Spotlight: Bongkar Kekerasan Seksual di Institusi Agama

Written by  Lamtiar D J Tambunan Jumat, 20 Oktober 2017 13:21

Film Spotlight bukan lagi sebuah cerita yang baru didengarkan. Film Spotlight yang merupakan karya Tom Mc Carthy berdasarkan skenario yang juga ditulisnya bersama Josh Singer, menjadi sebuah film yang begitu populer dan menarik hati banyak penonton. Karya Tom Mc Carty dan Josh Singner ini memang benar-benar mengguncang dunia dan membuat orang bertanya-tanya apakah kejadian demikian memang benar-benar ada di kalangan rohaniawan. Namun cerita Spotlight ini menjawab semua pertanyaan penonton dan membuka segala bentuk kejahatan tersebut secara terpampang.

Film ini menceritakan kejahatan yang dilakukan oleh para pastur yang berada dalam sebuah institusi keagamaan. Dalam film ini juga sangat terlihat jelas begitu banyaknya orang yang ingin selalu melindungi pihak agamawan walaupun diketahui kesalahan yang dilakukan begitu jahat bahkan sampai media ternama saja tetap melindungi pelaku kejahatan pelaku. Pada dasarnya kejahatan yang dilakukan sang pastur tersebut telah diketahui banyak orang tetapi sikap yang ditujukan terhadapnya ialah kebebasan dan pembungkaman bagi para korban.

Isu yang berpotensi kontroversial tersebut membuat penyelidikan ini dijegal beberapa tantangan. Tak semua narasumber mau membeberkan apa yang sebenarnya terjadi, seolah-olah ini adalah hal yang tabu dibahas sekalipun sebenarnya mereka tahu itu bentuk kriminalitas. Yang lebih mengejutkan adalah jumlah kasusnya ternyata sangat banyak, terjadi sejak lama dan menyebar ke berbagai kota di AS. Namun, kasus tersebut ditutup-tutupi secara sistematis oleh institusi terkait dan pihak berwajib, tanpa penyelesaian secara hukum. Awalnya, tidak ada seorangpun yang berani melakukan atau melaporkan kejahatan atau skandal yang dilakukan oleh sang pastur itu. Selama bertahun-tahun kejahatannya tetap terkunci dari profesi yang dilakukannya, hingga akhirnya seorang editor baru Boston Globe yang bernama Marty Baron memiliki semangat yang begitu tinggi untuk melakukan investigasi terhadap kasus yang dilihatnya tersebut. Dia pun berhasil menggali kisah pencabulan yang dilakukan sang pastur yang diyakini sebagai pihak rohaniawan dan dipandang mulia atau kudus.

Latar belakang penulisan film Spotlight ialah berangkat dari kisah nyata yang terjadi di gereja Katolik di AS. Apabila melihat dari kenyataan maka tentu masih banyak lagi kasus-kasus yang tersembunyi di kalangan gereja mulai dari kekuasaan yang tinggi, sistem kepemimpinan yang sangat hirarki hingga kasus pelecehan seksual. Kasus-kasus tersebut seakan tersembunyi rapat di bawah karpet. Di sisi lain, film Spotlight tidak hanya ditayangkan untuk menemani hari-hari kita melainkan film ini juga mengajarkan kita untuk menarik makna seperti dalam kehidupan nyata diantaranya:

1.      Sebagai pendorong bagi korban untuk lebih berani mengungkapkan kebenaran

Kehidupan rohaniawan memang sering dianggap sebagai kenyataan yang sangat benar dan tentu tidak ada kekerasan yang dialami atau dilakukan karena diyakini berbau ke-Tuhanan. Namun apakah sebenarnya demikian?, Tidak semua kalangan pihak rohaniawan benar-benar memiliki tanggung jawab akan profesi yang diembannya seperti yang dialami oleh sang Pastur dalam Film Spotlight tersebut. Namun, ketika banyak masyarakat yang mengalami hal demikian dalam institusi agama maka lebih sering dimaklumi karena diyakini bahwa si rohaniawan sedang “khilaf” walaupun sesungguhnya pelaku melakukan kejahatan itu dengan pemikiran yang waras dan sadar. Ketidakmampuan korban untuk bersuara dalam melaporkan kejadian yang dialaminya tentu akan sangat mempersulit diri sendiri untuk membebaskannya dari keterbelengguan. Bahkan jika korban juga telah melakukan pelaporan maka seringnya pihak-pihak media yang menyembunyikannya demi nama baik suatu institusi apalagi jika institusi tersebut sudah merupakan sebuah institusi ternama dan tertua. Maka kecil peluang bagi korban untuk mendapatkan kebebasan yang diharapkannya.

2.      Mengungkap kejahatan di balik relasi kuasa atas profesi ahli agama

Memiliki profesi sebagai ahli agama membuat banyak masyarakat berpikir bahwa seseorang tersebut benar-benar mulia dan benar-benar baik. Memang setiap latar belakang tidak menjadi suatu acuan untuk menentukan kesuksesaan seseorang dalam mengemban profesi yang dimilikinya. Tetapi jika tidak melupakan segala bentuk masa lalu yang buruk maka akan mempengaruhi kehidupan atau profesi yang diembannya. Pelaku kekerasan bisa berasal dati berbagai profesi dan latar belakang.

Melakukan pencabulan terhadap anak-anak adalah sebuah tindak kejahatan. Hal tersebut akan menjadi sangat kontroversial jika pelakunya berasal dari oknum agamawan. Sebab, masyarakat sudah terlanjur memiliki keyakinan untuk mendidik anak dalam kehidupan relijius yang diyakini dapat mendidik moral sang anak untuk lebih baik. Tetapi ternyata apa yang diharapkan oleh orangtua tidak selamanya sesuai dengan apa yang terjadi. Seorang rohaniawan pun bisa dimungkinkan untuk melakukan kejahatan jika sang rohaniawan tersebut tidak benar-benar  mengabdikan diri dan mengingat janji kesuciannya ketika ia ditahbiskan untuk menjadi seorang rohaniawan.

3.      Kebenaran akan menemukan jalannya

Pepatah mengatakan bahwa ‘kebenaran akan tetap menjadi kebenaran” merupakan pegangan yang baik bagi orang-orang yang memiliki keprihatinan khusus bagi korban-korban pelecehan seksual. Tidak pandang bulu siapa pelaku kejahatan karena prioritas utama dalam kehidupan ialah kebenaran yang nyata. Dalam Alkitab dikatakan “Tuhan menguji orang benar dan orang fasik, dan Ia membenci orang yang melakukan kekerasan” (Mazmur 11:5). Dalam ayat ini jelas terlihat bahwa pertolongan bagi para korban kekerasan tentu ada yaitu melalui orang-orang yang benar-benar memberikan perhatiannya kepada para korban walaupun banyak kalangan yang menolak dan menentang tetapi hal yang perlu diketahui bahwa Allah melihat setiap kekerasan terhadap siapapun dan tidak mengampuni peristiwa itu. Para korabn juga tidak harus diam atau mengubur rasa sakit dan trauma. Tetapi harus mengungkapkan kenyataan yang sesungguhnya.

------------------

Lamtiar D J Tambunan adalah mahasiswa magang di Rifka Annisa. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi "Biblevrouw HKBP" Medan, Sumatera Utara.

*Disclaimer: Opini yang tercantum dalam tulisan ini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak merefleksikan posisi resmi dari Rifka Annisa.

Read 529 times Last modified on Kamis, 02 November 2017 15:05
More in this category: « Ada Apa dengan Remaja