Berita

Kunjungan Perdana UiTM ke Rifka Annisa WCC: Media Sosial, Kesehatan Mental, dan Strategi Advokasi di Era Digital

Kunjungan

 

Rifka Annisa Women’s Crisis Center (WCC) menerima kunjungan akademik dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) pada Jumat, 30 Januari 2026, dalam rangka mendiskusikan keterkaitan antara media sosial dan kesehatan mental di era digital. Kunjungan ini menghadirkan Dr. Wan Norbani Wan Noordin dan YM Assoc. Prof. Dr. Tengku Elena Tengku Mahamad dari Fakultas Communication and Media Studies UiTM, serta didampingi oleh rekan-rekan dosen dari Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta.

Agenda kunjungan diawali dengan pemaparan materi yang membahas perubahan perilaku masyarakat akibat pesatnya perkembangan teknologi komunikasi, kemudian dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) bersama tim Rifka Annisa WCC.

Kunjungan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk menjawab tantangan perubahan perilaku manusia akibat pesatnya perkembangan teknologi, termasuk cara individu mencari pertolongan terkait kesehatan mental. Jika sebelumnya masyarakat mengandalkan figur profesional, siaran televisi, atau laman web resmi, kini media sosial dan aplikasi pesan instan menjadi rujukan utama—terutama bagi Generasi digital native. Media sosial tidak lagi sekadar ruang interaksi, tetapi juga menjadi medium utama dalam mencari bantuan, validasi pengalaman, dan informasi psikologis.

Dr. Wan dan Dr. Elena secara khusus menyoroti fenomena penggunaan TikTok dan kaitannya dengan isu kesehatan mental.

Media sosial, menurut keduanya, ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, platform digital memudahkan akses informasi dan membuka ruang advokasi yang luas. Namun di sisi lain, praktik doom scrolling—kebiasaan menelusuri konten secara terus-menerus tanpa tujuan yang jelas, dapat memicu kecemasan, stres, hingga depresi.

Paradoks ini menegaskan pentingnya literasi digital serta kesadaran dalam memproduksi dan mengonsumsi konten. Media sosial dapat menjadi ruang pemberdayaan, tetapi juga berpotensi memperparah kerentanan psikologis jika tidak digunakan secara bijak.

Di sesi tanya jawab, terdapat salah satu pertanyaan mengenai cara mengendalikan diri agar tidak doom scrolling, terutama bagi anak. Dr. Wan dan Dr. Elena menegaskan pentingnya aturan-aturan yang disepakati antara anak dan orang tua. Orang tua juga dapat memanfaatkan fitur parental control dan mengatur batasan usia aplikasi pada gawai. Tidak lupa juga untuk membiasakan anak agar terbuka pada orang tua terkait aktivitasnya di sosial media sebagai bentuk pengawasan.

FGD yang menjadi penutup kunjungan difokuskan pada praktik advokasi yang telah dilakukan Rifka Annisa WCC melalui media sosial. Diskusi menunjukkan bahwa advokasi digital telah dijalankan secara konsisten sebagai bagian dari strategi pencegahan dan penanganan kekerasan berbasis gender. Media sosial dimanfaatkan sebagai sarana edukasi publik, kampanye kesadaran, serta jembatan awal bagi korban untuk mencari pertolongan.

Baca Juga : Pembentukan Forum PPA Merauke

Kunjungan ini tidak hanya memperkaya perspektif akademik dan praktik lapangan, tetapi juga membuka peluang kolaborasi lintas negara dalam mengembangkan strategi advokasi digital yang lebih responsif terhadap tantangan kesehatan mental di era teknologi. Baik UiTM maupun Rifka Annisa WCC menyatakan optimisme untuk menjajaki kerja sama di masa mendatang.

Penulis : Arka Nareswari
Editor : Firda Ainun Ula