Layanan Konseling Online Di Masa Pandemi

Written by  Tuesday, 30 June 2020 22:54

“Safety, Respon Cepat, Efektif, dan Pemerataan Beban Kerja” merupakan prinsip yang dipegang oleh lembaga layanan Rifka Annisa selama masa pandemi ini. Perubahan yang terjadi secara mendadak pada akhir Maret lalu awalnya cukup membuat para konselor kewalahan, akan tetapi respon yang cepat dan adaptif dari para konselor membuat layanan konseling online ini banyak yang mengakses. “Kami cukup kaget karena di bulan pertama kami membuka keseluruhan layanan yang berbasis online jumlah pengakses mencapai sekitar 53 per harinya. Jumlah ini berbeda pada hari-hari biasanya kami membuka layanan di kantor yang hanya berjumlah 40 orang,” kata Indiah Wahyu Andari, Manajer Divisi Pendampingan Rifka Annisa. Dengan jumlah pengakses yang cukup banyak tersebut, skema akses layanan pun dirubah dengan dua pintu utama; layanan telepon dan layanan email. Layanan telepon sebagai hotline utama berfungsi menerima telepon masuk dari para pengakses yang kemudian dilanjutkan dengan melakukan assessment. Klien yang ingin mengakses layanan Rifka akan mendapatkan formulir dalam bentuk google form, dan hotline utama akan melanjutkan hasil pengisian data klien ini ke para konselor. Berpegang pada prinsip “Pemerataan Beban Kerja”, hotline utama juga memiliki tugas untuk memastikan konselor mendapatkan kasus secara berimbang. Sedangkan layanan email dikhususkan bagi klien yang berada di luar Yogyakarta. Menurut Indiah, sejak diberlakukannya layanan online tersebut, banyak pengakses yang ternyata datang dari luar kota. Hal ini kemudian disiasati dengan meminta klien untuk mengakses layanan email yang nantinya menjadi rujukan bagi klien mengakses lembaga layanan terdekat di daerahnya. Tantangan dan Hambatan Indiah mengakui bahwa layanan serba online ini ternyata cukup melelahkan ketimbang layanan bertatap muka. “Jika sudah selesai menerima klien, biasanya kami sesama konselor banyak ngobrol dan bercerita sebagai ajang katarsis. Tetapi Work From Home membuat kami para konselor harus pintar-pintar mencari katarsis atau pelampiasan stres walaupun tidak bisa bertatap muka secara langsung. Kami pun akhirnya setiap sabtu bertemu secara online hanya untuk sekedar bercerita dan berkeluh kesah,” kata Indiah. Selain itu, tantangan yang dihadapi adalah konselor perlu untuk selalu berbicara atau sekedar mengeluarkan suara. Hal ini karena rata-rata klien lebih nyaman bercerita melalui telepon atau chatting, sedangkan masih jarang klien yang memilih untuk melakukan panggilan video. Berbeda dengan konseling offline atau bertatap muka langsung, para konselor bisa menanggapi dengan gestur sebagai bentuk simpati, sedangkan di layanan daring klien tidak bisa melihat gerakan atau gestur yang ditunjukkan oleh konselor. Sedangkan, pengakses layanan konseling bagi laki-laki pada masa pandemi ini terbilang sedikit dibandingkan yang mengakses layanan offline terdahulu. Ada beberapa faktor yang kemungkinan membuat para laki-laki tidak nyaman mengakses layanan online, salah satunya adalah karena laki-laki tidak familiar dengan bahasa verbal dan lebih bisa mengutarakan melalui gestur. Hambatan pun hadir dalam layanan online ketika konselor berupaya melakukan sesi pemulihan bagi klien. Pemulihan yang memerlukan berbagai metode dan jangka waktu cukup panjang dirasa sangat terbatas jika hanya dilakukan tanpa bertatap muka langsung. Sehingga, menurut Indiah, layanan online ini lebih cocok jika tujuannya berupa psiko-edukasi bagi pengakses layanan, pemberian informasi-informasi dasar terkait layanan yang tersedia, pemberian konseling dasar, dan pendampingan hukum dan psikososial yang bekerjasama dengan jaringan layanan di DIY. “Skema layanan online ini sebetulnya bisa diterapkan terus untuk jangka waktu ke depan, karena cukup efisien bagi klien dan konselor untuk membuat jadwal konseling. Selain itu juga layanan seperti ini bisa menjangkau pengakses yang berusia muda dan dekat dengan teknologi,” tutup Indiah.

Read 67 times
35747770
Today
This Week
This Month
Last Month
All
4457
26220
78850
288398
35747770