Cerita Perubahan

Written by Selasa, 04 Juli 2017 Published in Cerita Perubahan
Pertemuan itu memang sudah diagendakan dua bulan yang lalu. Begini ceritanya, setelah program Laki-Laki Peduli berakhir, pada penghujung 2015 kami membuat pertemuan gabungan di balai desa Bendung, dengan mengundang alumni diskusi dua jam di komunitas di Desa Bendung dan Semin, Gunungkidul, baik kelas ibu, ayah, maupun remaja. Pertemuan ini bertujuan melihat sejauh mana komitmen alumni peserta diskusi untuk menindaklanjuti pertemuan ke depan meski program sudah berakhir. Pada pertemuan ini kami berupaya menggali pembelajaran-pembelajaran yang mengesankan untuk mereka. Ternyata banyak hal positif yang mereka dapatkan, baik untuk diri sendiri maupun keluarga. Mereka mulai bisa mengontrol emosi (dengan menerapkan manajemen time out), membangun komunikasi dengan pasangan, lebih dekat dengan anak, terlibat dalam pekerjaan rumah tangga, bekerja sama dalam mengambil keputusan, dan lain-lain. Mas Jatmiko bercerita, dulu, ia dengan istrinya ungkur-ungkuran[1], “Bapak madep ke sana, ibu madep ke sini.” Dia merasa komunikasi dengan…
Written by Selasa, 04 Juli 2017 Published in Cerita Perubahan
“Saat suami saya nyapu, dikomentarin tetangga, ‘Wah, kok, rajin bener.’ Terus suami saya jawab, ‘Lha wong laki-laki peduli, kok.’ Saya senang sekali dengar jawaban itu.” Kegembiraan bu Winarni tersebut disampaikan pada FGD evaluasi kelas ibu Kulon Progo, 12 Desember 2015. Selama ini, bu Wiwin, demikian dia akrab disapa, menganggap pekerjaan rumah tangga adalah tugas istri. Rutinitasnya mengerjakan tugas-tugas domestik ia lakukan tanpa bantuan suami. Pekerjaan yang ia rasa cukup berat itu masih ditambah mengurus dua anak laki-laki yang masih kecil. Kesibukan suami mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga membuat bu Wiwin tidak berani meminta bantuannya dalam mengurus rumah tangga. Pikirnya, bukankah sudah demikian tugas istri dan suami dalam keluarga? Kebiasaan masyarakat dan tafsir Al-Quran yang ia pahami juga menyatakan bahwa tugas istri adalah mengurus rumah tangga, sedangkan tugas suami mencari nafkah. Tidak berbeda dengan Wiwin, Abdillah, sang suami, juga berpendapat…
Written by Jumat, 09 Jun 2017 Published in Cerita Perubahan
Saya masih ingat betul pagi itu. Saya mendatangi rumah Suwar dan Mei dan mendapat sambutan yang ramah. Saya sampaikan kepada mereka bahwa saya dari Rifka Annisa. Saya mendapat rekomendasi dari pak dukuh Garang untuk mengajak Suwar dan Mei terlibat dalam serial diskusi dua jam program pelibatan laki-laki dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak serta peningkatan kesehatan ibu dan anak. Suwar menyanggupi ajakan tersebut tetapi Mei masih ragu-ragu karena bekerja di pabrik wig di Kulon Progo. Pada pertemuan pertama, Suwar (30 tahun) bercerita, lima tahun lalu, dia menikahi Mei yang berusia lebih tua dua tahun dan telah mempunyai dua anak dari mantan suaminya. Mereka bertemu ketika sama-sama menjadi karyawan di sebuah pabrik garmen di Yogyakarta. Ini menarik, fenomena perjaka menikahi janda jarang terjadi karena akan muncul gunjingan-gunjingan di masyarakat. Namun, selama saya berinteraksi dengan pasangan tersebut, mereka asyik dengan…
Written by Jumat, 09 Jun 2017 Published in Cerita Perubahan
Pagi itu, Minggu, 27 Februari 2016, saya menuju Desa Ngalang, salah satu desa yang tiga tahun ini menjadi tempat saya belajar tentang keluarga dan masyarakat, desa di mana kebersamaan di komunitas masih sangat lekat dengan nilai-nilai sosial dan kebudayaan. Tradisi gotong royong dan tradisi rasulan[1] berjalan setiap tahun. Tidak hanya itu, masyarakat yang terbuka mempermudah saya berkenalan dan masuk dalam kelompok-kelompok sosial, baik kelompok ibu maupun ayah. Dari sinilah saya kenal warga-warga yang ada di desa ini, salah satunya ibu Tukinah. Ibu Tukinah adalah perempuan yang saya kenal pada tahun kedua tinggal di Ngalang. Ia memiliki dua anak yang duduk di bangku TK dan SMP. Dua anak bersekolah membuat dia memutuskan untuk bekerja di salah satu perusahaan wig yang ada di Piyungan, Bantul. Ia bekerja mulai pukul 05.30 WIB hingga pukul 18.30 WIB. Situasi ini membuat ia tidak punya banyak…
Written by Jumat, 09 Jun 2017 Published in Cerita Perubahan
Istri pertama saya HP.” Komentar ini saya dengar dari Dwi Hastanto, salah satu peserta diskusi kelas ayah, bapak dari seorang anak perempuan berusia 2,5 tahun. Ungkapan senada juga saya dengar langsung dari istrinya, Hana, di sesi diskusi kelas ibu, “Dia lebih suka dengan HP daripada dengan saya.” Hana dan Dwi menikah tiga tahun yang lalu, setelah berpacaran selama lima tahun. Mereka tinggal di Desa Bendung, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul, bersama keluarga Hana. Perempuan bertubuh kurus tinggi ini merupakan anak tertua dari tiga bersaudara, adiknya laki-laki semua. Hubungan mereka dengan orang tuanya sangat dekat, mereka saling terbuka, dan pekerjaan rumah selalu dilakukan bersama. Kondisi inilah yang membuat Hana lebih betah tinggal di rumah orang tuanya sendiri dibandingkan dengan tinggal bersama mertua yang otoriter dan tidak hangat.  Sayangnya kebahagiaan ini hanya dirasakan pada minggu pertama awal pernikahan saja. Setelah itu, pernikahan mereka sering diwarnai pertengkaran.…
31184635
Today
This Week
This Month
Last Month
All
2182
58107
631922
860424
31184635