Tepat di hari kamis, tanggal 23 April 2015, seorang bapak sedang bercakap dengan anak laki-lakinya perihal sebuah brosur yang menginfokan tentang khitanan massal. Sang Bapak kemudian mengajak anaknya untuk segera mendaftar khitan ke panitia. Awalnya si anak penasaran, mengapa ia harus dikhitan. “Iya karena kamu laki-laki,” jawab Sang Bapak. Si anak pun bersemangat untuk mengikuti khitanan massal tersebut.

Begitulah sepenggal cerita dari drama yang dipentaskan oleh kelompok remaja laki-laki pada sesi awal kegiatan Youth Camp “Pendidik Sebaya untuk Pencegahan dan Penanganan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak” 23-26 April 2015 di Dusun Tanjung 1, Desa Bleberan, Kec.Playen. Di sesi tersebut, para peserta diajak untuk menceritakan tentang kapan pertama kali mereka menyadari bahwa dirinya laki-laki. Dengan mementaskan drama tentang khitan, kelompok pertama hendak menyampaikan pesan bahwa mereka menyadari dirinya laki-laki yaitu ketika melakukan khitan. Khitan sebagai bagian dari keharusan yang dilakukan laki-laki demi menjaga kebersihan kelamin sekaligus menjalankan perintah agama, menurut peserta.

Peserta lain mengungkapkan dalam puisinya bahwa menjadi laki-laki itu tidak seperti menjadi perempuan. Menjadi laki-laki tak perlu merasakan sakit ketika melahirkan. Laki-laki dan perempuan memiliki organ kelamin yang berbeda sehingga berimplikasi terhadap fungsi organ. Perempuan bisa melahirkan, laki-laki tidak bisa. Sementara dalam kebiasaan sehari-hari, laki-laki dikatakan (harus) kuat, menjadi pemimpin, dan mencari nafkah. Namun, bagaimana jika ada laki-laki yang tidak seperti itu?

Diskusi tersebut membuka sesi tentang bagaimana seks dan gender pada laki-laki. Fitri Indra Harjanti, selaku fasilitator, menjelaskan bahwa setiap laki-laki memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Di masyarakat, laki-laki selalu dilekatkan dengan pelabelan maupun sifat-sifat tertentu. Laki-laki sering terlibat perkelahian, laki-laki dituntut untuk menjadi kuat, laki-laki tak boleh menangis, dan terkadang ketika mengalami persoalan berat pun laki-laki dituntut harus kuat dengan dirinya sendiri.

Seketika seorang peserta meminta perhatian fasilitator dan teman-temannya. Ia menceritakan bagaimana pengalamannya menjadi laki-laki. Begitu susahnya menjadi laki-laki ketika menghadapi persoalan berat dan harus mencari pelarian tapi justru ke hal negatif. Menurut peserta yang tak mau disebutkan namanya ini, ia pernah direhabilitasi karena dulu suka mengonsumsi minuman keras dan obat terlarang. “Para tetangga mencemooh bapak saya,” katanya. Namun, bapaknya tetap menguatkan dengan berpesan bahwa ia tak perlu minder menghadapi hal tersebut. “Dari situ saya sadar. Saya adalah seorang laki-laki yang harus bertanggungjawab apapun yang telah saya lakukan,” tambahnya.

Di kalangan remaja, citra diri dan nilai menjadi laki-laki masih kuat melekat bahwa laki-laki harus seperti itu. Mereka mulai menyadari bahwa laki-laki harus menanggung serentetan tuntutan yang ada di masyarakat. Menjadi laki-laki pun, mereka juga terbebani dengan tuntutan diri maupun tuntutan keluarga. Dan jika tidak bisa, mereka akan dihina, dicemooh, dibulli, dikatakan bahwa mereka bukan laki-laki.

Berbagai opini tentang menjadi laki-laki terungkap di sesi tersebut. Peserta mulai merefleksikan bahwa tidak ada yang lebih mudah maupun lebih sulit tentang menjadi laki-laki dan perempuan. Dari kecil laki-laki sudah terbiasa dengan tuntutan, bahwa laki-laki harus kuat, berani, sedangkan perempuan harus lembut dan penuh kasih sayang. Pemberani, bertanggung jawab dan pekerja keras itu adalah maskulinitas yang positif, yang negative dikembalikan pada diri masing-masing. Akan ada momen dalam hidup yang terkadang mengarahkan kita ke hal negative. Setiap laki-laki diberi pilihan bagaimana mereka merekonstruksi "menjadi laki-laki" ke hal-hal yang lebih positif. Tidak perlu terbebani maupun merasa terancam jika tidak bisa memenuhi tuntutan. Apalagi melakukan kekerasan.

“Sebagai manusia kita banyak emosi, jengkel, marah, cemburu. Ketika suatu saat tumpukan emosi itu keluar, maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya berkelahi, mudah marah dan sebagainya,” ungkap Fitri.

"Manusia disebut laki-laki atau perempuan itu secara biologis karena laki-laki memiliki penis dan perempuan memiliki vagina dan rahim. Sementara secara sosial laki-laki dan perempuan bisa berbagi peran dengan yang lain"

Fitri menambahkan, perempuan terkadang bisa lebih ekspresif dan itu dianggap wajar oleh masyarakat. Tetapi kalau laki-laki berbeda. Laki-laki tidak dibiasakan mengekspresikan perasaannya. Akibatnya bisa mengarah ke pelarian yang negatif atau pun berujung kekerasan. Manusia disebut laki-laki atau perempuan itu secara biologis karena laki-laki memiliki penis dan perempuan memiliki vagina dan rahim. Sementara secara sosial laki-laki dan perempuan bisa berbagi peran dengan yang lain, misalnya ketika sudah menikah bisa berbagi tanggung jawab dengan pasangan. Keduanya memiliki sisi feminin dan maskulin, karena itu wajar sebagai manusia.

“Sikap feminin yang dimiliki ayah-ayah kita nanti itu tidak akan menghilangkan sisi kelelakiannya. Ayah kita tetap menjadi laki-laki yang sangat hebat dengan sikap feminin itu,” pungkasnya. (*)


36386798
Today
This Week
This Month
Last Month
All
251
19091
150900
158770
36386798