Kamis, 08 Februari 2018 00:52

Istri Hamil, Suami Abai

Written by
Rate this item
(0 votes)

 

Halo Rifka Annisa, Saya sudah tidak tahu harus cerita dan minta tolong pada siapa. Usia pernikahan saya belum genap satu tahun, tapi saya sudah tidak tahan dengan sikap suami saya. Setiap hari dia cuek seolah saya tak kasat mata. Mertua dan saudara iparnya selalu mengolok saya. Saya ingin bercerai tapi saya dalam kondisi hamil 6 bulan. Saya juga tidak diberi uang untuk check-up rutin. Saya takut tidak bisa merawat bayi ini dan terpikir ingin aborsi. Pada awal kehamilan, keluarga suami sempat menyuruh saya makan buah nanas dan minum soda. Dulu saya pernah keguguran dan komplikasi saat melahirkan anak pertama saya. Jujur saya takut kalau terjadi apa-apa pada saya. Anak saya yang pertama baru berusia 8 tahun. Mungkin dulu keputusan kami menikah memang terlalu cepat. Kami hanya saling mengenal dalam kurun 1 bulan. Kami sama-sama ada anak dari pernikahan sebelumnya. Suami lebih memilih untuk mengirimkan gajinya pada mantan istri dan anak-anak dari pernikahan yang pertama. Dia bilang dia sudah berkomitmen. Saya di sini tidak punya siapa-siapa. Saya merasa tersiksa dan tertekan sekali. Setiap malam saya hanya bisa menangis dalam doa. Saya terpikir untuk menitipkan bayi ini pada orang yang mau mengasuhnya daripada dia hidup di tengah keluarga yang carut marut. Dulu saya juga pernah dipukuli suami pada pernikahan pertama. Jujur saya sudah sangat lelah kalau harus mengalami hal serupa sekali lagi. (M di Jogja)

Jawab :

Terima kasih Ibu M sudah berbagi cerita dengan kami. Kami bisa paham perasaan Ibu yang tertekan sekaligus gelisah dengan kondisi kehamilan, apalagi dengan riwayat medis dan komplikasi yang pernah Ibu alami. Apakah Ibu ada saudara atau teman dekat yang bisa diajak berdiskusi? Kalau boleh kami sarankan, sebaiknya Ibu fokus pada kehamilan dulu, dan alangkah lebih baiknya jika ada orang yang bisa menemani Ibu. Jika Ibu belum pernah memeriksakan kehamilan, Ibu bisa datang ke Puskesmas. Kami bisa mengerti persoalan yang Ibu alami dengan suami. Setiap pernikahan pasti memerlukan proses adaptasi karena pernikahan menyatukan dua individu dan keluarga yang berbeda. Terlebih lagi Ibu dan suami sama-sama sudah pernah menikah sebelumnya. Dalam proses berkenalan yang singkat, mungkin Ibu dan suami belum sempat membicarakan tentang pengaturan keuangan dan rencana kehamilan. Makanya saat mengetahui bahwa Ibu hamil, baik Ibu maupun suami kelabakan karena belum dipersiapkan.
Keinginan suami untuk menafkahi mantan istri dan anak-anaknya tentu bukan hal yang buruk. Namun sebagai orang yang memutuskan untuk menikah, ia tetap punya tanggung jawab terhadap Ibu sebagai istri resmi sekaligus terhadap anak dalam kandungan. Suami juga perlu mempertimbangkan prioritas kebutuhan saat istrinya sedang hamil. Oleh karena itu, hal ini perlu didiskusikan terlebih dahulu dengan suami dan keluarga besar dari masing-masing pihak. Hal yang terpenting sekarang adalah Ibu periksakan kehamilan untuk memastikan bahwa Ibu dan janin dalam kondisi sehat supaya proses persalinan nanti lancar. Jika Ibu tinggal bersama mertua dan kondisinya kurang nyaman bagi Ibu, Ibu bisa coba bicarakan opsi lain dengan suami, misalnya tinggal bersama keluarga Ibu terlebih dahulu sampai anak lahir. Ibu tidak perlu terburu-buru membuat keputusan besar dalam kondisi bingung dan tertekan. Nanti jika kondisi Ibu sudah lebih tenang pasca melahirkan, Ibu bisa membicarakan lagi kondisi rumah tangga dengan suami. Jika Ibu merasa ada kesulitan beradaptasi dalam tahun-tahun awal pernikahan, Ibu dan suami bisa mengakses layanan konseling pasangan di Rifka Annisa. Jika Ibu berminat untuk konsultasi lebih lanjut, Ibu bisa datang langsung ke kantor kami atau menghubungi kami lewat nomor hotline. Semoga informasi ini bisa membantu Ibu.


Annisa Nuriowandari
Konselor Psikologi di Rifka Annisa

Read 119 times Last modified on Kamis, 08 Februari 2018 16:31
2458669
Today
All days
1522
2458669