Selasa, 25 Juli 2017 22:50

WATES - Kasus kekerasan seksual pada anak di Kulonprogo setiap tahun terus meningkat. Beberapa hal ditengarai menjadi penyebabnya, seperti budaya yang menganggap perempuan sebagai objek seksual, kesepian, sampai penetrasi internet yang semakin masif sehingga akses ke pornografi semakin terbuka.

Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kulonprogo mencatat, pada 2015 terjadi 15 kasus kekerasan seksual, meningkat menjadi 23 kasus pada 2016. Sedangkan sampai Juni 2017 telah terjadi 16 kasus kekerasan seksual. Kekerasan seksual bahkan menduduki peringkat pertama untuk segala macam jenis kekerasan di Bumi Menoreh.

Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak, Dinsos P3A Kulonprogo, Woro Kandini menyatakan, pelaku kekerasan seksual pada anak cukup beragam. Begitu pun jenis dan umur anak yang menjadi korban. "Jenisnya cukup mengerikan untuk diceritakan. Pada 2017, di Kulonprogo telah terjadi empat kasus ayah kandung yang memperkosa anaknya sendiri. Belum lagi kasus lain seperti seseorang yang memperkosa anak tetangga atau yang mencabuli temannya sendiri. Bahkan pada Maret lalu, ada anak usia tiga tahun yang menjadi korban," ucap Woro Kandini, Jumat (21/7).

Woro Kandini menyebut, ada berbagai hal yang membuat kasus kekerasan seksual pada anak terus meningkat, salah satunya pandangan sebagian masyarakat yang menganggap perempuan sebagai objek seksual. "Tayangan konten porno di internet juga menjadi satu penyebab, karena sangat memengaruhi perilaku seseorang. Tapi ada juga penyebab lain seperti kesepian dan lainnya. Penyebabnya memang cukup beragam tapi internet yang paling keras pengaruhnya," ujar Woro Kandini menambahkan.

Untuk menekan tingginya kasus ini, Dinas Sosial P3A Kulonprogo terus berupaya untuk menyosialisasikan Perda No.7/2015 tentang Perlindungan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan, mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan hingga desa. Sosialisasi dilakukan agar masyarakat tidak lagi bertindak sewenang-wenang terhadap anak, karena sudah ada peraturan yang bisa menjatuhkan sanksi terhadap pelaku.

Konselor psikologi Rifka Annisa, Budi Wulandari menyampaikan anak yang menjadi korban kekerasan seksual cenderung akan mengalami tindakan yang sama secara berulang, karena takut ancaman dari pelaku. Ancaman tersebut seperti kekerasan dalam bentuk lain atau penyebarluasan aib.

Ia mengatakan kekerasan seksual pada anak tidak akan langsung diketahui sampai muncul dampaknya bagi korban, misalnya anak yang biasanya ceria menjadi pendiam, sering cemas, ketakutan dan lainnya. "Kalau keluarganya peka pasti akan langsung menggali untuk mencari tahu apa yang terjadi," ujar Budi Wulandari.

Untuk menekan kasus ini, harus ada sinergi antara Pemkab Kulonprogo, aparat penegak hukum dan masyarakat. Pemerintah harus menghimbau masyarakat agar melaporkan semua tindak kekerasan pada anak, dan sebaliknya masyarakat harus aktif melaporkan.

 

I Ketut Sawitra Mustika

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

 

Sumber: Harian Jogja, Sabtu 22 Juli 2017

Selasa, 25 Juli 2017 14:17

Yogyakarta (14/7) – Mahasiswa Public Health yang tergabung dalam the Australian Consortium for “In-Country” Indonesian Studies (ACICIS) mengunjungi Rifka Annisa pada hari Jumat, (14/7). Seperti yang diungkapkan Wulan, perwakilan dari ACICIS, kunjungan tersebut bertujuan untuk mempelajari tentang Rifka Annisa dalam upaya mengatasi kekerasan terhadap perempuan dan anak serta tantangan-tantangan yang dihadapi.

            Diskusi antara Rifka Annisa dan ACICIS berlangsung pada pukul 14.00 wib di Aula Rifka Annisa. Diskusi dipandu oleh Defirentia One selaku Manager Divisi Humas dan Media serta ditemani Nurul Kurniati, salah satu konselor di Divisi Pendampingan Rifka Annisa. Diskusi dihadiri oleh 40 mahasiswa yang tergabung dalam ACICIS dan juga mahasiswa magang dari Rifka Annisa.

            Sesi awal, diskusi dimulai dengan pemaparan Defirentia One mengenai Rifka Annisa secara umum. Pembahasan berfokus pada profil, visi-misi, divisi-divisi hingga program-program Rifka Annisa.

            “Kami (Rifka Annisa) meyakini bahwa kekerasan terhadap perempuan terjadi karena dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Jadi tidak hanya karena satu faktor, tapi multilevel factor,” ungkapnya mengenai kerangka kerja ekologis yang digunakan oleh Rifka Annisa. Berdasarkan kerangka kerja tersebut, faktor-faktor yang mempengaruhi terdiri dari faktor individu, keluarga/hubungan personal, komunitas/masyarakat, dan struktur nasional serta global,” ungkap One.

            Untuk penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak, Rifka Annisa pun melakukan cara-cara sesuai dengan kerangka kerja tersebut melalui konseling psikologis, pendampingan hukum, perawatan medis, dan menyediakan rumah aman (shelter). Bahkan konseling psikologis tidak hanya untuk perempuan tetapi juga laki-laki. Hal ini disebabkan akan lebih efektif apabila penanganan kasus melibatkan kedua belah pihak.

            Selain itu, One, panggilan akrab Defirentia One, juga memaparkan data kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang ditangani Rifka Annisa dari tahun 2011-2016 meliputi jenis Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), Kekerasan Dalam Pacaran, Perkosaan, Kekerasan Seksual, dan sebagainya.

            Berdasarkan data tersebut, kasus yang paling banyak terjadi adalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Jessie, salah satu peserta, menuturkan bahwa di Australia sendiri kasus yang sering terjadi adalah kekerasan seksual. Sementara di Indonesia, menurut One, penyebab kekerasan dalam rumah tangga diantaranya adalah ketidakmampuan dalam manajemen emosi, permasalahan ekonomi, hingga adanya ketidaksetaraan gender.

            Nurul Kurniati menjelaskan kepada salah satu peserta diskusi yang bertanya tentang upaya pencegahan kekerasan dalam rumah tangga sebelum menikah. “Ketika seseorang akan menikah, harus ada ada komitmen. Komitmen harus ada antara pasangan yang akan menikah karena adanya komitmen untuk mencegah terjadinya KDRT.”

            Ia juga mengungkapkan bahwa berkaitan dengan kasus perjodohan, belum diatur secara legal di Indonesia, hanya diatur dalam hukum adat. Untuk perkawinan sendiri, di Indonesia terdapat Undang-Undang yang mengatur hal tersebut. Menjawab pertanyaan Ali, salah satu peserta diskusi, tentang program edukasi ke anak-anak terkait anti kekerasan, One mengungkapkan Rifka Annisa memiliki program Rifka Goes to School dan Rifka Goes to Campus sebagai salah satu upaya pencegahan terjadinya kekerasan. (Ana Widiawati)

 

*Ana Widiawati adalah mahasiswa magang dari Jurusan Hubungan Internasional Universitas Brawijaya Malang.

Jumat, 09 Jun 2017 12:39

Pagi itu, Minggu, 27 Februari 2016, saya menuju Desa Ngalang, salah satu desa yang tiga tahun ini menjadi tempat saya belajar tentang keluarga dan masyarakat, desa di mana kebersamaan di komunitas masih sangat lekat dengan nilai-nilai sosial dan kebudayaan. Tradisi gotong royong dan tradisi rasulan[1] berjalan setiap tahun. Tidak hanya itu, masyarakat yang terbuka mempermudah saya berkenalan dan masuk dalam kelompok-kelompok sosial, baik kelompok ibu maupun ayah. Dari sinilah saya kenal warga-warga yang ada di desa ini, salah satunya ibu Tukinah.

Ibu Tukinah adalah perempuan yang saya kenal pada tahun kedua tinggal di Ngalang. Ia memiliki dua anak yang duduk di bangku TK dan SMP. Dua anak bersekolah membuat dia memutuskan untuk bekerja di salah satu perusahaan wig yang ada di Piyungan, Bantul. Ia bekerja mulai pukul 05.30 WIB hingga pukul 18.30 WIB. Situasi ini membuat ia tidak punya banyak waktu untuk keluarga. “Saya melakukan itu demi anak-anak dan untuk ekonomi keluarga,” ungkapnya. Hal ini pun tak menyulutkan ibu Tukinah untuk selalu datang pada pertemuan kelompok ibu-ibu. Ia juga mengusulkan kepada fasilitator agar diskusi dilakukan pada hari Minggu agar dia bisa sharing dan bertemu dengan kawan-kawan yang berasal dari desa yang sama. Motivasi ini berangkat dari situasi keluarga yang, menurutnya, sering cekcok.

Ibu Tukinah lahir di Jambi, Sumatra. Pernikahannya dengan Maryanto membuat ia tak lagi tinggal bersama kakak-kakaknya di sana. Sebagai anak terakhir dari 10 bersaudara, ia lebih banyak bersama kakak-kakanya. Menurut cerita yang didapat Tukinah dari kakak-kakaknya, bapak mereka berprinsip, “Apa yang dikasihkan Tuhan dan dititipkan di perut keluarkan saja semua.” Ibu mereka meninggal pada usia 50 tahun saat melahirkan anak ke-11. Kondisi ini yang membuat ibu Tukinah juga tak ingin punya banyak anak sehingga dia ikut program keluarga berencana.

Selama di Jambi, ia diasuh kakak-kakaknya. Ayahnya menikah lagi dan memutuskan untuk tinggal bersama istri barunya. Tukinah kecil tidak lama tinggal bersama ayahnya. Karena itu pula ia tak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Bekal perkebunan sawit dari sang ayah membuat hidup mereka tidak begitu mudah dijalani. Mereka makan dan sekolah dari hasil kebun. Mereka hanya mengandalkan sawit untuk hidup. “Berat, Mbak, saat itu saya masih kecil dan tidak ada yang ngajari kita. Jadi, kita mau makan dan sekolah, ya, harus jual kelapa dulu agar bisa jadi duit,” tegasnya. Tak ada yang mendampingi mereka dan memberi kasih sayang. Ibu Tukinah merasa bapaknya tak hadir langsung dalam pengasuhannya.

Saat dewasa, ibu Tukinah bekerja di sebuah pabrik di Jambi. Di sinilah ia mengenal Maryanto dan memutuskan untuk menikah dengannya. Pernikahannya dengan Maryanto membuat ia meninggalkan kota kelahirannya. Hal ini bukan hal yang mudah baginya. Karena tak ingin jauh dari Tukinah, bapaknya sempat tidak setuju. Dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain, ibu Tukinah memang cukup dekat dengan bapaknya.

Ibu Tukinah memilih untuk hidup bersama keluarga barunya, yakni pasangan yang ia nikahi di Jambi, 15 tahun yang lalu. Empat bulan setelah menikah, ibu Tukinah diboyong suaminya ke Jawa, tepatnya di Dusun Manggung, Ngalang, Gedangsari. Tak mudah baginya untuk beradaptasi di Jawa. Lama hidup di Sumatra membuatnya lebih banyak memegang budaya di sana. Keputusannya menikah dengan Maryanto membuatnya perlu belajar banyak tentang budaya Jawa. Tukinah lebih mudah beradaptasi dengan budayanya dibandingkan dengan bahasanya. “Saya tak bisa bahasa Jawa tapi mengerti jika orang ngomong (bahasa) Jawa,” jelas Tukinah.

Nilai-nilai Jawa tidak jauh berbeda dengan nilai yang dipegang masyarakat Jambi. “Perempuan, ya, di dapur, Mbak, pokoknya yang di belakang, neng mburi. Urusan macak, masak, manak[2]. Itu yang orang-orang bilang. Saya melihat masyarakat sini tak jauh beda dengan (masyarakat) Sumatra.” Pandangan ini membuat Tukinah menurut pada kata bapak, juga suaminya.

Sebagai seorang perempuan yang memutuskan untuk menikah, ia mempunyai harapan yang tinggi terhadap pernikahan itu, yakni hidup bahagia bersama pasangan yang telah dipilihnya. Ia membayangkan keluarga yang indah dan hidup bersama anak-anak yang didambakan, menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah seperti janji yang mereka ucapkan di pelaminan kala itu. Namun, kenyataan tak selalu seindah mimpinya. Dalam membangun bahtera keluarga, perjalanan ibu Tukinah penuh liku dan tantangan. Akhirnya, bagi ibu Tukinah, pernikahan adalah belajar tentang kehidupan.

“Plak! Plak! Tangan itu tiba-tiba terhempas di hadapanku. Itu yang pernah terjadi saat kami sedang cekcok, Mbak,” kata ibu Tukinah. Tamparan ini adalah salah satu kekerasan yang didapat Tukinah dari pasangannya. Menurutnya, sang suami berwatak keras, temperamental, dan mudah marah. “Nek marahan kita adu cangkem[3], habis itu barang-barang dibantingi bojoku,” tegasnya. Hal ini juga diungkapkan bapak Maryanto, “Saya orangnya egois, Mbak, temperamental. Nek pas lagi ngamuk, ya, apa yang ada di sekelilingku habis.” Sifatnya yang egois dan mudah marah terhadap masalah tertentu membuat dia biasa melakukan kekerasan terhadap istri. “Tujuh HP habis di tangan pas kalau bertengkar dengan istri,” jelas Maryanto. Ketika anak rewel, ia marah-marah. Sifat itu membuat anak pertamanya tidak begitu dekat dengannya.

Kondisi ini semakin rumit saat Maryanto mempunyai selingkuhan. “Ya, saya marah, Mbak. Perempuan mana yang mau digitukan?” ungkap ibu Tukinah saat kami bertemu di rumahnya, “Sejak saat itu saya tidak pernah mau diajak ngobrol, perilaku suami yang keras dan sering bentak-bentak membuat saya semakin menderita sebagai perempuan. Sekarang, kalau dia marah, ya, saya ikut marah. Kalau dia mukul, ya, saya ikut mukul. Saya tak mau direndahkan. 12 tahun saya menurut dan patuh padanya, tapi apa yang saya dapat? Saya kecewa dan belum bisa memaafkan, Mbak,” cerita Tukinah. Hal ini yang membuat ibu Tukinah ingin memperbaiki keluarga, demi anak-anaknya, “Sebagai bapak dari anak-anakku, saya ingin suami saya berubah.” Makanya ia senang bisa sharing dan terlibat dalam pertemuan ibu-ibu. Ia bisa cerita dan berbagi pengalaman, sekaligus mendapatkan solusi tentang persoalan keluarganya.

Bagi saya, harapan ibu Tukinah adalah harapan seorang perempuan, istri, sekaligus ibu yang menginginkan pasangannya menjadi orang yang lebih baik. Pikirku, “berat mungkin, program yang berjalan kurang lebih setahun bisa mengubah perilaku kekerasan.” Obrolan-obrolan ini menjadi beban sekaligus tantangan bagiku. Saya pun teringat ibu saya yang juga mengalami kekerasan dari bapak. Hal ini yang membuat saya terpanggil menolong perempuan-perempuan yang pernah mengalami kekerasan.

Keinginan ini mungkin bukan hanya keinginan Tukinah tapi juga keinginan banyak perempuan lain yang mengalami hal yang sama. Banyak perempuan yang tidak bisa bercerita, bahkan tidak tahu, bahwa dirinya sedang mengalami kekerasan. Banyak perempuan yang belajar tentang tafsir agama—bahwa laki-laki harus dipatuhi, laki-laki adalah pemimpin utama—sehingga mempengaruhi relasi dengan pasangannya. Hanya sedikit perempuan yang melaporkan kekerasan yang ia alami karena tidak tahu melapor ke mana atau bercerita kepada siapa. Juga anggapan bahwa kekerasan dalam rumah tangga adalah urusan ruang privat yang tak patut melibatkan orang lain. Banyak perempuan yang tidak berdaya dan hanya bisa menggantungkan harapan bahwa suatu saat suaminya akan berubah.

Data Rifka Annisa membuktikannya, 90 persen perempuan yang mengalami KDRT kembali kepada pasangannya dengan harapan pasangannya berubah. Kenapa ini bisa terjadi? Karena banyak perempuan yang bergantung secara emosional pada pasangannya. Anggapan bahwa laki-laki adalah pencari nafkah utama, juga mempengaruhi situasi ini. Karena perempuan tidak bekerja, ia tidak bisa hidup tanpa suaminya. Alasan lainnya adalah anak-anak. Ia tak rela anaknya diejek dan ditanya teman-temannya, “Bapakmu mana?” Selain itu, ia tak mau menjadi janda karena stigma negatif terhadap janda. Janda sering dianggap sebagai perempuan penggoda, perempuan yang gagal rumah tangganya. Ia memilih bersama pasangannya meskipun hidup dalam hubungan yang penuh kekerasan.

Berbeda dengan ibu Tukinah, ia mempunyai kesempatan untuk bekerja dan memperkuat ekonomi keluarga. Setelah beberapa kali terlibat dalam kegiatan Rifka Annisa, pandangannya tentang perempuan berubah. Saat ini ia menyadari bahwa perempuan tidak hanya mengurus pekerjaan rumah, ia juga bisa bekerja dan mencari uang untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Perempuan sama-sama punya kesempatan untuk mengembangkan diri. “Sebagai perempuan, saya tak mau direndahkan lagi,” tegasnya.

Seperti halnya ibu Tukinah, pak Maryanto juga selalu mengikuti diskusi, bahkan ia datang paling awal. Ia menyadari bahwa ia adalah pelaku kekerasan. Ia ingin mengubah perilaku tersebut sedikit demi sedikit. Kesadaran ini yang menyulut semangatnya untuk belajar dan tak pernah absen mengikuti kegiatan Rifka Annisa.

Awalnya, sebelum mengikuti diskusi, ia merasa tidak ada masalah dengan kekerasan yang ia lakukan. Hal itu wajar ketika terjadi konflik keluarga. Ia pun mempunyai pandangan bahwa sudah menjadi tugas istri untuk melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, menyapu, dan mengasuh anak. “Saya tidak pernah membantu istri di dapur,” paparnya, “Ketika istri berangkat bekerja atau sibuk dengan aktivitas di dapur, saya masih di tempat tidur.” Ia beranggapan tugas laki-laki hanya mencari uang.

Kini, ia mulai menyadari bahwa pekerjaan domestik tidak semata-mata tugas istri. “Itu merupakan pekerjaan bersama,” jelas pak Maryanto saat diskusi. Ia sekarang juga lebih dekat dengan anaknya. Kalau dulu ia lebih banyak menolak ketika istri memintanya untuk menjaga anak-anak, sekarang ia sering mengajak mereka bermain dan jalan-jalan. Ibu Tukinah mempertegas hal itu. “Bapaknya sekarang lebih dekat dengan anak-anak,” tegasnya.

Bagi Maryanto, kesadaran ini tidak datang dengan sendirinya. Banyak faktor yang membuat ia berubah, antara lain pasangan yang mau terbuka dan komunikasi yang lebih efektif. Sekarang mereka lebih sering mengkomunikasikan apa pun yang mereka rasakan, baik hal-hal yang disukai maupun tidak disukai pasangan. Ia merasa bahwa hubungan dengan pasangannya kini lebih dekat dan tumbuh rasa saling menghargai untuk membangun relasi yang sehat. Selain oleh pasangannya, Maryanto merasa bahwa perubahan ini juga didorong teman-teman Rifka Annisa, salah satunya Thonthowi selaku fasilitator diskusi kelas ayah di Desa Ngalang. Baginya, proses menyadari perilaku kekerasan berangkat dari proses refleksi yang dilakukan terus-menerus saat diskusi. Menurutnya, Thonthowi sangat berperan dalam proses perubahannya. Untuk mewujudkan itu mereka sama-sama membangun kepercayaan lagi. Meski agak berat bagi ibu Tukinah, ia melakukan ini demi anak-anaknya. Kisah keluarga ini menjadi pembelajaran bagi saya, bahwa seseorang belajar dari orang terdekatnya, belajar menjadi laki-laki dan perempuan dari keluarga, ayah-ibu, tetangga, dan masyarakat di sekitarnya. Akhirnya saya memahami, seseorang bisa menjadi korban sekaligus pelaku kekerasan. Proses ini tidak berdiri sendiri. Demikian yang terjadi pada pasangan Tukinah dan Maryanto, mereka memulai perubahan ini bersama, juga dengan teman, keluarga, dan lingkungan sekitar.


[1] Tradisi perayaan gugur gunung yang dilakukan setiap tahun.

[2] berdandan, memasak, beranak

[3] Kalau lagi marahan, kita beradu mulut

Selasa, 04 April 2017 15:21

IMG_9210.jpgIMG_9207.jpg

Pada tanggal 14-16 Maret 2017, Rifka Annisa menyelenggarakan pelatihan “Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak bagi Pendidik Sebaya” yang berlokasi di Omah nDeso, Desa Bleberan, Kabupaten Gunung Kidul. Peserta kegiatan ini berjumlah 32 orang siswa dan siswi kelas X yang berasal dari empat sekolah, yaitu SMKN 1 Wonosari, SMKN 1 Gedangsari, SMKN 1 Ngawen dan SMKN 1 Saptosari. Selama kegiatan ini berlangsung, para peserta pelatihan juga diberikan kesempatan untuk menginap di rumah penduduk sekitar sehingga memberikan pengalaman dan pembelajaran baru bagi mereka.

Pelatihan ini memiliki beberapa tujuan diantaranya meningkatkan pemahaman peserta tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak, meningkatkan kemampuan peserta dalam melakukan fasilitasi di kalangan teman sebayanya, serta meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta dalam merancang kegiatan sosialisasi dan kampanye dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak di kalangan teman sebayanya.

Kegiatan pelatihan ini mendapatkan dukungan dari berbagai pihak di Kabupaten Gunung Kidul. Hal ini dibuktikan dengan sambutan baik yang disampaikan Kepala Desa Bleberan, Supraptono, pada saat acara pembukaan pelatihan. Beliau menyampaikan apreasiasi yang tinggi terhadap Rifka Annisa atas inisiatifnya menyelenggarakan kegiatan ini. Acara ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Kabupaten Gunung Kidul secara umum, khususnya dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Tak lupa, beliau juga memberikan pesan dan motivasi bagi peserta pelatihan agar mengikuti pelatihan dengan maksimal. Selain dari Kepala Desa Bleberan, sambutan lain juga diberikan oleh perwakilan dari Rifka Annisa dan FPK2PA yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan dukungan atas terselenggaranya kegiatan ini.

Dalam kegiatan pelatihan ini, para peserta dibagi menjadi dua kelas yaitu kelas perempuan dan kelas laki-laki. Pemisahan kelas ini dilakukan karena materi yang disampaikan untuk laki-laki dan perempuan agak berbeda. Selain itu, faktor kenyamanan juga menjadi salah satu aspek penting mengapa kelas laki-laki dan perempuan dipisah mengingat isu kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah isu yang sensitif. Meksipun materi yang disampaikan sama-sama tentang isu kekerasan terhadap perempuan dan anak, namun pendekatan yang digunakan di tiap kelas berbeda mengingat masalah dan pengalaman yang dialami laki-laki dan perempuan berbeda.

Selama kegiatan ini berlangsung, para peserta terlihat begitu antusias dalam menjalani tiap sesi pelatihan. Hal ini tidak terlepas dari bantuan para fasilitator dari Rifka Annnisa yang berusaha memandu tiap sesi pelatihan dengan menarik dan menyenangkan, misalnya dengan menggunakan fasilitas video dan musik, bahkan bermain game bersama. Tak hanya itu, para peserta juga diajak untuk berefleksi tentang pengalaman dan lingkungan sekitarnya sehingga mereka menjadi lebih peka terhadap masalah-masalah yang mereka hadapi, khususnya masalah-masalah yang berkaitan dengan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Untuk menyiapkan mereka menjadi pendidik sebaya, para peserta pelatihan juga dibekali informasi tentang metode komunikasi efektif yang diharapkan dapat membantu mereka dalam merespon masalah-masalah yang diceritakan teman-teman sebayanya.

Secara umum, para peserta memberikan respon dan apresiasi positif selama kegiatan pelatihan ini berlangsung. Harapannya, pelatihan ini dapat membekali diri mereka untuk menjadi pendidik sebaya yang baik dan mampu memberikan informasi yang tepat bagi teman-teman sebayanya. Semoga dengan adanya kelompok pendidik sebaya ini dapat membantu upaya pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak, khususnya di Kabupaten Gunung Kidul. []

36206523
Today
This Week
This Month
Last Month
All
3010
40571
129395
181840
36206523