Senin, 29 April 2019 13:57

Pelecehan Seksual di Tempak Kerja

Salam Rifka Annisa, kakak saya memiliki masalah di tempat kerja, yaitu mengalami perlakuan tidak pantas yang dilakukan oleh bosnya. Jadi kakak saya bekerja di sebuah rumah makan selama kurang lebih tiga bulan ini. Sejak awal bekerja, dia kurang nyaman dengan perlakuan yang diberikan oleh bos pemilik rumah makan. Bosnya memanggil dengan sapaan “say atau sayang”, kemudian sering bicara sambil sesekali merangkul. Tapi ketika kakak saya mengutarakan keberatan tersebut ke temannya, mereka bilang memang orangnya begitu, tidak perlu diambil hati. Jadi kakak saya akhirnya membiarkan perlakuan tersebut karena menurutnya pasti juga dilakukan ke karyawan-karyawan yang lain.

Sampai suatu hari ketika kakak saya hanya berdua dengan bos di ruang kantor pengola rumah makan, bos tersebut memeluk dari belakang, meremas payudara, dan berusaha mencium. Dan pada saat itu kebetulan istri bos tersebut masuk. Kakak saya berontak dan langsung lari dari sana. Saat dia lari karyawan yang lain melihat dan sempat memanggil-manggil. Sejak saat itu kakak saya tampak shock dan tidak berani kembali lagi ke rumah makan tersebut. Cerita dari peristiwa ini sudah beredar di rumah makan, tapi dengan versi bahwa kakak saya menggoda bos laki-lakinya.

Rasanya tidak adil kakak saya diperlakukan seperti itu. Apakah peristiwa ini bisa dilaporkan hukum? Mohon penjelasannya, terima kasih.

 

JAWAB

Salam Ibu, kami ikut bersedih dengan peristiwa yang menimpa kakak Ibu. Apa yang dialaminya adalah peristiwa pelecehan seksual. Hal ini telah terjadi sejak awal masuk, yaitu mendapat perlakuan berkonotasi seksual, berupa panggilan dan rangkulan, yang membuat kakak merasa tidak nyaman. Sayangnya, kakak tidak menyadari bahwa perlakuan tersebut adalah bentuk pelecehan ketika lingkungan di sekitar mengamini hal tersebut sebagai bentuk perilaku yang wajar. Padahal, ukuran pelecehan adalah pada diri kita sendiri. Ketika kita merasa tidak nyaman, maka perbuatan tersebut adalah bentuk pelecehan.

Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tidak dikenal istilah pelecehan seksual. KUHP hanya mengenal istilah perbuatan cabul, yaitu merupakan perbuatan yang melanggar rasa kesusilaan, atau perbuatan lain yang sifatnya keji, dan semuanya dalam lingkungan nafsu birahi kelamin, seperti ciuman, meraba kemaluan, meraba payudara, dan sebagainya, dengan landasan tindakan tersebut tidak diinginkan oleh korban. Dengan demikian, unsur penting dari pelecehan seksual adalah adanya ketidakinginan atau penolakan pada apapun bentuk-bentuk perhatian yang sifatnya seksual. Sehingga perbuatan seperti siulan, ungkapan verbal (kata-kata), sentuhan, atau apapun yang menurut umum dianggap wajar namun tidak dikendaki korban masuk dalam kategori pelecehan seksual. Pelaku pelecehan seksual dapat dijerat pasal 289 - 296 KUHP setelah bukti-bukti dirasa cukup oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang akan melakukan dakwaan pada pelaku pelecehan seksual.

Pembuktian dalam hukum pidana termuat dalam pasal 184 UU No. 8 Tahun 1981 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) meliputi : keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa. Dalam kasus pelecehan seksual, harus dilengkapi minimal 2 (dua) alat bukti. Berdasarkan kronologi kasus yang Ibu ceritakan di atas, ada beberapa saksi terkait peristiwa pelecehan seksual tersebut, yaitu kakak sendiri sebagai saksi korban, bos sebagai pelaku pelecehan seksual, dan istri bos yang menyaksikan peristiwa tersebut, serta saksi petunjuk yaitu 

karyawan-karyawan yang melihat kakak atau bos masuk ke dalam ruangan, serta yang melihat kakak lari keluar. Selain bukti di atas, pada kakak juga dapat dilakukan pemeriksaan kejiwaan, visum et psikiatrikum, untuk melihat dampak peristiwa pelecehan seksual.

Pada dasarnya, kasus ini dapat dilaporkan secara hukum ke kantor Polsek atau Polres terdekat. Yang penting perlu dipersiapkan adalah kesiapan mental dari kakak untuk menghadapi proses hukum tersebut dengan berbagai konsekuensinya. Misalnya, bahwa dia harus menceritakan dengan detil peristiwanya di hadapan penyidik kepolisian, serta apabila dianggap memenuhi unsur dan cukup alat bukti proses hukum dan proses hukum berlanjut, maka harus siap juga menceritakan di depan majelis hakim. Termasuk konsekuensi jika keluarga mendapatkan ancaman maupun teror dari pihak-pihak yang tidak senang dengan adanya proses hukum tersebut. Namun, bagaimanapun kakak memiliki hak untuk mendapat keadilan atas peristiwa ini.

Sebaiknya keluarga mengakses lembaga layanan, agar kakak juga mendapatkan layanan pemulihan dan penguatan secara psikologis. Di setiap kabupaten/kota/propinsi ada lembaga layanan Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) milik pemerintah, yang memiliki layanan pendampingan hukum dan psikologi untuk perempuan dan anak korban tindak kekerasan, serta tidak berbayar. Demikian jawaban kami, semoga dapat membantu.

Jumat, 26 April 2019 11:19

Pelecehan di Kereta

Halo, Rifka Annisa! 

Perkenalkan, nama saya Ibu W. Saya ingin minta saran terkait kasus yang saya alami. Sebulan yang lalu, saya berperjalanan dari Jogja menuju Jakarta menggunakan sebuah kereta api kelas eksekutif. Dalam perjalanan tersebut saya duduk bersebelahan dengan seorang bapak-bapak. Pada malam hari ketika semua penumpang tertidur, bapak tersebut memasukkan tangannya kedalam selimut saya dan meraba-raba daerah paha dan kemaluan saya. 

Pada awalnya saya takut dan diam saja. Lalu dia malah semakin memasukkan tangannya ke celana saya hingga menyentuh kemaluan saya. Saya pun menjerit hingga semua penumpang terbangun. Tapi bapak di sebelah saya itu lantas pura-pura tertidur dan mendengkur. Saya lapor pada petugas kereta, dia menanyakan apakah ada yang menyaksikan. Penumpang kereta yang lain tidak ada yang menyaksikan. Mereka bilang tidak mungkin si bapak melakukan itu karena sedang tertidur. Atas dasar itu, petugas mengatakan tidak mungkin menindak si bapak, apalagi menurunkannya. 

Saya sangat geram dan marah. Apakah memang kasus seperti yang saya alami ini tidak bisa ditindak? Padahal dia benar-benar telah melecehkan saya. Mohon saran dan petunjuk dari Rifka Annisa. Terimakasih.

 

JAWAB

Salam Ibu W, kami ikut sedih dengan peristiwa yang menimpa Ibu. Tindakan Ibu dengan berteriak memang sangat tepat. Karena dengan begitu orang-orang di sekitar Ibu akan lebih siaga dan Ibu terhindar dari tindakan pelecehan yang lebih jauh. 

Mengenai keinginan Ibu untuk membawa kasus ini ke ranah hukum, memang agak sulit. Ibu membutuhkan saksi atas peristiwa tersebut, minimal saksi yang menguatkan keterangan Ibu. Sayangnya dalam peristiwa yang Ibu alami, pelaku pintar menyamarkan perbuatannya sehingga penumpang lain tidak ada yang bisa memberikan kesaksian yang menguatkan keterangan Ibu. Alat bukti lain seperti visum juga sulit untuk dibuat, mengingat dalam peristiwa ini Ibu sebatas dipegang, dan terutama kasus ini sudah lama terjadi. 

Beberapa kasus kekerasan seksual terkendala secara hukum karena keterbatasan instrumen hukum saat ini. Keberanian Ibu untuk menceritakan pengalaman ini sangat kami apresiasi. Jika Ibu berkenan, kasus ini dapat dibawa ke perusahaan transportasi yang Ibu gunakan, untuk mendorong adanya mekanisme pencegahan dan penanganan tindakan kekerasan seksual di transportasi umum, termasuk pelecehan seperti yang Ibu alami. Harapannya adalah agar di masa yang akan datang, ketika ada kasus serupa dan terkendala secara hukum, ada mekanisme yang sudah ada untuk diikuti. 

Demikian jawaban kami, semoga bermanfaat. Terimakasih.

Rabu, 24 April 2019 12:49

Suami Tinggal Bersama Selingkuhan

Perkenalkan, saya Ibu Fatma dari kota S. Saya memiliki masalah rumah tangga yang ingin saya ceritakan, mudah-mudahan Rifka Annisa bisa memberikan saran untuk mengatasi persolan ini. Saya sudah 10 tahun berumah tangga dan memiliki 3 anak. 

Suami dulu pernah bekerja. Untuk membantu ekonomi keluarga, saya membuat suvenir dan dititipkan ke swalayan-swalayan, sehingga lama-lama pendapatan saya menjadi jauh lebih besar dari suami. Dengan kondisi itu suami malah marah-marah, merasa direndahkan dan merasa tidak punya harga diri karenanya. Masalahnya dia memiliki kebiasaan judi main kartu dan minum-minum, sehingga kalau saya tidak memiliki pegangan sendiri, saya khawatir tidak bisa mencukupi kebutuhan anak-anak. Apalagi kemudian dia kehilangan pekerjaan, sehingga tidak punya pemasukan dan sering minta uang pada saya. 

Lima bulan terakhir, saya mengetahui suami berselingkuh dengan seorang perempuan yang berstatus janda dan memiliki dua anak. Dua bulan yang lalu kami bertengkar hebat karena saya meminta penjelasan atas perselingkuhan tersebut. Dalam pertengkaran itu saya dipukul dan diinjak-injak di depan anak-anak. Sejak itu suami saya pergi meninggalkan rumah, mengontrak rumah di tempat lain. Menurut informasi yang saya terima dari saudara saya, WIL-nya sering terlihat keluar masuk rumah kontrakan tersebut. 

Keluarga suami akhirnya mengetahui permasalahan ini dan pernah menasehatinya secara baik-baik. Namun suami tetap bersama selingkuhannya. Kadang-kadang pulang sebentar menjenguk anak-anak, namun segera bertengkar dan pergi lagi. Saya juga meminta ketegasan untuk memilih antara saya dan anak-anak atau selingkuhannya. Suami tidak mau memilih salah satu, maunya memilih keduanya. 

Saya bingung mengatasi permasalahan ini. Harapan saya sebenarnya agar kami bisa rukun kembali, mengingat ada anak-anak. Tetapi kalau begini terus-menerus saya juga tidak sanggup. Kalau memang harus berpisah saya juga sudah siap. Mohon sarannya. Terimakasih. 

JAWAB

Salam Ibu Fatma, terimakasih sudah berbagi cerita dengan kami. Kami ikut bersedih atas permasalahan rumah tangga yang Ibu hadapi, dan salut dengan ketegaran yang Ibu tunjukkan. 

Memiliki penghasilan lebih besar dari suami bukanlah suatu kesalahan ataupun bentuk merendahkan suami. Itu adalah sebuah sikap yang realistis atas keadaaan yang sedang dihadapi. Dengan masing-masing pasangan memiliki penghasilan sendiri, maka dapat saling menopang dan saling membantu satu sama lain. 

Kebiasaan suami berjudi dan mabuk seperti yang Ibu ceritakan, apalagi dengan perselingkuhan, tidak hanya menimbulkan sakit hati bagi Ibu, namun juga resiko bagi keluarga Ibu secara umum dan dirinya sendiri secara khusus. Bagi anak, beresiko meniru perilaku negatif, kehilangan bahkan membenci figur ayah, serta tumbuh dengan perilaku bermasalah karena kurang kasih sayang di lingkungan keluarga. Bagi suami Ibu, resiko 

dijauhi lingkungan sosial, terlibat kriminalitas, hingga penyakit menular seksual, yang mana resiko ini juga berkaitan dengan situasi Ibu sebagai istri. 

Dalam menyelesaikan masalah ini, dapat dilakukan beberapa upaya. Yang pertama adalah dengan cara kekeluargaan. Apabila pihak keluarga tidak sanggup, Ibu bisa juga meminta bantuan dari aparat setempat seperti RT, RW, Dukuh, Lurah, atau tokoh masyarakat setempat yang disegani suami, untuk melakukan mediasi. Dalam mediasi, Ibu dapat menyampaikan semua keinginan dan harapan Ibu, serta mencari jalan tengah penyelesaian masalah. Jika terjadi kesepakatan, maka sebaiknya dituangkan secara tertulis, menggunakan materai, ditanda tangani para pihak dan saksi-saksi. Fungsinya untuk mengikat dan apabila di kemudian hari kesepakatan tersebut dilanggar, ada sanksi yang juga disepakati. 

Pilihan yang lain adalah dilaporkan ke kepolisian. Apabila terjadi perzinahan, Ibu sebagai pasangan sah dapat mengadu ke kepolisian terdekat. Dalam hal ini, suami dapat dipidanakan dengan pasal 284 KUHP yang merupakan delik aduan. Konsekuensinya tentu saja Ibu harus siap menjalani proses hukum sebagai saksi pelapor, memberikan keterangan di kepolisian maupun persidangan. Apabila terbukti, maka suami dan pasangan zina-nya dapat diancam dengan hukuman maksimal 9 (sembilan) bulan penjara. 

Jika akhirnya Ibu memilih untuk bercerai, yang paling utama adalah persiapkan anak-anak untuk menghadapi situasi tersebut, dan memberi penjelasan. Dampak itu pasti ada, yang bisa diupayakan adalah meminimalisir dampak negatifnya. Jika pilihan itu yang ditempuh, sebaiknya disepakati berdua. Sehingga hal-hal yang menjadik konsekuensi juga dibicarakan. Misalnya terkait pembagian harta gono-gini, yaitu harta yang diperoleh selama masa pernikahan dibagi dua, nafkah anak ke depan, bagaimana berbagi pengasuhan, serta membahas hal teknis seperti siapa yang akan mengajukan ke pengadilan. Apakah pihak istri atau suami, karena konsekuensinya berbeda. 

Jika Ibu hendak menempuh proses hukum, sebaiknya didampingi oleh lembaga yang memiliki layanan pendampingan hukum. Agar memperoleh informasi hukum lebih lengkap dan bisa membuat pilihan dengan lebih jelas. Dalam hal ini, dukungan keluarga sangat dibutuhkan. Sehingga ada baiknya Ibu terbuka dengan situasi dan kondisi rumah tangga yang sedang Ibu hadapi. 

Demikian jawaban kami, jika Ibu ingin berdiskusi lebih lanjut silahkan datang ke kantor kami. Karena pada dasarnya semua keputusan ada di tangan Ibu, yang penting Ibu siap dengan segala konsekuensi yang dihadapi dari keputusan tersebut.

Selasa, 23 April 2019 14:26

Akta Anak Luar Kawin

Saya seorang Ibu yang memiliki anak perempuan berusia 22 tahun. Sudah dua tahun terakhir menjalin hubungan dengan seorang laki-laki dewasa berusia 36 tahun. Sejak awal laki-laki mengaku sudah bercerai dan memiliki anak. Saya mengijinkan hubungan mereka, karena saya melihat laki-laki tersebut sepertinya berniat baik. 

Masalahnya, sejak awal menjalin hubungan, saya sudah minta agar keluarganya datang baik-baik ke rumah untuk menjalin silaturahmi. Apalagi kalau dulu riwayatnya pernah menikah, kami hanya menjaga agar anak kami tidak terjebak permasalahan di kemudian hari. Namun dia selalu menunda-nunda dengan berbagai alasan. 

Pernah suatu ketika dia minta ijin untuk menikahi putri saya secara siri. Saya melarang, karena menurut saya kalau menikah harus sah secara agama dan negara. Saya sebenarnya sudah agak curiga dengan perilaku dia, karena pernah mendapati sms di HP anak perempuan saya, dia marah-marah, mencaci maki, dan mengancam putri saya yang dianggapnya tidak perhatian karena tidak membalas pesan pada jam kerja. Menurut saya hal itu tidak masuk akal karena di tempat kerjanya memang putri saya tidak diperkenankan memegang HP. Selain itu, saya juga curiga karena putri saya mengaku sering tidak punya uang, padahal dia bekerja dengan bayaran cukup baik. Ternyata memang pacarnya tersebut sering minta ditransfer. Saya sudah tidak sreg sebenarnya, dan putri saya juga sudah mengatakan bahwa tidak tahan menjalin hubungan dengannya, dan ingin mengakhiri saja. 

Beberapa waktu lalu putri saya jatuh sakit. Dan ketika kami bawa ke dokter, rupanya dia sedang hamil tiga bulan. Betapa hancurnya hati saya sebagai seorang Ibu. Setelah berbicara panjang lebar dengan putri saya, bagaimanapun dia harus kami rangkul. 

Kami sudah berusaha meminta pertanggungjawaban pacarnya, hingga mendatangi keluarga. Namun ternyata selama ini dia belum bercerai dan masih tinggal serumah dengan istri dan anaknya. Bahkan keluarganya angkat tangan, tidak mau ikut campur, karena selama ini sudah banyak masalah yang ditimbulkan. Kami juga mendapat informasi dari tetangga bahwa dia sering melakukan kekerasan pada istrinya. 

Setelah itu, dia tidak ada gelagat untuk menyelesaikan masalah. Bahkan mengelak bahwa anak yang dikandung putri saya adalah anaknya dan minta tes DNA. Kami khawatir jika putri saya tidak dinikahi, nanti anak yang dikandung ini tidak bisa punya akte. Mohon solusinya, apa yang sebaiknya kami lakukan? 

JAWAB 

Salam Ibu, kami ikut sedih dengan situasi yang menimpa putri Ibu dan keluarga. Kami juga salut dengan ketegaran Ibu untuk tetap memberikan dukungan dan merangkul putri Ibu yang sedang ditimpa masalah. Apa yang dialami putri Ibu adalah bentuk kekerasan dalam pacaran. Putri Ibu mengalami kekerasan psikis, dikekang, dikendalikan aktifitasnya, dicaci-maki, diancam, dan ditipu terkait status pernikahan. Kemudian juga kekerasan ekonomi, dengan dimintai sejumlah uang untuk membiayai hidup pacarnya, dan berbagai situasi tersebut membuat dia terjebak dan akhirnya mengalami kekerasan seksual sehingga menimbulkan kehamilan yang tidak dikehendaki. Pada dasarnya, putri Ibu sudah memiliki keinginan untuk melawan situasi tersebut dengan menyampaikan keinginannya untuk putus, namun terlanjur terjadi kehamilan. 

Keputusan keluarga untuk menolak pernikahan siri sudah tepat. Karena pernikahan siri tidak tercatat oleh negara, sehingga statusnya di mata hukum terhitung luar kawin. Hubungan di luar kawin tidak ada perlindungan hukum di Indonesia, sehingga menempatkan perempuan dan anak menjadi semakin rentan. 

Dalam situasi yang dihadapi putri Ibu, ada dua cara untuk melakukan pernikahan resmi. Yang pertama, pihak laki-laki bercerai secara resmi terlebih dahulu dengan istri pertamanya, baru kemudian melangsungkan pernikahan dengan putri Ibu dengan status sebagai duda. Atau yang kedua, melakukan pernikahan poligami, dengan berbagai persyaratan yang telah diatur dalan UU Perkawinan No.1/Th. 1974 Pasal 55-59. Salah satu persyaratan yang diatur adalah adanya ijin dari istri pertama. 

Terkait dengan akte anak apabila tidak terjadi pernikahan, maka ada status anak luar kawin. Anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya, serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya. 

Tata cara memperoleh (kutipan) akta kelahiran untuk anak luar kawin pada dasarnya sama saja dengan tata cara memperoleh akta kelahiran pada umumnya, hanya tidak disertai kutipan akta nikah orang tua. Beberapa persyaratan yang diperlukan untuk mengurus akta kelahiran anak luar kawin antara lain : a) Surat kelahiran dari dokter/bidan/penolong kelahiran; b) Nama dan Identitas saksi kelahiran; c) KTP Ibu; d) Kartu Keluarga Ibu. Setelah dilengkapi persyaratan administrasinya maka pencatatan kelahiran tetap dilaksanakan. 

Apabila pencatatan hendak dilakukan di tempat domisili ibu si anak, pemohon mengisi Formulir Surat Keterangan Kelahiran dengan menunjukkan persyaratan-persyaratan di atas kepada Petugas Registrasi di kantor Desa atau Kelurahan. Formulir tersebut ditandatangani oleh pemohon dan diketahui oleh Kepala Desa atau Lurah. Kepala Desa atau Lurah yang akan melanjutkan formulir tersebut ke Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD), yang pada umumnya bernama Dinas Pendudukan dan Pencatatan Sipil, untuk diterbitkan Kutipan Akta Kelahiran, atau ke kecamatan untuk meneruskan Formulir Surat Keterangan Kelahiran kepada Instansi Pelaksana. Jika UPTD Instansi Pelaksana tidak ada, Pejabat Pencatatan Sipil pada Instansi Pelaksana/UPTD Instansi Pelaksana akan mencatat dalam Register Akta Kelahiran dan menerbitkan Kutipan Akta Kelahiran dan menyampaikan kepada Kepala Desa/Lurah atau kepada pemohon. Akta kelahiran anak luar kawin kedudukan hukumnya sama atau setara dengan akta pada umumnya. 

Keputusan untuk menikah atau tidak menikah, kembali pada putri Ibu dan keluarga. Namun berbagai pengalaman berinteraksi dengan pihak laki-laki, dan berbagai informasi yang diketahui kemudian dapat dijadikan pertimbangan. Apakah hal itu menunjukkan iktikad baik atau tidak. Sehingga, jika hubungan ini dilanjutkan ke jenjang pernikahan kira-kira akan menyelesaikan masalah atau menimbulkan masalah baru, dan apakah kekerasan yang sudah dilakukan akan berhenti di masa yang akan datang. Tidak kalah penting adalah menjaga kondisi kesehatan putri Ibu dan bayi yang dikandungnya, serta membekalinya dengan informasi yang benar seputar kehamilan dan kesehatan reproduksi, karena dari cerita Ibu tampaknya dia tidak menyadari kehamilan di awal dan kemungkinan masih awam terkait kondisi ini. 

Demikian jawaban kami, semoga dapat membantu sebagai bahan pertimbangan. Salam.

Jumat, 12 April 2019 13:27

Dampak Pelecehan Seksual di Masa Kecil

Halo Rifka Annisa,

Perkenalkan nama saya Hani, dari kota S. Langsung saja pada permasalahan, dulu waktu saya masih kecil saya pernah mengalami pelecehan seksual. Kejadian tersebut saya alami berkali-kali dengan pelaku yang berbeda-beda. Pertama kali saya mengalami waktu masih TK oleh teman ayah saya, sejak itu hingga SMP saya pernah mengalami kembali dengan pelaku yang lain. Saya baru menyadari apa yang sepenuhnya terjadi pada saya ketika SMA.

Selanjutnya yang sering saya rasakan adalah rasa marah yang amat sangat besar, tapi tidak tahu pada siapa. Peristiwa ini tidak pernah saya ceritakan pada siapapun, termasuk orang tua saya. Saya malu dan marah. Saya juga tidak ingin membebani orang tua saya. Prinsip saya, sebisa mungkin saya selalu mandiri dan tidak pernah merepotkan orang tua. Dan entah kenapa seolah-olah setiap saya bertemu dengan laki-laki selalu saja seperti itu. Di mata saya, laki-laki itu tidak ada yang bener, egois, mau menang sendiri.

Saya pernah akhirnya mencoba membuka hati pada seorang laki-laki yang mendekati saya. Kami bersepakat untuk saling terbuka akan keburukan dan masa lalu masing-masing. Namun setelah mendengar cerita saya, dia berbalik membenci saya dan mengatai saya perempuan bekas. Sejak itu saya benar-benar yakin bahwa laki-laki memang makhluk menyebalkan. Di kantor pun juga begitu, saya merasa setiap ada project, pasti kawan laki-laki saya yang didahulukan. Padahal saya sudah membuktikan diri bahwa saya mampu, termasuk melanjutkan studi yang lebih tinggi dari kawan-kawan laki-laki saya.

Di sisi lain, saya juga merasa terbebani dengan pandangan saya tersebut. Saya sebenarnya sangat ingin memiliki kehidupan normal seperti orang-orang lain. Tapi setiap ada sesuatu yang menyinggung saya, saya benar-benar tidak bisa mengendalikan kemarahan saya. Saya sendiri kadang benci dengan diri saya sendiri. Setiap mengenang masa kecil saya, rasanya saya tidak punya kenangan manis. Saya dulu jarang bergaul dengan teman-teman saya, entah kenapa.

Oleh karena ittu saya mohon saran dari Rifka Annisa, apa yang sebaiknya saya lakukan untuk mengendalikan diri saya sendiri? Atas jawabannya saya ucapkan banyak terima kasih.

Salam Mbak Hani,

Terimakasih telah berbagi dengan kami. Apa yang Mbak Hani alami itu adalah bentuk kekerasan terhadap perempuan, berupa kekerasan seksual, stereotype atau pelabelan dalam bentuk anggapan sebagai perempuan bekas, dan diskriminasi dalam bentuk perlakuan berbeda di tempat kerja. Dan hal itu nyata dialami oleh Mbak Hani, begitupun banyak perempuan lain mengalami hal yang hampir sama.

Berbagai peristiwa tersebut menimbulkan dampak yang Mbak Hani rasakan hingga saat ini. Yang perlu Mbak Hani ketahui adalah semua peristiwa itu bukan kesalahan Mbak Hani. Justru Mbak Hani adalah orang yang dirugikan dalam peristiwa tersebut, sehingga mengalami kondisi sekarang. Namun, Mbak Hani memiliki hak untuk pulih. Pemulihan yang efektif bersumber dari keinginan kuat pada diri sendiri, istilahnya self-healing. Terkadang kita membutuhkan pendamping yang menemani proses tersebut. Untuk itu, tidak perlu ragu untuk mengakses lembaga layanan pendampingan seperti Rifka Annisa atau 

lembaga layanan untuk perempuan dan anak korban kekerasan milik pemerintah, yaitu Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A), yang terdapat di kabupaten/kota atau propinsi.

Selanjutnya, Mbak Hani bisa fokus pada potensi-potensi diri yang dimiliki. Misalnya menyadari kelebihan-kelebihan yang dimiliki, prestasi yang pernah dicapai, dan menggali lagi potensi lain yang mungkin belum ditunjukkan selama ini. Dari sana, Mbak Hani dapat melihat bahwa sebenarnya Mbak Hani memiliki kekuatan. Dengan bercerita pada kami setelah bertahun-tahun menyimpan permasalahan tersebut sendiri, sebenarnya menunjukkan kekuatan menghadapi masalah yang Mbak Hani miliki.

Jika dalam proses pemulihan muncul kemarahan, adalah sebuah hal yang normal dan wajar. Meskipun demikian, semua hal buruk yang dilakukan orang-orang tersebut terhadap Mbak Hani sebenarnya adalah akibat dari sebab bias pemahaman yang mereka miliki. Misalnya, menganggap remeh anak kecil sehingga mudah melakukan kejahatan seksual pada anak, memandang rendah perempuan yang pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah sehingga mudah menghakimi, ataupun memandang bahwa perempuan tidak lebih baik dalam bekerja dibanding laki-laki. Pandangan itu dimiliki karena diwariskan dari generasi ke generasi atau oleh lingkungan. Bisa jadi, si pelaku tidak menyadari pikiran bias yang dia miliki karena merasa hal tersebut normal dan wajar. Ironis, bahwa mereka tidak menyadari kejahatan yang dilakukan, merasa benar, dan bagaimanapun juga tetap harus bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan.

Dari sisi tersebut, kondisi Mbak Hani jauh lebih baik karena menyadari bias pandangan tersebut, dan lebih memiliki pilihan, apakah ingin ikut larut dalam emosi mengikuti perbuatan-perbuatan yang tidak mereka sadari sepenuhnya atau merdeka menjadi diri sendiri yang tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal tersebut. Semua membutuhkan proses dan waktu, dan hal itu tidak menjadi masalah. Tetaplah optimis.

Demikian jawaban kami, jika menghendaki diskusi lebih lanjut dapat menghubungi layanan kami, atau lembaga layanan lain untuk perempuan dan anak. Terimakasih.

29515056
Today
This Week
This Month
Last Month
All
4012
11356
700955
783419
29515056