Jumat, 22 Jun 2018 14:04

Ganti-ganti Pasangan Karena Dendam

Setiap perempuan yang menjadi korban kekerasan tidak selalu sama dalam merespons kekerasan yang dialami.

Adakalanya kekerasan menjadikan perempuan terpuruk dan menderita, namun adakalanya menjadikan perempuan memilih cara lain, seperti melampiaskan dendam kepada laki-laki dengan cara menggauli setiap laki-laki yang dia sukai untuk kemudian meninggalkannya. Namun, semuanya tetap menjadikan perempuan menderita, seperti penuturan De di bawah ini.

"SAYA seorang perempuan dengan usia seperempat abad lebih, bekerja sebagai karyawan swasta dan berstatus lajang. Saya sadar saya termasuk perempuan dengan penampilan menarik, supel, dalam pekerjaan pun karier saya mantap. Oleh karena itu, teman saya banyak, terutama laki-laki. Bahkan, saya berpacaran dengan mereka. Rifka, saya juga seorang "pelacur". Setidaknya begitulah yang pernah dikatakan seorang perempuan yang suaminya berselingkuh dengan saya. Kalau dipikir-pikir, mungkin benar juga, mengingat entah sudah berapa laki-laki yang pernah tidur dengan saya. Hanya bedanya, saya tidak minta dibayar, tetapi karena dilakukan suka sama suka. Dulu, sama sekali saya tidak punya pikiran akan menjadi seperti ini. Awalnya, beberapa tahun lalu saya berpacaran dengan seorang laki-laki yang begitu saya cintai sehingga saya rela menyerahkan segalanya. Ternyata laki-laki itu mengkhianati saya. Dia meninggalkan saya dan berpacaran dengan perempuan lain. Rasanya begitu menyakitkan sehingga membuat saya ingin sekali membalas apa yang telah dia lakukan terhadap saya. Sejak itu saya mudah berhubungan dengan laki-laki mana pun yang saya sukai dan sebentar kemudian saya tinggalkan untuk beralih pada yang lain. Saya tidak peduli apakah mereka akan patah hati atau sakit hati. Salah satu di antara laki-laki itu ternyata benar-benar mencintai saya, bahkan ingin menikah. Ketika saya ceritakan siapa saya sebenarnya dan bagaimana kelakuan saya, dia mau menerima asal saya mau berubah. Bahkan, saat ini kami sedang merencanakan pernikahan. Masalahnya, saat ini saya juga berhubungan dengan seorang laki-laki yang sudah beristri. Dengan dia (sebut saja X), saya memiliki pengalaman yang betul-betul berbeda. Hanya dengan dia saya benar-benar mendapatkan kepuasan saat berhubungan badan. Entah, mungkin karena dia sudah lama berumah tangga sehingga lebih berpengalaman. Saya merasa jatuh cinta kepadanya. Sehari saja tidak bertemu, rasanya saya gelisah terus. Tetapi, sejak istrinya mengetahui hubungan kami, X mulai menghindar sehingga membuat saya sering uring-uringan. Dia bahkan menginginkan untuk putus hubungan, padahal dulu dia mengatakan akan bercerai dari istrinya karena perkawinannya bermasalah. Terus terang saya marah melihat sikapnya yang begitu pengecut. Pada awalnya saya hanya ingin berhubungan tanpa komitmen dengan X. Tetapi, karena saya akhirnya benar-benar jatuh cinta, terus terang saya menjadi punya harapan untuk dapat hidup bersama X. Rifka, saya betul-betul bingung, marah, tidak tahu mesti bagaimana. Tolong kasih saya masukan. Perlu Rifka ketahui, saya menyadari apa yang saya lakukan selama ini adalah salah. Dalam hati kecil saya sebenarnya ingin berubah, tetapi saya bingung dan tidak yakin dengan diri sendiri. Terima kasih sebelumnya." (De di Kota J)

Jawab:

Ketika kami menulis di rubrik ini pada edisi Agustus 2003, ada salah satu tanggapan melalui surat elektronik dari seorang pembaca laki-laki yang secara terus terang membeberkan pengalamannya berhubungan bebas dengan beberapa perempuan dalam kurun waktu tertentu di luar perkawinannya. Tetapi, pada akhirnya dia memutuskan untuk menghentikan "petualangannya" karena tersentuh oleh kebaikan sang istri yang mau memaafkan dan menerimanya kembali. Selanjutnya, laki-laki itu justru menjadi "konselor" bagi rekan-rekannya yang masih terjebak pada masalah serupa untuk dapat keluar dari masalah tersebut.

Kasus Anda dapat dikatakan serupa, tetapi tidak sama dengan apa yang dialami laki-laki tersebut. Dia mengawalinya untuk mendapat kesenangan, tetapi Anda mengawali karena semangat balas dendam (yang mungkin tidak Anda sadari). Meskipun begitu, hati kita akan bertanya, sesungguhnya apakah mantan pacar yang telah membuat Anda sakit itu merasakan pembalasan Anda? Atau, adakah hubungan antara mantan pacar yang berkhianat itu dan para laki-laki yang berhubungan dengan Anda selama ini? Tentu Anda tahu jawabannya bukan?

Saudari De, apa yang terjadi pada Anda merupakan salah satu contoh dinamika psikologis dari perempuan korban kekerasan, mengingat Anda menyadari perubahan perilaku Anda terjadi setelah pacar Anda mengkhianati Anda. Dalam kasus Anda, kami menggolongkan sebagai kekerasan dalam pacaran.

Sekilas banyak orang sulit menerima apa yang dilakukan pacar Anda sebagai bentuk kekerasan, tetapi bila melihat pola hubungan pacaran yang menempatkan laki-laki sebagai subyek dan pasangan perempuan sebagai obyek, maka akan tampak bahwa sering kali pasangan perempuan tidak memiliki pilihan, kecuali menuruti keinginan pasangan laki-laki, entah karena bujuk rayu atau janji menikahi. Bujuk rayu dan janji-janji adalah manifestasi dari pemaksaan (psikis) dan pemaksaan adalah salah satu bentuk kekerasan.

Kasus Anda dapat dijadikan cermin bagi Anda sendiri maupun perempuan lain yang memiliki kasus serupa, juga pembaca pada umumnya. Bahwa kekerasan terhadap perempuan selain menimbulkan dampak bagi perempuan itu sendiri juga sangat mungkin berimbas kepada orang lain.

Saudari De, bila kita tengok ke belakang, cara Anda beradaptasi dengan kekecewaan yang mendalam itu adalah dengan menggeneralisasi subyek penyebab masalah. Maksudnya, Anda telah dikhianati laki-laki, maka kemudian Anda memperlakukan semua laki-laki secara tidak baik.

Anda, sebagai perempuan, mengambil peran bahwa Anda juga dapat berlaku sebagaimana seorang laki-laki yang dapat dengan mudah mencampakkan perempuan. Situasi ini kemudian Anda sadari belakangan bahwa ternyata semua itu tiada berujung pada penyelesaian persoalan yang membuat "hati Anda tenteram", melainkan justru semakin memperburuk hidup Anda.

Kalaupun saat ini Anda mulai menyadari dan diikuti penyesalan, itu indikasi yang bagus karena berarti Anda sudah memiliki modal untuk berubah. Nah, bagaimana mewujudkan perubahan itu, barangkali pertimbangan berikut ini dapat Anda pikirkan:

Pertama, cobalah kenali lagi diri dengan menggali kapasitas positif dan negatif Anda. Jika perlu, mintalah bantuan orang lain atau profesional untuk mendorong dan memberi pertimbangan. Dengan mengetahui potensi diri, kita akan memiliki rasa percaya diri dan berani menghadapi masa depan.

Kedua, jangan takut untuk "membongkar" kebiasaan Anda selama ini. Kemungkinan Anda akan mengalami gejolak emosi seperti ragu dan takut karena keluar dari kebiasaan membuat seseorang tidak nyaman. Tetapi, yakinilah bahwa situasi ini akan membawa Anda pada situasi baru yang lebih baik.

Coba Anda pertimbangkan seperti apa dampak psikologis, sosial, hukum, juga kesehatan (reproduksi) bagi diri Anda sendiri jika kebiasaan tersebut tetap dipertahankan. Anda juga dapat mengkajinya secara spiritual, apa sesungguhnya yang Anda cari dalam hidup ini.

Ketiga, coba gunakan kontak sosial Anda untuk membangun komunikasi baru yang dapat mendukung perubahan Anda. Putuskan hubungan dengan komunitas atau pribadi-pribadi yang memungkinkan Anda tetap berada dalam gaya hidup seperti yang sekarang ini. Fokuskanlah saat ini guna menerapi diri sendiri untuk menjadi sosok yang baru, yang konstruktif dan produktif.

Keempat, ketika Anda sudah mulai menjadi "orang baru", Anda dapat mengenali berbagai peran dan tingkah laku yang baru serta menghayatinya. Pada tahap ini, Anda akan merasakan sensasi baru tentang bagaimana menjadi pribadi yang lebih konstruktif dan produktif dari sebelumnya, sebagaimana yang Anda inginkan. Tidak ada lagi kecemasan serta kemarahan yang membelenggu seperti yang sudah-sudah sehingga Anda dapat menikmati hidup dengan lebih nyaman dan tenteram.

Nah, Mbak De, ingatlah bahwa yang Anda butuhkan adalah semangat dan keberanian untuk berubah. Kami yakin Anda mampu! Selamat menjalani proses untuk menjadi sosok baru.

 

Kompas, 16 Februari 2004

Jumat, 22 Jun 2018 13:58

Menghadapi Korban Inses

Salam Ibu Pengurus Rifka Annisa, saya ingin membagi kesedihan yang saat ini saya alami karena tidak tahu lagi harus bicara dengan siapa. Mengadukan hal ini kepada keluarga besar saya adalah hal yang mustahil. Bukannya dukungan yang saya dapatkan, paling banter hanya omelan dan cemoohan karena saya dianggap tidak mampu mendidik anak dan suami.

Ibu yang baik, saya adalah ibu dari tiga anak yang sedang menginjak remaja. Saat ini saya menikah untuk kedua kalinya dengan seorang duda tanpa anak. Pernikahan kedua saya ini telah berlangsung tiga tahun. Pada awalnya saya merasakan kebahagiaan tiada tara karena melihat suami dan anak saya hidup rukun dan bahkan sangat akrab. Dari ketiga anak saya, yang nomor dua, M, adalah yang paling dekat dengan bapak tirinya. Mereka sering berangkat bareng. Tak jarang suami saya menjemput M di sekolahnya. Bagi saya, suami saya adalah bapak tiri yang sangat sempurna untuk anak-anak saya.

Namun, saya bagai disambar geledek di siang bolong saat bulan lalu anak saya menghilang. Beberapa hari sebelum hilangnya M, kebetulan saya bertengkar hebat dengan M. Saya mencurigai dia tengah hamil. Dia mengelak tuduhan saya dan malah menuduh saya tidak lagi sayang kepada dia. Menghilangnya dia menguatkan dugaan saya. Sungguh Bu, saya kira semula yang melakukannya adalah teman sekolahnya. Ternyata yang melakukan perbuatan bejat itu tak lain adalah suami saya. Saya langsung lemas dan rasanya seperti gila. Saya mengetahuinya dari M sendiri yang beberapa hari lalu memutuskan kembali ke rumah. Suami saya sendiri saat ini menghilang.

Bu, saya bingung apa yang mesti saya lakukan saat suami saya kembali nanti. Saya tidak ingin menerima kembali lagi dia di dalam rumah kami. Tetapi, kalau dia menggugat haknya sebagai suami dan ayah bagaimana? Tambah pusing lagi karena M bersikap sebaliknya. Dia berharap ayah tirinya bisa kembali ke rumah dan apa yang dilakukan ayah tirinya sama sekali tidak menyakitinya. Mohon bantuan betul Bu karena saya rasanya stres dengan masalah ini. Terima kasih.

(Ibu R)

Jawaban:

Ibu R, kami turut prihatin dengan masalah yang sedang Ibu hadapi. Terima kasih atas kepercayaan Ibu dan semoga kami bisa menjadi kawan dalam memecahkan masalah ini.

Kami tahu bagaimana perasaan Ibu saat ini, namun kami harap Ibu tetap tabah dan dapat berpikir jernih di dalam memecahkan masalah ini.

Masalah yang Ibu hadapi adalah masalah kekerasan dalam rumah tangga di mana korbannya biasanya tidak selalu tunggal. Dalam kasus ini tidak hanya M yang menjadi korban, namun Ibu juga adalah salah satu korbannya. Tetapi, barangkali masalah M saat ini menjadi prioritas mengingat M telah mengalami apa yang disebut dengan inses.

Ibu R, inses adalah hubungan seksual yang dilakukan ayah kandung, ayah tiri, kakek, paman, saudara laki-laki, atau laki-laki lain di dalam keluarga yang tidak memiliki hubungan darah, namun telah diterima dan dipercaya sepenuhnya oleh keluarga.

Pelaku biasanya mempunyai posisi lebih tinggi dan dominan dari korban, namun dipercaya korban. Tak jarang pelaku adalah orang yang disayangi dan dijadikan panutan korban sehingga dalam beberapa kasus, korban cenderung menyerah terhadap inisiatif seksual mereka tanpa melawan.

Dalam kasus lainnya, korban inses merasa takut kepada pelaku karena ia adalah orang yang punya pengaruh penting dalam keluarga, misalnya, sebagai tulang punggung keluarga atau figur yang menjamin keamanan keluarga. Kadang inses juga terjadi dengan menggunakan cara-cara pemaksaan atau ancaman dan tekanan seperti menakut-nakuti, namun bisa juga menggunakan bujukan dengan imbalan tertentu.

Dalam rentang kasus kekerasan seksual, inses ini menempati urutan tertinggi dalam hal dampak yang ditimbulkan pada korban karena biasanya terjadi tindakan seksual yang dilakukan terjadi secara berulang dan dapat berlangsung dalam waktu lama (bertahun-tahun).

Ibu mungkin bingung menghadapi sikap anak Ibu. M terkesan "baik- baik" saja, bahkan mengharap ayahnya pulang dan tidak ada keberatan atas apa yang dialaminya. Berdasarkan pengalaman kami di Rifka Annisa dalam mendampingi korban kasus-kasus inses, ini menunjukkan beberapa hal penting.

Pertama, sikap yang ditunjukkan M adalah salah satu efek dari inses yang dialaminya. Apabila anak merasa terlalu sakit atau tekanan emosinya sangat kuat, anak-anak berusaha mengingkari perasaan sakit tersebut (denial). M melakukan hal tersebut sebagai suatu bentuk mekanisme pertahanan dirinya setelah peristiwa yang menyakitinya.

Kedua, kasus inses terjadi karena pelaku (ayah tiri M) lihai memanipulasi M melalui paksaan, ancaman, bujukan, atau penyuapan. Kondisi M yang belum matang secara kognisi, emosi, maupun seksual dimanfaatkan untuk melaksanakan niatnya. Orang dewasa tidak seharusnya melakukan hubungan seksual dengan anak meskipun anak itu sendiri yang menghendakinya. Dalam hal ini, persetujuan anak tidak berlaku.

Inilah yang disebut sebagai statutory rape. Karena bagaimanapun anak belum cukup matang dalam mengambil keputusan semacam ini, maka tanggung jawab untuk mengendalikan agar anak terhindar dari perbuatan tersebut ada pada orang dewasa dan bukannya justru memanfaatkan keluguan anak dalam hal seksualitas itu. Dengan demikian, dalam kasus ini sesungguhnya M tidak bersalah dan ayah tiri M-lah yang bertanggung jawab sepenuhnya atas peristiwa ini.

Ketiga, beberapa  korban inses tidak menunjukkan adanya gangguan kejiwaan serius setelah sekian lama mengalami peristiwa itu, namun sangat mungkin mereka mengalami penundaan atas kemunculan gejala itu. Artinya, gejala kejiwaan serius baru muncul setelah mereka dewasa.

Sayangnya Ibu tidak memberitahukan berapa usia M. Tetapi, merujuk pada banyak studi tentang inses dan pengalaman kami sendiri, bisa jadi M belum merasakan dampaknya saat ini karena belum cukup sadar dan tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Meski demikian, Ibu harus mendukung M untuk mempersiapkan diri apabila hal itu terjadi.

Berkaitan dengan suami Ibu, apa yang dilakukannya telah melanggar Pasal 81 Undang-Undang Perlindungan Anak tentang tindakan pemaksaan melakukan persetubuhan dengan anak. Suami Ibu diancam dengan pidana maksimal 15 tahun penjara. Perbuatan suami Ibu juga melanggar Pasal 294 KUHP tentang Pencabulan serta Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Pasal 46,47, dan 48. Ibu dapat melaporkan kepada polisi untuk kemudian memprosesnya.

Ibu R, yang dibutuhkan M saat ini adalah dukungan dan perhatian Ibu. Coba Ibu fokuskan diri pada kebutuhan-kebutuhan M, agar stres yang Ibu alami berkurang. Karena anak tidak bisa memutuskan sendiri atas kekerasan yang dialaminya, maka tidak cukup bagi kita dengan hanya mendengarkan cerita mereka. Kewajiban kita untuk belajar, memberi perhatian, dan mengatakan sesuatu untuk memberi dukungan kepada anak kita. Jika Ibu merasa kesulitan, banyak layanan dari beberapa lembaga yang menyediakan bantuan konseling bagi anak korban kekerasan seksual. Jika domisili Ibu adalah di Jogja, Ibu dapat menghubungi Rifka Annisa.

Demikian jawaban kami, jika ingin berkonsultasi lebih lanjut, dapat datang langsung ke kantor kami di Jln. Jambon IV Kompleks Jatimulyo Indah Yogyakarta, atau via telepon di (0274) 553333 dan hotline 085100431298 / 085799057765, serta email Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya..

 

Harian Jogja, 9 Juni 2018

Rabu, 23 Mei 2018 08:48

Mereka Menganggap Saya Sok Suci

Sudah jatuh tertimpa tangga, ungkapan ini sering kali sangat tepat menggambarkan situasi perempuan korban kekerasan. Mereka adalah korban, tetapi mereka justru dipersalahkan. Apa yang dituturkan K adalah gambaran situasi itu.

Kasus:

"Rifka Annisa yang terhormat,

Saya, K, seorang mahasiswi di sebuah PTS di Kota B. Saya juga aktif di kegiatan kemahasiswaan di kampus, namun sejak setahun terakhir saya menjadi enggan terlibat di dalamnya. Saya mengalami rentetan kejadian tidak menyenangkan dengan salah satu fungsionaris organisasi tersebut.

Salah satu fungsionaris, yang juga dulu saya anggap sebagai sahabat, ternyata tidak lebih dari seorang manusia yang tidak menghargai temannya, dia melecehkan saya. Pertama kali dia lakukan di kantor organisasi kami. Jangankan lapor ke polisi, untuk bercerita dengan teman saja saya tidak berani, saya sangat malu dan terhina. Namun, lebih dari itu, saya tidak ingin mempermalukan nama organisasi kami (terlebih lagi kami dari organisasi keagamaan). Saya hanya mampu menangis, menasihati dia untuk tidak mengulanginya dan berdoa kepada Tuhan untuk menyadarkannya.

Ternyata doa saya tidak terkabul, dia kembali mengulangi perbuatannya selama satu tahun. Selama satu tahun itu pula saya hanya dapat menahan tangis dan marah saya. Saya juga takut dengan ancamannya yang akan mengatakan kepada semua teman bahwa kami telah melakukan hubungan seksual, yang sebenarnya fitnah belaka. Saya merasa sangat kotor karena telah membiarkan orang menyentuh saya. Namun, kemarahan saya kalah dengan ketakutan dan dorongan untuk menjaga nama organisasi. Ini yang membuat saya terus diam. Saya tidak ingin mempermalukan organisasi agama saya. Selain itu, saya takut tidak dipercaya oleh orang lain karena dia dikenal alim dan dianggap panutan di kampus dan di organisasi, sedangkan saya hanya mahasiswi biasa.

Hingga akhirnya saya tidak tahan lagi, dia melakukan pelecehan hingga saya mengalami kejang perut. Saya tidak mampu menahan marah lagi dan saya putuskan untuk melapor kepada polisi. Saya memang tidak mengalami banyak kesulitan di kepolisian dan kejaksaan. Namun, yang lebih menyakitkan hati adalah teman-teman memaksa saya untuk berdamai. Mereka memusuhi saya dan menganggap saya sok suci, termasuk teman yang dulu dekat dengan saya. Mereka berkata bahwa bila dia dipenjara, maka saya juga harus dipenjara. Bahkan, untuk meminta teman menjadi saksi saja, saya seolah harus bersujud dan memohon mereka. Itu pun tidak semua kebenaran dikatakan dan masih harus ditambah dengan cacian dari mereka dan keluarga mereka.

Penderitaan saya disempurnakan dengan diusirnya saya oleh ibu kos. Ibu kos berkata bahwa ia mendapat keluhan dari beberapa teman kos saya. Beliau juga menyatakan bahwa saya jahat telah menyusahkan seorang laki-laki muda sehingga hancur masa depannya.

Pengasuh Rifka Annisa, saya tidak bermaksud menyakiti siapa pun atau membalas perlakuan buruknya kepada saya. Saya hanya ingin agar tidak ada seorang pun menyakiti saya, tidak juga dia. Apakah memang apa yang saya lakukan ini salah dan merugikan orang lain? Kalau dia yang salah, kenapa saya yang harus dimusuhi teman dan diusir dari tempat kos? Kenapa teman tidak mau mengerti perasaan saya? Saya tunggu balasan dari Rifka Annisa. Salam"

(K di B)

Jawaban :

SAUDARI K di Kota B yang baik,

Kami dapat merasakan kesedihan dan kemarahanmu. Setelah sekian lama menahan sakit seorang diri, kini justru semakin disingkirkan saat berjuang untuk mempertahankan hakmu. Apa yang K lakukan merupakan perjuangan luar biasa hebat, K berani menantang dunia dan terlebih lagi melawan ketakutan K sendiri untuk kemudian melapor kepada polisi. Memang kalau kita lihat dari kacamata hukum, apa yang K alami termasuk tindak pidana, pelakunya dapat diancam hukuman penjara dan K memang berhak melaporkannya.

Hanya saja, tampaknya apa yang K alami memang rumit. Kita tidak hanya dapat melihatnya dari kacamata hukum dan psikologis, tetapi juga bagaimana lingkungan sosial memandang masalah kekerasan terhadap perempuan pada umumnya. Masyarakat kita yang patriarkis cenderung memberi label negatif kepada perempuan. Dalam konteks kasus K dan banyak kasus lain yang serupa, perempuan sering kali diletakkan sebagai pihak yang patut dipersalahkan dengan asumsi perempuan adalah pencetus terjadinya kasus kekerasan seksual itu. Dengan demikian, K mengalami dua kekerasan: kekerasan pertama dilakukan pelaku dan kekerasan kedua dilakukan masyarakat.

Kekerasan yang dilakukan masyarakat ini sering kali memperparah kondisi korban karena berimplikasi pada sikap korban yang menyalahkan dan menganggap kotor dirinya sendiri sehingga menyumbang pada tingkat trauma yang diderita korban.

Akibat lain dari kecenderungan masyarakat menyalahkan perempuan atas apa yang dialami adalah membuat banyak perempuan takut menyuarakan kekerasan yang ia alami. Tekanan kuat dari masyarakat inilah yang acap membuat perempuan mundur dan memilih diam, menelan sendiri kemarahan dan sakit yang ia rasakan. Inilah yang dapat disebut sebagai secondary traumatized.

Kami paham benar apa yang K alami, tapi jangan pernah putus asa. K berhak memperjuangkan hak K untuk hidup tenang tanpa dibayangi ketakutan terhadap orang yang melecehkanmu. Bahkan mungkin K kini dapat lebih memahami pergulatan yang dialami oleh perempuan lain yang mengalami kekerasan seperti K. Di sini kita membutuhkan banyak dukungan untuk perempuan seperti K, dan K dapat memulainya di lingkungan K. Yakini apa yang kau lakukan benar dan lakukanlah.

Apabila K masih merasa butuh bercerita lebih lanjut, silakan menghubungi kami di Rifka Annisa WCC. Terima kasih.

 

Kompas, Senin 10 Mei 2004

Selasa, 22 Mei 2018 15:54

Suami Tidak Memberi Nafkah

Mohon bantuan ibu Pengasuh Rifka Annisa, saya mempunyai masalah, yang menurut saya sangat rumit karena telah terjadi sepanjang usia perkawinan saya. Saya berusia 40 tahun. Perkawinan saya sebetulnya perkawinan kedua. Sebelumnya saya janda beranak dua yang disebabkan perbedaan pandangan dengan suami sehingga kami memutuskan bercerai.

Perkawinan kedua ini berjalan selama sembilan tahun dan kami memiliki satu anak sehingga saya memiliki tiga anak dari suami berbeda. Prinsip saya semula tidak pernah akan menikah lagi karena saya yakin dapat menjalankan kehidupan dengan anak-anak saya. Saya seorang wanita mandiri yang pada saat itu mempunyai penghasilan dan masa depan baik. Sampai kemudian saya bertemu dengan seorang laki-laki bujangan yang sebelumnya sangat memperhatikan anak-anak saya. Laki-laki itu sebelumnya sudah menjadi teman saya.

Dia tampak baik dan penyayang meski tidak mempunyai pekerjaan tetap. Kedekatannya dengan anak-anaklah yang menjadikan pertimbangan saya untuk menerima dan akhirnya menikah dengan dia. Perlu ibu pengasuh ketahui, setelah berpisah dengan suami yang pertama, praktis anak-anak juga sudah tidak mempunyai hubungan dengan ayahnya dan semua tanggung jawab terhadap anak-anak sepenuhnya saya yang menanggung.

Menurut pendapat saya, anak-anak pada saat itu sangat membutuhkan "figur ayah". Dengan pertimbangan untuk memenuhi kebutuhan anak-anak itu, saya memutuskan menikah dengannya, meskipun pada saat menikah, suami belum mempunyai pekerjaan dan pendapatan tetap.

Dengan berjalannya waktu, suami saya mendapat pekerjaan layak dengan penghasilan cukup. Namun, karena sudah ada kebiasaan sebelumnya kebutuhan rumah tangga adalah saya sepenuhnya yang menanggung, maka penghasilan suami dalam bekerja tidak pernah diberikan kepada saya atau dibelanjakan untuk kebutuhan keluarga. Suami bilang uangnya untuk tabungan masa depan. Sejalan dengan waktu juga penghasilan saya dalam bekerja sudah tidak seperti dulu lagi. Saya memang menjadi tidak berdaya menghadapi suami, takut kalau suami meninggalkan saya dan anak-anak. Saya wanita bodoh ya, Bu.

…saya merasa keputusan menikah lagi adalah salah. Keadaan ini menjadi rumit karena saya mempunyai beban rasa malu bila harus bercerai lagi karena pasti orang akan menertawakan dan menyalahkan saya. Barang-barang berharga milik saya sudah habis terjual, anak-anak menjadi telantar dan lebih parah lagi tidak dapat melanjutkan kuliah.

Sebetulnya beberapa upaya telah saya lakukan, antara lain meminta gaji suami dengan baik-baik atau meminta bantuannya untuk membeli kebutuhan rumah tangga. Namun, dia hanya membantu sebagian kecil saja dari penghasilannya, dan yang menyakitkan, dia hanya mau memberi sedikit untuk anaknya (anak kami dari hasil perkawinan dengan dia). Saya pernah berusaha mencoba menyelesaikannya melalui instansi tempat suami bekerja, namun manajer kantor bilang gaji adalah hak suami karena yang bekerja adalah suami. Mereka bilang saya dapat menuntut gaji kalau status saya adalah bercerai dari dia.

Adakah jalan keluar yang dapat saya tempuh untuk menuntut nafkah tanpa harus melakukan perceraian. Apakah anak tiri berhak menuntut nafkah kepada ayah tirinya?

(Ny Sisi di Kota S)

Jawaban:

  • Ny Sisi yang sedang gundah, tampaknya memang cukup rumit permasalahan Anda. Meski demikian, mari kita coba cari jalan keluar bersama-sama.

Pertama, mari kita renungkan kembali apakah sebenarnya tujuan perkawinan itu, apakah perkawinan dilakukan hanya sekadar untuk mencari status sosial tanpa mengindahkan kebutuhan batin Ibu? Ataukah demi rasa aman anak-anak semata?

Tujuan perkawinan adalah untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin bagi kedua belah pihak, dan untuk mencapai kebahagiaan tersebut, suami-istri harus saling menghargai, menghormati, memberi kasih sayang, dan tidak saling menguasai.

Ibu, berusaha mempertahankan perkawinan adalah baik, tetapi kalau hanya untuk alasan agar tidak menjadi janda kedua kalinya, rasanya alasan tersebut patut dipertimbangkan ulang. Janganlah perkawinan yang kedua ini menjadikan ibu kehilangan daya nalar sehingga harus mempertahankan, meskipun ibu memikul beban batin amat berat.

Kenyataan seperti itu juga sangat tidak baik untuk perkembangan jiwa anak-anak karena dalam situasi Ibu yang tertekan sangat mungkin endapan rasa jengkel dan amarah Anda terhadap suami terlampiaskan kepada anak-anak. Yang jelas, tanpa disadari sebetulnya sudah ada tanda-tanda terjadinya diskriminasi perlakuan suami kedua Anda terhadap anak kandung dan anak tirinya.

Memang tidak ada kewajiban hukum seorang ayah tiri mencukupi nafkah pada anak tirinya, hal ini hanya mengikat secara moral saja. Melihat usaha yang telah ibu lakukan, tampaknya tidak ada iktikad baik dari suami membina rumah tangga. Coba Ibu bicarakan kembali kepada suami sebetulnya apa keinginan suami terhadap rumah tangganya, jangan hanya keinginan sepihak dari Ibu untuk membina rumah tangga. Tanyakan dan tegaskan kepada suami Anda, apa alasannya sehingga ia tidak bersedia memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan rumah tangga, serta pendidikan anak-anak, sementara ia memiliki penghasilan cukup?

Alasan suami ia harus menabung untuk masa depan anak-anak rasanya menjadi tidak relevan lagi mengingat ada kebutuhan lain yang lebih mendesak sifatnya yang diperlukan bagi kelangsungan hidup anggota keluarga.

Mengenai keinginan ibu menuntut nafkah tanpa melakukan perceraian pada dasarnya secara hukum dapat dilakukan. Apakah alternatif ini merupakan jalan keluar paling tepat? Tentu Ibu dapat mempertimbangkan segala kekurangan dan kekuatan dari setiap pilihan jalan keluar yang akan Anda ambil.

Menuntut nafkah suami melalui pengadilan sangat mungkin akan menimbulkan sakit hati suami atau mungkin kemarahan, namun pengadilan menjadi unsur penekan bagi suami agar bersedia menafkahi keluarganya. Artinya, semua keputusan itu memiliki risiko, namun yang terpenting adalah Anda siap dengan segala risiko yang akan Anda hadapi.

Sebagaimana ketentuan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), Ibu dan anak-anak telah mengalami kekerasan ekonomi atau penelantaran dalam rumah tangga. Berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2004 itu, pihak suami dapat dikenai sanksi hukum.

Yang dimaksud penelantaran dalam lingkup rumah tangga, sebagaimana Pasal 9 UU PKDRT, adalah "melakukan penelantaran kepada orang yang menurut hukum yang berlaku baginya atau karena perjanjian dia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut". Kepadanya akan dikenakan sanksi sebagaimana ketentuan dalam Pasal 49 UU PKDRT, dipidana dengan pidana penjara paling lama tiga tahun atau denda paling banyak Rp 15.000.000 (lima belas juta rupiah). Berdasarkan ketentuan ini menjadi jelas sebetulnya suami mempunyai tanggung jawab terhadap anak-anak, bahkan terhadap anak tirinya karena terjadi dalam lingkup rumah tangga yang karena perkawinannya dengan ibu menjadikan anak tirinya itu tanggung jawabnya pula.

Suami juga sudah melakukan perbuatan hukum sebagaimana yang diatur dalam UU Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002. Prinsip Umum Hak Asasi Anak telah dilanggar, antara lain hak untuk mendapatkan yang terbaik, hak untuk kelangsungan hidup dan berkembang, serta hak untuk tidak mendapat perlakuan yang diskriminasi terhadap anak.

Apabila Ibu ingin mengajukan gugatan nafkah melalui pengadilan agama juga dapat dilakukan. Ibu dapat menuntut nafkah untuk Ibu sendiri dan anak kandung dari suami Ibu yang merupakan kewajiban suami. Nah, demikian beberapa tawaran alternatif yang dapat Ibu tempuh. Semoga Ibu dapat segera menemukan titik terang atas persoalan ini.

 

Kompas, 22 November 2004

Senin, 21 Mei 2018 13:58

Kekerasan Seksual terhadap Istri

Relasi suami-istri selalu dibayangkan sebagai relasi yang didasari perasaan cinta kasih. Demikian pula dalam relasi seksual. Tetapi, penuturan Ny Ana di bawah ini adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa tidak semua relasi seksual di dalam rumah itu selalu dikehendaki masing-masing pasangan.

Kasus:

"Pengasuh Rifka Anissa yang baik. Saya ibu rumah tangga berusia 33 tahun, memiliki tiga orang anak. Saya telah menikah selama sembilan tahun dengan laki-laki pilihan saya sendiri.

Sebelum menikah kami berdua sudah bekerja di kantor swasta. Setelah menikah kami tinggal di rumah mertua saya. Karena ingin "mandiri" kami memutuskan kontrak rumah dan jadilah kami sebagai "kontraktor", berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain.

Awal perkawinan sampai menginjak tahun kedua perkawinan sikap suami masih terlihat baik dan belum kelihatan sebagai pemarah. Namun, sejak kelahiran putri kami yang pertama suami mulai menunjukkan kebiasaan buruknya: pemarah, pemukul, dan merusak barang-barang rumah tangga bila sedang marah. Saat kejadian pertama saya memang terkejut karena ternyata suami saya menyimpan kebiasaan buruk. Namun, saya bersabar dengan pikiran mungkin suami kelelahan dan pekerjaannya menuntut konsentrasi penuh. Karena saya juga punya pekerjaan maka kejadian itu segera terlupakan.

Dalam kenyataan kejadian tersebut berulang dan karena tidak tahan dengan situasi seperti itu, saya pernah menyampaikan kepada suami untuk mengakhiri perkawinan. Selalu suami minta waktu sampai betul-betul siap untuk berpisah, karena setiap saya membulatkan keinginan untuk berpisah setiap waktu itu juga suami memaksa saya untuk "berhubungan badan". Pernah saya loncat dari jendela karena suami memaksa melakukan hubungan seksual. Terakhir saya sadar itu cara suami agar saya hamil lagi.

Gugatan cerai saya tidak dapat berlanjut karena dalam perjalanan sidang perceraian ternyata saya hamil. Hakim meminta saya menunda sidang perkara sampai anak kami lahir. Suami juga tidak segan-segan memukul anak-anak dan menyekap mereka bila menurutnya bersalah. Ibu pengasuh yang baik, apakah saya dapat berpisah dengan suami karena dia selalu mengatakan ’hanya kematian yang dapat memisahkan kita’..."

(Ny Ana di Kota J)

Jawaban:

Kalau Ny Ana sempat membaca pemberitaan di beberapa surat kabar terakhir ini akan Anda temukan banyak berita tentang masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), Mengapa? Karena pada saat yang sama sedang dilakukan pembahasan RUU Penghapusan KDRT di Dewan Perwakilan Rakyat (Undang-undang Penghapusan KDRT telah disahkan pada hari Selasa (14/9) pekan lalu).

Salah satu aspek penting yang diperdebatkan adalah kekerasan seksual dalam rumah tangga. Ada sekelompok orang yang menolak ada kekerasan seksual dalam rumah tangga, tetapi apa yang Ny Ana tuturkan adalah fakta yang tak terbantah tentang bentuk kekerasan itu.

Fakta lain pun banyak kami temukan seperti dalam kesempatan sebelumnya rubrik konsultasi ini pernah membahas masalah yang sama. Dalam surat konsultasi yang lain juga ada pertanyaan dari ibu rumah tangga yang pada saat melakukan hubungan seksual alat kelaminnya dimasuki jagung oleh suaminya. Beberapa kasus lain yang kami terima juga menunjukkan ada istri yang menuturkan mengalami pemaksaan hubungan seksual dari suaminya pada saat "menstruasi".

Kekerasan seksual terhadap istri merupakan fenomena yang sering kali muncul, namun hal ini tidak mudah bagi perempuan atau istri untuk mengungkapkannya. Karenanya adalah hal yang patut dihargai ketika Ny Ana memiliki keberanian untuk mengungkap persoalan ini.

Pengalaman kami menunjukkan kekerasan seksual yang dialami istri akan terungkap setelah beberapa kali dilakukan konseling. Selain itu, kekerasan seksual juga tidak pernah dijadikan sebagai suatu alasan oleh para istri dalam melakukan perceraian. Biasanya yang terungkap pada saat sidang di pengadilan perceraian terjadi cukup dengan satu alasan "tidak adanya kecocokan". Padahal terjadinya kekerasan seksual dalam rumah tangga dapat dijadikan alasan untuk perceraian.

Ny Ana, apa yang Anda tuturkan secara gamblang menunjukkan Anda telah menjadi korban kekerasan seksual dari suami, yaitu suatu bentuk kekerasan yang berupa pemaksaan hubungan seksual atau perkosaan; karena pada saat itu Anda tidak menghendakinya.

Kekerasan seksual yang dilakukan suami memang sulit dibuktikan selama ketentuan hukum acara di negara kita masih menganggap saksi korban bukan "saksi penting". Mencari saksi-saksi dari orang lain yang berada di luar lingkup keluarga juga sangat sulit karena masyarakat kita cenderung memprivatkan persoalan KDRT sehingga tidak mudah bagi orang lain untuk bersaksi terhadap kasus kekerasan dalam rumah tangga. Hal inilah yang sebenarnya dicari jalan keluarnya melalui UU Penghapusan KDRT.

Ny Ana yang baik, berkaitan dengan proses perceraian Anda, saran pengadilan atau hakim untuk menunda persidangan sangatlah merugikan karena tidak ada dasar hukum yang jelas untuk menghentikan jalannya persidangan dikarenakan kehamilan. Menurut Kompilasi Hukum Islam yang diatur adalah berkaitan dengan masa tunggu (iddah) ketika pihak mantan istri nantinya ingin menikah lagi yakni setelah anak dilahirkan.

Dengan demikian menunggu kelahiran anak tidak berkaitan dengan proses perceraian. Untuk itu ada baiknya Anda didampingi penasihat hukum yang mengerti atau setidaknya mempunyai perspektif perempuan untuk memberikan pengertian kepada hakim bahwa perkawinan tidak ada manfaatnya dilanjutkan.

Lalu apa yang dapat Ny Ana lakukan selagi proses hukum berjalan?

Untuk sementara barangkali Anda perlu mencari "tempat aman" untuk diri Anda dan anak-anak sehubungan dengan ancaman suami. Hal yang dapat dilakukan adalah Anda dapat melibatkan keluarga dekat yang menurut Anda dapat membantu Anda atau cobalah menghubungi lembaga layanan pendampingan perempuan korban kekerasan yang ada di kota Anda. Bila Anda belum menemukan jalan keluar selama menunggu proses hukum, Anda dapat menghubungi kami. Salam.*
 

 

Kompas, Selasa 21 September 2004

34382858
Today
This Week
This Month
Last Month
All
4705
35619
120397
199054
34382858