Memoar

Written by Minggu, 02 Maret 2014 Published in Memoar
Oleh:Megafirmawanti Perempuan dan laki-laki adalah entitas yang seharusnya saling mengisi. Keduanya dihadirkan untuk saling melengkapi kekurangan satu dengan yang lain. Namun sangat disayangkan, hari ini telah terjadi diskriminasi dimana satu pihak merasa lebih superior dibanding pihak lainnya. Dalam hal ini, laki-laki yang merasa sebagai seorang superior, meyakini stigma yang telah lama berlaku pada masyarakat Indonesia bahkan secara universal di dunia, bahwa perempuan itu adalah kaum terbelakang yang tempatnya hanyalah diseputar dapur, sumur, dan kasur. Konstruksi sosial atas perempuan seperti diatas pada akhirnya melahirkan tindakan-tindakan kekerasan. Kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan tidak lagi sebatas kekerasan fisik, melainkan kekerasan yang merusak mental perempuan itu sendiri. Fakta membuktikan, berdasarkan catatan dari Komnas Perempuan bahwa pada tahun 2012, telah ditemukan 216.156 kasus kekerasan terhadap perempuan. Kasus-kasus tersebut terjadi pada berbagai ranah. Yaitu, ranah personal dimana kekerasan terjadi pada mereka yang mempunyai hubungan darah, ranah…
Written by Minggu, 02 Maret 2014 Published in Memoar
Oleh : Sabar Riyadi “Setelah kamu melakukan hubungan seksual perasaan apa yang kamu rasakan?”“ Menyesal mbak , kenapa dia melakukan itu ( hubungan seksual ) tidak seperti pada video itu.”(Bunga 15 th ). Betapa kaget dan terkejut sang konselor mendengar jawaban dari kliennya pada sebuah sesi konseling. Betapa tidak jawaban yang diharapkan muncul adalah jawaban normatif seperti perasaan menyesal , merasa telah berbuat dosa , merasa bersalah kepada orang tua dan seterusnya.  Ternyata jawaban yang keluar dari si remaja perempuan malah menjurus pada adegan – adegan seksual pada video-video porno yang pernah ia tonton bersama pacarnya. Setelah digali oleh sang konselor ternyata memang si remaja perempuan telah lama dicekoki dengan semua hal yang berkaitan dengan pornografi oleh pacarnya. Paparan di atas bukan merupakan kisah rekaan tetapi memang benar-benar terjadi. Kasus-kasus semacam itu yang berpangkal dari hubungan pacaran si remaja perempuan…
Written by Jumat, 21 Februari 2014 Published in Memoar
Oleh: Agung Wisnubroto Hampir tidak mungkin didalam menjalani kehidupan rumah tangga, suami dan istri luput dari konflik. Ada konflik yang bersifat personal karena perbedaan karakter atau kepribadian dan ada juga dari luar relasi mereka, seperti misalnya keluarga besar. Konflik-konflik tersebut dapat membawa suasana hati bahkan rasa sakit satu sama lain. Bisa berlangsung dalam hitungan jari, namun ada juga yang mengendap lama di dalam perasaan serta pikiran. Sakit hati mungkin dapat menjadi selesai ketika impas sudah diperoleh. Mekanisme ini merupakan ekspresi dari kebutuhan individu untuk memperoleh rasa keadilan. Dalam praktiknya bisa dijumpai seperti hutang nyawa dibayar nyawa, hutang darah dibalas darah. Ini berarti dalam impas, maka pihak yang tersakiti perlu agar pihak yang menyakiti merasakan sakit yang ditimbulkan dari perbuatannya. Impas yang terpenuhi cenderung menjadikan pihak yang tersakiti merasa terpenuhi kebutuhan emosinya, meskipun ikhlas bersifat sangat subjektif. Dalam relasi yang mengakibatkan…
Written by Senin, 25 November 2013 Published in Memoar
Intervensi negara terhadap isu-isu perempuan dalam aneka regulasi  ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi intervensi negara amat positif dalam menjamin hak-hak perempuan dalam kehidupan bernegara. Namun, di lain sisi hadirnya negara juga tak lebih hanyalah kamuflase demi pencitraan suatu rezim politik. Faktanya, masalah yang dihadapi perempuan justru semakin kompleks.   Sementara ada kecendrungan dunia gerakan perempuan pasca rezim otoritarian justru melemah dan terkesan project oriented. Sehingga, yang timbul kemudian ialah isu dan strategi antar-gerakan perempuan yang kurang membumi, tidak solid, dan semakin terfragmentasi. Gerakan perempuan pun bisa dibilang jalan di tempat.       Pada titik itulah strategi gerakan perempuan perlu direstorasi. Poin inilah yang coba diurai dan dicarikan jalan keluarnya dalam Convening for Change: From Reflection to Movement yang diselenggarakan Rifka Annisa bekerja sama dengan Global Fund for Woman selama 3 hari (30 November-2 Desember) di hotel Sri Wedari, Yogyakarta. Pertemuan ini…
Written by Kamis, 21 November 2013 Published in Memoar
Mendukung atau Menelikung(Keterlibatan Laki-laki dalam Isu Perempuan dalam Pandangan Feminisme)Siti Ruhaini Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. Isu Perempuan: Isu Kesadaran atau Isu Kebijakan?Isu perempuan adalah isu yang setua isu kemanusiaan itu sendiri. Para pemimpin agama seperti Yesus dalam tradisi Kristen dan Nabi Muhammadi SAW dala Islam telah menyuarakan isu perempuan sebagai bagian dari misi kebangkitan agamanya. Isu perempuan menjadi semakin kuat dan masif bersamaan dengan isu demokratisasi dan tuntutan persamaan hak sipil dan politik pada awal abad ke 19, utamanya di Eropa. Pada awalnya, isu perempuan dimunculkan dalam apa yang disebut dengan emansipasi perempuan dengan tuntutan pendidikan, hak politik dan perlakuan yang lebih manusiawi dari kungkungan norma keluarga yang feudal yang bersifat male property owner. Isu perempuan berkelindan dengan perjuangan kelompok marginal seperti buruh dalam kebangkitan kapilatisme Eropa. Itulah sebabnya Engels sempat mendedikasikan suatu tulisan tentang the origin of the the family, Private, Property…
27919229
Today
This Week
This Month
Last Month
All
12165
78142
390574
602407
27919229