Belajar Menepi, Belajar Peduli: Pengalaman Delapan Bulan Menjadi Relawan Laki-Laki Rifka Annisa WCC

Haiii!! Namaku Rafi. Aku seorang mahasiswa yang berkesempatan untuk menjadi relawan laki-laki
di Rifka Annisa WCC. Ada banyak hal yang aku dapatkan dari kegiatan relawan ini. Dan disini aku mau cerita tentang semua, iyaa semuanya, semua hal yang kulalui selama delapan bulan jadi relawan di women crisis center pertama di Indonesia!! Yuk baca ceritaku ini!!
Menjadi relawan di Rifka Annisa WCC merupakan sebuah pengalaman yang paling berkesan di hidupku. Setelah 21 tahun aku akhirnya membuat sebuah pilihan yang bukan keinginan orang tua ku atau keinginan orang lainnya, tetapi murni karena “aku mau”. Awalnya aku tidak percaya diri karena aku tidak punya banyak pengalaman di organisasi. Bahkan sempat hampir mundur sebelum mendaftar, karena keburu membandingkan diriku dengan bayangan relawan-relawan lain yang aku pikir pasti keren, ahli, dan penuh prestasi.
Tapi dengan modal nekat, doa, dan sedikit dorongan dari sahabat, aku akhirnya daftar. Alhamdulillah, aku lolos seleksi. Sampai hari ini, aku masih ingat perasaan campur aduk waktu menerima kabar itu, senang, kaget, sekaligus takut.
Pertama kali aku masuk ke Rifka Annisa aku deg-degan banget karena mayoritas staff di Rifka Annisa perempuan bahkan yang laki-laki bisa dihitung pake satu tangan. Sebagai laki-laki, aku takut salah bicara, takut terlalu dominan, takut melakukan mansplaining, takut tanpa sadar mengambil alih ruang aman yang selama ini diperjuangkan perempuan. Untungnya, kekhawatiranku perlahan mencair.

Ternyata staf-staf disini semuanya baik, baik banget malahan. Dan tidak hanya baik, mereka semua adalah orang-orang yang ahli pada bidangnya masing-masing. Disinilah awal aku belajar bukan hanya dari staf yang ada di Rifka Annisa tapi juga dari temen-temen relawan lainnya. Oiya, aku di program relawan ini barengan sama empat relawan lainnya. Semuanya perempuan dan juga lebih tua dari aku. Jujur awalnya minder banget karena aku merasa ini anak masih S1 bekerja dengan rekan-rekan yang mayoritas udah mau selesai menjalani S2.
Kegiatan relawan ini dimulai dengan pelatihan dasar terkait gender dan konseling feminis. Kita belajar hal-hal ini dengan kegiatan-kegiatan yang menarik dan tidak membosankan. Saat pelatihan aku dapet banyak ilmu dan perspektif baru terkait isu gender, konseling, dan feminisme. Aku juga jadi tau gimana cara menjelaskan hal-hal “ngawang” kaya relasi kuasa dan privilege dengan mudah ke orang-orang.
Walaupun di kampus aku juga belajar tentang isu gender dan feminisme tapi ternyata apa yang kutau selama ini masih sangat sedikit dan aku pun belum bisa dengan baik mengartikulasikan isi pikiran-ku dengan baik. Di pelatihan-pelatihan inilah aku belajar caranya ngomong yang penting bukan yang penting ngomong. Aku pun belajar gimana caranya decentering diriku dan tidak berusaha selalu mengambil spotlight di setiap pembicaraan dan pelatihan.
Aku mencoba untuk menahan diri untuk berbicara dan mempersilahkan dulu orang lain untuk berbicara. Selama aku pelatihan aku sering berpikir kalo aku nggak boleh terlalu dominan dan selalu mau menang sendiri. Aku sedikit demi sedikit mulai sadar kalo ruang perempuan untuk berbicara di sebuah forum itu sangat sedikit.
Bahkan terkadang perempuan harus bikin forum sendiri buat bisa ngomong apa yang mau mereka bicarakan. Makanya saat pelatihan aku sebisa mungkin menahan diri buat ngomong. Hasilnya apa? Pengetahuan ku jadi semakin luas, banyak hal baru yang aku dengar dari opini dan argumen yang disampaikan sama teman-teman relawan dan pemateri. Seingetku proses pelatihan ini berjalan cukup panjang yaitu empat bulan atau setengah masa relawan. Tapi selama pelatihan kita tetap dapat tugas sesuai divisi yang kita pilih. Oiya, aku bergabung di divisi manajemen pengetahuan dan media.
bacaan jika kamu ingin terlibat sebagai relawan
Nah, tadi aku sudah bercerita soal masa pelatihan. Sekarang aku mau cerita juga apa aja sih yang aku kerjakan selama di divisi manajemen pengetahuan dan media. Tugasku mengolah pengetahuan yang dimiliki Rifka Annisa menjadi konten media sosial. Dan disinilah tantangan baru muncul: aku benar-benar mulai dari nol. Nol pengalaman desain. Nol pengalaman bikin konten rutin. Bahkan baru belajar Canva. Sebelum-sebelumnya aku pernah si bikin konten tipis-tipis tapi bukan yang setiap minggu, well research, dan well design. Awalnya kagok, canggung, dan sering ragu. Tapi pelan-pelan, dengan bimbingan staf lain, aku belajar. Dari bikin konten sederhana, sampai akhirnya berani bikin ilustrasi vektor wajah staf, bahkan komik kecil-kecilan.
Lucunya, mimpi kecilku waktu kecil ingin bikin komik justru terwujud di tempat yang sama sekali tak pernah aku bayangkan sebelumnya, sebuah women crisis center. Kalian pembaca semua kalo misalnya kepo aku udah bikin konten dan komik apa aja gaskan cek ig @rifkaannisa_wcc (uhuyy promo dikit boleh kali hehew :3).
Dan tentu saja, ada satu hal ikonik di Rifka Annisa yang mustahil dilewatkan “makan siang” hasil karya tangan ajaib dan penuh kasih dari Mak Umi. Setiap siang, semua lebur di ruang makan. Tak ada sekat jabatan, divisi, atau status, semua gayeng disini bercanda ria sambil menyantap masakan spesial buatan Mak Umi. Ada tawa, cerita, dan masakan rumahan yang hangat. Mak Umi, menteri ketahanan pangan versi Rifka Annisa, alias ibu kita bersama yang tidak akan membiarkan kita kelaparan. Bahan makanannya sederhana jari jemari Mak Umi bisa menyulap apa saja jadi hidangan yang bikin ngiler banget. Aku dulu tidak pernah terpikir dan tidak tahu kalau pepaya muda itu itu bisa jadi sayur yang uenak poll. Momen makan siang ini bikin kami relawan-relawan yang masih imut-imut, bisa bergaul dan merasakan kehangatan Rifka Annisa.
Delapan bulan ini tentu tidak selalu mudah. Ada lelah, ada resah, terutama melihat kebijakan negara yang seringkali abai, bahkan lebih fatal, merugikan perempuan. Tapi justru di sinilah aku semakin sadar sebagai laki-laki, aku punya privilege. Dan privilege itu bukan untuk dinikmati diam-diam, tapi untuk digunakan dengan penuh tanggung jawab.
Sistem patriarki ini memberi aku privilege yang lebih dari temen-teman perempuan. Oleh karenanya aku pun harus ikut serta dalam usaha-usaha penghapusan kekerasan berbasis gender dan membangun dunia tanpa patriarki dan tanpa kelas.
Perjalanan panjang menjadi relawan Rifka Annisa ini adalah pengalaman yang sangat berharga sekaligus menjadi pondasi awal yang kuat untuk terus memperjuangkan hal ini.
Terimakasih Rifka Annisa,
Semoga semakin banyak orang berani melangkah, belajar, dan ikut memperjuangkan dunia yang adil gender!!
Penulis : Rafi Kusuma D.
Editor : Firda Ainun U.

