut saya, mungkin dari kalian ada yang tidak sependapat. Saya amati di berbagai berita, remaja masa kini sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Didukung dengan kemajuan teknologi, justru banyak masalah yang ditimbulkan seperti pornografi, bullying, terjebak pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, dan lain-lain. Mereka ini kan merupakan masa depan bangsa yang merupakan aset yang paling berharga. Namun mereka malah terjebak dalam suatu situasi yang menghilangkan potensi bahkan tidak ada kualitas untuk menjadi penerus bangsa. Hamil di…
5390206
Today
All days
150867
5390206