Kunjungan UN WOMEN di Kabupaten Gunungkidul

Written by  Rabu, 11 April 2018 14:40

UN WOMEN mengadakan kunjungan ke kabupaten Gunungkidul, Kamis (25/1) lalu, dengan tujuan untuk mempelajari Program Laki-laki Peduli Plus yang dilakukan oleh Rifka Annisa. Perwakilan UN WOMEN yang hadir berasal dari negara Timur Tengah yaitu Lebanon, Maroko, Palestina, Mesir, Pertemuan pertama diadakan di Kantor Sekretariat Daerah Gunungkidul dihadiri oleh perwakilan Bupati Gunungkidul dan beberapa badan pemerintah daerah Gunungkidul dan Rifka Annisa selaku penyelenggaran Program Laki-laki Peduli Plus. Diskusi berlangsung selama 2 jam mulai dari pukul 10.00-12.00 WIB.

Dalam diskusi, perwakilan bupati Gunungkidul membagikan cerita bagaimana perubahan terjadi pada masyarakat dan juga posisi perempuan yang sudah mulai dianggap penting dalam pemerintahan. Diskusi dilanjutkan dengan penjelasan dari perwakilan Dinas P3APMKBD (Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pemberdayaan Masyarakat, Keluarga Berencana dan Desa) Kabupaten Gunungkidul, Bu Rum, yang juga menjelaskan mengenai sosialisasi kebijakan-kebijakan mengenai perlindungan perempuan dan anak di Kabupaten Gunungkidul. Di akhir sesi diadakan tanya jawab dan juga sharing pengalaman dari perwakilan UN WOMEN. Pelibatan laki-laki dalam program pemberdayaan perempuan juga sudah dimulai di daerah Timur Tengah. Yang menariknya, kegiatan pelibatan laki-laki di Palestina memiliki kesamaan dengan pendekatan yang dilakukan oleh Rifka Annisa kepada masyarakat. Sharing pengalaman ini memang hanya sebentar namun semakin menambah wawasan bagi peserta yang hadir dalam diskusi tersebut.

Setelah dari Sekretariat Daerah Gunungkidul, rombongan beranjak untuk mengunjungi komunitas di Desa Ngalang. Masyarakat setempat sangat antusias dalam menyambut kehadiran UN WOMEN di Balai Desa Ngalang. Mereka menyambut tamu dari UN WOMEN dengan tarian daerah dan para penari menggunakan kostum yang sangat berwarna, ini menunjukkan identitas mereka sebagai daerah yang unggul dengan pariwisatanya. Setiap tamu yang hadir dikenakan kalung buatan penduduk setempat. Setelah itu para tamu dipersilakan untuk makan masakan yang sudah dibuat oleh warga. Para tamu dari UN WOMEN juga terlihat senang ketika mendapatkan sambutan yang hangat dari warga setempat.

Setelahnya acara dimulai kembali dengan diskusi dan sharing ilmu mengenai Program Laki-laki Peduli Plus. Kepala Desa setempat memberikan sambutan dan juga bercerita tentang pengalaman warga yang telah mengikuti program laki-laki peduli. Setelahnya dilanjutkan oleh presentasi Rifka Annisa yang dibawakan oleh Nurmawati selaku program manager dari Program Laki-laki Peduli Plus.

Pada saat presentasi mengenai program ini, antusias dari peserta diskusi mulai tampak. Selesai presentasi, banyak sekali pertanyaan yang diajukan. Mereka sangat tertarik dan keingintahuan mereka akan program laki-laki peduli plus ini sangat tinggi. Mereka tertarik dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam program tersebut dan juga usaha untuk perubahan nilai maskulinitas yang merupakan salah satu tujuan dari program ini, mereka membandingkan dengan situasi negara mereka yang berbeda dengan Indonesia dan sepertinya akan susah apabila program ini diterapkan di negara mereka. Di sisi lain mereka merasa bahwa tidak ada tantangan yang sangat berat pada penerapan program ini. Padahal pada kenyataannya, tantangan terbesar justru ada pada para laki-laki yang mengikuti program ini karena mengubah ideologi yang telah mereka anut seumur hidup mereka itu tidaklah mudah.

Pertanyaan mengenai tantangan program terjawab ketika alumni dari Program Laki-laki Peduli Plus, Siswanta dan Jatmiko, ikut membagikan cerita perubahan yang terjadi pada diri mereka dan keluarganya. Siswanta menjelaskan mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam Program Laki-laki Peduli dan bagaimana mereka mengukur perubahan itu melalui refleksi di tiap akhir sesi pertemuan.

Jatmiko menambahkan bahwa perubahan yang ia alami membutuhkan waktu yang sangat panjang. Ia mengakui bahwa ia dibesarkan dalam budaya patriarki yang sangat kental, sulit mengubah cara pandang berdasarkan budaya patriarki ini. Terlebih orangtua dan mertuanya juga tidak mendukung perubahan ini, namun demikian Jatmiko beserta istri tetap berkomitmen untuk mengikuti program ini dan tetap ingin melakukan perubahan. Perubahan itu dirasakan perlahan-lahan, keluarganya menjadi lebih harmonis dan ia semakin dekat dengan anak-anaknya. Diakhir penjelasannya, Jatmiko mengatakan “Perubahan kecil itu dapat mengubah dunia.” Penjelasan Mas Jatmiko mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari peserta diskusi.

Pertemuan dan sharing dari UN WOMEN, pemerintah, masyarakat Gunungkidul, dan Rifka Annisa ini memang berlangsung singkat namun informasi yang didapat bisa semakin menambah wawasan peserta diskusi yang hadir. Pada akhir sesi pertemuan di Balai Desa, para peserta diskusi dan warga setempat berfoto bersama dan mengucapkan salam perpisahan. Namun memang disayangkan pada saat sesi terakhir di Balai Desa, UN WOMEN belum sempat membagi pengalaman mereka kepada warga karena keterbatasan waktu. Diharapkan di waktu mendatang bisa saling sharing pengalaman agar bisa menambah pengetahuan untuk warga dan juga sebagai pembelajaran juga untuk organisasi-organisasi warga terkait dengan aksi menyiptakan masyarakat yang adil dan sensitif gender.

Read 8 times Last modified on Rabu, 11 April 2018 15:06
2742218
Today
All days
2921
2742218