Rabu, 14 November 2018 09:54

TRIBUNJOGJA.COM - Direktur Rifka Annisa, Suharti mengungkapkan, mahasiswa UGM yang jadi korban kekerasan seksual saat melaksanakan KKN di Maluku mengalami depresi berat saat datang ke kantornya.

"Penyintas mulai melakukan pendampingan sejak September 2017 lalu, setelah penyintas datang untuk mengakses layanan di kantor Rifka Annisa. Berdasarkan asesmen awal, penyintas berada dalam kondisi depresi berat. Sehingga fokus utama yang dilakukan adalah pemulihan kondisi psikologis dan menciptakan rasa aman bagi penyintas," katanya melalui keterangan tertulis yang diterima Tribun Jogja Rabu (7/11/2018).

Ia melanjutkan dalam penyelesaian kasus kekerasan seksual, pihaknya sslaku mengedepankan penyelesaian yang bertujuan menjamin rasa keadilan perempuan korban kekerasan, terutama penyelesaian secara hukum. Namun Rifka Annisa mengutamakan prinsip persetujuan dari korban. 

"Dalam kasus ini, Rifka Annisa telah menyampaikan informasi tentang hak-hak korban pada penyintas dan mendiskusikan alternatif penyelesaian melalui jalur hukum. Namun pada kasus tertentu, proses hukum memiliki kendala-kendala. Terutama dalam menjamin hak-hak dan keadilan korban," lanjutnya.

"Pada akhir 2017, Rifka Annisa telah menjalin koordinasi dengan tim Fisipol UGM untuk mencari penyelesaian terbaik. Rifka Annisa juga mendorong pihak kampus untuk menyusun sistem penyelesaian di lingkungan kampus, yang berbasis pada perlindungan dan pemenuhan hak korban agar tidak terjadi hal serupa," sambungnya.

Koordinasi tersebut direspon baik oleh Fisipol UGM, sehingga membentuk tim investigasi. Tim investigasi pun kemudian telah memberikan beberapa rekomendasi mengenai hasil investigasinya. (tribunjogja)

 

 

 

Artikel ini telah tayang di Tribunjogja.com dengan judul Rifka Annisa : Mahasiswa UGM Korban Kekerasan Seksual Sempat Alami Depresi, http://jogja.tribunnews.com/2018/11/07/rifka-annisa-mahasiswa-ugm-korban-kekerasan-seksual-sempat-alami-depresi.
Penulis: Christi Mahatma Wardhani
Editor: has

Rabu, 05 September 2018 13:50

Halo!

Rifka Annisa sedang membuka kesempatan untuk menjadi relawan. Kami membutuhkan relawan untuk membantu mengelola perpustakaan (2 orang), dan relawan untuk membantu mengelola pelatihan (1 orang). Kedua posisi ini akan berada di bawah Divisi Media Riset dan Training Centre.

Tugas dan Persyaratannya adalah sebagai berikut:

RELAWAN PERPUSTAKAAN:

TUGAS :

  1. Membantu mengelola katalog web perpustakaan
  2. Membantu mengelola layanan perpustakaan
  3. Membantu mengelola perpustakaan digital dan pengumpulan koleksi digital untuk digilib
  4. Mengelola koleksi perpustakaan (pengadaan, pelabelan, penataan, perawatan, dsb)

PERSYARATAN :

  1. Mahasiswa/ mahasiswi jurusan perpustakaan minimal semester 5
  2. Memiliki pengetahuan dan kemampuan dasar tentang pengelolaan koleksi dan layanan perpustakaan
  3. Nilai tambah jika kamu memiliki kemampuan dalam mengoperasikan software pengelolaan koleksi perpustakaan
  4. Memiliki komitmen tinggi dan bersedia mengaplikasikan keahlian yang dimiliki.
  5. Bersedia meluangkan waktu 24 jam dalam satu minggu selama 6 bulan untuk datang ke Rifka Annisa
  6. Mampu bekerja dalam tim
  7. Memiliki ketertarikan dengan kerja-kerja penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak
  8. Berdomisili di Yogyakarta

RELAWAN PELATIHAN

TUGAS:

  1. Membantu Training Officer dalam melakukan pemasaran paket pelatihan
  2. Melakukan monitoring atas penawaran paket pelatihan yang telah disebarkan
  3. Melaporkan perkembangan penawaran paket pelatihan kepada Training Officer
  4. Membantu persiapan dan jalannya pelatihan
  5. Melakukan pengarsipan dokumen permintaan narasumber dan fasilitator
  6. Tambahan : membantu Training Officer dalam melakukan editing tulisan untuk majalah Rifka Annisa

PERSYARATAN:

  1. Memiliki ketertarikan dengan kerja-kerja penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak
  2. Mahasiswa/mahasiswi semua jurusan minimal semester 5
  3. Memiliki ketertarikan kepada dunia pelatihan dan tulis menulis.
  4. Memiiki kemampuan komunikasi yang baik dan jelas
  5. Memiliki semangat belajar yang tinggi
  6. Kreatif, dan memiliki inisiatif yang baik
  7. Bersedia meluangkan waktu 24 jam per minggu untuk datang ke Rifka Annisa
  8. Berdomisili di Yogyakarta

Isi formulir pendaftaran melalui google form di : http://bit.ly/daftarrelawanrifkaannisa

Untuk informasi lebih lanjut kirimkan email ke : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Kesempatan ini dibuka sampai dengan tanggal 18 September 2018, atau sampai dengan kuota terpenuhi.

Senin, 30 Juli 2018 14:48

Hampir setiap minggu ada berita mengenai kasus pencabulan atau perkosaan terhadap anak-anak di Indonesia. Di sisi lain, tidak ada upaya berarti untuk menanggulanginya.

Hari Kamis, 19 Juli malam, aparat polisi dari Kepolisian Sektor Playen, Gunungkidul, DI Yogyakarta menangkap AS, kakek berumur 63 tahun. Lelaki tua itu dilaporkan oleh keluarga besarnya, karena mencabuli keponakannya yang baru berumur 15 tahun dan menyandang disabilitas. Modusnya dengan mengiming-imingi korban uang Rp 2.000. Guru tempat anak itu sekolah yang pertama kali curiga dengan perubahan fisiknya, dan kemudian membawanya ke layanan kesehatan untuk diperiksa.

“Korban awalnya tidak mau terbuka, tetapi setelah didesak akhirnya mengaku. Pelaku juga sudah mengakui perbuatannya,” kata Kanitreskrim Polsek Playen, Iptu Suryanto.

Awal Juli lalu, polisi di Bantul, Yogyakarta baru selesai menyusun berkas pemeriksaan seorang kepala dusun yang memperkosa anak berumur sembilan tahun. Berkas perkaranya masuk ke pengadilan pekan lalu, dan dalam beberapa hari ke depan sidang perdana kasus ini akan digelar. Pelaku adalah teman baik ayah korban, dan merupakan tokoh masyarakat. Kasus terungkap setelah korban kesakitan ketika buang air kecil. Tindakan keji dilakukan pelaku beberapa kali, di kebun, tambak udang dan juga di rumahnya.

Februari lalu, PN Bantul memvonis 10 tahun penjara seorang guru sekolah menengah pertama karena berulang kali mencabuli siswinya sendiri. Anak yang bahkan belum menginjak 15 tahun itu akhirnya hamil dan melahirkan. Tak mau melanjutkan sekolah, dia kini mengasuh anaknya yang berumur lima bulan dengan bantuan penuh dari ibunya.

Rentetan kasus itu tidak hanya terjadi di Yogyakarta. Kasus pencabulan dan perkosaan terhadap anak merata terjadi di seluruh Indonesia. Dalam sejumlah kasus, pelakunya bahkan tidak hanya satu, tetapi sekelompok anak sebaya. Entah satu atau lebih pelakunya, selalu ada hubungan antara pelaku dan korban, entah saudara, guru atau pacar.Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia menunjukkan, ada 218 kasus kekerasan seksual anak pada 2015, kemudian 120 kasus pada 2016, dan 116 kasus di 2017.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Suprapto menilai, anak-anak sering menjadi korban karena pelaku memandang mereka sebagai target yang mudah. Di samping itu, anak-anak di Indonesia tumbuh dalam ajaran kedekatan sosial yang hangat. Ada anggapan bahwa semua orang cenderung baik dan tidak berpotensi melakukan kejahatan. Karena itu, anak-anak percaya kepada saudara, guru atau kawan dekat.

“Lihat saja, dalam budaya kita, kepercayaan terhadap saudara, tetangga, guru itu kan besar sekali. Bayi digendong orang lain itu wajar. Nah, itu yang membuat anak-anak tidak bisa merespons dengan baik bahwa ada tindakan yang berpotensi ke arah kekerasan seksual,” kata Suprapto.

Dosen yang juga peneliti di Pusat Studi Wanita UGM ini juga sudah menyusun sebuah panduan merespons kekerasan seksual, yang dapat digunakan oleh remaja, guru, hingga pemerintah. Dia menekankan pendidikan kesehatan reproduksi sebagai salah satu jalan keluar menekan angka kejahatan ini.

“Di Indonesia itu masih dianggap tabu untuk memberikan penjelasan atau pemahaman kepada anak mengenai seks, sehingga anak menjadi tidak terlalu paham ketika mendapatkan materi-materi atau tanda-tanda terkait tindakan yang mengarah ke kekerasan seksual dan sebagainya. Anak menjadi terlalu positive thinking, menjadi tidak siap untuk menghadapi perilaku orang dewasa. Karena itu pemahaman mengenai seks penting agar mereka sensitif ketika ada hal-hal yang mengarah ke tindakan itu,” kata Suprapto.

Triantono, peneliti dari Rifka Annisa mengakui, rentetan kasus pencabulan dan perkosaan anak seperti peringatan yang tidak pernah didengar pemerintah dan lembaga pemangku kebijakan. Rifka Annisa adalah lembaga yang berkomitmen pada upaya-upaya menghapus kekerasan terhadap perempuan dan berpusat di Yogyakarta.

Triantono mengambil salah satu contoh macetnya pembahasan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang tak jelas juntrungannya di DPR. Pemerintah seolah tidak memiliki sudut pandang, bahwa masalah kekerasan seksual terutama kepada anak adalah persoalan begitu besar. Indonesia terlalu sibuk membahas pembangunan fisik yang seolah prioritas yang lebih penting dibandingkan dengan soal-soal kekerasan seksual.

“Pemerintah terkesan reaktif, pasca beberapa kejadian kekerasan seksual terhadap anak. Tetapi solusi pemerintah sejauh ini tidak menyelesaikan masalah, tidak berkelanjutan dan tidak komprehensif. Isu-isu terkait kekerasan seksual anak itu terpinggirkan dibandingkan dengan isu yang lain,” kata Triantono.

Prinsipnya, kata Tri, anak harus dilindungi, bahkan mereka yang menjadi pelaku aksi kekerasan seksual terhadap anak yang lain. Maka solusi yang harus ditawarkan adalah solusi edukatif. Pemerintah harus mengupayakan tidak ada tindakan lebih lanjut dari pelaku yang sama, atau tindakan “balas dendam” dari korban kepada anak yang lain.

“Sistem hukum kita tidak sampai ke sana. Sistem hukum kita sampai sekarang hanya berbicara soal, jika ada kasus kekerasan seksual anak, baik dilakukan anak atau orang dewasa, maka implikasinya adalah bagaimana menghukum pelakunya. Tetapi tidak membicarakan bagaimana proses rehabilitasi pelaku dan yang lebih penting adalah pemulihan yang tuntas kepada korban,” jelas Triantono.

Dalam kasus kekerasan seksual, kata Tri, rehabilitasi penting karena dalam kasus kekerasan seksual kepada anak, pelaku memandang anak-anak sebagai objek seksual bagi kepuasan dirinya. Penjara tidak menyembuhkan kecenderungan ini, karena terbukti banyak pelaku lebih ganas setelah selesai dari pemidanaan.

Triantono menilai, Indonesia tidak kekurangan lembaga terkait isu ini. Namun sejauh ini belum ada jalinan kerja sama yang erat, baik antar-lembaga pemerintah maupun lembaga pemerintah dengan LSM. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah yang penting untuk diselesaikan, di tengah kebuntuan pembahasan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. “Karena pemerintah dan DPR tidak memiliki semangat yang sama dengan kita dalam isu ini,” lanjutnya. [ns/lt]

 

Sumber berita: VOA Indonesia

 

 

Senin, 30 Juli 2018 11:02
Halo Teman-teman!
Rifka Annisa membuka kesempatan untuk menjadi relawan dalam bidang desain grafis. Relawan Desain Grafis adalah relawan yang bersedia membantu Rifka Annisa dalam menghasilkan layout-layout grafis yang dapat digunakan untuk melakukan kampanye terkait dengan isu Rifka Annisa di media sosial. 
Persyaratannya adalah :
1. Mahasiswa/ mahasiswi semua jurusan
2. Terampil menggunakan aplikasi desain (adobe, corel, dll) dan kreatif dalam mendesain.
3. Memiliki jiwa kerelawanan dan bersedia bekerja di dalam tim
4. Memiliki komitmen tinggi dan  bersedia mengaplikasikan keahlian yang dimiliki.
5. Bersedia meluangkan waktu 2 - 3 hari dalam satu minggu selama 3 bulan untuk datang ke Rifka Annisa
6. Berdomisili di Yogyakarta
Nilai tambah jika kamu juga memiliki keahlian dalam bidang fotografi :)
Silakan daftar melalui : bit.ly/relawandesaingrafis
Pendaftaran dibuka sampai dengan tanggal 7 Agustus 2018, atau sampai kuota terpenuhi.
Masih butuh info? Kirimkan pertanyaan kamu melalui email ke: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
27919358
Today
This Week
This Month
Last Month
All
12294
78271
390703
602407
27919358