Peningkatan jumlah korban kekerasan terhadap perempuan yang mengadukan kasusnya baik kepada lembaga-lembaga pengada layanan maupun kantor polisi dan institusi terkait lainnya dapat diartikan dari dua sisi: negative dan positif. Sisi negativenya adalah kenyataan bahwa kekerasan terhadap perempuan “banyak” terjadi –meski upaya untuk mereduksinya telah berlangsung panjang–, sisi positifnya adalah –juga kenyataan—bahwa makin banyak perempuan korban kekerasan yang berani membuka diri dan menuntut keadilan , meskipun tidak selalu mudah mencapainya.
Lembaga-lembaga Pengada Layanan yang menangani korban-korban kekerasan terhadap perempuan saat ini menghadapi tantangan baik dari soal peningkatan jumlah pencari layanan (dengan beragam kasus dan konteks), maupun dari soal tuntutan peningkatan kualitas layanan untuk mendekatkan rasa adil dan pemulihan yang didamba oleh para korban. Dua tantangan ini akhirnya bermuara pada isu peningkatan kapasitas lembaga, termasuk di dalamnya penguatan perspektif feminist yang selama ini dikenali dan diyakini berpihak pada upaya mengakhiri penindasan/ketidak adilan pada perempuan.
Dari serangkaian diskusi dan refleksi yang diselenggarakan oleh Forum Pengada Layanan, teridentifikasi bahwa dalam kaitannya dengan kerja kerja menangani kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan, feminisme memberi andil dalam membuka wawasan untuk memahami masalah ketidak adilan terhadap perempuan secara lebih jelas, tegas dan luas; serta memberi andil dalam mengembangkan metode pendekatan yang lebih ramah terhadap perempuan, lebih mendasar, structural, sistemis, dan sekaligus juga menggugat elemen elemen budaya yang memperdaya pemahaman dan praktek relasi kuasa yang timpang antara perempuan dan laki-laki.
Dengan dasar ini Forum Pengada Layanan bermaksud untuk menyegarkan kembali pemahaman dan pengetahuan para anggotanya tentang perspektif feminis, agar dapat diintegrasikan kedalam proses konseling, kerja-kerja pendidikan publik, dan pendampingan komunitas. Dengan kata lain, Forum pengada layanan bermaksud mengembangkan feminisme sebagai landasan kerja-kerja anggota Forum Pengada Layanan. Untuk kepentingan itulah, Forum Pengada Layanan mengembangkan kurikulum pelatihan feminisme yang bersifat praktis (implemetatif) dalam kegiatan konseling, pendampingan komunitas (organizing community), serta pendidikan public (advocacy). Tiga kurikulum pelatihan dalam satu kesatuan yang saling kait mengkait. Buku ini adalah yang pertama: “Kurikulum Pelatihan Konseling berperspektif Feminis”.



