Di beberapa bagian di dunia, muncul kesadaran bahwa untuk dapat memutus siklus kekerasan, laki-laki juga perlu menjadi target dalam intervensi berbasis gender. banyak perempuan, baik penyintas KDRT maupun yang memberikan layanan, menyadari bahwa KDRT tidak akan dapat dihapuskan bila intervensi hanya difokuskan pada perempuan.
Program Konseling bagi laki-laki merupakan puncak dari kemitraan kolaboratif antara the Mosaic, Training, Service and Healing Centre for women di Cape Town, Afrika Selatan, Rifka Annisa di Yogyakarta dan Cahaya Perempuan WCC di Bengkulu, Indonesia. Ketiga organisasi perempuan ini telah beberapa tahun bekerja dengan laki-laki untuk menghentikan KDRT.
Pada tahun 2007, RutgersWPF, LSM Belanda yang mempromosikan hak-hak seksual dan kesehatan reproduksi (SRHR), berbasis di Belanda, dengan kantor perwakilan di Indonesia, mengidentifikasi dengan organisasi-organisasi mitranya, fokus kerja bersama tentang konseling laki-laki dalam konteks relasi intim, yang kemudian kerjasama ini menghasilkan Program Konseling untuk Laki-laki
Program Konseling untuk Laki-laki bertujuan melakukan konseling pada laki-laki yang melakukan KDRT, mendampingi mereka untuk dapat menghentikan kekerasan dan menghormati pasangan. Program ini sulit dilakukan bila tidak ada perubahan dalam norma, budaya, dan sosial dalam masyarakat. Karenanya konseling tersebut dikaitkan dengan satu set program yang bertujuan melakukan perubahan sosial dalam masyarakat, seperti aktivitas turun ke komunitas, kampanye, advokasi, dan program media. Fokus dari rangkaian program ini adalah agar laki-laki dapat berhenti melakukan kekerasan, melihat kembali maskulinitas, dan isu seksualitas serta kesehatan reproduksi laki-laki
Perangkat Konseling untuk Laki-laki terdiri dari Panduan Fasilitator (untuk melatih konselor mengembangkan pengetahuan, ketrampilan, dan teknik-teknik yang diperlukan untuk intervensi individual), Buku Kerja Konselor (membekali konselor dengan teori yang diperlukan dalam melaksanakan sesi-sesi konseling, termasuk pemantauan, dan evaluasi), dan Panduan Konseling (sebagai pedoman bagi konselor melaksankan sesi-sesi konseling)
Sejauh ini, Perangkat Konseling merupakan hasil dari fase kegiatan uji coba. Jaminan kualitas eksternal dari buku panduan ini dilakukan, dan rekomendasi dari beberapa pihak yang telah diintegrasikan dalam versi final. Dengan keterbatasan pengujian di lapangan dan evaluasi finalnya, perangkat ini merupakan hasil dari program uji coba di Indonesia dan Afrika Selatan. Hanya bila program ini telah secara foemal dievaluasi di kedua negara, dan melalui hasil pemantauan yang berkelanjutan, maka Program Konseling untuk Laki-laki ini akan dapat ditampilkan sebagai perangkat dengan pembelajaran terbaik



