Berita

Merawat Perjuangan dalam Rangka HAKTP 2025: Stop Kekerasan, Kembalikan Ruang Aman

Setiap tahun, 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) hadir sebagai pengingat bahwa kekerasan bukan sekadar peristiwa, melainkan persoalan struktural yang terus hidup di sekitar kita. Ia bisa hadir di rumah, kampus, tempat kerja, bahkan di ruang-ruang yang selama ini kita anggap aman. Karena itulah, memperingati HAKtP bukan hanya soal agenda tahunan, melainkan tentang bagaimana kita merawat perjuangan agar tidak padam.

Dalam semangat itulah, Rifka Annisa menyelenggarakan rangkaian kegiatan HAKtP 2025 yang berlangsung pada 22 November hingga 10 Desember 2025 di Yogyakarta. Tahun ini, HAKTP dimaknai sebagai ruang untuk berhenti sejenak, saling menguatkan, dan kembali menyadari bahwa perjuangan melawan kekerasan terhadap perempuan tidak mungkin dijalankan sendirian.

Baca juga : HAKTP 2025 

Mengusung tema “Empower Each Other”, Rifka Annisa mengajak setiap individu untuk saling memberdayakan. Tema ini menjadi penegasan bahwa ruang aman tidak tercipta secara instan atau turun dari langit, melainkan dibangun dari relasi yang setara, kesadaran kolektif, dan keberanian untuk peduli.

Seluruh rangkaian kegiatan HAKTP 2025 diselenggarakan secara luring dan dirancang inklusif, ramah, serta terbuka bagi berbagai latar belakang. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi Goes to Campus, Baca Buku Bareng, Empowering Art Therapy, dan Empowering Yoga. Setiap agenda menghadirkan fasilitator perempuan yang profesional di bidangnya, sekaligus menggandeng berbagai media partner di Yogyakarta seperti The Avo Technology, Herbaria, Ren Florist, Akkar Juice Bar, dan Pemimpi Studio, sebuah kolaborasi yang memperlihatkan bahwa perjuangan ini bisa dirawat bersama, lintas ruang dan peran.

Rangkaian HAKTP dibuka dengan Goes to Campus, sebuah upaya untuk membawa diskusi kekerasan berbasis gender lebih dekat ke ruang akademik. Bersama komunitas Lingkar Seroja dari UIN Sunan Kalijaga, peserta diajak memahami akar persoalan kekerasan berbasis gender, khususnya yang terjadi di lingkungan kampus. Diskusi ini menjadi pengingat bahwa kampus, yang kerap dipandang sebagai ruang intelektual, tetap menyimpan relasi kuasa yang perlu dikritisi dan diubah.

Agenda kedua, Baca Buku Bareng, melibatkan masyarakat umum untuk berkumpul, membaca, dan berdiskusi tentang buku-buku bertema kesetaraan gender dan perempuan berdaya. Kegiatan ini berkolaborasi dengan Membaca Melawan, Bawa Buku, dan Akal Buku. Membaca tidak diposisikan sebagai aktivitas individual, melainkan sebagai praktik bersama untuk membuka perspektif, menumbuhkan empati, dan menyadari bahwa pengalaman gender setiap orang tidak pernah sepenuhnya sama.

Setelah itu, peserta diajak masuk ke ruang yang lebih personal melalui Empowering Art Therapy. Dalam kegiatan ini, peserta diberi ruang aman untuk berbagi, refleksi, dan perlahan menyentuh luka-luka yang mungkin selama ini dipendam. Melalui pembuatan zine dan bookmark yang dipandu oleh psikolog Rifka Annisa.

Rangkaian HAKtP 2025 kemudian ditutup dengan Empowering Yoga, yang dilaksanakan di Yoga Corner. Yoga menjadi medium untuk kembali ke tubuh—menenangkan pikiran, menguatkan raga, dan menyadari bahwa tubuh perempuan bukan objek yang bisa dikontrol atau disakiti, melainkan ruang hidup yang layak dirawat dan dihormati.

Di setiap kegiatan, Rifka Annisa juga mengajak peserta untuk menuliskan quotes, pesan, atau surat yang berkaitan dengan HAKTP. Tulisan-tulisan ini berisi refleksi personal, pesan solidaritas, hingga dukungan bagi para penyintas kekerasan dan perempuan lainnya. Kata-kata tersebut menjadi penanda bahwa perjuangan ini tidak sunyi, tidak dijalani sendiri.

Beberapa pesan yang tertulis di antaranya:

“Kekerasan bukan soal pelaku dan korban, tapi soal budaya yang harus kita ubah bareng-bareng.”

“Dari refleksi ini, muncul pemahaman bahwa pengalaman gender itu nggak selalu sama.”

Peringatan HAKTP 2025 ini diharapkan tidak berhenti sebagai rangkaian acara, melainkan menjadi pemantik untuk terus merawat solidaritas dan kolaborasi. Sebab perjuangan menghapus kekerasan terhadap perempuan adalah perjalanan panjang dan perjalanan panjang hanya bisa ditempuh jika kita saling menguatkan.

Ruang aman, pada akhirnya, tidak selalu tentang tempat. Ia dimulai dari sikap, dari cara kita mendengar, dan dari keberanian untuk berdiri bersama mereka yang selama ini disisihkan. Dan HAKTP 2025 mengingatkan kita bahwa perjuangan ini akan terasa lebih ringan ketika dijalani bersama- bersama, untuk saling merawat, melawan dan memberdayakan!

Penulis : Arka Nareswari

Editor : Firda Ainun Ula