Cerita Erwin: Lelaki Sejati Berbagi Peran Domestik

Written by  Shinta Maharani Kamis, 03 Januari 2019 10:30

DSC07667 min

Erwin Cahyono menenangkan Khoirul Anam, bayi berumur 4 bulan di tengah keramaian acara pertemuan puluhan fasilitator dan komunitas Kabupaten Kulon Progo dan Gunung Kidul. Lelaki 29 tahun ini mengasuh anaknya sembari menyimak materi. Isterinya, Rusmiyanti, 29 tahun, duduk mendampingi Erwin dan memperhatikan pelatihan itu.

Erwin dan Rusmiyanti contoh pasangan yang sukses mengikuti program Prevention+. Program ini terlaksana atas kerja sama Rifka Annisa dan Rutgers WPF Indonesia. Tujuannya memutus rantai kekerasan dengan cara melibatkan perempuan dan laki-laki dalam pencegahan maupun penanganan kekerasan. Ada empat modul dalam program itu. Diskusi komunitas untuk ayah, ibu, remaja laki-laki, dan remaja perempuan.

Erwin dan Rusmiyanti menjadi salah satu pasangan yang membawa perubahan di Gunung Kidul. Erwin menjadi fasilitator di Desa Jetis dan Ngloro, Saptosari, Gunung Kidul. Rusmiyati fasilitator di Desa Ngloro. Keduanya merupakan alumni program Prevention+. Tentu saja mereka mengalami berbagai tantangan dalam proses menjalani program itu.

Mereka punya serangkaian pengalaman hingga berhasil menjadi pasangan yang berusaha mencegah berbagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga. Menurut keduanya, perlu proses untuk menuju saling pengertian dalam relasi berumah tangga.

Erwin merupakan anak pertama dari pasangan buruh tani dan pedagang. Ia tumbuh di lingkungan yang keras di kawasan Pantai Selatan Gunung Kidul, Yogyakarta. Di tengah kerasnya hidup, Erwin selalu berupaya menunjukkan bahwa dia bisa membanggakan orang tuanya.

Di daerah ini banyak siswa putus sekolah. Mereka rata-rata tak melanjutkan sekolah menengah atas (SMA) dan memilih bekerja untuk menghidupi kebutuhan ekonomi keluarganya. Erwin memilih menjadi buruh bangunan. Tapi, uang dari hasil kerja tak cukup untuk membantu kebutuhan orang tuanya.

Tahun 2007, ia bertemu Rusmiyanti dan berpacaran. Ia meminang perempuan itu pada 25 November 2010. Rumah tangga mereka tak berjalan mulus di awal pernikahan. Keduanya kerap berkonflik. Erwin yang suka berburu dan memancing seringkali mengabaikan isterinya. Berburu identik dengan laki-laki yang maskulin. 

Ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama kawan-kawannya untuk kegemarannya itu. “Dua hingga tiga hari saya menghabiskan waktu. Semua demi kepuasan,” kata Erwin.

Kegemarannya berburu membuatnya menghabiskan duit untuk membeli peralatannya, misalnya senapan seharga Rp 2 juta dan juga alat memancing Rp 1,5 juta. Rusmiyati tak suka dengan aktivitas suaminya yang menyita waktu keluarganya. Kepada Erwin, ia protes. “Kalau sudah mancing lupa anak isteri,” kata Rusmiyanti.

Erwin bekerja sebagai penjual sayur keliling. Setiap pukul 2 dini hari, Rusmiyanti rutin membangunkan Erwin untuk berangkat ke pasar dan kulakan sayur mayur. Rusmiyati juga rutin menyiapkan secangkir kopi dan sarapan untuk suaminya. Sepulang dari pasar, ia membantu Erwin menata sayur sebelum dijual dengan cara berkeliling di kampung-kampung.

Selepas berjualan, Erwin beristirahat. Rutinitas itu berjalan. Dalam perjalanan berumah tangga, mereka jarang berkomunikasi. Buat Erwin, tugas perempuan sekadar menjadi ibu rumah tangga atau menjalankan rutinitas seperti menyiapkan kopi, menghidangkan sarapan, dan melayani segala yang suami perlukan.  

DSC07771 min

Suatu hari, Erwin mendengar kabar baik. Rusmiyanti hamil dan Erwin senang. Ia mulai mencurahkan waktunya untuk Rusmiyati dan calon bayinya. Sebulan setelah melahirkan anak perempuan, Rusmiyati bahagia karena Erwin mau berbagi misalnya membantu tugas-tugas domestik perempuan. Erwin mau mencuci pakaian, piring, dan menyapu.

Kesadarannya berbagi pekerjaan domestik tak berlangsung lama. Emosi masih labil dan ia sulit mengontrol egonya. Erwin kembali pada kegemarannya berburu dan memancing. Setiap malam ia pergi memancing. Ia juga kerap meninggalkan isterinya selama tiga hari hanya untuk berburu bersama kawan-kawanya. Kebiasaan ini ia lakukan beberap tahun selama awal pernikahan.

Cara pandang Erwin berelasi dengan isterinya kemudian berubah. Suatu ketika, Erwin menerima undangan dari petugas desa untuk mengikuti kegiatan Rifka Annisa. Ia bertanya-tanya Rifka Annisa itu lembaga apa. Erwin hanya mengenal Rifka Annisa sebagai lembaga yang hanya mengurusi kekerasan dalam rumah tangga.

Kepada Erwin, Kepala Dusun Mojosari, Desa Jetis, Kecamatan Saptosari, Gunung Kidul, memintanya untuk terlibat aktif dalam kelas ayah yang digelar Rifka Annisa. Erwin juga ditunjuk menjadi ketua karang taruna di desa setempat. Ia merasa tak percaya diri. Tapi, ia kemudian merasa tergerak untuk mengambil bagian sebagai ketua karang taruna.

Ia memimpin pertemuan-pertemuan dusun, mengajak ngobrol remaja, membuat program dusun dan melakukan kegiatan bersama. Di awal-awal menjadi ketua karang taruna, ia canggung dan malu berbicara dalam forum. Lambat laun ia menjadi terbiasa dan berani berpendapat karena sering terlibat di kelas ayah program Rifka Annisa. “Saya semakin percaya diri dan terus menggerakkan pemuda desa,” kata Erwin.

Di kelas ayah Rifka Annisa, Erwin mengikuti 12 kali pertemuan dengan berbagai tema. Setiap sesi kelas berlangsung selama dua jam. Sesi itu diisi dengan diskusi tentang bagaimana menjadi ayah, komunikasi dengan pasangan, mengelola amarah, dan kesehatan reproduksi.

Sesi-sesi itu membuatnya menjadi paham bagaimana memperlakukan isteri sebagai pasangan yang setara. Ia mengerti bagaimana mengelola emosi dan memahami beratnya tugas-tugas domestik isteri.

Sebelum bergabung dengan program Rifka Annisa, Erwin menganggap pekerjaan domestik adalah tanggung jawab isteri semata. Laki-laki buat dia tak pantas mengerjakan pekerjaan isteri. Kini perspektifnya berubah. Ia menjadi paham pekerjaan rumah tangga juga menjadi tanggung jawab laki-laki. “Tak perlu malu menyapu dan mencuci baju. Semua pekerjaan domestik dibagi bersama dan akan terasa ringan,” kata Erwin.

DSC07748 min

Buat Erwin, kelas Rifka Annisa menarik dan memotivasi dia untuk mengenal bagaimana laki-laki berbagi peran pekerjaan domestik dengan perempuan. Sebelum mengenal Rifka Annisa, Erwin sempat berprasangka kelas itu membongkar aib keluarga.

Tapi, dia berusaha menepis prasangka. Erwin mengikuti semua proses diskusi kelas ayah sejak 2017. Di kelas ayah, ia berbagi pengalaman dan saling terbuka dengan peserta lainnya. Setahun berlalu, ia merasakan perubahan pada dirinya. Yang paling terasa dampaknya adalah kesadaran dia untuk berbagi peran tugas domestik.

Erwin sekarang terbiasa mencuci baju, mencuci piring, dan mengasuh anak. Aktivitas itu ia lakukan dengan cara berbagi dengan Rusmiyati. Ketika isterinya sedang mencuci baju, Erwin bertugas mengasuh anak misalnya menggendong anak dan mengganti popok.

Beragam persoalan dan tantangan tidak hanya mendera Erwin. Sebelum ikut kelas Prevention+, Rusmiyanti gampang marah. Bila pasangan ini punya masalah, maka mereka saling diam. Komunikasi yang mandek itu misalnya di pagi hari saat anak hendak sekolah, Erwin yang lelah setelah bekerja langsung tidur. Tak ada pembicaraan antar-keduanya. Masalah terus menumpuk.

Solusi atas persoalan itu kemudian mulai muncul. Suatu hari, Manajer Divisi Pengorganisasian Masyarakat dan Advokasi Rifka Annisa Women Crisis Center, Nurmawati bertemu Rusmiyanti. Nurmawati menyarankan agar Rusmiyanti mengungkapkan apa yang menjadi masalahnya kepada Erwin. “Pasangan bukan paranormal yang serba tahu apa yang diinginkan. Ungkapkan saja,” kata Nurmawati kepada Rusmiyati. 

Buat Rusmiyanti semula berat untuk jujur dan mengungkapkan apa yang dia inginkan. Mei 2017, Rusmiyati mulai rutin mengikuti kelas Rifka Annisa. Di kelas itu, Rusmiyati berbagi pengalaman dengan peserta lainnya dan membuatnya plong bisa bercerita. Ia aktif ikut sejumlah materi di antaranya tentang komunikasi, pengasuhan, berbagi peran, dan pengelolaan keuangan.

Kini ia merasakan dampak positif setelah mengikuti kelas bersama Rifka Annisa. Rusmiyanti dan Erwin rutin membicarakan ihwal tugas harian untuk berbagi tugas di malam hari untuk menyiapkan hari esok. Misalnya Erwin kebagian tugas menggendong anak dan Rusmiyati mencuci. “Tanpa disuruh, Mas Erwin sudah menjalankan tugasnya,” kata dia.

Erwin juga ringan tangan untuk mencuci baju, membilas baju, mencuci piring, dan menyapu. Laki-laki mengerjakan tugas domestik belum sepenuhnya dipandang sebagai sesuatu yang wajar di kalangan masyarakat yang kental dengan budaya patriaki.

Rusmiyanti bercerita Erwin kerap diledek sama beberapa anak muda di kampungnya. “Bojomu nang ndi? Opo bojomu bayen maneh (isterimu ke mana. Apa isterimu melahirkan lagi),”. Guyonan pemuda di kampungnya seperti itu. Kepada pemuda yang meledek, Erwin menanggapinya dengan santai. “Lelaki sejati ya seperti ini,” kata Erwin.

Setelah ikut kelas bersama Rifka Annisa, mereka juga bisa mengontrol emosi. Itu berdampak khususnya untuk anak-anak mereka. Dahulu mereka suka memarahi anak sebagai pelampiasan karena persoalan yang mereka hadapi. “Kami dahulu suka membentak anak. Sekarang kami bisa mengontrolnya. Ngeman anak,” kata Rusmiyati.

Sama seperti Erwin, Rusmiyanti juga sempat mempertanyakan apa itu Rifka Annisa dan apa itu gender. Kepala Dusun Mojosari Desa Jetis, Saptosari mengundangnya untuk datang di acara Rifka Annisa. Rusmiyati datang kemudian rutin ikut kelas Rifka di siang hari. Sedangkan, Erwin ikut kelas ayah di malam hari. Rusmiyanti menikmati kelas Rifka yang menyenangkan karena tak hanya diisi materi, tapi juga permainan dan menjalin keakraban antar-peserta.

Pasangan bersama dua anaknya itu kini memanen hasil. Ada perubahan yang baik dalam keluarganya. Mereka menjadi pasangan yang saling menghargai, bersikap adil, berbagi peran dalam pengasuhan dan pekerjaan rumah tangga, punya komunikasi yang bagus, dan mampu mengontrol emosi.

 

Tentang penulis: Shinta Maharani adalah koresponden Majalah Tempo dan penulis lepas Vice. 

Read 778 times Last modified on Rabu, 23 Januari 2019 14:13
27918851
Today
This Week
This Month
Last Month
All
11787
77764
390196
602407
27918851