Cerita Perubahan

Written by Minggu, 18 Januari 2015 Published in Cerita Perubahan
Hingga 22 Desember 2014 ini, Rifka Annisa Women Crisis Center telah menerima kasus kekerasan terhadap istri baik melalui tatap muka, kunjungan langsung, surat elektronik, maupun telepon sebanyak 175 kasus kekerasan. Kasus kekerasan terhadap istri atau yang sering disebut sebagai KTI tidak hanya sebatas pada kekerasan fisik yang kasat mata, tetapi juga kekerasan psikis, seksual, dan penelantaran. Meskipun selama ini kekerasan fisik lebih menjadi sorotan karena kasat mata, namun ternyata luka fisik tidak dapat berdiri sediri karena erat kaitannya dengan dampak psikologis. Kekerasan fisik yang terus-menerus dialami oleh seseorang bisa mengakibatkan gangguan-gangguan bukan hanya pada organ fisik, tetapi juga pada kesehatan psikis, seperti perasaan ketakutan yang berlebihan, kehilangan kepercayaan diri, gangguan emosi, sehingga mudah sedih, menangis, marah, dan mengamuk. Selain itu ada juga dampak pada perilaku tidak sehat, misalnya merokok, berselingkuh dan lain sebagainya. Lazimnya, ketika seorang ibu berperilaku tidak sehat…
Written by Sabtu, 17 Januari 2015 Published in Cerita Perubahan
Hingga tepat pada hari Ibu 22 Desember 2014 lalu, Rifka Annisa Women Crisis Center telah menerima kasus kekerasan terhadap istri baik melalui tatap muka, kunjungan langsung, surat elektronik, maupun telepon sebanyak 175 kasus kekerasan. Dibalik ucapan-ucapan selamat terhadap para Ibu, ironisnya masih banyak para Ibu yang mengalami kekerasan. Kasus kekerasan terhadap istri atau yang sering disebut sebagai KTI tidak hanya sebatas pada kekerasan fisik yang kasat mata, tetapi juga kekerasan psikis, seksual, dan penelantaran. Meskipun selama ini kekerasan fisik lebih menjadi sorotan karena kasat mata, namun ternyata luka fisik tidak dapat berdiri sediri karena erat kaitannya dengan dampak psikologis. Kekerasan fisik yang terus-menerus dialami oleh seseorang bisa mengakibatkan gangguan-gangguan bukan hanya pada organ fisik, tetapi juga pada kesehatan psikis, seperti perasaan ketakutan yang berlebihan, kehilangan kepercayaan diri, gangguan emosi, sehingga mudah sedih, menangis, marah, dan mengamuk. Selain itu ada juga…
Written by Selasa, 19 Agustus 2014 Published in Cerita Perubahan
Fenomena berebut pacar kemudian berlomba mendapatkan pacar keren seringkali ditampilkan dalam adegan-adegan sinteron yang ditayangkan di sejumlah stasiun televisi yang bergenre remaja. Cerita yang sama pun seringkali ditemukan dalam kehidupan konkret remaja masa kini. Akan tetapi, cerita-cerita romantisme cinta remaja dalam kehidupan nyata seringkali tak berakhir indah layaknya adegan sinteron. Tak sedikit cerita-cerita tersebut berubah menjadi cerita kasus kekerasan dalam pacaran (KDP). Kian meningkatnya kasus KDP yang terjadi dikalangan remaja tentu sangat memprihatinkan. Kurangnya kontrol diri dan konsep diri yang baik dan kuat pada remaja menjadi faktor pemicunya. Perburuan mencari pacar keren misalnya, seringkali remaja terjebak dalam konsep sempit memaknai hubungan pacaran dan pacar keren itu sendiri. Pacaran dikalangan remaja seringkali dianggap sebagai suatu hal yang wajib dan jika belum pernah pacaran dianggap tidak gaul atau tidak laku. Wulandari, konselor psikologi Rifka Annisa, memaparkan bahwa dikalangan remaja, mendapatkan pacar keren…
Written by Selasa, 19 Agustus 2014 Published in Cerita Perubahan
 Usia remaja merupakan masa transisi dan peralihan dari anak-anak menjadi dewasa, yang sering dikaitkan dengan pencarian jati diri. Dalam masa ini, seorang remaja akan mencari role model yang ideal sebagai figur panutan. Sosok panutan ini yang akan mempengaruhi nilai-nilai dan pandangan seorang remaja dalam membina kehidupan sosial. Keluarga menjadi unit dasar dalam kehidupan bersosial. Melalui keluarga, nilai-nilai dalam diri seseorang akan terbentuk. Sehingga, orang tua menjadi sosok panutan terdekat seorang remaja. Akan tetapi, bagaimana jika sosok panutannya ini sedang berseteru? Ada banyak hal yang dapat menjadi faktor penyebab orang tua berseteru. Beberapa di antaranya yakni, adanya ketimpangan penghasilan antara orang tua, perselingkuhan, permasalahan dalam pekerjaan, atau bahkan permasalahan si anak yang kemudian menimbulkan perdebatan diantara orang tua. Remaja, dalam hal ini seorang anak, adalah mesin fotokopi terbaik dari orang tua. Sebuah peribahasa mengumpamakan, “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Hal…
Written by Selasa, 19 Agustus 2014 Published in Cerita Perubahan
Oleh : Ratnasari NugraheniE-mail : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. Film merupakan karya seni yang memiliki banyak penggemar. Karya seni sangat diminati masyarakat dari segala macam usia dan kedudukan. Salah satu media penghibur ini didukung dengan menjamurnya televisi, bioskop, studio film, ataupun kaset CD dikalangan masyarakat. Tanpa terasa, film menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat yang tak dapat dipisahkan. Perlu diketahui pula bahwa film memiliki pengaruh yang dominan dalam pembentukan psikologis anak, terlebih film yang mengandung unsur kekerasan di dalamnya. Hampir sebagian besar masyarakat mendefinisikan film yang yang mengandung unsur kekerasan karena terdapat adegan action ataupun fisik. Padahal, unsur-unsur kekerasan tidak hanya berupa kekerasan fisik. Beberapa adegan seperti perselingkuhan dan bullying juga termasuk film yang mengandung unsur kekerasan dari sisi psikis. Terkadang, adegan yang memamerkan pacar lebih dari satu misalnya, dianggap sebagai hal yang wajar atau bahkan keren. Pergesaran nilai-nilai inilah yang harus mulai…
34136005
Today
This Week
This Month
Last Month
All
4673
16655
72598
189698
34136005